Rahasia Suamiku

Rahasia Suamiku

Bingang Venus

5.0
Komentar
4.3K
Penayangan
20
Bab

Rumah tangga yang ku kira sempurna ternyata tersimpan sebuah rahasia besar di dalamnya

Bab 1 Pesan Nomor Baru

Kesepakatan yang paling utama dalam rumah tangga adalah kejujuran dan keterbukaan.

¤¤¤

(Mas aku tak enak badan)

Sebuah pesan muncul pada aplikasi berwarna hijau di gawai suamiku dari nomor baru.

"Siapa yang berani malam-malam menghubungi suamiku dan mengatakan kondisinya pada suamiku. Apa maksud dan tujuan orang tersebut? Apa Mas adit ada main di belakangku," gumamku dalam hati.

(Siapa?)

Ku balas pesan itu sebelum Mas Adit tahu tentang pesan misterius itu,

Kosong. Setelah ku tunggu beberapa menit pengirim misterius itu tak kunjung membalas pesanku. Apa dia tahu bahwa yang membalas pesan itu bukan suamiku melainkan aku. Siapa pemilik nomor itu,

"Ada apa, Sayang?"

Suara Mas Adit mengagetkanku. Dia keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang dililitkan sebatas pinggangnya. Begitu mempesona di mataku.

"Ini mas ada pesan di gawai mu. Dia bilang dia tak enak badan. Dari nomor baru. Siapa mas?" Tanyaku penuh selidik.

"Aku tidak tau, Sayang. Orang iseng mungkin," jawabnya dengan wajah sedikit menegang.

Aneh menurutku jika hanya orang iseng kenapa dia terlihat menegang.

"Ya sudah yuk, sayang. Kita makan!" ajaknya setelah memakai baju.

Aku berjalan mengekor di belakang Mas Adit sambil memikirkan siapa pengirim pesan itu. Apa hubungannya dia dengan Mas Adit. Apa jangan-jangan Mas Adit memiliki hubungan di belakangku. Mengingat jarak tempat kerja dia yang berada di luar kota dan intensitas bertemu dengaku hanya di akhir pekan saja. Kepalaku pusing di buatnya.

"Kok bengong, Dek. Kenapa?" Tanya Mas Adit intens.

"Tidak, Mas. Hanya saja, rasanya akhir-akhir ini aku merasa mual dan sering pusing," jawabku berusaha mengalihkan topik pembicaraan agar Mas Adit tidak tahu bahwa aku masih memikirkan pesan tadi.

"Mau mas antar ke dokter besok?" Tawar Mas Adit.

"Tidak usah, Mas nanti juga sembuh," jawabku dengan senyum.

Kami makan malam bersama sambil bercanda seperti biasa. Saat-saat seperti inilah yang sering aku rindukan setiap kali Mas Adit jauh dariku demi pekerjaannya.

Malam semakin beranjak hingga tak terasa sekarang hampir tengah malam. Mas Adit sudah tertidur dengan pulas di sampingku. Namun tidak dengan aku. Otaku terus memikirkan tentang pesan itu. Bagaimana mungkin ada orang iseng mengiri pesan seperti itu kepada suamiku. Apa yang sebena.rnya di sembunyikan suamiku dariku

Saat aku hanyut dalam lamunanku gawai Mas Adit berdering.

Tring tring tring

Ku lirik siapa yang menghubungi Mas Adit malam-malam. Tak sengaja aku melihat nomor baru itu lagi. Nomor yang sama dengan dia yang mengirim pesan tadi. Si pemberi kabar tak enak badan tadi.

Mas Adit terlihat sangat nyenyak pada tidurnya sehingga dia tidak terbangun tatkala gawainya berbunyi. Perlahan ku geser tombol hijau di layar gawai suamiku untuk menerima telepon dari si nomor baru.

(Halo, Mas. Apa kamu sudah tidur, Mas?)

Diam. Aku hanya diam mendengarkan perempuan di seberang sana yang terus memanggil suamiku.

(Mas, Mas Adit. Kok diem? Mas, besok bisa kerumah tidak, Mas?. Kepalaku sakit. Aku tidak enak badan, Mas.)

Deg.

Dia menyebut Mas Adit. Berarti ini bukan dari nomor iseng seperti yang di katakan Mas Adit tapi ini dari seseorang yang dia kenal.

"Siapa perempuan itu, Mas?" Gumamku dalam hati.

Selama hampir satu tahun aku menjadi istrinya tak pernah sekalipun Mas Adit terlihat menyembunyikan sesuatu. Dia selalu terbuka denganku. Meskipun dia tinggal terpisah denganku dan hanya bersama setiap akhir pekan tapi tak pernah sekalipun dia terlihat menyembunyikan rahasia dariku.

Perempuan di ujung telepon pun terdiam. Tak ada lagi panggilan yang dia tunjukan untuk Mas Adit. Tapi, ku lihat panggilan telepon masih berlangsung. Dengan tangan bergetar dan dada yang bergemuruh aku mengakhiri panggilan tersebut. Dengan pikiran yang di selimuti berbagai pertanyaan aku kembali membaringkan tubuh ini di samping suamiku. Di samping laki-laki yang selama hampir satu tahun ini ku percaya lebih dari aku percaya pada diriku sendiri.

Tak terasa air mata jatuh dari pelupuk mataku saat aku mencoba memejamkan mata ini untuk tertidur. Hingga entah jam berapa aku mulai tertidur karena lelah dengan pemikiran yang hadir dalam hari ini tentang Mas Adit dan nomor misterius itu.

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh Bingang Venus

Selebihnya

Buku serupa

Fantasi Tukar Pasangan Ranjang

Fantasi Tukar Pasangan Ranjang

WHS Production
5.0

Maya dan Adrian, serta sahabat mereka Sinta dan Rizky, tampaknya memiliki segalanya: karier yang sukses, rumah yang nyaman, dan kehidupan sosial yang aktif. Namun, di balik fasad kebahagiaan mereka, hubungan mereka masing-masing mengalami ketegangan dan kekosongan yang menyedihkan. Suatu malam, dalam upaya untuk menyegarkan hubungan mereka yang hambar, Maya dan Sinta memutuskan untuk mengusulkan sesuatu yang ekstrem: "fantasi tukar pasangan ranjang." Awalnya, ide ini tampak gila dan di luar batas kenyamanan mereka. Namun, dengan dorongan dan desakan dari pasangan mereka, Maya dan Adrian, serta Sinta dan Rizky, setuju untuk mencoba. Ketika fantasi tersebut menjadi kenyataan, keempatnya merasakan perasaan canggung, kebingungan, dan kecemasan yang tak terduga. Namun, dalam perjalanan mereka melalui pengalaman ini, mereka mulai menggali lebih dalam tentang hubungan mereka, mengungkapkan kebutuhan dan keinginan yang mungkin terlupakan, serta menyembuhkan luka-luka yang telah terbuka dalam pernikahan mereka. Dalam prosesnya, mereka menghadapi konflik, kecemburuan, dan ketidakpastian yang tidak terelakkan. Namun, mereka juga menemukan keintiman yang lebih dalam, pemahaman yang lebih besar tentang satu sama lain, dan kesempatan untuk memperbaiki hubungan yang hampir putus asa. Novel "Fantasi Tukar Pasangan Ranjang" menawarkan pandangan yang tajam tentang kompleksitas hubungan manusia, dengan sentuhan humor, kehangatan, dan kisah cinta yang penuh dengan emosi. Di tengah fantasi yang menggoda, mereka menemukan keberanian untuk menghadapi kenyataan, menerima kekurangan masing-masing, dan membangun kembali fondasi cinta mereka dengan cara yang lebih kuat dan lebih tulus.

Gairah Liar Dibalik Jilbab

Gairah Liar Dibalik Jilbab

Gemoy
5.0

Kami berdua beberapa saat terdiam sejanak , lalu kulihat arman membuka lilitan handuk di tubuhnya, dan handuk itu terjatuh kelantai, sehingga kini Arman telanjang bulat di depanku. ''bu sebenarnya arman telah bosan hanya olah raga jari saja, sebelum arman berangkat ke Jakarta meninggalkan ibu, arman ingin mencicipi tubuh ibu'' ucap anakku sambil mendorong tubuhku sehingga aku terjatuh di atas tempat tidur. ''bruuugs'' aku tejatuh di atas tempat tidur. lalu arman langsung menerkam tubuhku , laksana harimau menerkam mangsanya , dan mencium bibirku. aku pun berontak , sekuat tenaga aku berusaha melepaskan pelukan arman. ''arman jangan nak.....ini ibumu sayang'' ucapku tapi arman terus mencium bibirku. jangan di lakukan ini ibu nak...'' ucapku lagi . Aku memekik ketika tangan arman meremas kedua buah payudaraku, aku pun masih Aku merasakan jemarinya menekan selangkanganku, sementara itu tongkatnya arman sudah benar-benar tegak berdiri. ''Kayanya ibu sudah terangsang yaa''? dia menggodaku, berbisik di telinga. Aku menggeleng lemah, ''tidaaak....,Aahkk...., lepaskan ibu nak..., aaahk.....ooughs....., cukup sayang lepaskan ibu ini dosa nak...'' aku memohon tapi tak sungguh-sungguh berusaha menghentikan perbuatan yang di lakukan anakku terhadapku. ''Jangan nak... ibu mohon.... Tapi tak lama kemudian tiba-tiba arman memangut bibirku,meredam suaraku dengan memangut bibir merahku, menghisap dengan perlahan membuatku kaget sekaligus terbawa syahwatku semakin meningkat. Oh Tuhan... dia mencium bibirku, menghisap mulutku begitu lembut, aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya, Suamiku tak pernah melakukannya seenak ini, tapi dia... Aahkk... dia hanya anakku, tapi dia bisa membuatku merasa nyaman seperti ini, dan lagi............ Oohkk...oooohhkkk..... Tubuhku menggeliat! Kenapa dengan diriku ini, ciuman arman terasa begitu menyentuh, penuh perasaan dan sangat bergairah. "Aahkk... aaahhk,," Tangan itu, kumohooon jangan naik lagi, aku sudah tidak tahan lagi, Aahkk... hentikan, cairanku sudah keluar. Lidah arman anakku menari-nari, melakukan gerakan naik turun dan terkadang melingkar. Kemudian kurasakan lidahnya menyeruak masuk kedalam vaginaku, dan menari-nari di sana membuatku semakin tidak tahan. "Aaahkk... Nak....!"

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku