Lupakan Aku

Lupakan Aku

ika

5.0
Komentar
751
Penayangan
20
Bab

Aku bernama sita, aku mencintai seorang laki-laki bernama Raka, dia adalah cinta pertama ku di sebuah perkuliahan. Kita berdua menjalin asrama dengan bahagia. Tapi sesuatu telah berubah di saat aku tahu bahwa status Raka berbeda dengan ku. Aku anak seorang yang biasa sedangkan Raka adalah anak seorang pengusaha terkenal. Apakah cinta kita direstui dan apakah Raka bisa jadi cinta terakhirku?

Lupakan Aku Bab 1 Dalam diam ku mencintainya

Hari itu, langit begitu cerah seolah ikut menyambut langkah-langkah gugupku memasuki dunia baru bernama kuliah. Aku mengenakan kemeja putih dan celana bahan hitam seperti yang disarankan panitia ospek. Rambutku diikat sederhana, wajahku berusaha tampak tenang meski jantungku berdebar tak karuan.

Hari pertama kuliah.

Sebuah kalimat yang sederhana, tapi bagiku bermakna dalam. Hari itu bukan hanya tentang mengenal kampus, teman baru, atau jurusan yang kupilih dengan penuh harap. Tapi hari itu juga tentang harapan kecil yang kusembunyikan rapat sejak SMA.

Raka.

Namanya muncul seperti suara lembut yang berputar di pikiranku. Lelaki yang diam-diam kusukai sejak bangku SMA. Tak pernah satu kelas, apalagi dekat, tapi entah kenapa, setiap kali melihatnya lewat, ada sesuatu yang bergetar di dadaku.

Kupikir, setelah kelulusan SMA, aku tak akan pernah melihatnya lagi. Tapi takdir ternyata menyimpan kejutan manis.

"Raka?" bisikku pelan ketika melihat sosok tinggi itu berdiri di barisan registrasi kampus. Rambutnya sedikit lebih pendek dari terakhir kali kulihat, tapi senyumnya-senyum yang selalu membuatku terdiam di ujung lorong sekolah dulu-masih sama hangatnya.

Aku berdiri terpaku, tak tahu harus bersikap seperti apa. Menghampiri? Menyapa? Atau cukup menikmati pemandangan dari jauh seperti dulu?

Tiba-tiba, matanya bertemu dengan mataku.

Jantungku nyaris loncat.

Dan yang membuatku nyaris tak percaya, dia tersenyum. Kepadaku.

"Heh, kamu juga kuliah di sini?" tanyanya santai saat kami akhirnya berdiri dalam satu barisan kelompok ospek.

Aku mengangguk kaku. "Iya... nggak nyangka kita satu kampus."

"Seru juga, ya. Jadi ada yang dikenal," katanya.

Dan sejak saat itu, hari pertamaku yang semula dipenuhi kegugupan berubah menjadi hari yang penuh warna. Bukan karena kampus yang megah atau sambutan dosen yang ramah, tapi karena satu nama yang diam-diam kupuja kini berada di tempat yang sama, dengan kemungkinan yang terbuka lebih lebar daripada sebelumnya.

Raka.

Mungkin ini awal yang baru... bukan hanya untuk kuliahku, tapi juga untuk harapan kecil di hatiku.

Hari-hari pertama kuliah berlalu, dan setiap langkahku di kampus terasa lebih ringan sejak hari itu-sejak Raka tersenyum padaku. Kami memang tidak dekat, tidak juga sering berbicara. Tapi entah kenapa, cukup dengan tahu dia ada, rasanya hatiku hangat.

Setiap pagi, aku selalu datang lebih awal, duduk di taman dekat fakultas, berpura-pura membaca buku. Padahal diam-diam aku menanti, berharap bisa melihat Raka lewat dengan ransel di punggung dan langkah santainya yang khas. Kadang, saat aku cukup beruntung, dia akan menyapaku, sekadar melambaikan tangan atau mengangguk kecil.

Itu cukup bagiku.

Aku tahu, perasaan ini belum saatnya disuarakan. Aku terlalu takut merusak kenyamanan yang mulai tumbuh. Jadi aku memilih tetap diam, menyimpan semuanya sendiri. Mengaguminya dari jauh, mendoakannya diam-diam.

Ada hari di mana aku merasa begitu dekat dengannya. Seperti saat kami satu kelompok dalam tugas presentasi. Duduk bersebelahan, berdiskusi, bahkan tertawa bersama. Di momen-momen seperti itu, aku ingin waktu berhenti. Aku ingin dia tahu, betapa aku menghargai setiap detik bersamanya. Tapi setiap kali kata itu ingin keluar, "Aku suka kamu," aku menelannya kembali.

Karena aku tahu, harapan bisa seindah langit senja, tapi juga bisa segetir hujan yang tak kunjung reda.

Lalu malam-malam kulalui dengan memutar ulang kejadian-kejadian kecil bersamanya dengan cara dia memanggil namaku, tawa renyahnya saat bercanda, atau bahkan diamnya saat serius mendengarkan dosen. Semua terekam jelas di memoriku. Seperti film tanpa akhir.

Dan dalam doaku yang paling lirih, aku hanya ingin satu hal.

Semoga, dalam setiap langkahnya, ada ruang kecil yang pelan-pelan bisa ku isi. Bukan hari ini, mungkin bukan besok. Tapi suatu saat nanti... jika takdir mengizinkan.

Karena saat ini, biarlah aku mencintainya dalam diam dengan sabar, dengan tulus.

***

Hari itu, langit tampak sedikit mendung. Angin bertiup pelan, membawa aroma tanah yang khas. Aku duduk sendiri di kantin, menunggu giliran presentasi selanjutnya. Mataku menatap kosong ke arah buku catatan yang terbuka, tapi pikiranku melayang jauh.

Pagi tadi aku melihat Raka. Ia berjalan bersama seorang perempuan.

Mereka terlihat akrab. Terlalu akrab.

Perempuan itu cantik, kulitnya cerah, rambut panjangnya di kuncir kuda, dan tawanya lepas seperti tidak ada beban di dunia. Aku mengenalnya sepintas, dia teman sekelas ku juga. Namanya Laras.

Entah mengapa, melihat mereka berdua membuat dadaku terasa sesak. Aku tahu aku tidak punya hak untuk cemburu. Aku bukan siapa-siapanya Raka. Hanya seorang gadis yang mengaguminya dalam diam. Tapi tetap saja... ada bagian dari hatiku yang terasa retak.

Sepulang kuliah, aku pulang lebih awal dari biasanya. Tidak mampir ke taman seperti biasa, tidak menunggu kemungkinan bertemu Raka seperti yang sering kulakukan. Aku hanya ingin cepat sampai kamar, menarik selimut, dan menyembunyikan diri dari dunia.

Namun, malam itu, sebuah pesan masuk ke ponselku.

Raka:

"Kamu nggak nongkrong di taman sore ini? Tumben."

Aku menatap layar ponsel cukup lama. Jari-jariku gemetar. Ia memperhatikan aku?

"Capek. Jadi langsung pulang. Kenapa?"

Beberapa menit kemudian, balasan masuk.

"Nggak papa. Biasanya aku lihat kamu di sana, jadi aneh aja kalau kosong."

Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Ada harapan yang kembali menyala. Walau kecil. Walau samar. Tapi cukup untuk membuatku tersenyum di tengah kesedihan yang sempat datang.

Mungkin... mungkin perasaanku tak sepenuhnya sia-sia. Mungkin diamku bukan berarti tak terlihat. Dan jika benar, aku bersedia menunggu. Aku tak butuh jawaban cepat. Asal dia tetap jadi alasan aku tersenyum setiap pagi, itu sudah cukup bagiku.

Karena mencintai dalam diam bukan berarti menyerah. Tapi percaya... bahwa jika waktunya tiba, semesta akan menyusun jalannya sendiri.

Hari-hari terus berjalan seperti biasanya. Kuliah, tugas, presentasi, dan momen-momen kecil yang selalu aku simpan rapi dalam ingatan. Raka masih menjadi sosok yang hangat dan ramah kepada semua orang, mudah tertawa, dan selalu punya energi untuk membuat orang nyaman di sekitarnya.

Termasuk aku.

Tapi hanya sebatas itu. Sejauh itu.

Aku masih menjadi gadis yang berdiri di pinggir keramaian, memperhatikannya dari balik jendela kelas, dari deretan bangku paling belakang, dari sisi taman yang tak terlalu mencolok. Ia tetap menjadi pusat cahaya dalam dunianya sendiri, dan aku? Aku hanya bayangan kecil yang setia mengikuti dari jauh.

Kadang aku berpikir, mungkin aku memang tak akan pernah berani mengucapkan perasaanku. Bukan karena aku tak yakin, tapi karena aku terlalu takut, takut jika setelah semua kata itu keluar, semuanya akan berubah. Takut kehilangan kesempatan untuk tetap berada di dekatnya, walau hanya sebagai teman.

Raka kini sering terlihat bersama Laras. Mereka tampak semakin dekat. Bahkan beberapa teman mulai menggoda mereka, menyebut-nyebut nama keduanya dalam satu kalimat seolah sudah sah jadi sepasang.

Aku hanya bisa tersenyum setiap kali mendengarnya. Senyum yang tak benar-benar sampai ke hati.

Aku tetap mencintainya... meski dalam diam, meski dalam kesakitan yang tak terlihat.

Satu-satunya tempat aku bisa jujur adalah di dalam buku harianku. Di sana, aku menuliskan semua rasa yang tak bisa kusampaikan. Tentang betapa bahagianya aku saat ia menyapaku. Tentang bagaimana ia menolongku saat file presentasiku tiba-tiba hilang. Tentang senyumnya yang muncul saat dia melihat hasil tugas kelompok kami dipuji dosen.

Dan tentu saja, tentang bagaimana hatiku perlahan patah melihatnya bersama gadis lain.

Tapi anehnya... aku tidak bisa berhenti. Tidak bisa berhenti mencintainya. Bahkan saat aku tahu cinta ini mungkin tak akan berbalas, aku tetap menyimpan harapan kecil itu. Bukan karena aku bodoh, tapi karena bagiku, mencintainya membuatku tetap merasa hidup.

Malam itu, aku duduk di balkon kamar kosku. Langit penuh bintang, dan udara dingin menelusup ke dalam jaket. Aku menatap ke atas, lalu berbisik lirih pada semesta.

"Kalau aku memang tak bisa bersamanya, tak apa. Tapi tolong... biarkan aku mencintainya sedikit lebih lama lagi. Dalam diamku, dalam doaku."

Karena kadang, cinta tak butuh jawaban. Ia hanya butuh tempat untuk tetap bertahan. Walau tanpa suara.

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh ika

Selebihnya

Buku serupa

Gairah Liar Ayah Mertua

Gairah Liar Ayah Mertua

Gemoy

Aku melihat di selangkangan ayah mertuaku ada yang mulai bergerak dan mengeras. Ayahku sedang mengenakan sarung saat itu. Maka sangat mudah sekali untuk terlihat jelas. Sepertinya ayahku sedang ngaceng. Entah kenapa tiba-tiba aku jadi deg-degan. Aku juga bingung apa yang harus aku lakukan. Untuk menenangkan perasaanku, maka aku mengambil air yang ada di meja. Kulihat ayah tiba-tiba langsung menaruh piringnya. Dia sadar kalo aku tahu apa yang terjadi di selangkangannya. Secara mengejutkan, sesuatu yang tak pernah aku bayangkan terjadi. Ayah langsung bangkit dan memilih duduk di pinggiran kasur. Tangannya juga tiba-tiba meraih tanganku dan membawa ke selangkangannya. Aku benar-benar tidak percaya ayah senekat dan seberani ini. Dia memberi isyarat padaku untuk menggenggam sesuatu yang ada di selangkangannya. Mungkin karena kaget atau aku juga menyimpan hasrat seksual pada ayah, tidak ada penolakan dariku terhadap kelakuan ayahku itu. Aku hanya diam saja sambil menuruti kemauan ayah. Kini aku bisa merasakan bagaimana sesungguhnya ukuran tongkol ayah. Ternyata ukurannya memang seperti yang aku bayangkan. Jauh berbeda dengan milik suamiku. tongkol ayah benar-benar berukuran besar. Baru kali ini aku memegang tongkol sebesar itu. Mungkin ukurannya seperti orang-orang bule. Mungkin karena tak ada penolakan dariku, ayah semakin memberanikan diri. Ia menyingkap sarungnya dan menyuruhku masuk ke dalam sarung itu. Astaga. Ayah semakin berani saja. Kini aku menyentuh langsung tongkol yang sering ada di fantasiku itu. Ukurannya benar-benar membuatku makin bergairah. Aku hanya melihat ke arah ayah dengan pandangan bertanya-tanya: kenapa ayah melakukan ini padaku?

