Dan ternyata cinta

Dan ternyata cinta

javanese

5.0
Komentar
1.6K
Penayangan
52
Bab

Cinta datang seketika, pertemuan mereka diawali saat berada di burung besi tempat Vita bekerja, yang membawa terbang Andrian menuju pulau Jawa untuk melaksanakan tugas militernya. Pertama melihat wajah cantik Vita, Andria langsung terpanah asmara jatuh cinta pada pandangan pertama, cinta kedua sejoli itu berjalan indah hingga sampai ke pelaminan. Tetapi takdir berkata lain Vita mengajukan surat cerai untuk Andrian, apakah Andrian akan menandatangani surat cerai tersebut?....

Bab 1 Pertemuan

"Selamat malam.Bapak ibu, penumpang Mega Air lines A33. Hari ini kita akan terbang menuju kota Yogyakarta, bersama saya kapten Anggara Baskara. Mari kita berdo'a menurut kepercayaan masing - masing, semoga kita selamat sampai tujuan terimaksih,"ucap sang kapten pesawat terbang saat memberikan aba - aba pada semua penumpang.

Para awak kabin sibuk mengurusi semua penumpang yang ada di dalam burung besi itu, salah seorang ketua pramugari memberi penjelasan kepada seluruh penumpang sebelum keberangkatan pesawat.

Tampak seorang pria gagah,Tampan namun terlihat wajahnya pucat.seorang pramugari mendekati pria tampan yang tengah duduk di kursi pojok jendela pesawat,karena dua menit lagi pesawat akan segera takeoff ke angkasa.

"Permisi, apakah tuan sedang demam?" tanya pramugari berseragam biru tua itu.

"Ohhh, eeehhh nggakkk,mbak, eh bu ehh" jawab pria itu kikuk jantungnya berdebar melihat wajah sang pramugari.

Kemudian sang pramugari yang berdiri di samping kursi pria itu bertanya kembali.

"Kalau anda sakit, butuh obat kami menyediakan tuan.karena anda terlihat pucat,"ujar sang pramugari cantik itu, menatap pria tampan aneh yang pernah ia temui.

"Engak mbak, saya cuma" ucap pria itu terputus.

Deg.... deg...! suara detak jantung sang pria begitu bergetar.

Entah ada angin apa, kedua bola mata maya mereka saling bertemu.sang pramugari cantik itupun tertegun sejenak pada pria aneh di depannya ini.

"Iya, tuan kena apa?" selidik sang pramugari kembali.

"Oh, tidak mbak.saya cuma takut ketinggian,"ungkap pria itu jujur, namun ia tengah menahan rasa aneh yang muncul begitu saja.

Sang pramugari menahan tawa geli mendengar jawaban dari mulut pria unik di depannya itu.

" Kalau begitu, saya permisi tuan karena pesawat akan segera take off,"pungkasnya lalu ia meninggalkan pria aneh itu.

Hati si pria dan sang pramugari bergetar tak menentu seperti orang yang sedang kasmaran,karena si pria baru saja merasakan hal aneh ini selama ia dewasa ini.

Pesawat akhinya take off meninggalkan bandara Supadio Pontianak. si pria tadi tangan kekarnya memegangi kursi pesawat, cengramannya cukup kuat beruntung kursi sebelanya kosong.kalau ada seseorang mungkin si pria lucu ini bisa ditertawakan oleh penumpang lainnya, ia sangat takut jika naik pesawat saat take off ataupun landing.Tetapi lumrah juga untuk orang yang takut akan ketinggian, jantungnya berdebar kencang karena perjalanan kali ini ia sendiri keluarganya tak ikut serta, ketakutan kadang menghapirinya jika terjadi sesuatu yang tidak ia inginkan.

Burung besi itu semakin melambung tinggi keangkasa hingga pulau Borneo hanya terlihat seperti gambar peta.Pramugari yang tadi mengahampiri pria takut ketinggian itu sedang mendorong troli di atasnya berisi snack dan minuman untuk di bagikan kepada para pemumpang, kini gilirannya membagikan pada si pria tadi.

