back
Unduh aplikasi
icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Gairah Pesta Birahi

Gairah Pesta Birahi

Royalphi

5.0
Ulasan
69.6K
Penayangan
194
Bab

warning 21++ Yang belum cukup usia dilarang masuk. Bijaklah dalam membaca. ** Yenka Linggarwarna, wanita berumur 30 tahun yang sudah menikah selama 4 tahun dengan Taran Hariksana, dia akhirnya memilih jalan yang sama dengan Taran karena Taran yang berulang kali berselingkuh dengan banyak wanita. Perkataan Taran yang mengatakan Yenka adalah wanita bodoh karena tak pernah mencicipi pria lain membuat Yenka memutuskan melakukan hal yang sama agar Taran juga merasakan apa yang pernah dia rasakan. Dengan bantuan temannya, Ian Samudra Biru, Yenka masuk ke dalam pesta topeng yang dilakukan setiap malam kamis. Di pesta tersebut aktivitas seks adalah hal yang biasa dan identitas mereka terjamin. Yenka menikmati permainanya dan membuat Taran berikap berbeda padanya, karena semua pria yang pernah tidur dengan Yenka menjadi terobsesi dengannya. Akankah Yenka kembali pada Taran, atau meneruskan permaianan gilanya? Dan bagaiamana dengan Ian, sahabatnya dari kecil yang memiliki kecemburuan tinggi pada Yenka? Tentang balas dendam yang dilakukan dengan sex, semata-mata berlandasan dengan satu kata, yaitu cinta.

Bab 1
Gairah Pesta Birahi
Aku Tak Cukup Hanya Dengan Tubuhmu

Ada banyak di dunia ini yang akan membuatmu tersakiti

Namun, salah satu rasa sakit yang terbesar adalah dikhianati.

Hari hujan berlangsung sejak pagi, seolah menjadi petanda untuk Yenka, wanita berumur 30 tahun itu menikah empat tahun lalu dengan pria teman kuliahnya yang sangat dia cintai. Pernikahan itu berlandasan dengan cinta. Seperti kata mutiara yang mengatakan, dengan cinta semuanya akan terlewati.

Namun hari ini, kata cinta adalah kata yang tak pantas di ucapkan oleh Taran.

Di kamar hotel dengan fasilitas terbaik itu, Taran sedang memadu kasih dengan seorang wanita. Mereka bergulat dengan tubuh telnajang mereka di atas ranjang yang sangat besar.

“Buka!” Yenka membawa bodyguardnya, dia menerjang masuk ke dalam kamar hotel yang telah di booking suaminya itu.

Walaupun para keamanan hotel menghalangi Yenka, tapi Yenka memiliki kekuasaan yang membuat mereka takut. Pada akhirnya, Yenka bisa masuk dengan mendobrak paksa.

Di depannya, suaminya dan seorang wanita murahan sedang bermadu kasih. Mereka saling menempelkan tubuhnya seolah keributan yang besar tak terdengar di telinga mereka.

“Bagus kau, ya, Taran! Pelacur mana lagi yang kau sewa!?” teriak Yenka, dia tak main-main, sudah ada di sisi ranjang dan menjambak rambut wanita yang bermain gila bersama suaminya itu.

Taran menyadari kehadiran istrinya itu. “Sialan kau, Yenka. Aku baru saja mau mencapai puncak klimaksku!” Taran memaki Yenka dari atas kasur.

Wanita selingkuhannya itu sedang ditarik rambutnya oleh Yenka, walaupun wanita itu meronta, dia tak bisa lepas dari Yenka. Ketika tangannya berusaha lepas, para bodyguard Yenka menahan tubuh wanita jalang itu.

Sedangkan Taran, dia hanya duduk di atas ranjang memperhatikan semuanya.

Yenka Linggarwarna, dia anak bungsu dari keluarga Linggarwarna yang sangat kaya raya. Yang berurusan dengannya tentu saja akan mendapatkan kesusahan juga. Sedangkan Taran Hariksana, dia juga berasal dari keluarga yang sama kuatnya dengan keluarga Yenka.

“Dasar kau gila, Taran!” teriak Yenka, kali ini dia menampar wanita itu. Yenka memperhatikan wajahnya dengan baik. “Kau pegawai baru suamiku,' kan!? Dasar gila kau bermain api! Berani sekali!”

Mendengar teriakan istrinya itu, Taran menyibak rambutnya dengan jari-jari, dia merasa kecewa dengan apa yang baru saja terjadi. Seharusnya, hasratnya terpenuhi, tapi karena istri sialannya ini, semua itu tak terjadi.

“seret wanita ini, dan buat dia menderita dengan kehidupan yang menderita juga.” Yenka memberikan perintah pada para bodyguardnya. Setelah para bodyguardnya membawa tubuh wanita tersebut, dia menepukkan tangannya seolah kotoran menempel di tangannya.

Pintu kamar hotel tertutup, hanya ada Yenka dan Taran di dalam kamar. Keinginan Taran masih sangat besar untuk hasratnya.

“Yenka, kemarilah dan puaskan aku.” Taran dengan santai memanggil istrinya itu tapi Yenka bergerak pun tidak.

“Istri macam apa kau tidak mau mendekat dipanggil suaminya sendiri!?” Suara Taran meninggi tapi Yenka tak peduli. Dia mengepalkan tangannya, ini sudah lebih dari lima kali Taran berselingkuh

“Istri harus menuruti suaminya! Kemari!” teriak Taran.

“Hahahah! Kau gila, ya, Taran. Otakmu otak udang, kah?” Yenka menunjuk kepalanya, dia memasang wajah yang terlihat mengerikan. “Sekarang kau membawa kata istri untuk kepuasanmu sendiri!”

Taran menatap Yenka dengan tatapan mata yang dingin, jantungnya berdetak tak sabar dengan panas tubuh yang meningkat. Rasa sakit di bagian bawahnya ini sangat menyebalkan.

“Kau yang bodoh, Yenka. Memiliki hubungan dengan orang lain adalah lumrah! Jangan sok suci, Yenka.”

Air mata Yenka tertahan, dia tak menduga suaminya itu yang merupakan cinta pertamanya akan mengatakan hal sekejam itu. Seolah hatinya akan terbiasa.

“Apa?” Yenka memajukan kepalanya, seakan meminta penjelasan lebih dan mengatakan apakah dia tak salah dengar. “Kau bilang berhubungan dengan orang lain adalah hal yang biasa?”

Alis Taran sedikit berkedut dan dia tersenyum. “Tentu saja. Kau bahkan boleh memiliki pria lain untuk kau tiduri. Jangan terlalu sok suci dalam hidup, Yenka!”

Jantung Yenka seakan tercabik-cabik mendengar ucapan Taran. Pria yang tak menghargai cintai itu, dia ingin sekali menghancurkan kesombongannya itu, membuatnya menderita dan merasakan apa yang dia rasakan.

“Baiklah, kalau itu maumu. Aku akan berbuat hal yang sama sepertimu agar kau tahu bagaimana rasanya. Semua priaku akan jauh lebih baik darimu.” Yenka menyeringai, dan ucapannya itu memancing kemarahan Taran.

Yenka yang berbalik untuk keluar dari kamar hotel tersebut langsung dihentikan langkahnya oleh Taran.

“Kau mau kabur ke mana?” Sorot mata Taran begitu marah, tak ada kelembutan seperti Yenka pertama kali berpacaran bersamanya.

Taran menarik tangan Yenka sangat kuat dan menjatuhkan tubub istrinya itu di atas ranjang.

“Auh! Kau gila, Taran!” ringis Yenka. Tapi Taran sama sekali tak peduli, dia melakukan apa pun yang dia mau sesukanya.

“Tugas istri adalah memuaskan suaminya.” Taran menarik rok Yenka, melepaskannya dengan kasar walaupun Yenka menerjang Taran.

“Puaskan saja sendiri, memangnya aku peduli denganmu!”

Taran marah, dia menaiki tubuh Yenka dan menarik kasar bajunya, semua baju Yenka telah terlepas. Dia bahkan tak melakukan pemanasan pada Yenka karena dia sudah tak tahan lagi. Secara kasar dia memasukan punya pada organ intim Yenka, walaupun Yenka meringis. Dia tak peduli, dan rasa perih di organ Yenka rasanya membakar dirinya. Air matanya menetes dari mata.

Yenka mengutuk Taran.

Pria yang seperti binatang ini, memang harus diberi pelajaran.

**

Yenka memadang Taran dengan ekspresi yang keras, pria yang tertidur di sebelahnya itu sangat dibenci olehnya.

Bahkan sekarang tubuhnya masih terasa sakit karena keegoisan Taran. Dia menyetubuhi Yenka tanpa izin dari Yenka, dan melakukannya sangat kuat. Rasa sakit itu masih terasa di seluruh tubuhnya yang berasal dari satu titik, bagian bawah Yenka.

Yenka dengan mata yang berair meremas rambutnya sendiri. Setelah beberapa menit dia seperti itu, Yenka akhirnya turun dari ranjang. Dengan langkahnya yang gontai Yenka masuk ke kamar mandi membilas seluruh tubuhnya. Rasa jijik membuatnya kesulitan bernapas, air dingin yang mengaliri tubuhnya tak membuatnya merasa menggigil.

“Dasar gila!” Yenka meninju dinding kamar mandi dengan perasaan frustasi yang meluap, kakinya gemetar dan akhirnya dia terjatuh dengan tangis yang deras.

Betapa kerasnya teriakannya itu tak juga membuat Taran peduli saat mendengarnya, dia kembali tertidur. Karena bagi Taran, wanita sudah sepatutnya melayani pria, karena di dunia ini yang sangat berkuasa adalah pria

Wanita hanyalah hadiah dari Tuhan untuk memenuhi hasrat para pria, dn hasrat Taran tidak bisa terpenuhi hanya dengan tubuh Yenka. Di matanya, ketika dia menyukai wanita itu, dia harus merasakan mereka.

Mencicipi setiap rasa mereka, dan ketika kepuasan itu tercapai, Taran akan tersenyum. Karena itulah dia tak merasa bersalah pada Yenka.

Yenka keluar dari kamar mandi, memakai pakaiannya dengan tubuh yang lemas. Matanya yang sayu memandang punggung telanjang Taran, rasa sakit sangat terasa.

“Pria bajingan.”

Yenka memakinya sebelum dia melewati pintu kamar hotel, meninggalkan pria gila seks yang membuatnya terluka.

**

Yenka masuk ke rumahnya yang sangat besar, berwarna putih dengan gaya yang klasik. Kepalanya sejak tadi terasa berdenyut—menyakitkan.

Rumah ini adalah rumah pribadi milik Yenka, bukan rumah yang dia tinggali bersama dengan Taran. Melarikan diri ke sini untuk menenangkan diri adalah yang terbaik, tanpa dia menyadari ada seorang pria yang berbahu lebar dengan jas hitamnya sedang berdiri memperhatikannya.

“Yenka, kau dari mana?” Dia berjalan pada Yenka dengan wajah yang tersenyum. Sangat terlihat bahwa dia memiliki tubuh yang proporsional, yang akan menjadi incaran para kaum hawa. Yenka melihatnya.

Tubuhnya yang sejak tadi lemah dan gemetar akhirnya kehilangan daya, Yenka terjatuh dan pria tersebut segera menangkapnya.

“Yenka! Kau kenapa!?” Matanya begitu perhatian, dia sangat khawatir dengan Yenka.

Di atas tangannya yang memegang Yenka, dia melihat Yenka mulai menangis dengan menutupi matanya. Air mata itu begitu deras dan Yenka malu karena itu.

“Yenka ....”

“Ian ... bantu aku, Ian ... bantu aku.” Dia terisak dan memandang Ian yang sekarang sangat khawatirkan pada Yenka.

Ian langsung memeluk kuat Yenka, dia mengusap kepala Yenka di saat Yenka menangis dengan deras.

“Bantu apa? Apa pun akan kulakukan untukmu!”

Ian adalah sahabat kecil dari Yenka, kedua keluarga mereka saling mengenal dan keluarga Ian bukanlah keluarga sembarangan. Di waktu senggangnya, Ian suka menemui Yenka untuk melepas rinsu pertemanan mereka. Yenka adalah wanita berharga bagi Ian.

Mata Yenka gemetar, dia menggigit bibirnya karena beberapa detik ragu. Tangan Yenka memegang pipi Ian dan mengusapnya.

“Kau mau membantuku?”

Ian mengangguk cepat, apa pun akan dia lakukan.

“Fuck me, Ian. Fuck me!”

Yenka menarik kerah baju Ian, membuat wajah mereka sangat dekat dan ekspresi tak percaya Ian muncul. Dia menelan salivanya dengan ragu.

Buku serupa
Unduh Buku