CINTA SANG JANDA

CINTA SANG JANDA

Reski

5.0
Komentar
29.1K
Penayangan
99
Bab

Setelah resmi menjadi janda, Rahma harus berjuang seorang diri untuk menghidupi anak semata wayangnya. Rahma rela melakukan kerja apa saja, yang penting halal. Suatu malam, musibah datang menghampirinya. Rahma kecelakaan, tetapi musibah itu justru mempertemukannya dengan Rian--pemuda tampan yang baik hati. Pertemuan itu, lambat laun menghadirkan kenyamanan di antara mereka. Namun, ternyata status sosial, dan perbedaan agama membuat hubungan mereka ditentang. Omah--nenek Rian memberikan sebuah syarat pada keduanya. Jika mereka bisa melewati syarat itu, maka barulah mereka bisa menjalin hubungan. Bagimanakah perjuangan Rahma dan Rian dalam menyatukan cinta mereka? Simak kelanjutannya di cerita ini. Jangan lupa rate bintang 5 dan komentar yang bagus, ya. Terima kasih.

CINTA SANG JANDA Bab 1 Musibah

"Bu, beli satu ekor, bisa?"

Aku berdiri di lapak penjual ikan. Berharap ibu penjual ikan mau melayani. Namun, wanita berkaca mata itu masih sibuk melayani pelanggannya yang membeli banyak. Tidak apa-apa, aku memang datang belakangan.

Aku mendesah pasrah karena belum juga dilayani. Padahal aku datang lebih dulu. Namun, kaki ini enggan beranjak dari sana. Sabar menunggu sampai pelanggan lain selesai dilayani. Cipratan air yang bercampur darah ikan sesekali mengenai gamisku. Sudah hampir lima belas menit berdiri, tetapi ibu penjual ikan seolah menganggapku seperti arwah penasaran yang tak terlihat.

Aku tak tahan lagi, ingin segera beranjak hendak pergi. Akan tetapi, panggilan dari ibu penjual ikan membuat kaki ini tak jadi beranjak. Ibu penjual ikan tersenyum misteri padaku.

"Mau beli berapa kilo?"

"Satu ekor boleh, Bu?" tanyaku agak malu.

"Hmm, ya. Sebentar."

Mata ini melihat ke arah lain, suasana pasar pagi ini cukup ramai.

"Ini, ikannya, Mbak." Ibu penjual ikan memberikan kresek hitam kepadaku. Aku menyambutnya dengan senyuman.

"Satu ekor kan, Bu?" tanyaku lagi. Agak heran karena kantong itu agak sedikit berat.

"Iya."

"Berapa, Bu?" tanyaku cemas, karena kantong itu terasa agak berat.

"Tak usah dibayar," ucap ibu itu tersenyum.

"Jangan gitu, Bu. Saya bayar saja," ucapku tak enak hati. Aku bukan pengemis yang menginginkan belas kasihan orang.

"Ambil saja, Mbak." Ia memaksaku, lalu melanjutkan melayani pembeli yang baru datang.

"Terima kasih, Bu."

"Sama-sama."

Aku segera berlalu dari lapak ibu penjual ikan. Mengitari pasar, mencari penjual tempe. Sesampainya di sana, aku membeli tempe tiga ribu rupiah. Bapak penjual tempe mengambil uangnya.

Setelah semua bahan yang aku beli dapat. Aku pun segera buru-buru pulang. Anak semata wayangku pasti sudah menunggu di kontrakan.

***

Sesampainya di kontrakan, aku menemukan pintu sudah tertutup. Mungkinlah Laila sudah pergi ke sekolah? Aku berharap anak semata wayangku baik-baik saja. Aku langsung berlalu, masuk ke kontrakan dan menuju ke dapur.

Senyumku mengembang, kali ini bisa memasak ikan untuk putriku. Laila pasti senang, dan akan makan dengan sangat lahap.

Ketika membuka kantong, aku sangat terkejut. Apa maksud ibu tadi? Isi kantong yang ia berikan hanyalah tulang dan kotoran ikan. Seketika air mata ini langsung jatuh.

Kresek berisi kotoran ikan itu segera aku buang ke tong sampah. Aku sambar jilbab di atas kasur, segera pergi ke pasar lagi. Membeli ikan ke penjual ikan yang lain.

Sesampainya di pasar, aku langsung berinteraksi dengan penjual ikan yang lain.

"Pak, ikannya bisa dibeli seekor saja?" tanyaku pada bapak penjual ikan.

"Bisa, kok, Mbak."

"Ikan emasnya satu ekor saja, ya, Pak."

Bapak penjual ikan mengambil seekor ikan mas yang berenang ke sana ke mari. Setelah memasukkannya ke dalam kantong kresek, lalu dinaikkan ke timbangan.

"Beratnya, dua ons, Mbak. Jadi, delapan ribu, ya."

Aku serahkan uang sepuluh ribu, bapak penjual ikan mengembalikan uangnya dua ribu.

Aku kembali ke rumah dengan hati lega. Sepulang sekolah, putriku pasti akan segera melihat tudung saji. Sebelum sang putri pulang aku bertekat harus selesai masak.

***

Bu, ikan gorengnya, enak." Putriku-Laila tersenyum girang, dia makan dengan sangat lahap.

"Alhamdulillah, Nak."

"Ibu, nggak makan?"

"Nanti. Kamu makan saja, dulu."

"Terima kasih, ya, Bu. Akhirnya Laila bisa makan ikan juga. Semenjak ayah tinggalin kita ...." Ucapan Laila langsung terhenti.

"Ssst! Sudahlah, Nak. Jangan bahas tentang ayahmu, lagi. Luka ibu akan berdarah kembali jika kamu bahas itu." Aku memotong kalimat yang diucapkan Laila.

"Maafin, ya, Bu."

Setelah Laila selesai makan, aku segera mengambil nasi dan memakannya di dapur. Semua itu, agar Laila tidak tahu bahwa ibunya hanya makan tempe goreng. Jika Laila tahu, pasti dia akan sedih.

Aku menyuap nasi yang tidak terlalu putih itu ke mulut. Bayangan kejadian tadi pagi masih teringat. Begitu teganya ibu penjual ikan itu menghina. Namun, semua itu membuatku semakin bersemangat untuk bekerja. Mengumpulkan uang yang banyak, agar bisa menopang hidup. Sebagai seorang janda, aku tidak mau dipandang sebelah mata.

Cepat-cepat aku selesaikan makan, karena tumpukan kresek berisi kain tetangga, sudah memanggil-manggil untuk segera dicuci.

****

Punggung bekas suntikan bius ketika aku melahirkan dulu terasa ngilu. Tumpukan kain yang sudah kering masih menanti untuk diselesaikan. Kupaksakan menyetrika baju, malam nanti aku harus mengantar baju-baju ini.

Laundry rumahan, itulah usahaku sejak ditinggalkan oleh ayah Laila. Bukan karena dia tak mencintaiku, hanya saja dia terlalu patuh pada ibunya. Mertua yang selalu kuhormati justru memprovokasi anaknya. Mas Judid menceraikanku, karena sudah melahirkan secara tak normal. Siapa yang tak ingin melahirkan normal?

Tanpa terasa, luka itu kembali berdarah. Kejadian pahit itu tak bisa aku lupakan. Tekatku sudah bulat. Aku akan berusaha terus demi sang buah hati.

"Ibu, menagis?"

Teguran Laila membuatku tersadar.

"Tidak, Sayang. Kamu sudah pulang ngajinya?" tanyaku, sengaja mengalihkan pembicaraan. Aku tak boleh rapuh di depan Laila.

"Udah, Ibu. Kerjaan ibu belum beres, ya?"

Laila mendekat, meraih tanganku, menciumnya penuh rasa hormat.

"Belum, Sayang. Ya, ini mau ibu lanjut," ucapku tersenyum, sambil mengusap pipi Laila.

"Maafkan, Laila, Bu. Tidak bisa bantu."

"Jika mau bantu ibu, Laila harus rajin belajar."

"Baiklah, Ibu."

Kupeluk erat tubuh Laila. Putri semata wayang, yang dulu aku perjuangkan. Aku berjanji akan membahagiakannya.

Luka yang aku rasakan, dia tidak boleh ikut merasakannya.

****

Selepas salat isya, aku bergegas mengantar baju kepada semua pelanggan. Laila terpaksa aku kunci di kontrakan, karena dia sudah tidur.

Jalanan yang cukup ramai tidak membuatku terlalu was-was. Aku ngontrak di dalam gang yang padat penduduk. Kontrakan kecil, yang terjangkau harganya. Sebenarnya ibu pemilik kontrakan juga sudah memberi kemudahan kepada kami. Beliau tahu aku adalah orang tua tunggal.

Aku sudah sampai di depan rumah Bu RT. Tangan ini terangkat mengetuk pintu tiga kali. Tak lupa salam kuucapkan. Tidak perlu menunggu lama, Bu RT sudah nongol di ambang pintu.

"Bu, bajunya."

"Nggak masuk dulu, Rahma?"

"Tidak usah, Bu."

"Sebentar ibu ambilkan uangnya," ucap Bu RT berlalu ke kemarnya.

"Ini, Rahma. Kembaliannya buat jajan Laila, saja."

"Terima kasih, Bu."

Setelah mengantar baju Bu RT, aku segera melangkah menuju rumah pelanggan yang lain. Tidak terlalu jauh, hanya saja berbelok dan beda gang.

***

Malam semakin larut, kantuk mulai bergelayut di kelopak mata ini. Tubuh yang remuk redam mulai meronta meminta haknya. Itu semua sudah sering aku rasakan. Bergelut dengan kain kotor, menyelesaikannya dengan kedua tangan ini. Menjemur, menyetrikanya.

Langkah kupercepat, takut kalau saja Laila bangun dan mencari ibunya.

Uang hasil usaha hari ini kugenggam erat. Besok pagi aku akan membeli ikan untuk Laila lagi. Itu adalah lauk kesukaannya, jika dia senang, pasti ada saja rezeki yang datang.

Tit! Tit!

Klakson keras dari motor seseorang memekakkan telingaku. Padahal aku sudah menepi, tapi dia masih saja terus membunyikan klason motornya.

Tit! Tit!

Aku berhenti, memalingkan tubuh ke belakang. Tiba-tiba saja motor yang ada di belakangku melaju ke arahku.

Bruk!

Tubuh ini ambruk menghantam jalan. Kakiku terasa sangat sakit, tak bisa aku tahan lagi, sekujur tubuhku pun terasa ngilu. Mataku menjadi sayu, dan lambat laun, pandanganku menjadi gelap.

"Mbak, Mbak." Samar-samar kudengar seseorang memanggilku. Setelahnya aku tak tahu lagi. Aku tak sadarkan diri.

Bersambung ....

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh Reski

Selebihnya

Buku serupa

Cinta yang Tersulut Kembali

Cinta yang Tersulut Kembali

Calli Laplume
4.9

Dua tahun setelah pernikahannya, Selina kehilangan kesadaran dalam genangan darahnya sendiri selama persalinan yang sulit. Dia lupa bahwa mantan suaminya sebenarnya akan menikahi orang lain hari itu. "Ayo kita bercerai, tapi bayinya tetap bersamaku." Kata-katanya sebelum perceraian mereka diselesaikan masih melekat di kepalanya. Pria itu tidak ada untuknya, tetapi menginginkan hak asuh penuh atas anak mereka. Selina lebih baik mati daripada melihat anaknya memanggil orang lain ibu. Akibatnya, dia menyerah di meja operasi dengan dua bayi tersisa di perutnya. Namun, itu bukan akhir baginya .... Bertahun-tahun kemudian, takdir menyebabkan mereka bertemu lagi. Raditia adalah pria yang berubah kali ini. Dia ingin mendapatkannya untuk dirinya sendiri meskipun Selina sudah menjadi ibu dari dua anak. Ketika Raditia tahu tentang pernikahan Selina, dia menyerbu ke tempat tersebut dan membuat keributan. "Raditia, aku sudah mati sekali sebelumnya, jadi aku tidak keberatan mati lagi. Tapi kali ini, aku ingin kita mati bersama," teriaknya, memelototinya dengan tatapan terluka di matanya. Selina mengira pria itu tidak mencintainya dan senang bahwa dia akhirnya keluar dari hidupnya. Akan tetapi, yang tidak dia ketahui adalah bahwa berita kematiannya yang tak terduga telah menghancurkan hati Raditia. Untuk waktu yang lama, pria itu menangis sendirian karena rasa sakit dan penderitaan dan selalu berharap bisa membalikkan waktu atau melihat wajah cantiknya sekali lagi. Drama yang datang kemudian menjadi terlalu berat bagi Selina. Hidupnya dipenuhi dengan liku-liku. Segera, dia terpecah antara kembali dengan mantan suaminya atau melanjutkan hidupnya. Apa yang akan dia pilih?

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
CINTA SANG JANDA CINTA SANG JANDA Reski Romantis
“Setelah resmi menjadi janda, Rahma harus berjuang seorang diri untuk menghidupi anak semata wayangnya. Rahma rela melakukan kerja apa saja, yang penting halal. Suatu malam, musibah datang menghampirinya. Rahma kecelakaan, tetapi musibah itu justru mempertemukannya dengan Rian--pemuda tampan yang baik hati. Pertemuan itu, lambat laun menghadirkan kenyamanan di antara mereka. Namun, ternyata status sosial, dan perbedaan agama membuat hubungan mereka ditentang. Omah--nenek Rian memberikan sebuah syarat pada keduanya. Jika mereka bisa melewati syarat itu, maka barulah mereka bisa menjalin hubungan. Bagimanakah perjuangan Rahma dan Rian dalam menyatukan cinta mereka? Simak kelanjutannya di cerita ini. Jangan lupa rate bintang 5 dan komentar yang bagus, ya. Terima kasih.”
1

Bab 1 Musibah

13/02/2022

2

Bab 2 Rumah Sakit

13/02/2022

3

Bab 3 Identitas

13/02/2022

4

Bab 4 Mantan Suami

13/02/2022

5

Bab 5 Pak RT

13/02/2022

6

Bab 6 Rahasia Amplop

13/02/2022

7

Bab 7 Kedatangan Rian

13/02/2022

8

Bab 8 Gombal

13/02/2022

9

Bab 9 Dipandang Sebelah Mata

13/02/2022

10

Bab 10 Laila Hilang

13/02/2022

11

Bab 11 Salah Paham

14/02/2022

12

Bab 12 Kelakuan Mantan Suami

14/02/2022

13

Bab 13 Keinginan Laila

14/02/2022

14

Bab 14 Perasaan Ini

14/02/2022

15

Bab 15 Membalas Kakak Ipar

14/02/2022

16

Bab 16 Menyatakan Cinta

15/02/2022

17

Bab 17 Permintaan Aneh

15/02/2022

18

Bab 18 Mustahil

15/02/2022

19

Bab 19 Story Wa

15/02/2022

20

Bab 20 Cemburunya Rian

15/02/2022

21

Bab 21 Takut

19/02/2022

22

Bab 22 Pilihan Hati

19/02/2022

23

Bab 23 Tamu Tak Berakhlak

19/02/2022

24

Bab 24 Tak Direstui

19/02/2022

25

Bab 25 Harapan Hati

19/02/2022

26

Bab 26 Berdua Dalam Ruang

11/03/2022

27

Bab 27 Pertemuan Di Hotel

11/03/2022

28

Bab 28 Sentuh Atau Tidak

11/03/2022

29

Bab 29 Keributan Di Kafe

11/03/2022

30

Bab 30 Ciuman Perpisahan

11/03/2022

31

Bab 31 Lukisan

13/03/2022

32

Bab 32 Kado Perpisahan

13/03/2022

33

Bab 33 Kabar Mengejutkan

13/03/2022

34

Bab 34 Mencari Pekerjaan

13/03/2022

35

Bab 35 Wanita Yang Sama

13/03/2022

36

Bab 36 Nostalgia

13/03/2022

37

Bab 37 Kenangan Masa Lalu

13/03/2022

38

Bab 38 Pekerjaan Sampingan

13/03/2022

39

Bab 39 Tamu Tak Diundang

13/03/2022

40

Bab 40 Pilihan Yang Menjebak

13/03/2022