Pernikahan Kilat dengan Sang Miliarder

Pernikahan Kilat dengan Sang Miliarder

JADE HOWE

Riani sangat menyayangi pacarnya. Meskipun pacarnya telah tidak bekerja selama beberapa tahun, dia tidak ragu-ragu untuk mendukungnya secara finansial. Dia bahkan memanjakannya, agar dia tidak merasa tertekan. Namun, apa yang pacarnya lakukan untuk membalas cintanya? Dia berselingkuh dengan sahabatnya! Karena patah hati, Riani memutuskan untuk putus dan menikah dengan seorang pria yang belum pernah dia temui. Rizky, suaminya, adalah seorang pria tradisional. Dia berjanji bahwa dia akan bertanggung jawab atas semua tagihan rumah tangga dan Riani tidak perlu khawatir tentang apa pun. Pada awalnya, Riani mengira suaminya hanya membual dan hidupnya akan seperti di neraka. Namun, dia menemukan bahwa Rizky adalah suami yang baik, pengertian, dan bahkan sedikit lengket. Dia membantunya tidak hanya dalam pekerjaan rumah tangga, tetapi juga dalam kariernya. Tidak lama kemudian, mereka mulai saling mendukung satu sama lain sebagai pasangan yang sedang jatuh cinta. Rizky mengatakan dia hanyalah seorang pria biasa, tetapi setiap kali Riani berada dalam masalah, dia selalu tahu bagaimana menyelesaikan masalahnya dengan sempurna. Oleh karena itu, Riani telah beberapa kali bertanya pada Rizky bagaimana dia bisa memiliki begitu banyak pengetahuan tentang berbagai bidang, tetapi Rizky selalu menghindar untuk menjawabnya. Dalam waktu singkat, Riani mencapai puncak kariernya dengan bantuannya. Hidup mereka berjalan dengan lancar hingga suatu hari Riani membaca sebuah majalah bisnis global. Pria di sampulnya sangat mirip dengan suaminya! Apa-apaan ini! Apakah mereka kembar? Atau apakah suaminya menyembunyikan sebuah rahasia besar darinya selama ini?

My Doctor genius Wife

My Doctor genius Wife

Amoorra

Setelah menghabiskan malam dengan orang asing, Bella hamil. Dia tidak tahu siapa ayah dari anak itu hingga akhirnya dia melahirkan bayi dalam keadaan meninggal Di bawah intrik ibu dan saudara perempuannya, Bella dikirim ke rumah sakit jiwa. Lima tahun kemudian, adik perempuannya akan menikah dengan Tuan Muda dari keluarga terkenal dikota itu. Rumor yang beredar Pada hari dia lahir, dokter mendiagnosisnya bahwa dia tidak akan hidup lebih dari dua puluh tahun. Ibunya tidak tahan melihat Adiknya menikah dengan orang seperti itu dan memikirkan Bella, yang masih dikurung di rumah sakit jiwa. Dalam semalam, Bella dibawa keluar dari rumah sakit untuk menggantikan Shella dalam pernikahannya. Saat itu, skema melawannya hanya berhasil karena kombinasi faktor yang aneh, menyebabkan dia menderita. Dia akan kembali pada mereka semua! Semua orang mengira bahwa tindakannya berasal dari mentalitas pecundang dan penyakit mental yang dia derita, tetapi sedikit yang mereka tahu bahwa pernikahan ini akan menjadi pijakan yang kuat untuknya seperti Mars yang menabrak Bumi! Memanfaatkan keterampilannya yang brilian dalam bidang seni pengobatan, Bella Setiap orang yang menghinanya memakan kata-kata mereka sendiri. Dalam sekejap mata, identitasnya mengejutkan dunia saat masing-masing dari mereka terungkap. Ternyata dia cukup berharga untuk menyaingi suatu negara! "Jangan Berharap aku akan menceraikanmu" Axelthon merobek surat perjanjian yang diberikan Bella malam itu. "Tenang Suamiku, Aku masih menyimpan Salinan nya" Diterbitkan di platform lain juga dengan judul berbeda.

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku