SENYUM DI TAMAN SEKOLAH

SENYUM DI TAMAN SEKOLAH

eryede

5.0
Komentar
226
Penayangan
20
Bab

Seorang pemuda yang suka menyendiri sering menghabiskan waktu di taman sekolah. Suatu hari, ia bertemu dengan seorang gadis ceria yang selalu tersenyum. Tanpa disadari, kehadirannya membawa warna baru dalam hidupnya

SENYUM DI TAMAN SEKOLAH Bab 1 Pertemuan Tak Terduga

Arya selalu menemukan kenyamanan dalam kesendirian. Bukan karena dia tidak menyukai orang lain, tetapi karena kesunyian memberikan ruang baginya untuk berpikir, jauh dari keramaian sekolah yang selalu riuh. Setiap istirahat, dia akan pergi ke tempat favoritnya-taman sekolah yang berada di sudut, tersembunyi dari lalu-lalang siswa lain.

Taman itu sederhana, hanya ada beberapa pohon rindang dan bangku kayu tua, tapi bagi Arya, tempat itu seperti surga. Suara angin yang berdesir di antara dedaunan dan kicauan burung yang bersembunyi di dahan, membuatnya merasa damai. Di sinilah ia bisa melarikan diri dari dunia luar yang menurutnya terlalu ramai dan membosankan.

Namun, hari ini terasa sedikit berbeda. Begitu ia sampai di taman, Arya melihat sesuatu yang tak biasa-seorang gadis duduk di bawah salah satu pohon besar. Gadis itu sedang asyik membaca buku, sesekali tersenyum sendiri. Arya tidak mengenal gadis itu, dan anehnya, ia merasa sedikit terganggu dengan kehadirannya di tempat yang biasanya menjadi "milik" Arya seorang.

Arya memperhatikan dari kejauhan. Gadis itu tampak begitu nyaman di sana, seakan-akan taman itu juga miliknya. Rambutnya yang panjang tergerai di bahunya, dan setiap kali angin bertiup, helai-helai rambutnya berayun lembut. Arya tidak bisa mengalihkan pandangan. Ada sesuatu tentang senyum gadis itu yang membuatnya penasaran.

"Siapa dia?" Arya bergumam dalam hati. Dia merasa aneh, karena biasanya, dia tak pernah peduli pada orang lain. Apalagi pada seseorang yang tiba-tiba "menduduki" tempat favoritnya.

Tak ingin mengusik gadis itu, Arya duduk di bangku kayu yang sedikit jauh. Dari tempatnya duduk, ia masih bisa melihat gadis itu, tapi cukup jauh untuk tidak menarik perhatian. Ia membuka bukunya sendiri, tapi pikirannya terus melayang ke arah gadis yang tersenyum itu.

Sebenarnya, Arya tidak tahu apa yang membuatnya begitu penasaran. Mungkin karena senyumnya. Senyum itu bukan sekadar senyum biasa, melainkan senyum yang seolah-olah menceritakan kisah di baliknya. Sebuah senyum yang penuh makna, namun juga misterius.

Waktu berlalu dengan cepat. Gadis itu terus membaca dengan tenang, sementara Arya sesekali mencuri pandang. Saat bel tanda istirahat berakhir berbunyi, gadis itu menutup bukunya, berdiri, dan berjalan pergi. Arya memperhatikan dari kejauhan, melihat langkah ringan gadis itu yang perlahan menghilang di balik pintu gedung sekolah.

Arya menghela napas panjang. Ada perasaan aneh yang ia rasakan. Sesuatu yang membuat hatinya sedikit bergetar. Ia tidak tahu siapa gadis itu, tapi kehadirannya meninggalkan kesan mendalam di hati Arya.

"Besok, mungkin aku akan melihatnya lagi," Arya berkata pelan pada dirinya sendiri. Sesuatu di dalam dirinya ingin mengenal gadis yang selalu tersenyum itu. Tapi di sisi lain, Arya juga ragu. Bagaimana jika besok gadis itu tak lagi datang ke taman? Apa dia hanya sesekali ke sana? Atau apakah taman ini memang juga tempat favoritnya?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepala Arya sepanjang sisa hari itu. Taman yang biasanya menjadi tempatnya melarikan diri kini justru menimbulkan rasa penasaran baru. Siapa gadis itu? Dan mengapa senyumnya begitu memikat?

Arya pulang dengan perasaan yang tak biasa. Entah kenapa, ia berharap esok hari segera datang. Mungkin, besok ia akan melihat senyum itu lagi.

Malam itu, Arya tidak bisa berhenti memikirkan gadis yang ditemuinya di taman. Ia mencoba menepisnya dengan mengerjakan PR, menonton televisi, bahkan bermain gim di ponselnya, namun bayangan senyum gadis itu selalu kembali menghantuinya.

"Apa yang salah denganku?" Arya bertanya pada dirinya sendiri. Ia merasa aneh, karena biasanya ia tidak terlalu memikirkan orang lain, apalagi seseorang yang baru dilihatnya sekali. Tetapi senyum gadis itu begitu hangat, seakan-akan ada kebahagiaan yang ia bagikan tanpa harus mengucapkan sepatah kata pun. Arya mencoba tidur lebih awal, berharap pikirannya akan jernih di pagi hari.

Keesokan harinya, saat bel istirahat berbunyi, Arya segera bergegas menuju taman. Ada perasaan berdebar di dadanya - sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Selama ini, taman adalah tempat di mana ia merasa tenang dan nyaman, tapi sekarang ia malah merasa gelisah. Setiap langkah yang ia ambil menuju taman membuat jantungnya berdetak lebih cepat.

Begitu sampai di taman, Arya berhenti sejenak, matanya langsung mencari ke arah pohon besar di mana gadis itu kemarin duduk. Dan di sana, tepat di tempat yang sama, gadis itu ada lagi. Kali ini, ia tidak sedang membaca buku, melainkan menatap langit dengan senyum yang sama-senyum yang kemarin membuat Arya terpaku.

Arya berdiri diam beberapa saat, mencoba memutuskan apakah ia harus mendekat atau tetap di tempatnya seperti kemarin. Tapi hari ini, ada dorongan aneh di dalam dirinya. Arya merasa, jika ia hanya terus memperhatikan dari kejauhan, ia tidak akan pernah tahu siapa gadis itu. Akhirnya, dengan langkah perlahan namun pasti, Arya mendekati pohon besar tersebut.

Saat ia semakin dekat, gadis itu menoleh dan tersenyum padanya-senyum yang seolah-olah mengatakan bahwa dia telah menunggu Arya. Arya merasakan jantungnya berdegup lebih cepat, tapi ia berusaha tetap tenang.

"Hai," sapa gadis itu tiba-tiba, membuat Arya sedikit terkejut. Suaranya lembut, cocok dengan kepribadian ceria yang terpancar dari wajahnya. "Kamu sering ke sini ya?" tanyanya sambil tetap tersenyum.

Arya merasa canggung, tapi ia mengangguk. "Iya... aku suka tempat ini. Kamu?"

Gadis itu mengangguk pelan. "Aku baru beberapa kali ke sini. Biasanya aku duduk di perpustakaan, tapi rasanya sesekali menikmati udara luar juga menyenangkan, ya?"

Arya hanya bisa tersenyum kecil sebagai jawaban. Gadis ini membuatnya sedikit kikuk, sesuatu yang jarang sekali ia rasakan. Setelah beberapa detik hening, Arya akhirnya memberanikan diri bertanya, "Apa yang kamu baca kemarin?"

"Oh, itu?" Gadis itu tertawa kecil, suaranya terdengar ringan. "Itu novel roman, mungkin bukan genre favoritmu ya?"

Arya terdiam sejenak. Benar, ia bukan penggemar novel roman, tapi karena ini adalah satu-satunya topik percakapan yang terbuka, ia mencoba menanggapinya. "Aku lebih suka buku-buku sejarah atau sains... tapi aku pernah baca beberapa novel roman juga."

Gadis itu tampak terkejut. "Benarkah? Wah, jarang-jarang ada cowok yang ngaku suka baca novel roman."

Arya tersenyum kecil, meski sebenarnya ia tidak begitu tertarik pada novel roman, hanya pernah membaca beberapa untuk tugas sekolah. "Apa yang membuatmu suka dengan novel roman?"

Senyum gadis itu semakin lebar, matanya berkilau saat berbicara tentang sesuatu yang disukainya. "Aku suka bagaimana cerita cinta dalam novel bisa sangat sederhana, tapi juga rumit. Setiap karakter punya perjuangan masing-masing, tapi pada akhirnya mereka selalu menemukan jalan untuk bersama. Seperti... ada keindahan dalam ketidaksempurnaan mereka."

Arya memperhatikan cara gadis itu berbicara. Ada semangat dan kebahagiaan yang ia pancarkan saat menjelaskan sesuatu yang ia cintai. Ini membuat Arya teringat pada dirinya sendiri saat berbicara tentang sejarah atau astronomi-ada gairah dalam menemukan sesuatu yang menarik, dan itu juga yang ia lihat pada gadis ini.

"Aku Arya," katanya akhirnya, memperkenalkan diri.

Gadis itu tersenyum lagi. "Aku Naira. Senang bisa ngobrol denganmu, Arya."

Percakapan mereka terus berlanjut, meskipun singkat dan sesekali diiringi oleh keheningan yang canggung. Tapi bagi Arya, pertemuan ini meninggalkan kesan yang lebih dalam. Naira, dengan senyum cerah dan sikap terbukanya, telah membuat hari Arya sedikit lebih berwarna.

Saat bel tanda istirahat selesai berbunyi, Naira bangkit dan bersiap-siap untuk kembali ke kelas. "Sampai ketemu lagi di taman?" tanyanya sambil tersenyum lembut.

Arya hanya bisa mengangguk, sedikit terkejut karena Naira yang justru mengundang pertemuan berikutnya. "Iya... sampai ketemu lagi."

Naira melambaikan tangan sebelum berbalik dan berjalan menjauh, meninggalkan Arya yang masih terpaku di tempat. Ia merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya. Seperti ada perasaan baru yang mulai tumbuh, perasaan yang selama ini tak pernah ia sadari.

Ketika Naira menghilang di balik pintu gedung sekolah, Arya tersenyum sendiri. Taman ini, yang dulu hanya tempat pelariannya dari dunia, kini menjadi tempat di mana hatinya mulai menemukan warna baru.

Bersambung...

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh eryede

Selebihnya

Buku serupa

Gairah Liar Ayah Mertua

Gairah Liar Ayah Mertua

Gemoy

Aku melihat di selangkangan ayah mertuaku ada yang mulai bergerak dan mengeras. Ayahku sedang mengenakan sarung saat itu. Maka sangat mudah sekali untuk terlihat jelas. Sepertinya ayahku sedang ngaceng. Entah kenapa tiba-tiba aku jadi deg-degan. Aku juga bingung apa yang harus aku lakukan. Untuk menenangkan perasaanku, maka aku mengambil air yang ada di meja. Kulihat ayah tiba-tiba langsung menaruh piringnya. Dia sadar kalo aku tahu apa yang terjadi di selangkangannya. Secara mengejutkan, sesuatu yang tak pernah aku bayangkan terjadi. Ayah langsung bangkit dan memilih duduk di pinggiran kasur. Tangannya juga tiba-tiba meraih tanganku dan membawa ke selangkangannya. Aku benar-benar tidak percaya ayah senekat dan seberani ini. Dia memberi isyarat padaku untuk menggenggam sesuatu yang ada di selangkangannya. Mungkin karena kaget atau aku juga menyimpan hasrat seksual pada ayah, tidak ada penolakan dariku terhadap kelakuan ayahku itu. Aku hanya diam saja sambil menuruti kemauan ayah. Kini aku bisa merasakan bagaimana sesungguhnya ukuran tongkol ayah. Ternyata ukurannya memang seperti yang aku bayangkan. Jauh berbeda dengan milik suamiku. tongkol ayah benar-benar berukuran besar. Baru kali ini aku memegang tongkol sebesar itu. Mungkin ukurannya seperti orang-orang bule. Mungkin karena tak ada penolakan dariku, ayah semakin memberanikan diri. Ia menyingkap sarungnya dan menyuruhku masuk ke dalam sarung itu. Astaga. Ayah semakin berani saja. Kini aku menyentuh langsung tongkol yang sering ada di fantasiku itu. Ukurannya benar-benar membuatku makin bergairah. Aku hanya melihat ke arah ayah dengan pandangan bertanya-tanya: kenapa ayah melakukan ini padaku?

My Doctor genius Wife

My Doctor genius Wife

Amoorra

Setelah menghabiskan malam dengan orang asing, Bella hamil. Dia tidak tahu siapa ayah dari anak itu hingga akhirnya dia melahirkan bayi dalam keadaan meninggal Di bawah intrik ibu dan saudara perempuannya, Bella dikirim ke rumah sakit jiwa. Lima tahun kemudian, adik perempuannya akan menikah dengan Tuan Muda dari keluarga terkenal dikota itu. Rumor yang beredar Pada hari dia lahir, dokter mendiagnosisnya bahwa dia tidak akan hidup lebih dari dua puluh tahun. Ibunya tidak tahan melihat Adiknya menikah dengan orang seperti itu dan memikirkan Bella, yang masih dikurung di rumah sakit jiwa. Dalam semalam, Bella dibawa keluar dari rumah sakit untuk menggantikan Shella dalam pernikahannya. Saat itu, skema melawannya hanya berhasil karena kombinasi faktor yang aneh, menyebabkan dia menderita. Dia akan kembali pada mereka semua! Semua orang mengira bahwa tindakannya berasal dari mentalitas pecundang dan penyakit mental yang dia derita, tetapi sedikit yang mereka tahu bahwa pernikahan ini akan menjadi pijakan yang kuat untuknya seperti Mars yang menabrak Bumi! Memanfaatkan keterampilannya yang brilian dalam bidang seni pengobatan, Bella Setiap orang yang menghinanya memakan kata-kata mereka sendiri. Dalam sekejap mata, identitasnya mengejutkan dunia saat masing-masing dari mereka terungkap. Ternyata dia cukup berharga untuk menyaingi suatu negara! "Jangan Berharap aku akan menceraikanmu" Axelthon merobek surat perjanjian yang diberikan Bella malam itu. "Tenang Suamiku, Aku masih menyimpan Salinan nya" Diterbitkan di platform lain juga dengan judul berbeda.

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku