icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Bunga Matahari Milik Amora

Bab 3 Halte Bus Kota

Jumlah Kata:1801    |    Dirilis Pada: 01/01/2025

Sarah yang santun dan pandangannya yang ramah membuatnya sejenak ragu. Ingatannya melayang pada perkataa

Galuh. Tidak bisa dipungkiri, Galuh memang memiliki pesona yang kuat. Dengan wajah

agianya Amora bersama Sarah. Di sisi lain, bayangan Kinan masih menghantuinya.

menyayangi Amora. Namun, Galuh masih terbelenggu oleh masa lalu. Ia merasa tidak mun

a polos. Galuh cukup terkejut mendengar ajakan spontan putrinya itu. Ia tidak menyangka Amora akan mengajak Sara

nnya. "Ibu guru kan banyak kesibukan, Amora. Jadi, kita pergi berdua aja, ya?" bujuk Galuh, suaranya terdengar sedikit rag

ngan semangat, matanya berbinar menatap Sarah. Gadis kecil itu sanga

. Tapi maaf ya Amora, betul kata Ayah kamu, ibu guru ada banyak urusan. Kemungkinan besar, ibu

wajahnya, bibirnya mencembut. Matanya berkaca-kaca, menahan tangis. Ia s

atinya luluh. Ia berjongkok di hadapan putrinya. "Ke mobil

wajahnya saat Galuh menawarkan diri untuk menggendongnya. Dengan sem

r. Namun, di balik itu semua, ada rasa sedih yang menusuk hatinya. Sarah tahu betul betapa besar harapan Amora pada sosok bundanya. Gad

h sayang Amora yang begitu besar padanya. Ia ingin sekali menjadi ibu yang baik untuk Amora, memberikan seluruh kasih sayangnya. Namun

krim buat Amora." Galuh menunduk, tersenyum lembut sambil mengelus rambut halus Amora.

melambai-lambaikan tangan kecilnya. Senyum mengembang di wajahnya saat melihat

menjadi alasannya menghindari Maya. Ia hanya ingin sedikit waktu untuk dirinya

. Sosok yang biasanya begitu kokoh, kini tampak lunglai. Kaki yang biasanya melangkah pasti, kini terasa melaya

amu buat kembali didunia ini, aku janji buat selalu memprioritaskan kamu. Dibanding pekerjaanku, kamu lebih

, tapi aku tau itu mustahil," ucap Galuh, suaranya bergetar. Menghadapi pertanyaan polos Amora tentang ibunya adalah ujian ters

engeluarkan semua beban yang ada di dadanya. Tatapannya tertuju pada nisan Kinan, penuh penyesalan dan kerin

, mengingat sudah larut malam, ia urungkan niatnya. Terlintas ide di benaknya, Galuh membeli

pucat. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, namun tidak ada tanda-tanda bus yang akan lewat. Situasi itu membuatnya meras

ada datar, matanya menatap lurus ke depan. Sikap acuhnya seolah-olah tidak p

udi, menatapnya dengan tatapan dingin. "Iya, nunggu bus," jawab Sarah, suaranya sedikit ber

Galuh ketus, matanya menatap tajam ke arah jam tangan. Lampu jalan

sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Senyuman canggungnya semakin

elalak tak percaya. Ia tidak menyangka Galuh akan menawarkan ban

nyum tipis. Ia berusaha menolak tawaran Galuh dengan sopan,

keluar malem-malem gini," potong Galuh, suaranya datar. Sarah terdiam, hatinya sakit. Ia tidak menyangka niat baik Galuh justru memb

tanya menatap lurus ke depan. Nada suaranya terdengar

auh. Kakinya rasanya sangat lemas. Sarah terduduk di kursi halte. Keputusan Sarah untuk menolak tawaran Maya memang selalu bulat. Melihat per

irik Sarah yang masih tertunduk lesu. Suaranya terdengar dingin

aca. Cahaya lampu jalan menerpa wajahnya yang pucat, memperlihatkan ketakutan yang mendalam. Ia ingin menga

mengancam. Tatapannya tajam menusuk, membuat Sarah merinding. Perkataan Galuh bagai

tuk saat ini. Logika mengatakan bahwa berdebat dengan Galuh dalam situasi seperti ini hanya akan memperb

hnya, namun perkataan Galuh selanjutnya membuatnya terdiam. Tatapan tajam Galuh mem

ahi dahinya. Ia teringat pada saat Galuh pertama kali datang ke rumahnya untuk menjemput Amora. Saat

eheningan rumah yang terasa sepi. Lampu-lampu di ruang tamu redup, h

rkan plastik putih berisi martabak telur. Senyum tipis menghiasi wajahnya, m

atinya merasa hangat melihat perhatian yang diberikan oleh Galuh. Meski

imakan, ya, Bi. Mumpung masih hangat," ucap Galuh lembut. Tatapanny

ja makan. Ia berharap Galuh mau bergabung dengannya untuk menikmati martabak bersam

antai. Sudah menjadi kebiasaan Galuh untuk me

am dekapannya. Galuh sering merasa jika Amora tidur bersama kedua orang tuanya

ukan es krim," ucap Galuh lembut sambil meletakkan permen di samping tempat tidur Amora.

ngecup kening putrinya. Dia menarik selimut hingga menutupi tubuh mungil Amora. Melihat wajah polos Amora yang tertidur pulas, hati Galuh meng

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Bunga Matahari Milik Amora
Bunga Matahari Milik Amora
“Sejak Kinan pergi, hidup Galuh terasa seperti film yang diputar mundur. Setiap sudut rumahnya mengingatkannya pada momen-momen indah bersama Kinan. Dulu, ia tak pernah menyangka pertemuan singkat itu akan mengubah hidupnya sedemikian rupa. Kini, ia baru sadar betapa berartinya Kinan dalam hidupnya. Jika orang berkata jodoh adalah anugerah, maka bagi Galuh, Kinan adalah anugerah terbesar yang pernah ia terima. Setelah kepergian Kinan, Galuh mulai mempertanyakan makna jodoh yang selama ini ia yakini. Jika jodoh adalah anugerah, mengapa ia harus merasakan sakit yang begitu mendalam? Kepergian Kinan membuatnya ragu akan adanya takdir yang telah ditentukan. Ia bertanya-tanya, apakah pertemuan dan perpisahan hanyalah sebuah kebetulan semata, atau memang ada rencana besar di balik semua ini? Jodoh adalah rahasia, dan rahasia itu ada pada cerita ini. Tersembunyi di balik tabir misteri, kisah cinta ini akan mengungkap rahasia-rahasia yang tak terduga. Siapakah jodoh yang sebenarnya? Akankah mereka menemukan kebahagiaan bersama? Temukan jawabannya dalam setiap bab. *** Selamat menyelami rahasia Galuh! Bergabunglah dengan Galuh dalam petualangannya mencari makna hidup. Siap untuk menjelajahi dunia yang penuh misteri dan keajaiban? Kisah ini akan membawa kalian pada perjalanan yang tak terlupakan.”
1 Bab 1 Prolog2 Bab 2 Amora, Gadis Kecil Ayah3 Bab 3 Halte Bus Kota4 Bab 4 Dunia Kecil Amora5 Bab 5 Jalan Tengah yang Berat Sebelah6 Bab 6 Kontrak Pra-nikah7 Bab 7 Nyaris Trauma8 Bab 8 Putih dan Biru9 Bab 9 Pernikahan Tanpa Sentuhan10 Bab 10 Kebun Impian11 Bab 11 Di Bawah Cahaya Neon12 Bab 12 Bubur Orang Sakit13 Bab 13 Musim Semi yang Dingin14 Bab 14 Pelajaran dari Kenzo15 Bab 15 Metamorfosis Cinta Galuh16 Bab 16 Sentuhan Pertama17 Bab 17 Rempah Cinta di Dapur18 Bab 18 Senja di Pantai19 Bab 19 Istri Seorang Pebisnis20 Bab 20 Sentuhan Ajaib Mak Comblang21 Bab 21 Tes Kehamilan22 Bab 22 Detak Jantung Baru23 Bab 23 Tawa Bersama Aksel24 Bab 24 Belenggu Masa Lalu25 Bab 25 Santai dalam Badai26 Bab 26 Ranjau Perceraian27 Bab 27 Kenangan di Ujung Pisau28 Bab 28 Terakhir Kali Ini29 Bab 29 Air Mata di Penghujung Perjalanan30 Bab 30 Dilema dalam Cinta dan Keluarga31 Bab 31 Tepi Kebahagiaan32 Bab 32 Bunga yang Layu33 Bab 33 Saat Dunia Menilai34 Bab 34 Dari Hati ke Hati