Deg... deg...!jantung Vita Indira sang pramugari tadi,jadi berdetak tak menentu ketika berdiri di samping pria aneh.

"Selamat malam tuan.Ini camilan dan jus orensnya, " sang pramugari membagikan snakc dan minuman di meja kursi pria aneh tadi.

"Atau anda, ingin mengganti menu snack dengan makanan lainnya?" tanya pramugari itu santun.

"Enggak mbak, cukup ini aja ." jawab Andrian Saputra pria yang takut ketinggian tadi.

"Baik, saya permisi," pungkas sang pramugari kemudian berjalan serya mendorong trolynya.

Vita masih membagikan makan kecil ke semua penumpang,masih tampak jelas di mata Andrian ia terus memandangi Vita dari kursi duduknya tanpa berkedip seditikpun.sesekali Vita juga saat melirik kebelangkang mata bulatnya melihat pria itu, karena Andrian memiliki daya pikat tersendiri pada semua kaum hawa.baru kali ini ia dipertemukan dengan pria setampan dan se aneh Andrian.

Burung Besi sudah terbang menjauh, sekarang mendekati pulau jawa tampak dari atas kerlip - kerlip lampu tersenyum di bawah sana.perjalanan kali ini tidak begitu penat karena hanya menempuh waktu satu jam empat puluh lima menit.Dan meski hanya waktu sesingakat itu membuat jantung Andrian berdetak cepat,tetapi dia bahagia karena melihat bidadari langit di dalam pesawat yang membawanya ke pulau Jawa.

"Semoga, bisa bertemu mbak pramugari tadi dan bisa dapat nomor whatsapnya hehehe,"ungkapnya dalam hati Andrian saat menghayal tentang Vita, sudut bibirnya tersenyum.

Akhirnya burung besi mendarat dengan cantik di bandara YIA kabupaten Kulonprogo, Provinsi Yogyakarta.kapten Anggara Baskara tak lupa mengucapkan terimakasih pada semua penumpang pesawat.

"Terimakasih, kepada penumpang bapak , ibu, sodara saudari telah menggunakan pesawat Mega Air lines A337" pungkas sang kapten pada radio pesawat.

°°°°°°°

Vita dan teman seprofesinya masih menunggu jemputan di bawah gedung lobby bandara YIA, mata Vita melihat sosok pria yang ada di dalam pesawat tadi dia berbicara dalam hatinya sendiri.

"eh, itukan cowok pucat di pesawat tadi,"kata Vita di dalam hati sendiri.

"Vit, besok kita ga ada schedule penerbangan kan,?"tanya Asanti.

"Kayaknya enggak deh San," jawabnya singkat.

"ih, Asanti gangu orang liat pemandangan indah aja,"gerutunya dalam hati.

"Eh, gimana kalau kita nongki di Malioboro," usul Asanti.

"Setuju mau ya Vit, lagian kamu kalau di ajak jalan MAGER aja!"ujar Nita sedikit kesal pada sahabatnya.

" mmmmm, gimana ya Nita, Asanti,"gumam Vita.

"Ayo dong Vit, siapa tahu kamu ketemu sama pangeran kodok.Biar bisa jadi jodoh kamu lagian cantik - cantik kelamaan jomblo" ledek Nita.

Memang Vita Indira agak jual mahal pada pria yang selalu mendekatinya, apa lagi kapten Anggara selalu ia tolak halus.kapten Anggara sangat tidak menarik di mata Vita ia terlalu lembek.

°°°°

Mobil jemputan para awak kabin pesawat Mega Air lines itu datang walau agak sedikit terlambat.mereka lega setelah menaiki mobil keluaran negara Jepang, namun mata Vita masih melirik - lirik keluar jendela mobil.

"Udah pergi aja dia, semoga Tuhan mempertemukan suatu saat nanti,"lirih Vita sendiri saat duduk di dalam mobil bersama para teman - temanya.

"Ciee, siapa Vit, yang pergi?" celoteh Nita mendengar desisan Vita sepertinya.

Tanpa sadar dia fikir berucap dalam hati ternyata si cerewet sahabat satunya ini Nita mendengarnya,jadi malu Vita ia terkekeh kecil.

"Ngak kok, tukang ngamen" ujar Vita menipu Nita.

"Mana ada sih, tukang ngamen di airport.Ngaco Vita" sahut Asanti seraya terkekeh melirik wajah Vita.

Mobil jemputan melaju meninggalkan kabupaten Kulonprogro, menuju ibu kota provinsi Yogyakarta.

~~~~

Mereka telah tiba dirumah masing - masing,Vita merebahkan tubuhnya di sofa depan televisi karena ia cukup letih sekali menjalani rutinnitasnya menjadi seorang pramugari.

Ibu Marlina yang melihat putrinya tertidur di sofa hanya menggelengkan kepala.

"ck,ck,ck, mungkin capek, si genduk terbang sana - sini." desis Marlina seraya menyelimuti putri ketiganya.

Seandainya ia menikah kelak akan sendiri kesepian di rumah peninggalan almaruhum suaminya, yang meninggal dunia sejak Vita masih duduk di bangku SMP(sekolah menengah pertama), saat itu masih kelas dua.

Ia mempunyai dua saudara, kakak pertamanya laki - laki sedangkan kakak kedua perempuan.semua kakaknya sudah menikah yang kakak lelaki bernama Edi Indira mempunyai seorang anak lelaki bernama Arsenio, istrinya Susi mereka masih satu halaman rumah dengan ibu Marlina.tetapi kakak keduanya di nikahi orang Swetzerland mereka bertemu saat menempuh pendidikan kedokteran di negara Germany, namanya Erlina Indira suami bulenya bernama Alan Jean kakak kedua Vita tinggal di Swetzerland.

Anak- anak Marlina sangat luar biasa walaupun hanya didik dengan sederhana.Marlina hanya seorang penjual beras di pasar terbesar kota gudek, selain penjual beras ia bertani di sawah peninggalan almarhum sang suami.

Kadang Marlina di bantu Susi, menantu tertuanya suami Susi.Edi kakak Vita adalah seorang pegawai negri sipil kadang Edi juga bantu ibunya berjualan di pasar ketika sedang libur kerja.

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh javanese

Selebihnya

Buku serupa

MENIKAH DENGAN SULTAN

MENIKAH DENGAN SULTAN

Evie Yuzuma
5.0

“Nay! rempeyek kacang apaan kayak gini? Aku ‘kan bilang mau pakai kacang tanah, bukan kacang hijau!” pekik Natasya. Dia membanting bungkusan rempeyek yang sudah Rinai siapkan untuknya. Natasya berniat membawanya ke rumah calon mertuanya dan mengatakan jika itu adalah rempeyek buatannya. “Maaf, Sya! Bahan-bahannya habis kemarin. Aku uangnya kurang, Sya! Uang yang kamu kasih, sudah aku pakai buat berobat ibu. Ibu lagi sakit,” getar suara Rinai sambil membungkuk hendak memungut plastik yang dilempar kakak tirinya itu. Namun kaki Natasya membuat pergerakannya terhenti. Dia menginjak-injak plastik rempeyek itu hingga hancur. *** “Aku mau beli semuanya!” ucap lelaki itu lagi. “T—tapi, Bang … yang ini pada rusak!” ucap Rinai canggung. “Meskipun bentuknya hancur, rasanya masih sama ‘kan? Jadi aku beli semuanya! Kebetulan lagi ada kelebihan rizki,” ucap lelaki itu kembali meyakinkan. “Makasih, Bang! Maaf aku terima! Soalnya aku lagi butuh banget uang buat biaya Ibu berobat!” ucap Rinai sambil memasukkan rempeyek hancur itu ke dalam plastik juga. “Aku suka perempuan yang menyayangi ibunya! Anggap saja ini rejeki ibumu!” ucap lelaki