Calista Kaz : Penyihir Naga Arkhataya

Calista Kaz : Penyihir Naga Arkhataya

Misaini Indra

5.0
Komentar
396
Penayangan
34
Bab

Kematian ayah Calista yang di bunuh oleh Rufus Black (kaki tangan penyihir kegelapan Zorca Anthea) membuat Calista mengetahui jati dirinya yang terlahir dari seorang ibu yang berdarah penyihir dan ayah yang memiliki kekuatan Psikokinesis. Calista mendapatkan pertolongan dari tiga ksatria dari Lembah Crystal yaitu Brisa Ackorn (seorang penyihir), Ness Ferin (seorang psikokinesis) dan Darren Dash (seorang telekinesis) yang diutus oleh pemimpin mereka yaitu Orion Xander untuk mengklaim hak warisnya sebagai gadis dalam ramalan (yaitu seorang penyihir yang ditakdirkan untuk membangkitkan naga). Perjuangan Calista di Lembah Crystal untuk menjadi penyihir tangguh dan memenuhi takdirnya sebagai Penyihir Naga Arkhataya seringkali gagal dan membuatnya putus asa. Hingga akhirnya dia tidak bisa menyelamatkan Lembah Crystal dari kehancuran penyihir Zorca dan pengikutnya. Pertempuran terakhir antara Calista melawan Zorca tidak dapat dihindari lagi. Zorca dan pengikutnya yang menyerang tempat pengungsian para ksatria Lembah Crystal, yang meminta perlindungan pada negeri Amorilla (negeri peri, bangsa Elf) harus berjuang mati matian mematahkan serangan Zorca. Dalam keadaan genting apakah Calista berhasil membangkitkan roh penyihir Arkhataya yang bersemayam di raga sang naga?? Langsung aja yuk ikuti petualangan Calista Kaz yang penuh dengan ketegangan dan juga percintaan segitiganya dengan Ness.

Calista Kaz : Penyihir Naga Arkhataya Bab 1 Serangan Penyihir Kegelapan.

Di pintu kios bahan makanan berdiri sosok laki-laki yang tengah menatapku dengan sorot mata ungunya yang gelap, menghujam pandanganku dan sarat keangkuhan.

Seketika itu, aku merasakan ketakutan yang amat sangat hingga kurasakan bulu-bulu halus di tengkukku meremang. Tatapannya yang awalnya dalam, membuatku membeku. Namun, dengan cepat berganti ketenangan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.

"Calista ...," bisiknya pelan tanpa menggerakkan bibirnya. Sepasang mata ungu gelapnya tak berkedip seolah membiusku.

Ini pasti bukanlah mimpi karena tangan kanannya yang kokoh terulur perlahan padaku. Ada dorongan yang begitu kuat dari alam bawah sadarku untuk menyambutnya. Seolah-olah kami telah saling mengenal begitu lama.

Dengan penuh keyakinan kujulurkan tangan kananku ke arahnya. Belum sempat kedua tangan kami bersatu ....

"JAUHI PUTRIKUU!!" teriak Arman marah dengan mengacungkan tangan kanannya ke arah laki-laki misterius tadi.

BRAKK !!

Dia terpelanting keras menghantam rak penyimpan buah hingga rak itu patah dan buahnya berhamburan ke lantai.

Kantong belanjaanku terjatuh dan aku tersadar seketika.

Sementara pelanggan lain berteriak dan berhamburan keluar kios.

Kupandangi Arman dengan bingung. Kekuatan apa yang dimiliki ayahku itu hingga dia bisa mengempaskan laki-laki misterius tadi hingga terjatuh.

"Kita harus pergi!" seru Arman panik seraya menarik tanganku.

Kami bergegas lari ke arah pintu keluar, sayangnya laki-laki misterius tadi telah bangun dari tumpukan apel yang berserakan. Lalu ia mengarahkan tangan kanannya ke arah kami.

"FOLLONES!" lengkingnya kesal hingga menjungkalkan aku dan Arman.

Aku mengerang kesakitan. Kakiku terasa kesemutan.

Arman menatapku cemas lalu berdiri pelan. Dengan geram Arman mengayunkan kedua tangannya ke arah penyerang kami yang langsung menghindar dengan cepat. Serangan Arman hanya menghantam jejeran kubis yang hancur berantakan.

Laki-laki misterius itu kini melakukan serangan balik pada Arman yang langsung terdorong jatuh dan menggerung kesakitan. Arman berusaha bangkit lalu menatap liar ke arah laki-laki bermata ungu itu.

"MATI KAUU!" teriak Arman marah seraya mengayunkan kedua tangannya dan mengeluarkan pukulan jarak jauh yang sangat keras hingga tubuh penyerang kami terdorong keras ke belakang dan menghantam dinding kayu, lalu jatuh dan tak bergerak.

Tubuhku bergetar hebat, mulutku terkatup rapat karena terlalu shock untuk berteriak. Apakah ini mimpi. Karena aku bersumpah telah melihat Arman menjatuhkan laki-laki penyerang kami itu hanya dengan mengayunkan kedua tangannya dari jarak jauh. Aku tak pernah mengira jika ayahku memiliki kekuatan terpendam sehebat itu.

"TETAP DI SITU CALISTAA!!" perintah Arman dan bergegas hendak menghampiriku yang masih gemetar ketakutan.

BLARR !!

Suara ledakan keras diiringi angin kencang yang menderu melambungkan tubuh besar Arman hingga berputar-putar dan menembus langit-langit kayu. Mengempaskannya dengan keras kembali ke lantai kayu yang kotor dan penuh serpihan kayu bercampur dengan bahan makanan yang berserakan.

Tubuh Arman seketika tak bergerak. Darah mengalir dari mulut dan hidungnya.

"AYAAAH!!" Jeritan panjang terlontar dari mulutku.

Dengan segenap kekuatan, aku menghambur ke arah tubuh kaku ayahku yang sangat kusayang itu dan memeluknya erat-erat.

"Bangun, Ayah," isakku hingga airmata membasahi seluruh wajahku.

Mimpi burukku semalam ternyata adalah pertanda. Dan sekarang menjadi kenyataan.

Seorang laki-laki seumuran Arman berdiri dengan kepala tegak menatap bengis ke arah tubuh Arman yang tak bergerak dalam pelukanku.

Laki-laki itu mengenakan pakaian serba hitam dengan jubah panjang berwarna hitam. Di lehernya tergantung kalung perak berinisial huruf capital R. Rambutnya yang berwarna hitam keperakan terlihat mengkilap dengan bentuk wajahnya yang terlihat aneh karena terlalu tirus dengan hidung panjangnya yang agak bengkok.

Kedua matanya menyipit menatapku yang tengah menangisi jasad ayahku.

"BANGUNN!" bentaknya kasar. Nada suaranya sedikit bernada berat.

Aku tak mempedulikannya karena tubuhku terasa lemas dan tak berdaya.

"Kubilang bangun!!" gelegarnya marah seraya menyeret tanganku dengan kasar.

Kupandangi si hidung bengkok tersebut dengan penuh amarah dan kebencian lalu meludahinya.

Dia menamparku dengan keras.

"Biar aku saja yang mengurusnya Rufus," tawar laki-laki misterius bermata ungu tua tadi mencoba menenangkan suasana dengan menarik tanganku lalu menggenggam tanganku erat. Seolah ingin melindungiku dari kekesalan laki-laki yang dipanggil Rufus tadi.

Kulirik si mata ungu dengan rambut hitam lurusnya yang sebahu itu dengan bingung karena berusaha melindungiku. Garis wajahnya terlihat tegas dan tampan, sayangnya sorot mata ungu tuanya terlihat sedih dan muram.

Rufus menatap si mata ungu lalu mengalihkan pandangannya ke arahku dengan raut muka merendahkan. "Jangan biarkan wajah cantiknya menipumu, Readick!"

Si mata ungu terlihat canggung.

"Aku tidak butuh pertolonganmu!!" ucapku marah pada si mata ungu yang dipanggil Readick.

"Sebaiknya kau tutup mulutmu jika kau masih ingin hidup. Kau akan menyesal jika membuatnya benar-benar murka," bisiknya kaku setengah membujukku.

Kudorong tubuh Readick dengan sekuat tenaga bagai kucing liar yang terluka.

"PEMBUNUH!" teriakku marah pada Rufus dan menatapnya dengan garang.

Kedua tangan Readick dengan cepat kembali menarik tubuh rapuhku dan mencengkram dengan kasar. "Gadis bodoh! Aku berusaha menyelamatkan nasibmu, ok!" ujarnya kesal seraya menatapku jengkel.

Rufus menoleh sinis padaku. "Kekuatan ayahmu sudah berkarat karena sibuk mengurus anak tak berguna sepertimu. Kaulah yang membunuh ayahmu sendiri!" kekehnya senang seraya menggoyangkan kaki kanannya yang tengah menginjak tubuh Arman yang terbaring kaku di lantai.

"Jangan sentuh dia!" raungku marah.

Tawa Rufus semakin kencang dan tak mempedulikan ucapanku.

Tiba-tiba saja hawa dingin datang bersamaan dengan kabut tipis yang perlahan mulai memenuhi ruangan ini. Tubuhku menggigil kedinginan.

Rufus menyipitkan pandangannya. Hidungnya yang bengkok tertarik ke atas mengikuti keningnya yang berkerut. Kali ini wajahnya terlihat sangat terganggu.

"Sepertinya, kita kedatangan teman dari Lembah Crystal, Tristan."

Si mata ungu yang memegangiku ternyata bernama Tristan Readick. Dan raut wajah Tristan kini terlihat waspada.

"LEPASKAN DIA RUFUS!!" suara merdu seorang wanita terdengar lantang dalam kabut yang mulai memenuhi ruangan. Kedua mataku berusaha mencari sumber suara. Namun, sia-sia karena kabut tebal telah menutupi pandanganku.

"Menyedihkan sekali! Ternyata kalian masih saja menggunakan cara-cara pengecut seperti ini dalam pertarungan!" teriak Rufus meremehkan.

Seorang wanita berambut ikal panjang yang berwarna pirang berdiri tegak di depan kami dan menatap lurus ke arah Rufus. Sorot matanya terlihat galak tanpa kompromi.

"Brisa ...," desis Tristan pada Rufus.

Rufus menoleh ke arah Brisa lalu menyeringai bengis.

"FLASHFLARE!" teriak Rufus seraya melontarkan lidah api yang berkobar keluar tiba-tiba dari kedua tangannya, menerjang Brisa.

Dengan lincah Brisa menghindar sambil meneriakkan mantra balasan.

"ICESSENDRIOS!!" teriak Brisa mengarahkan gundukan es yang tinggi dari kedua tangannya sebagai benteng pertahanan diri.

"TRISTANN!" teriak Rufus geram ke arah si mata ungu yang tengah memegangiku.

"Bawa anak itu!" perintahnya seraya mengibaskan jubah panjangnya hingga membuat pusaran angin yang besar lalu menghilang dalam pusaran angin kencang tersebut dan membuat barang-barang di sekelilingnya ikut beterbangan.

"Jangan takut," bisik Tristan seraya menarik tanganku untuk memasuki pusaran lubang hitam yang dibuat Rufus.

"TIDAK SECEPAT ITU, TEMAN!" teriak sosok tinggi langsing yang melompat dengan lincah di hadapanku dan Tristan seraya mengepalkan lengan kanannya tepat ke arah wajah Tristan.

Tristan terhuyung. Pegangan tangannya terlepas dariku lalu kami berdua kehilangan keseimbangan dan jatuh bersamaan.

Samar-samar kulihat kilau anting perak di kuping kiri wajah si penolongku di kencangnya arus pusaran angin yang membuat semua barang-barang di sekeliling kami melayang-layang.

Wajah yang sempurna itu tersenyum puas begitu melihat Tristan yang terjatuh di sampingku. Lalu pusaran angin buatan Rufus itu perlahan-lahan menutup dan menghilang.

Laki-laki beranting perak mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri. Namun, dengan cepat Tristan bangkit dan menatap marah padanya.

"DIZZANTE!!" erang Tristan marah seraya menyerang balik.

Dari kedua telapak tangannya keluar asap hitam yang menggulung tubuh pangeran penolongku itu hingga tubuhnya melayang dan berputar-putar.

Wajah tampan laki-laki beranting perak menjadi pucat. Kedua matanya menatap kosong seolah terbius.

"NESS!" teriak Brisa cemas.

Lalu Brisa berlari mendekati laki-laki beranting perak yang dipanggil Ness itu.

"DARREN! Tangkap Ness!" perintah Brisa pada teman satunya yang berambut hitam dengan tubuhnya yang berotot.

"ICESSENDRIOS!" seru Brisa marah pada Tristan sambil melontarkan hujaman batu es yang keluar dari telapak tangannya.

Tubuh Tristan terpelanting menghantam jendela kaca hingga pecah berantakan terkena serangan balasan dari Brisa.

Lalu Darren menadahkan kedua tangan kekarnya untuk menangkap Ness yang nyaris terempas ke lantai.

Dengan cepat meski sedikit payah Tristan berbisik merapalkan mantra.

Dalam sekelebat mata tubuh kokoh Tristan berputar dan menghilang bersamaan dengan kepulan asap hitam yang keluar dari sekujur tubuhnya.

Brisa segera melompat mencari perlindungan di balik rak-rak yang letaknya sudah tak karuan.

Tiba-tiba kepalaku menjadi pusing. Ruangan terasa berputar. Dan aku pun jatuh tak sadarkan diri.

Lanjutkan Membaca

Buku serupa

Gairah Liar Ayah Mertua

Gairah Liar Ayah Mertua

Gemoy

Aku melihat di selangkangan ayah mertuaku ada yang mulai bergerak dan mengeras. Ayahku sedang mengenakan sarung saat itu. Maka sangat mudah sekali untuk terlihat jelas. Sepertinya ayahku sedang ngaceng. Entah kenapa tiba-tiba aku jadi deg-degan. Aku juga bingung apa yang harus aku lakukan. Untuk menenangkan perasaanku, maka aku mengambil air yang ada di meja. Kulihat ayah tiba-tiba langsung menaruh piringnya. Dia sadar kalo aku tahu apa yang terjadi di selangkangannya. Secara mengejutkan, sesuatu yang tak pernah aku bayangkan terjadi. Ayah langsung bangkit dan memilih duduk di pinggiran kasur. Tangannya juga tiba-tiba meraih tanganku dan membawa ke selangkangannya. Aku benar-benar tidak percaya ayah senekat dan seberani ini. Dia memberi isyarat padaku untuk menggenggam sesuatu yang ada di selangkangannya. Mungkin karena kaget atau aku juga menyimpan hasrat seksual pada ayah, tidak ada penolakan dariku terhadap kelakuan ayahku itu. Aku hanya diam saja sambil menuruti kemauan ayah. Kini aku bisa merasakan bagaimana sesungguhnya ukuran tongkol ayah. Ternyata ukurannya memang seperti yang aku bayangkan. Jauh berbeda dengan milik suamiku. tongkol ayah benar-benar berukuran besar. Baru kali ini aku memegang tongkol sebesar itu. Mungkin ukurannya seperti orang-orang bule. Mungkin karena tak ada penolakan dariku, ayah semakin memberanikan diri. Ia menyingkap sarungnya dan menyuruhku masuk ke dalam sarung itu. Astaga. Ayah semakin berani saja. Kini aku menyentuh langsung tongkol yang sering ada di fantasiku itu. Ukurannya benar-benar membuatku makin bergairah. Aku hanya melihat ke arah ayah dengan pandangan bertanya-tanya: kenapa ayah melakukan ini padaku?

My Doctor genius Wife

My Doctor genius Wife

Amoorra

Setelah menghabiskan malam dengan orang asing, Bella hamil. Dia tidak tahu siapa ayah dari anak itu hingga akhirnya dia melahirkan bayi dalam keadaan meninggal Di bawah intrik ibu dan saudara perempuannya, Bella dikirim ke rumah sakit jiwa. Lima tahun kemudian, adik perempuannya akan menikah dengan Tuan Muda dari keluarga terkenal dikota itu. Rumor yang beredar Pada hari dia lahir, dokter mendiagnosisnya bahwa dia tidak akan hidup lebih dari dua puluh tahun. Ibunya tidak tahan melihat Adiknya menikah dengan orang seperti itu dan memikirkan Bella, yang masih dikurung di rumah sakit jiwa. Dalam semalam, Bella dibawa keluar dari rumah sakit untuk menggantikan Shella dalam pernikahannya. Saat itu, skema melawannya hanya berhasil karena kombinasi faktor yang aneh, menyebabkan dia menderita. Dia akan kembali pada mereka semua! Semua orang mengira bahwa tindakannya berasal dari mentalitas pecundang dan penyakit mental yang dia derita, tetapi sedikit yang mereka tahu bahwa pernikahan ini akan menjadi pijakan yang kuat untuknya seperti Mars yang menabrak Bumi! Memanfaatkan keterampilannya yang brilian dalam bidang seni pengobatan, Bella Setiap orang yang menghinanya memakan kata-kata mereka sendiri. Dalam sekejap mata, identitasnya mengejutkan dunia saat masing-masing dari mereka terungkap. Ternyata dia cukup berharga untuk menyaingi suatu negara! "Jangan Berharap aku akan menceraikanmu" Axelthon merobek surat perjanjian yang diberikan Bella malam itu. "Tenang Suamiku, Aku masih menyimpan Salinan nya" Diterbitkan di platform lain juga dengan judul berbeda.

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
Calista Kaz : Penyihir Naga Arkhataya Calista Kaz : Penyihir Naga Arkhataya Misaini Indra Fantasi
“Kematian ayah Calista yang di bunuh oleh Rufus Black (kaki tangan penyihir kegelapan Zorca Anthea) membuat Calista mengetahui jati dirinya yang terlahir dari seorang ibu yang berdarah penyihir dan ayah yang memiliki kekuatan Psikokinesis. Calista mendapatkan pertolongan dari tiga ksatria dari Lembah Crystal yaitu Brisa Ackorn (seorang penyihir), Ness Ferin (seorang psikokinesis) dan Darren Dash (seorang telekinesis) yang diutus oleh pemimpin mereka yaitu Orion Xander untuk mengklaim hak warisnya sebagai gadis dalam ramalan (yaitu seorang penyihir yang ditakdirkan untuk membangkitkan naga). Perjuangan Calista di Lembah Crystal untuk menjadi penyihir tangguh dan memenuhi takdirnya sebagai Penyihir Naga Arkhataya seringkali gagal dan membuatnya putus asa. Hingga akhirnya dia tidak bisa menyelamatkan Lembah Crystal dari kehancuran penyihir Zorca dan pengikutnya. Pertempuran terakhir antara Calista melawan Zorca tidak dapat dihindari lagi. Zorca dan pengikutnya yang menyerang tempat pengungsian para ksatria Lembah Crystal, yang meminta perlindungan pada negeri Amorilla (negeri peri, bangsa Elf) harus berjuang mati matian mematahkan serangan Zorca. Dalam keadaan genting apakah Calista berhasil membangkitkan roh penyihir Arkhataya yang bersemayam di raga sang naga?? Langsung aja yuk ikuti petualangan Calista Kaz yang penuh dengan ketegangan dan juga percintaan segitiganya dengan Ness.”
1

Bab 1 Serangan Penyihir Kegelapan.

03/06/2023

2

Bab 2 Rahasia Yang Terungkap.

03/06/2023

3

Bab 3 Perjalanan ke Lembah Crystal.

03/06/2023

4

Bab 4 Kota Para Telekinesis.

08/06/2023

5

Bab 5 Misi Penjemputan.

08/06/2023

6

Bab 6 Pangeran Peri.

09/06/2023

7

Bab 7 Sergapan Para Penyihir Zorca.

10/06/2023

8

Bab 8 Gadis Dalam Ramalan.

11/06/2023

9

Bab 9 Sekumpulan Penyihir Aneh.

11/06/2023

10

Bab 10 Tawaran Pertemanan.

11/06/2023

11

Bab 11 Jatuh Cinta.

12/06/2023

12

Bab 12 Tawanan Penyihir Zorca.

13/06/2023

13

Bab 13 Pelajaran Sihir Pertama.

16/06/2023

14

Bab 14 Misi Penyelamatan.

17/06/2023

15

Bab 15 Pertempuran Sengit.

17/06/2023

16

Bab 16 Meloloskan Diri.

18/06/2023

17

Bab 17 Bukit Ilusi.

05/09/2023

18

Bab 18 Kembalinya Kekuatan Sihir.

05/09/2023

19

Bab 19 Jalan Takdir Calista.

13/09/2023

20

Bab 20 Kau Milikku.

13/09/2023

21

Bab 21 Lembah Crystal.

17/12/2023

22

Bab 22 Kembalinya si Pengkhianat.

17/12/2023

23

Bab 23 Orion Xander.

17/12/2023

24

Bab 24 Sihir Angin.

17/12/2023

25

Bab 25 Keluarga Ferin.

17/12/2023

26

Bab 26 Sebuah Perjanjian.

17/12/2023

27

Bab 27 Cinta Seorang Ibu.

17/12/2023

28

Bab 28 Benteng Sandora.

17/12/2023

29

Bab 29 Jangan Membuatku Marah!

17/12/2023

30

Bab 30 Princess Quilla.

17/12/2023

31

Bab 31 Perjamuan Makan Malam.

17/12/2023

32

Bab 32 Legenda Tujuh Penguasa.

17/12/2023

33

Bab 33 Duel Penyihir Kembar.

17/12/2023

34

Bab 34 Pewaris Gelang Pusaka Obidia.

17/12/2023