DIMADU KARENA DIFITNAH MANDUL

DIMADU KARENA DIFITNAH MANDUL

ARY

3.5
Komentar
6.3K
Penayangan
127
Bab

Aisyah adalah seorang istri yang berjuang hamil selama 4 tahun, namun difitnah mandul oleh suami dan mertuanya sehingga ia dimadu dan yang lebih menyakitkan lagi madunya adalah sahabatnya sendiri. Tak sanggup dimadu ia meminta cerai dan sejak saat itu ia mulai menemukan kebahagiaan, namun mantan suaminya mulai mendapatkan petaka dan kehancuran. Sejak saat itulah penyesalan dan pembalasan dendam terjadi!

DIMADU KARENA DIFITNAH MANDUL Bab 1 Permintaan Mertua

"Mas udah bosen dengerin ocehan, Mama! Pasti ada masalah sama rahim kamu!"

"Mas ... Mas kan udah tau sendiri hasil dari dokter. Aku sehat kok Mas," ucap Aisyah membantah.

"Kalau sehat mana buktinya? 4 tahun kita menikah kamu belum hamil juga!" jawab Bima kecewa.

"Mama pasti ngerti kok, asal Mas bisa ngasi pengertian juga ke Mama."

"Aku kalau jadi Mama bakalan sama juga, kok. Kamu lihat di luar sana teman-teman Mama semuanya udah gendong cucu," ucap Bima seraya menyindir.

"Mas kok jadi banding-bandingin aku gini sih? Mas kira aku juga nggak pengen punya anak. Di kondisi kayak gini aku yang paling sedih harusnya Mas support aku," sahut Aisyah sembari meneteskan air mata.

"Aku harus support kayak gimana lagi? Kuping aku tuh panas tiap pulang kerja dengerin Mama minta cucu mulu, aku tuh capek punya istri kayak kamu!" ucap Bima lancang.

Aisyah yang mendengar perkataan menyakitkan dari suaminya itu lantas menangis tersedu dan meninggalkan Bima di tengah percakapan yang sedang berlangsung. Pertengkaran semacam ini selalu saja terjadi sejak setahun pernikahan mereka hingga empat tahun berlalu mereka belum juga dikaruniai seorang anak. Ajeng, mertua Aisyah selalu menuntut mereka untuk segera mempunyai momongan tanpa memberikan solusi ataupun support untuk Aisyah melainkan hanya sindiran dan selalu membanding-bandingkan menantunya itu dengan orang-orang di luar sana yang sudah bisa memberikan mertuanya seorang cucu.

"Dikit-dikit nangis, sudah tau salah siapa suruh nggak hamil-hamil, gimana suaminya mau bahagia kalau kerjaannya nangis terus!" ucap wanita tua itu dengan nada keras. Berharap di dengar Aisyah yang tujuannya memang untuk menyindir perempuan malang itu.

Tangis Aisyah semakin pecah, ia hanya bisa menutup telinganya dan mengurung diri di kamar.

"Ya, buka! Ini, Mas."

Aisyah dengan tertatih membuka pintu, "Kenapa Mas? Mas mau ikutan nyindir aku lagi? Belum puas ya!"

"Maaf, Mas nggak maksud nyakitin kamu," ucap Bima menyesali perkataannya.

"Terus Mas kira aku percaya sama kata maaf dari Mas? Ini udah maaf yang keberapa kali?"

"Kamu harusnya bisa ngertiin Mas dong! Aku ini capek pulang kerja harus ngadepin ocehan Mama tiap hari."

"Mas, kalau kamu nyamperin aku ke sini cuman mau adu nasib mending gausah ganggu aku dulu deh! Mas kira aku di rumah leha-leha, aku juga nggak bisa ngerasa capek? Aku lelah tubuh lelah batin Mas."

"Gini ni yang aku nggak suka dari kamu, nggak ada rasa pengertiannya dikit sama suami!"

"Terserah deh, Mas. Mau aku ngebela diri kayak gimana pun kalau emang dasarnya Mas nggak suka sama aku, tetep aja selalu salah di mata kamu."

"Sejak kapan kamu berani lawan, Mas? Udah banyak berubah ternyata kamu ya."

"Aku berubah, Mas?" ujar Aisyah terheran.

Bima terdiam, ia menatap tajam istrinya itu lantas pergi sembari memukul pintu kamar yang membuat Aisyah terkejut, "Istri nggak berguna!"

Perempuan malang itu dengan ragu beranjak dari kamar, melangkahkan kaki seakan berada di lingkungan asing yang tak pernah ia kenal, lingkungan rumah yang seharusnya membuat dirinya nyaman bagaikan malapetaka yang datang setiap harinya.

"Harus sampai kapan aku begini?" rintih Aisyah.

"Aisyah! Aisyah! Sini kamu!" teriak wanita tua itu.

"Iya, Ma. Sebentar." Aisyah bergegas berlari

"Lelet banget sih!"

"Maaf, Ma," jawabnya halus.

"Besok, Mama ada arisan, teman-teman Mama mau ngadain di sini. Kamu besok pergi aja, pokoknya Mama nggak mau liat kamu besok di rumah! Mama males harus ditanya-tanya kapan punya cucu, lebih baik kamu nggak ada di sini kan daripada kamu nangis lagi," ucap wanita tua itu tanpa rasa bersalah.

"Ma, kok Mama tega sih sama aku? Emang aku ada salah apa sih sama Mama?"

"Pakek nanya lagi! Udah tau nggak bisa hamil masih bisa nanyain salah aku apa!"

Belum kering rasanya air mata Aisyah tadi, sekarang harus dihujam kata-kata perih kembali. Hinaan demi hinaan sepertinya sudah menjadi makanan pokok sehari-hari perempuan malang itu, Aisyah yang tak berdaya hanya bisa pasrah menerima semuanya. Perempuan malang berusia 27 tahun itu memanglah berhati lembut terkadang ia hanya bisa berdiam diri dan tak membalas perkataan buruk dari mertua dan suaminya itu karena ia takut akan menyakiti hati orang yang dia sayangi.

"Astagfirullah, Ma. Mama sendiri kan tau kalau aku sehat-sehat aja nggak ada yang salah dari aku. Kalau Allah belum berkehendak ngasi aku rejeki seorang anak terus aku harus apa? Itu semua di luar kendali aku, Ma."

"Terus kamu pikir saya peduli? Intinya besok Mama nggak mau tau ya, kalau Mama masih liat kamu di rumah besok awas aja ya!"

Lanjutkan Membaca

Buku serupa

Gairah Liar Ayah Mertua

Gairah Liar Ayah Mertua

Gemoy

Aku melihat di selangkangan ayah mertuaku ada yang mulai bergerak dan mengeras. Ayahku sedang mengenakan sarung saat itu. Maka sangat mudah sekali untuk terlihat jelas. Sepertinya ayahku sedang ngaceng. Entah kenapa tiba-tiba aku jadi deg-degan. Aku juga bingung apa yang harus aku lakukan. Untuk menenangkan perasaanku, maka aku mengambil air yang ada di meja. Kulihat ayah tiba-tiba langsung menaruh piringnya. Dia sadar kalo aku tahu apa yang terjadi di selangkangannya. Secara mengejutkan, sesuatu yang tak pernah aku bayangkan terjadi. Ayah langsung bangkit dan memilih duduk di pinggiran kasur. Tangannya juga tiba-tiba meraih tanganku dan membawa ke selangkangannya. Aku benar-benar tidak percaya ayah senekat dan seberani ini. Dia memberi isyarat padaku untuk menggenggam sesuatu yang ada di selangkangannya. Mungkin karena kaget atau aku juga menyimpan hasrat seksual pada ayah, tidak ada penolakan dariku terhadap kelakuan ayahku itu. Aku hanya diam saja sambil menuruti kemauan ayah. Kini aku bisa merasakan bagaimana sesungguhnya ukuran tongkol ayah. Ternyata ukurannya memang seperti yang aku bayangkan. Jauh berbeda dengan milik suamiku. tongkol ayah benar-benar berukuran besar. Baru kali ini aku memegang tongkol sebesar itu. Mungkin ukurannya seperti orang-orang bule. Mungkin karena tak ada penolakan dariku, ayah semakin memberanikan diri. Ia menyingkap sarungnya dan menyuruhku masuk ke dalam sarung itu. Astaga. Ayah semakin berani saja. Kini aku menyentuh langsung tongkol yang sering ada di fantasiku itu. Ukurannya benar-benar membuatku makin bergairah. Aku hanya melihat ke arah ayah dengan pandangan bertanya-tanya: kenapa ayah melakukan ini padaku?

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
DIMADU KARENA DIFITNAH MANDUL DIMADU KARENA DIFITNAH MANDUL ARY Lainnya
“Aisyah adalah seorang istri yang berjuang hamil selama 4 tahun, namun difitnah mandul oleh suami dan mertuanya sehingga ia dimadu dan yang lebih menyakitkan lagi madunya adalah sahabatnya sendiri. Tak sanggup dimadu ia meminta cerai dan sejak saat itu ia mulai menemukan kebahagiaan, namun mantan suaminya mulai mendapatkan petaka dan kehancuran. Sejak saat itulah penyesalan dan pembalasan dendam terjadi!”
1

Bab 1 Permintaan Mertua

13/04/2024

2

Bab 2 Perubahan Sikap

13/04/2024

3

Bab 3 Wanita Simpanan

13/04/2024

4

Bab 4 Poligami

13/04/2024

5

Bab 5 Maduku Sahabatku

13/04/2024

6

Bab 6 Meminta Cerai

13/04/2024

7

Bab 7 Kehamilanku

13/04/2024

8

Bab 8 Meminta Pertanggung Jawaban

13/04/2024

9

Bab 9 Cibiran Tetangga

13/04/2024

10

Bab 10 Di Rumah Sakit

13/04/2024

11

Bab 11 Tidak Dianggap

13/04/2024

12

Bab 12 Pertama Kali Ke Rumah

13/04/2024

13

Bab 13 Bahan Perbandingan

13/04/2024

14

Bab 14 Cekcok

13/04/2024

15

Bab 15 Jatuh Sakit

13/04/2024

16

Bab 16 Memulai Bisnis

13/04/2024

17

Bab 17 Support System

13/04/2024

18

Bab 18 Kecewa

13/04/2024

19

Bab 19 Karir Terancam

13/04/2024

20

Bab 20 Menyatakan Cinta

13/04/2024

21

Bab 21 Pulih

13/04/2024

22

Bab 22 Memperjuangkan Restu

13/04/2024

23

Bab 23 Segera Punya Cucu!

13/04/2024

24

Bab 24 Keberatan

13/04/2024

25

Bab 25 Kesepakatan

13/04/2024

26

Bab 26 Hari Pertama

13/04/2024

27

Bab 27 Insiden

13/04/2024

28

Bab 28 Move On

13/04/2024

29

Bab 29 Program Hamil

22/04/2024

30

Bab 30 Menyesali Perbuatan

23/04/2024

31

Bab 31 Salah Paham

24/04/2024

32

Bab 32 Salah Paham 2

25/04/2024

33

Bab 33 Kembali Ke Jakarta

26/04/2024

34

Bab 34 Putus Asa

27/04/2024

35

Bab 35 Kunjungan Dadakan

28/04/2024

36

Bab 36 Meminta Restu

29/04/2024

37

Bab 37 Luluh

30/04/2024

38

Bab 38 Mimpi Buruk

01/05/2024

39

Bab 39 Kiara Jatuh Di Tangga

06/05/2024

40

Bab 40 Marah Besar

07/05/2024