itu yang bahkan Rinai sendiri belum mengetahui siapa namanya. Wira dan Rinai dipertemukan secara tidak sengaja, ketika lelaki keturunan konglomerat itu tengah memeriksa sendiri ke lapangan tentang kecurigaan kecurangan terhadap project pembangunan property komersil di salah satu daerah kumuh. Tak sengaja dia melihat seoarng gadis manis yang setiap hari berjualan rempeyek, mengais rupiah demi memenuhi kebutuhannya dan sang ibu. Mereka mulai dekat ketika Rinai menghadapi masalah dengan Tasya---saudara tirinya yang seringkali menghina dan membullynya. Masa lalu orang tua mereka, membuat Rinai harus merasakan akibatnya. Harum---ibunda Rinai pernah hadir menjadi orang ketiga dalam pernikahan orang tua Tasya. Tasya ingin menghancurkan Rinai, dia bahkan meminta Rendi yang menanangani project pembangunan property komersil tersebut, untuk segera menggusur bangunan sederhana tempat tinggal Rinai. Dia tak tahu jika lelaki yang menyamar sebagai pemulung itu adalah bos dari perusahaan tempat kekasihnya bekerja. Wira dan Rinai perlahan dekat. Rinai menerima Wira karena tak tahu latar belakang lelaki itu sebenarnya. Hingga pada saatnya Wira membuka jati diri, Rinai benar-benar gamang dan memilih pergi. Dia merasa tak percaya diri harus bersanding dengan orang sesempurna Wira. Wira sudah frustasi kehilangan jejak kekasih hatinya. Namun tanpa disangka, takdir justru membawanya mendekat. Rinai yang pergi ke kota, rupanya bekerja menjadi ART di rumah Wira. Bagaimanakah kisah keduanya? Akankah Rinai kembali melarikan diri ketika tahu jika majikannya adalah orang tua Wira?

Kesempatan Kedua dengan Sang Miliarder

Kesempatan Kedua dengan Sang Miliarder

Cris Pollalis
5.0

Raina terlibat dengan seorang tokoh besar ketika dia mabuk suatu malam. Dia membutuhkan bantuan Felix sementara pria itu tertarik pada kecantikan mudanya. Dengan demikian, apa yang seharusnya menjadi hubungan satu malam berkembang menjadi sesuatu yang serius. Semuanya baik-baik saja sampai Raina menemukan bahwa hati Felix adalah milik wanita lain. Ketika cinta pertama Felix kembali, pria itu berhenti pulang, meninggalkan Raina sendirian selama beberapa malam. Dia bertahan dengan itu sampai dia menerima cek dan catatan perpisahan suatu hari. Bertentangan dengan bagaimana Felix mengharapkan dia bereaksi, Raina memiliki senyum di wajahnya saat dia mengucapkan selamat tinggal padanya. "Hubungan kita menyenangkan selama berlangsung, Felix. Semoga kita tidak pernah bertemu lagi. Semoga hidupmu menyenangkan." Namun, seperti sudah ditakdirkan, mereka bertemu lagi. Kali ini, Raina memiliki pria lain di sisinya. Mata Felix terbakar cemburu. Dia berkata, "Bagaimana kamu bisa melanjutkan? Kukira kamu hanya mencintaiku!" "Kata kunci, kukira!" Rena mengibaskan rambut ke belakang dan membalas, "Ada banyak pria di dunia ini, Felix. Selain itu, kamulah yang meminta putus. Sekarang, jika kamu ingin berkencan denganku, kamu harus mengantri." Keesokan harinya, Raina menerima peringatan dana masuk dalam jumlah yang besar dan sebuah cincin berlian. Felix muncul lagi, berlutut dengan satu kaki, dan berkata, "Bolehkah aku memotong antrean, Raina? Aku masih menginginkanmu."

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku