Not a Dangerous husband

Not a Dangerous husband

Mizyana

5.0
Komentar
7.8K
Penayangan
79
Bab

Raymond menjadi tersangka pelaku pemerkosa Almoora. Ia dipaksa menikahi gadis itu karena tidak bisa membuktikan jika dirinya tidak bersalah. Raymond merasa frustasi dengan kehidupan rumah tangganya karena Almoora selalu berteriak histeris ketika melihat dirinya, Almoora mendapatkan trauma dengan kejadian yang menimpa dirinya. Karena terus-terusan mendapat tatapan sinis dan tajam dari Almoora, Raymond berusaha membuktikan dirinya kalau bukan dialah pemerkosa yang sebenarnya. Lalu, bisakah Raymond mencari bukti dan meyakinkan Almoora jika dia tidak bersalah? Bagaimana dengan akhir rumah tangga mereka setelah semuanya terpampang dengan jelas?

Not a Dangerous husband Bab 1 Tuduhan Pemerkosa

Rintik hujan masih tersisa di pagi nan dingin ini. Semalam hujan turun sangat deras, menyisakan basah di tanah dan dedaunan.

Seperti biasa, Ramona bersepeda keliling kampung menjajakan sarapan dan minuman hangat racikan tangannya sendiri.

Pagi ini begitu tenang, suara cicit burung hampir tidak terdengar. Tidak seperti pagi biasanya, mungkin pengaruh hujan lebat tadi malam membuat mereka enggan bersuara.

Ramona melewati lapangan hijau tempat anak-anak biasa bermain bola kaki di sore hari. Lapangan itu kini basah dan becek.

Ramona menghentikan kayuhan sepedanya ketika mendengar suara erangan di balik semak-semak yang tumbuh di pinggir lapangan. Ia turun dari sepeda, kemudian berjalan mendekati sumber suara.

"Astagaaa!" Perempuan paruh baya tersebut berlari ke arah seorang gadis yang terbaring lemah di tanah di balik semak-semak. Ramona dengan cepat mengangkat kepala gadis itu, jari telunjuknya terarah ke bagian bawah hidung si gadis.

"Nak ... nak ..." Ramona menggoyang-goyangkan tubuh si gadis, karena tidak mendapatkan respon apapun, ia kemudian berlari mencari bantuan kepada warga.

Pagi ini, kampung mastah di hebohkan dengan penemuan si gadis yang masih belum diketahui identitasnya. Tubuh dan wajahnya penuh lumpur, mungkin ini akibat hujan deras yang mengguyur bumi tadi malam.

Ramona dan beberapa orang warga membawa gadis tersebut ke rumah sakit, sebagian warga lagi ke kantor polisi melaporkan kejadian tersebut.

Ramona, perempuan yang usianya hampir 50 tahun ini berjalan mondar mandir di depan ruang ICU menanti dokter yang sedang memeriksa si gadis. Ia memang tidak pernah menikah dan tidak memiliki anak tapi ia punya rasa keibuan yang tinggi, ia punya jiwa kasih sayang yang besar. Terbukti, ia berhasil membesarkan Raymond hingga dewasa dengan baik. Raymond-nya adalah anak adiknya yang meninggal karena kecelekaan sewaktu Raymond masih berusia 2 tahun.

"Apa yang terjadi pada gadis malang itu, Dok?" tanya Ramona pada salah seorang dokter yang baru saja keluar dari ruang ICU.

"Dia korban pemerkosaan, apa sudah ada yang menghubungi polisi?"

Ramona menutup mulut dengan kedua tangannya. Ia tidak menyangka, gadis malang yang ia temukan di lapangan bola adalah korban perbuatan keji lelaki yang berhati binatang.

Di saat yang sama, dua orang polisi datang menghampiri. Atas laporan dari dokter, polisi tersebut meminta izin pada dokter itu untuk mengidentifikasi identitas si gadis guna menghubugi keluarganya.

*

Ramona menyeduh teh hangat lalu menambahkan sedikit madu ke dalamnya. Ia kemudian duduk di kursi santainya setelah meminum beberapa tegukan teh yang ia ramu tadi.

Ramona memejamkan mata sambil memijit ringan bagian atas pelipis matanya, ia masih belum bisa membayangkan bagaimana ekspresi keluarga si gadis tadi jika mengetahui anak mereka telah menjadi korban perkosaan.

"Mama memikirkan apa?" Tangan Raymond mengambil alih pijitan di kepalanya. Sontak Ramona membuka mata, ia menoleh ke belakang, di tempat Raymond berdiri.

"Raymond? Kamu kapan pulang?" Ramona langsung bangkit dan memeluk putranya, sudah hampir 6 bulan Raymond tidak pulang. Sejak di wisuda, Raymond memutuskan untuk mencari kerja di kota.

"Pagi tadi," jawab Raymond.

"Ma, aku sudah dapat pekerjaan. Mama ikut aku ke kota, ya? Mama tidak perlu lagi menjajakan sarapan pagi keliling kampung,"

Raymond mengambil duduk persis di depan Ramona. Ia meminta Ramona kembali duduk di kursi santainya.

"Mama lebih bahagia hidup di sini. Ini rumah peninggalan kakek dan nenek kamu, tidak mungkin mama meninggalkan rumah ini. Tempat ini memiliki sejuta kenangan yang tidak akan bisa mama lupakan."

"Tapi Ma, aku-"

"Raihlah cita-cita mu setinggi yang kamu bisa. Mama akan terus mendukungmu, dimanapun kamu berada," potong Ramona.

Raymond tersenyum kecil mendengarnya, Ramona memang perempuan yang sangat tangguh. Raymond mengidolakan sosoknya, Raymond mencintainya meskipun Ramona bukanlah ibu kandungnya.

"Kamu bekerja di mana?" tanya Ramona lagi.

"Di perusahaan Albravo."

"Albravo? Punya Tuan Almeer?" tanya Ramona lagi.

"Iya, Ma! Aku bertemu Bryan. Dia baru saja kembali dari luar negeri. Tidak lama lagi, ia akan menggantikan posisi Tuan Almeer di perusahaan." Lagi, Raymond tersenyum kecil menceritakan sahabat masa kecilnya yang memiliki nasib yang sangat baik dan terlahir dari orang tua yang kaya raya.

"Bryan memberikan aku pekerjaan, dan minggu depan aku sudah mulai bekerja," lanjut Raymond.

"Mama senang mendengarnya, mama doakan kamu bisa sesukses Bryan."

Ramona kembali memeluk Raymond, ia turut bahagia melihat keberhasilan putranya.

"Siapa yang datang siang-siang begini?" Ramona mengurai pelukannya ketika mendengar bel rumah berbunyi.

"Biar aku yang buka, Ma!" ujar Raymond.

Raymond melangkahkan kakinya menuju pintu depan, diikuti Ramona dari belakang. Mereka jarang sekali kedatangan tamu, biasanya yang datang hanya tetangga dekat yang meminta ramuan minum untuk menghangatkan tubuh, dan itu mereka bisa langsung melalui pintu samping rumah, tempat kursi santai Ramona berada.

"Ada apa?" tanya Raymond kepada dua petugas yang memakai seragam kepolisian yang berdiri di depan pintu rumah mereka.

"Saudara Raymond Wahyudi?" tanya salah satu polisi tersebut.

"Iya, saya sendiri. Ada apa?" tanya Raymond sambil menautkan kedua alisnya.

Polisi tersebut memperlihatkan tanda pengenal dan surat perintah yang ia bawa. Ramona langsung mengambil surat tersebut dan membacanya.

"Apa ini?" tanya Ramona.

"Tidak mungkin, anak saya baru saja datang pagi ini. Tidak mungkin ia pelakunya. Anda pasti salah orang, Pak!"

Raymond berdiri kaku ketika mendengar tuduhan yang ia terima, tidak lama kemudian kakinya melangkah mundur ke belakang.

"Bu-bukan saya ...." ujarnya terbata-bata.

"Anda bisa jelaskan nanti. Maaf, Bu! Putra anda kami bawa."

Ramona berdiri menghadang ke dua polisi yang hendak membawa Raymond. ia melindungi Raymond dengan tubuhnya.

"Anda tidak bisa membawa putra saya begitu saja. Anda punya bukti apa? Putra saya anak yang jujur, jika ia bilang bukan dia, artinya bukan dia pelakunya. Anda salah orang, Pak! Saya sangat mengenal putra saya." ujar Ramona.

Lalu salah seorang polisi mengeluarkan foto dari saku bajunya. Sebuah foto jam tangan yang sudah di kemas ke dalam sebuah plastik.

"Jam tangan ini, ada nama putra ibu di belakangnya. Ini kami temukan di lokasi kejadian."

Ramona meluruh, kakinya menjadi tidak berdaya untuk menopang beban tubuhnya. Jam tangan itu, adalah hadiah yang ia berikan pada Raymond sewaktu putranya berhasil meraih gelar sarjana. Ia sengaja mengukir nama Raymond di belakang jam tangan tersebut.

"Ma ...." Raymond memegang tubuh Ramona dan membawa Ramona duduk di sofa.

Ramona menepis tangan putranya, ia bahkan memalingkan wajah dan tidak mau lagi memandang wajah Raymond. Ramona kecewa, ia sangat kecewa. Gadis malang yang ia tolong pagi tadi ternyata ulah putranya sendiri. Ia bahkan merutuki si pelaku perkosaan, mendoakan si pemerkosa supaya hidupnya tidak tenang. Ternyata yang ia doakan justru putra yang ia cintai.

"Bukan aku, Ma! Aku tidak melakukannya." Raymond membela diri.

"Bawa dia, Pak! Cepat bawa si pemerkosa ini jauh-jauh dari hadapan saya," pinta Ramona.

Lanjutkan Membaca

Buku serupa

Membalas Penkhianatan Istriku

Membalas Penkhianatan Istriku

Juliana
5.0

"Ada apa?" tanya Thalib. "Sepertinya suamiku tahu kita selingkuh," jawab Jannah yang saat itu sudah berada di guyuran shower. "Ya bagus dong." "Bagus bagaimana? Dia tahu kita selingkuh!" "Artinya dia sudah tidak mempedulikanmu. Kalau dia tahu kita selingkuh, kenapa dia tidak memperjuangkanmu? Kenapa dia diam saja seolah-olah membiarkan istri yang dicintainya ini dimiliki oleh orang lain?" Jannah memijat kepalanya. Thalib pun mendekati perempuan itu, lalu menaikkan dagunya. Mereka berciuman di bawah guyuran shower. "Mas, kita harus mikirin masalah ini," ucap Jannah. "Tak usah khawatir. Apa yang kau inginkan selama ini akan aku beri. Apapun. Kau tak perlu memikirkan suamimu yang tidak berguna itu," kata Thalib sambil kembali memagut Jannah. Tangan kasarnya kembali meremas payudara Jannah dengan lembut. Jannah pun akhirnya terbuai birahi saat bibir Thalib mulai mengecupi leher. "Ohhh... jangan Mas ustadz...ahh...!" desah Jannah lirih. Terlambat, kaki Jannah telah dinaikkan, lalu batang besar berurat mulai menyeruak masuk lagi ke dalam liang surgawinya. Jannah tersentak lalu memeluk leher ustadz tersebut. Mereka pun berciuman sambil bergoyang di bawah guyuran shower. Sekali lagi desirah nafsu terlarang pun direngkuh dua insan ini lagi. Jannah sudah hilang pikiran, dia tak tahu lagi harus bagaimana dengan keadaan ini. Memang ada benarnya apa yang dikatakan ustadz Thalib. Kalau memang Arief mencintainya setidaknya akan memperjuangkan dirinya, bukan malah membiarkan. Arief sudah tidak mencintainya lagi. Kedua insan lain jenis ini kembali merengkuh letupan-letupan birahi, berpacu untuk bisa merengkuh tetesan-tetesan kenikmatan. Thalib memeluk erat istri orang ini dengan pinggulnya yang terus menusuk dengan kecepatan tinggi. Sungguh tidak ada yang bisa lebih memabukkan selain tubuh Jannah. Tubuh perempuan yang sudah dia idam-idamkan semenjak kuliah dulu.

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
Not a Dangerous husband Not a Dangerous husband Mizyana Romantis
“Raymond menjadi tersangka pelaku pemerkosa Almoora. Ia dipaksa menikahi gadis itu karena tidak bisa membuktikan jika dirinya tidak bersalah. Raymond merasa frustasi dengan kehidupan rumah tangganya karena Almoora selalu berteriak histeris ketika melihat dirinya, Almoora mendapatkan trauma dengan kejadian yang menimpa dirinya. Karena terus-terusan mendapat tatapan sinis dan tajam dari Almoora, Raymond berusaha membuktikan dirinya kalau bukan dialah pemerkosa yang sebenarnya. Lalu, bisakah Raymond mencari bukti dan meyakinkan Almoora jika dia tidak bersalah? Bagaimana dengan akhir rumah tangga mereka setelah semuanya terpampang dengan jelas?”
1

Bab 1 Tuduhan Pemerkosa

23/10/2022

2

Bab 2 Dua Pilihan

23/10/2022

3

Bab 3 Ayam yang Sangat Lezat

23/10/2022

4

Bab 4 Main Belut di Dalam Sawah

23/10/2022

5

Bab 5 Siapakah Pemerkosa Itu

23/10/2022

6

Bab 6 Pelaku Sebenarnya

23/10/2022

7

Bab 7 Menikah

23/10/2022

8

Bab 8 Aku Bilang Pergi!

23/10/2022

9

Bab 9 Mencoba Mengingat Lagi

23/10/2022

10

Bab 10 Serba Salah

23/10/2022

11

Bab 11 Aku Pergi

27/10/2022

12

Bab 12 Bertemu Istri Almeer

27/10/2022

13

Bab 13 Pengawal Maria

27/10/2022

14

Bab 14 Keputusan Almeer

27/10/2022

15

Bab 15 Menjemput Almeer

27/10/2022

16

Bab 16 Tempat Rahasia

27/10/2022

17

Bab 17 Libur Dua Hari

27/10/2022

18

Bab 18 Rumah Baru

27/10/2022

19

Bab 19 Almoora Hilang

27/10/2022

20

Bab 20 Mengingat Sesuatu

27/10/2022

21

Bab 21 Ingin Mencari Tahu

27/10/2022

22

Bab 22 Deriyan

27/10/2022

23

Bab 23 Mencari Tahu

27/10/2022

24

Bab 24 Bujukan Maria

27/10/2022

25

Bab 25 Kedatangan Bryan

29/10/2022

26

Bab 26 Bertemu Bryan

30/10/2022

27

Bab 27 Hukuman Bryan

31/10/2022

28

Bab 28 Sepupu Deriyan

01/11/2022

29

Bab 29 Buktikan Kepadaku

02/11/2022

30

Bab 30 Kau Pelakunya

04/11/2022

31

Bab 31 Menemani Almoora

05/11/2022

32

Bab 32 Ancaman

06/11/2022

33

Bab 33 Pertengkaran Almeer dan Bryan

07/11/2022

34

Bab 34 Almoora Bertemu Bryan

08/11/2022

35

Bab 35 Kata Hati Bryan

10/11/2022

36

Bab 36 Berkata Jujur

11/11/2022

37

Bab 37 Aku Akan Mencarinya

12/11/2022

38

Bab 38 Mungkinkah

13/11/2022

39

Bab 39 Aku Tertuduh

14/11/2022

40

Bab 40 Tidak Akan Pulang

15/11/2022