Bunga Matahari Milik Amora

Bunga Matahari Milik Amora

Nanad

5.0
Komentar
65
Penayangan
34
Bab

Sejak Kinan pergi, hidup Galuh terasa seperti film yang diputar mundur. Setiap sudut rumahnya mengingatkannya pada momen-momen indah bersama Kinan. Dulu, ia tak pernah menyangka pertemuan singkat itu akan mengubah hidupnya sedemikian rupa. Kini, ia baru sadar betapa berartinya Kinan dalam hidupnya. Jika orang berkata jodoh adalah anugerah, maka bagi Galuh, Kinan adalah anugerah terbesar yang pernah ia terima. Setelah kepergian Kinan, Galuh mulai mempertanyakan makna jodoh yang selama ini ia yakini. Jika jodoh adalah anugerah, mengapa ia harus merasakan sakit yang begitu mendalam? Kepergian Kinan membuatnya ragu akan adanya takdir yang telah ditentukan. Ia bertanya-tanya, apakah pertemuan dan perpisahan hanyalah sebuah kebetulan semata, atau memang ada rencana besar di balik semua ini? Jodoh adalah rahasia, dan rahasia itu ada pada cerita ini. Tersembunyi di balik tabir misteri, kisah cinta ini akan mengungkap rahasia-rahasia yang tak terduga. Siapakah jodoh yang sebenarnya? Akankah mereka menemukan kebahagiaan bersama? Temukan jawabannya dalam setiap bab. *** Selamat menyelami rahasia Galuh! Bergabunglah dengan Galuh dalam petualangannya mencari makna hidup. Siap untuk menjelajahi dunia yang penuh misteri dan keajaiban? Kisah ini akan membawa kalian pada perjalanan yang tak terlupakan.

Bab 1 Prolog

Galuh Damarendra Wijaya, seorang pebisnis properti yang kini sukses, namun jauh di dalam dirinya, ada kisah yang tak banyak orang tahu. Kesuksesan yang ia raih bukanlah sesuatu yang datang begitu saja-itu adalah hasil dari kerja keras, pengorbanan, dan banyaknya keputusan sulit yang harus diambil sepanjang perjalanan hidupnya.

Di balik ketenangan yang ia tampilkan, Galuh adalah seorang pria yang pernah mengalami kegagalan dan kekecewaan besar. Namun, seperti namanya yang berarti "raja api", ia selalu mampu bangkit dari segala rintangan, mengubah setiap kegagalan menjadi batu loncatan untuk mencapai puncak. Bisnis properti yang ia geluti telah berkembang pesat, dengan sejumlah proyek besar yang sukses, namun di balik itu semua, ada sesuatu yang jauh lebih berharga yang ia cari-kedamaian dan kebahagiaan dalam hidupnya yang penuh dengan keputusan-keputusan berat.

Lima tahun pernikahan dilalui Galuh dan Kinan dengan penuh harapan untuk memiliki buah hati. Segala cara telah mereka coba, namun tak kunjung membuahkan hasil. Namun, keajaiban akhirnya datang. Setelah penantian yang melelahkan, mereka dikaruniai seorang putri cantik yang diberi nama Amora. Kehadiran Amora menjadi hadiah terindah dalam hidup mereka.

Amora Elizaveta, gadis kecil yang sekarang sudah berusia lima tahun, berlari-lari kecil di halaman belakang rumah besar yang dikelilingi pepohonan rindang. Dengan rambut yang tergerai dan mata cerah penuh rasa ingin tahu, ia tampak seperti bunga kecil yang tak pernah lelah mekar di tengah dunia yang penuh dengan keajaiban.

Setiap langkahnya penuh semangat, dan tawa riangnya mengisi udara pagi yang segar. Tak ada satu pun yang bisa menghentikan Amora dari keinginannya untuk menjelajahi dunia sekitarnya. Baginya, setiap sudut rumah adalah petualangan baru, dan setiap benda, sekecil apapun itu, adalah misteri yang harus dipecahkan.

Galuh merasakan hantaman pahit saat menyambut kelahiran putrinya. Di saat yang sama, ia harus merelakan kepergian sang istri tercinta. Pendarahan hebat yang dialami Kinan saat persalinan tak dapat diatasi. Kepergian Kinan meninggalkan luka mendalam di hati Galuh, terutama saat melihat wajah polos Amora yang begitu mirip ibunya.

Amora tumbuh menjadi gadis kecil yang cantik jelita. Tanpa kehadiran sang ibu, Galuh mencurahkan seluruh kasih sayangnya pada putri kecilnya. Meski tak pernah merasakan pelukan hangat seorang ibu, Amora tumbuh menjadi anak yang ceria dan penuh kasih sayang berkat perhatian dari sang ayah dan keluarga besar.

Memiliki perusahaan sendiri memberikan Galuh fleksibilitas yang sangat berarti. Ia bisa dengan bebas mengatur waktu untuk bolak-balik kantor dan rumah, hanya untuk sekedar menyapa Amora. Meski begitu, Galuh enggan membawa Amora ke kantor setiap hari karena khawatir putrinya kelelahan. Meskipun Amora bukan anak yang rewel, namun aktivitasnya yang tinggi membuat Galuh lebih memilih memberikan Amora ruang yang lebih luas untuk bermain di rumah.

Amora tumbuh menjadi anak yang cerdas dan penuh rasa ingin tahu. Seiring bertambahnya usia, pertanyaan tentang ibunya semakin sering terlontar. Otak kecilnya yang aktif selalu mencari jawaban atas segala hal. Galuh, sebagai ayah, merasa kesulitan menjelaskan situasi yang sebenarnya. Ia hanya bisa bercerita bahwa ibunya bekerja di perusahaan besar di luar negeri dan sangat menyayangi Amora.

"Kapan Bunda pulang, Ayah?" tanyanya dengan mata berkaca-kaca. Galuh selalu berusaha memberikan jawaban yang terbaik, meskipun dalam hatinya ia merasa sangat sedih. Ia hanya bisa mengelus rambut Amora dan berkata bahwa ibunya akan segera pulang.

Sama seperti Amora yang selalu bertanya tentang ibunya, Galuh pun tak pernah lepas dari bayang-bayang Kinan. Kerinduan yang mendalam terhadap sosok istri sekaligus ibu dari anaknya itu membuatnya sering melamun. Pertemuan singkat yang pernah mereka lalui terasa begitu singkat dan menyakitkan, hingga membuat Galuh semakin frustasi.

Pertemuan pertama mereka di gerbong kereta itu bagai sebuah lukisan indah yang terpahat jelas di benak Galuh. Senyum manis Kinan, tatapan mata yang penuh kasih, dan obrolan ringan yang mereka lakukan seakan baru terjadi kemarin. Sayangnya, takdir berkata lain. Meski begitu, Galuh yakin Kinan kini tengah merasakan kebahagiaan yang sempurna di alam yang berbeda.

Setelah kepergian Kinan, Galuh memilih untuk mencurahkan seluruh perhatiannya pada Amora dan pekerjaannya. Ajakan ibunya untuk menikah lagi selalu ditolak halus. Baginya, Kinan adalah satu-satunya wanita yang pernah mengisi hatinya. Kesetiaannya pada mendiang istri tak pernah pudar, membuat Galuh enggan membuka hati untuk wanita lain.

Lanjutkan Membaca

Buku serupa

Kesempatan Kedua dengan Sang Miliarder

Kesempatan Kedua dengan Sang Miliarder

Cris Pollalis
5.0

Raina terlibat dengan seorang tokoh besar ketika dia mabuk suatu malam. Dia membutuhkan bantuan Felix sementara pria itu tertarik pada kecantikan mudanya. Dengan demikian, apa yang seharusnya menjadi hubungan satu malam berkembang menjadi sesuatu yang serius. Semuanya baik-baik saja sampai Raina menemukan bahwa hati Felix adalah milik wanita lain. Ketika cinta pertama Felix kembali, pria itu berhenti pulang, meninggalkan Raina sendirian selama beberapa malam. Dia bertahan dengan itu sampai dia menerima cek dan catatan perpisahan suatu hari. Bertentangan dengan bagaimana Felix mengharapkan dia bereaksi, Raina memiliki senyum di wajahnya saat dia mengucapkan selamat tinggal padanya. "Hubungan kita menyenangkan selama berlangsung, Felix. Semoga kita tidak pernah bertemu lagi. Semoga hidupmu menyenangkan." Namun, seperti sudah ditakdirkan, mereka bertemu lagi. Kali ini, Raina memiliki pria lain di sisinya. Mata Felix terbakar cemburu. Dia berkata, "Bagaimana kamu bisa melanjutkan? Kukira kamu hanya mencintaiku!" "Kata kunci, kukira!" Rena mengibaskan rambut ke belakang dan membalas, "Ada banyak pria di dunia ini, Felix. Selain itu, kamulah yang meminta putus. Sekarang, jika kamu ingin berkencan denganku, kamu harus mengantri." Keesokan harinya, Raina menerima peringatan dana masuk dalam jumlah yang besar dan sebuah cincin berlian. Felix muncul lagi, berlutut dengan satu kaki, dan berkata, "Bolehkah aku memotong antrean, Raina? Aku masih menginginkanmu."

Puncak Nafsu Ayah Mertua

Puncak Nafsu Ayah Mertua

Cerita _46
5.0

Aku masih memandangi tubuhnya yang tegap, otot-otot dadanya bergerak naik turun seiring napasnya yang berat. Kulitnya terlihat mengilat, seolah memanggil jemariku untuk menyentuh. Rasanya tubuhku bergetar hanya dengan menatapnya. Ada sesuatu yang membuatku ingin memeluk, menciumi, bahkan menggigitnya pelan. Dia mendekat tanpa suara, aura panasnya menyapu seluruh tubuhku. Kedua tangannya menyentuh pahaku, lalu perlahan membuka kakiku. Aku menahan napas. Tubuhku sudah siap bahkan sebelum dia benar-benar menyentuhku. Saat wajahnya menunduk, bibirnya mendarat di perutku, lalu turun sedikit, menggodaku, lalu kembali naik dengan gerakan menyapu lembut. Dia sampai di dadaku. Salah satu tangannya mengusap lembut bagian kiriku, sementara bibirnya mengecup yang kanan. Ciumannya perlahan, hangat, dan basah. Dia tidak terburu-buru. Lidahnya menjilat putingku dengan lingkaran kecil, membuatku menggeliat. Aku memejamkan mata, bibirku terbuka, dan desahan pelan keluar begitu saja. Jemarinya mulai memijit lembut sisi payudaraku, lalu mencubit halus bagian paling sensitif itu. Aku mendesah lebih keras. "Aku suka ini," bisiknya, lalu menyedot putingku cukup keras sampai aku mengerang. Aku mencengkeram seprai, tubuhku menegang karena kenikmatan itu begitu dalam. Setiap tarikan dan jilatan dari mulutnya terasa seperti aliran listrik yang menyebar ke seluruh tubuhku. Dia berpindah ke sisi lain, memberikan perhatian yang sama. Putingku yang basah karena air liurnya terasa lebih sensitif, dan ketika ia meniup pelan sambil menatapku dari bawah, aku tak tahan lagi. Kakiku meremas sprei, tubuhku menegang, dan aku menggigit bibirku kuat-kuat. Aku ingin menarik kepalanya, menahannya di sana, memaksanya untuk terus melakukannya. "Jangan berhenti..." bisikku dengan napas yang nyaris tak teratur. Dia hanya tertawa pelan, lalu melanjutkan, makin dalam, makin kuat, dan makin membuatku lupa dunia.

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku