Ditalak Lewat Surat

Ditalak Lewat Surat

E. Rinrien

5.0
Komentar
1.5K
Penayangan
24
Bab

Tak ada angin tak ada hujan, Mas Ibram, suamiku menghilang begitu saja. Hanya secarik surat yang ia tinggalkan. Dan isinya membuat hatiku remuk redam. Aku ditalak. Entah apa salahku sampai ia tega menalakku, lewat surat pula. Tapi, aku tak akan tinggal diam. Akan aku cari ke mana perginya Mas Ibram dan meminta penjelasan darinya.

Bab 1 1

[Alya, saat kamu membaca surat ini saat itu pula saat terakhir aku menjadi suamimu. Aku menalak dan mengembalikanmu pada orang tuamu.

Urusan harta dan nafkah untuk anak-anak sudah aku siapkan. Semua buku tabungan dan aset sudah aku balik nama atas namamu.

Surat perceraian sudah aku urus. Kamu hanya tunggu panggilan untuk sidang. Namun, maaf aku tak akan datang agar semuanya cepat beres. Tolong jaga anak-anak dan jangan cari aku lagi.

Ibram ]

Tanganku bergetar membaca surat yang kutemukan di laci lemari tempat aku menyimpan surat-surat berharga.

Tak sengaja aku menemukannya saat sedang mencari sesuatu yang bisa kugunakan untuk mengetahui keberadaan Mas Ibram. Ya, suamiku itu sudah tak ada kabar selama sehari.

Sejak semalam suamiku tak pulang ke rumah. Ponselnya tak dapat dihubungi. Aku sangat khawatir dan takut terjadi apa-apa padanya. Awalnya aku pikir ia lembur dan lupa mengisi baterai ponsel yang sudah habis. Namun, sampai pagi tiba tak ada tanda-tanda kepulangannya. Oleh karena itu, setelah mengantar anak-anak ke sekolah pagi ini aku memutuskan untuk mendatangi kantornya.

"Pak Ibram sudah resign, Bu. Dari seminggu yang lalu sudah tidak ke kantor." Ucapan pimpinan Mas Ibram membuatku tercengang. Bagaimana bisa? Kemarin pagi ia masih pamit padaku untuk berangkat ke kantornya.

Setelah mendengar penuturan dari rekan kantor Mas Ibram, aku semakin khawatir. Kemana perginya suamiku ini.

Kalau saja ia punya sanak saudara tentu aku akan dengan mudah mencari di mana ia berada. Namun, di dunia ini hanya aku, anak-anak, dan orang tuaku keluarganya. Ia sudah tak punya orang tua sejak kecil. Keluarganya pun tak tahu di mana. Ayahku menemukannya di tepi jalan saat ia berumur lima tahun dan memutuskan untuk merawatnya. Hingga kami menikah, tak satupun aku tahu siapa keluarganya.

Aku masih memegang secarik kertas bertuliskan tangan Mas Ibram. Aku yakin sekali ini tulisan tangannya. Ada tanda tangannya di sana. Tapi kenapa ia menalakku? Apa salahku?

Harusnya aku menangis, tapi entah kenapa air mata tak kunjung keluar. Yang ada dalam pikiranku saat ini adalah bagaimana agar aku bisa bertemu Mas Ibram dan minta penjelasannya.

Aku meletakkan surat di tepi ranjang temapatku duduk. Kemudian aku melangkah dan melihat lagi isi laci tempat aku menemukan surat itu, berharap mendapatkan petunjuk lainnya.

Beberapa buku tabungan atas namaku ada di sana. Aku raih dan buka, saldonya membuatku tercengang. Dari mana Mas Ibram dapat uang sebanyak ini.

Belum selesai sampai di situ, beberapa surat kepemilikan tanah yang aku tahu sebelumnya atas nama Mas Ibram. Kini berubah menjadi atas namaku. Apa-apaan suamiku ini?

Dan, apalagi ini? Sebuah bpkb mobil? Kenapa semuanya diletakkan di sini? Tunggu, ada secarik kertas di dalamnya. Pesan dari Mas Ibram.

[Alya, mobil lama mas jual dan mas belikan mobil baru atas namamu. Mobil itu nanti diantar dua hari setelah mas pergi dari rumah.]

Dua hari? Berarti mobil itu akan diantar besok.

Aku makin bingung dengan kelakuan suamiku ini. Masih berharap ini adalah prank. Aku mengingat-ingat apakah ada tanggal spesial pada bulan ini.

Tapi nihil, bulan ini tak ada ulang tahunku maupun ulang tahunnya. Apalagi ulang tahun pernikahan kami.

Tapi, jika seandainya ini prank ia telah bermain-main dengan kata talak. Meski lewat surat, talak itu telah sah. Dan mulai sekarang aku telah menjanda.

Jujur, aku tak bisa menerima ini. Diceraikan tanpa alasan dan Mas Ibram menghilang begitu saja. Apa ia tak berpikir bagaimana jika anak-anak mencarinya? Bagaimana jika ayah dan ibu bertanya?

Aku harus mencari dan menemukannya. Sekarang tak ada waktu untuk bersedih. Masih talak satu, jika memungkinkan masih ada kesempatan untuk rujuk. Yang penting sekarang memastikan bahwa suamiku itu dalam keadaan baik-baik saja.

Bersambung ....

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh E. Rinrien

Selebihnya

Buku serupa

Cinta yang Tersulut Kembali

Cinta yang Tersulut Kembali

Calli Laplume
4.9

Dua tahun setelah pernikahannya, Selina kehilangan kesadaran dalam genangan darahnya sendiri selama persalinan yang sulit. Dia lupa bahwa mantan suaminya sebenarnya akan menikahi orang lain hari itu. "Ayo kita bercerai, tapi bayinya tetap bersamaku." Kata-katanya sebelum perceraian mereka diselesaikan masih melekat di kepalanya. Pria itu tidak ada untuknya, tetapi menginginkan hak asuh penuh atas anak mereka. Selina lebih baik mati daripada melihat anaknya memanggil orang lain ibu. Akibatnya, dia menyerah di meja operasi dengan dua bayi tersisa di perutnya. Namun, itu bukan akhir baginya .... Bertahun-tahun kemudian, takdir menyebabkan mereka bertemu lagi. Raditia adalah pria yang berubah kali ini. Dia ingin mendapatkannya untuk dirinya sendiri meskipun Selina sudah menjadi ibu dari dua anak. Ketika Raditia tahu tentang pernikahan Selina, dia menyerbu ke tempat tersebut dan membuat keributan. "Raditia, aku sudah mati sekali sebelumnya, jadi aku tidak keberatan mati lagi. Tapi kali ini, aku ingin kita mati bersama," teriaknya, memelototinya dengan tatapan terluka di matanya. Selina mengira pria itu tidak mencintainya dan senang bahwa dia akhirnya keluar dari hidupnya. Akan tetapi, yang tidak dia ketahui adalah bahwa berita kematiannya yang tak terduga telah menghancurkan hati Raditia. Untuk waktu yang lama, pria itu menangis sendirian karena rasa sakit dan penderitaan dan selalu berharap bisa membalikkan waktu atau melihat wajah cantiknya sekali lagi. Drama yang datang kemudian menjadi terlalu berat bagi Selina. Hidupnya dipenuhi dengan liku-liku. Segera, dia terpecah antara kembali dengan mantan suaminya atau melanjutkan hidupnya. Apa yang akan dia pilih?

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku