icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Kemarau Kapan Berlalu?

Bab 5 Terik Lima

Jumlah Kata:1049    |    Dirilis Pada: 06/07/2022

an air hangat, memasak, dan tidak menyuruhnya membantu bersih-bersih rumah. Renaldi hanya bisa pasrah atas perlakuan pama

," ujar Sam sambil mengambilkan nasi untuknya. "Terus kalau ada yang berani ngerendahin

pasang netranya fokus pada tangan Sam yang gemet

lang sama gue. Enggak ada ya

rewet ban

h tingkah. "Nih,

ngan perasaan berbeda. Renaldi dengan semangat menggebu, dan Sam d

m. Waktu itu, ia masih mengenakan seragam putih biru dan Pram menggendong Renaldi, menyambutnya pulang. "Renaldi. Dia

ya. Namun, sulit. Masa-masa manis itu semakin menekannya dalam rasa bersalah, hingga

liat. Dia ketawa. Hahaha, Anjir,

a untuk pertama kalinya Renaldi memanggilnya 'Om', dan mau ia gendong. Pram

r gue yang beresin. Mau pup gue." ucapnya meminimalisir getaran di suaran

u tidak curiga. Lalu, sampai di toilet, tubuhnya luruh begitu pun tangisnya yang sedari ia tahan. Punggungnya bersandar pada pi

.' batinnya berguma

ar hidupnya lebih baik, agar kemarau-kemarau di hidupnya tidak semakin panjan

h tuli? Apakah Tuhan tidak mengerti bahwa ia ingin memba

ebuah pertanyaan muncul dalam benaknya: ap

*

elesai, ia mencuci piringnya sendiri. Sebelum berangkat, pemuda jangkung itu m

kan rumah kecil itu. Kompleks perumahan yang ia tempati tidak jauh dari ja

nya, pemuda itu membuka ponsel, mencari info lomba menggambar atau mendesain yang berhadiah uang tanpa biaya pendaftaran. Sejak kecil, ia sudah menekuni hal-hal ya

engar suara nyaring gadis mungil yang berser

tersenyum. "

ilang sekolahnya

i mana." Renaldi berdiri, memberi tem

belum Renaldi mempersilakan. "Benta

i duduk lagi. "L

. Ka

Sa

n ia termenung mengamati Renaldi. "Oh, ya

u pindah

Renaldi mempersilakan Andin masuk terlebih dahulu. Ia mengambil tempat duduk paling belakang, tempa

mpingnya. Gedung-gedung tinggi, kendaraan mewah yang menyalip silih berganti, toko-

ahagia tentu saja. Namun, melihat Sam akhir-akhir ini, kebahagiaan itu tidak lagi utuh. Ada separuh jiwanya yang berkata bahwa seharusnya ia tidak sekolah lagi. Ia b

a-apa yang telah Sam korbankan dan berikan, Renaldi akan berjuang membuktikan

nya menuliskan sesuatu di kaca bus

njuknya sudah terhapus, tetapi hatinya mematri dalam-dalam k

dara panjang, lalu menatap gerbang tinggi bertuliskan Welcome t

n mengajaknya masuk. Mereka pun berjal

Jangan panggil gue Kak, don

.. beda

lo kel

ura-pura atau benar-benar menyayang

g mulai memasuki lobi sekolah bersama seoramg gadis pendek. Dadanya begitu sesak oleh luap

-sehat,

*

2 Novem

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Kemarau Kapan Berlalu?
Kemarau Kapan Berlalu?
“Demi menyekolahkan keponakannya, Renaldi, Sam Rahardja rela menjadi kurir narkoba dengan bayaran sedikit karena harus dibagi dengan temannya yang super pelit, Galih. Namun, suatu ketika Galih mengatakan kalau Sam harus mencari pekerjaan lain lantaran ia ingin berhenti jadi kurir narkoba dan pulang kampung. Sam yang keuangannya menipis, memutar otak, memikirkan pekerjaan apa yang bisa dilakukan seorang luusan SMP sepertinya di ibu kota. Ketika itulah Sena datang dengan segala pengetahuannya tentang masa silam keluarga Sam beserta ancaman: kalau Sam tidak mau bekerja dengannya, Sam akan dilaporkan ke polisi karena mengedarkan obat terlarang, dan Renaldi tidak bisa sekolah. Akhirnya, Sam menerima tawaran Sena. Sayangnya, penyesalan datang terlambat. Pekerjaan yang Sena tawarkan adalah pekerjaan menjual diri.”
1 Bab 1 Terik Satu2 Bab 2 Terik Dua3 Bab 3 Terik Tiga4 Bab 4 Terik Empat5 Bab 5 Terik Lima6 Bab 6 Terik Enam7 Bab 7 Terik Tujuh8 Bab 8 Terik Delapan9 Bab 9 Terik Sembilan10 Bab 10 Terik Sepuluh11 Bab 11 Terik Sebelas12 Bab 12 Terik Dua Belas13 Bab 13 Terik Tiga Belas14 Bab 14 Terik Empat Belas15 Bab 15 Terik Lima Belas16 Bab 16 Terik Enam Belas17 Bab 17 Terik Tujuh Belas18 Bab 18 Terik Delapan Belas19 Bab 19 Terik Sembilan Belas20 Bab 20 Terik Dua Puluh21 Bab 21 Terik Dua Puluh Satu22 Bab 22 Terik Dua Puluh Dua23 Bab 23 Terik Dua Puluh Tiga24 Bab 24 Terik Dua Puluh Empat25 Bab 25 Gerimis Kecil26 Bab 26 Hujan27 Bab 27 Pelangi28 Bab 28 Badai29 Bab 29 Hilang30 Bab 30 Lenyap31 Bab 31 Menjadi Berarti32 Bab 32 Berjuang Lagi33 Bab 33 Ikhlas34 Bab 34 Tamu35 Bab 35 Salwa36 Bab 36 Untuk Lembaran yang Baru37 Bab 37 Berkunjung38 Bab 38 Kemarau yang Berlalu