icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Kemarau Kapan Berlalu?

Bab 4 Terik Empat

Jumlah Kata:1130    |    Dirilis Pada: 06/07/2022

n-harapan menawan pa

kuharap Kau t

hanya insan

ntan ke

m Ra

~

ug

ang, tempat di mana suara kepalan tangan menghantam rahang. Beberapa lelaki

ya memburu, rahangnya mengeras, dan tangannya

tanya lelaki betubuh tambun ya

bun. "Enggak pa-pa, Pak Yudi. Terima kasih," ucapnya ramah. "Sil

n aktor papan atas. Di hadapan banyak orang, begitu manis, tapi di depan Sam, lelaki

laki-laki dewasa. Namun, cukup mampu membuat Sena meringi

yak

gak ada yan

embeliak ketika Sena menunjukkan foto

jarinya menggeser layar ponsel, menunjukkan kalau dia

u lo?" d

olah, lo kerja." Sena memasukkan ponselnya ke saku

berapa orang menatapnya waspada. Namun, Sena justr

kerja juga enggak pa-pa. Lo masuk penjar

pan Sena. Cengkeraman tangannya menguat, tapi tidak sekali pun memb

lo?" Ia memandang Sam tajam. "Kenapa lo jadi Rahardj

andor pun ia tidak takut. Namun, melihat kilat marah di netra gelap dan wajah geram Sen

cocok jadi pornstar. Itu takdir lo kalau nolak gue," uj

. Pandangannya k

uh anak Wiranti harus menderita. Pikirk

ikut lo ... apa Renal

olah seperti yang lo mau," ja

ngan berat hati Sam menangguk. "Den

asia terjamin, Renaldi a

nti? Bagaimana ia harus menjalani hari-harinya ke depan? Lunglai, ia menerima telepon Renaldi yang menanyakan keberadaannya. Lelaki kurus i

uar kedai. Bibirnya tak henti menyungging senyum miring. Renc

h itu tidak akan berpikir panjang.

*

ual diri. Genangan air mata kembali membasahi wajah tirusnya, lalu secepat mungkin ia seka dengan punggung tangan. Rahangnya ia katupkan a

arang adalah rumah sempit yang dapur akan sempit jika diletakkan meja dan dua kursi

Sam pada kakak dan ibunya yang sama-sama suka menggambar. Dulu, mereka sering mengajarinya cara memadukan

ldi kontan menutup buku sketsanya. Sejak dulu, p

!" seru Sam dibua

wakan sang paman berbinar. "Wah, ada

umis kangkung, tempe kering, omelet, dan makanan sederhana lainnya. Dan ia selalu menyukai apa

ulai sekolah, harus m

uda itu lalu mengambil piring plastik, lantas mengumpulk

h kasih. Bagaimana hidupnya jika tidak ada Renaldi? Mungkin ia sudah memilih bunuh

tap tumbuh, sehat, dan bahagia. Sam sempat ingin mencari Ayudia, ibu kandung Renaldi agar anak itu hidup lebih baik

da transaksi lagi?" ta

ebohongan tergagap. "Hah? Eng-enggak

naldi menyuap l

ia tidak pernah lupa mengatakan hal ini. Harapannya cuma satu; di masa depan, mereka bi

rena Sam tidak memilik

ok nan

ja gue bisa ngelakuin pekerjaan yang lebih ba

nyahut, "Kenapa harus minta maaf? Lo udah jadi manusia hebat buat gue. Enggak ada yang salah sama keadaan ini." Setitik buti

hu kalau tidak ada jalur am

*

1 Novem

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Kemarau Kapan Berlalu?
Kemarau Kapan Berlalu?
“Demi menyekolahkan keponakannya, Renaldi, Sam Rahardja rela menjadi kurir narkoba dengan bayaran sedikit karena harus dibagi dengan temannya yang super pelit, Galih. Namun, suatu ketika Galih mengatakan kalau Sam harus mencari pekerjaan lain lantaran ia ingin berhenti jadi kurir narkoba dan pulang kampung. Sam yang keuangannya menipis, memutar otak, memikirkan pekerjaan apa yang bisa dilakukan seorang luusan SMP sepertinya di ibu kota. Ketika itulah Sena datang dengan segala pengetahuannya tentang masa silam keluarga Sam beserta ancaman: kalau Sam tidak mau bekerja dengannya, Sam akan dilaporkan ke polisi karena mengedarkan obat terlarang, dan Renaldi tidak bisa sekolah. Akhirnya, Sam menerima tawaran Sena. Sayangnya, penyesalan datang terlambat. Pekerjaan yang Sena tawarkan adalah pekerjaan menjual diri.”
1 Bab 1 Terik Satu2 Bab 2 Terik Dua3 Bab 3 Terik Tiga4 Bab 4 Terik Empat5 Bab 5 Terik Lima6 Bab 6 Terik Enam7 Bab 7 Terik Tujuh8 Bab 8 Terik Delapan9 Bab 9 Terik Sembilan10 Bab 10 Terik Sepuluh11 Bab 11 Terik Sebelas12 Bab 12 Terik Dua Belas13 Bab 13 Terik Tiga Belas14 Bab 14 Terik Empat Belas15 Bab 15 Terik Lima Belas16 Bab 16 Terik Enam Belas17 Bab 17 Terik Tujuh Belas18 Bab 18 Terik Delapan Belas19 Bab 19 Terik Sembilan Belas20 Bab 20 Terik Dua Puluh21 Bab 21 Terik Dua Puluh Satu22 Bab 22 Terik Dua Puluh Dua23 Bab 23 Terik Dua Puluh Tiga24 Bab 24 Terik Dua Puluh Empat25 Bab 25 Gerimis Kecil26 Bab 26 Hujan27 Bab 27 Pelangi28 Bab 28 Badai29 Bab 29 Hilang30 Bab 30 Lenyap31 Bab 31 Menjadi Berarti32 Bab 32 Berjuang Lagi33 Bab 33 Ikhlas34 Bab 34 Tamu35 Bab 35 Salwa36 Bab 36 Untuk Lembaran yang Baru37 Bab 37 Berkunjung38 Bab 38 Kemarau yang Berlalu