Keenan itu munafik, Dilara itu lemah. Sudah berulang kali Keenan menyakiti Dilara, bahkan tak segan main tangan kepada perempuan itu. Namun, dengan bodohnya, Dilara masih tetap bertahan, meski sudah berkali-kali disakiti. Sampai suatu hari, Dilara muak, ia lelah, dan ia ingin pergi. Akan tetapi, Keenan selalu mencegah, memaksa ia agar tetap ada di sisinya. Kisah cinta yang diharapkan oleh Dilara tak sesuai ekspetasi. Selalu berantakan, selalu ada luka, air mata, pengkhianatan, dan perselingkuhan. Bahkan dicampakkan. Kisah kasihnya sangat berbeda dengan orang lain. Akankah ia mampu berjuang melawan rasa sakit tersebut? Dan apakah ia akan bertemu si cinta sejatinya? (cerita ini pernah saya share di novelme dan pf lainnya atas nama Imouni29)
"Tak ada yang lebih melelahkan dari kata 'menunggu', tetapi kata 'Bertahan, walau tak diakui' itu rasanya lebih melelahkan." --- Dilara Atma Melisia.
***
Dilara mengulas senyum hangat memandang seorang laki-laki bersurai cokelat dengan gaya quiff tengah berlari di lapangan sambil membawa bola basket. Gayanya yang cool dan wajah tampan, membuat siapa saja yang memandang laki-laki itu akan jatuh hati. Terutama para gadis yang kini sedang memiliki kesempatan karena bisa menatap wajah tampan tersebut dengan lebih lama.
Sorakan terdengar bergemuruh di lapangan basket indoor milik Universitas Jawara. Poin terakhir didapatkan oleh Jawara saat Keenan si kapten basket berhasil memasukkan bola ke dalam ring sang lawan.
Hati Dilara merasa bahagia melihat kemenangan di tim basket kampusnya. Kakinya ingin melangkah menghampiri Keenan, tetapi ia urungkan saat para gadis mulai mengerumuni seraya memberi hadiah, minum, atau sekadar ingin foto bersama dengan laki-laki berpangkat kapten basket itu.
Jujur saja ia merasa cemburu melihat laki-laki itu selalu dekat dengan gadis lain. Tepukan di bahu membuat ia menoleh ke samping di mana sang sahabat berdiri.
"Enggak usah heran, Keenan emang gitu. Dia femes banget, sih. Sering dikerumuni sama cewek," ujar Jelita.
Dilara hanya mengulas senyum tipis. Ia sudah tahu kalau soal kepopularitasan Keenan di kampus, selain pintar dalam bidang olahraga. Laki-laki itu juga sangat pintar dalam bidang akademik, hingga membuatnya sangat popular.
Mata Dilara berbinar saat Keenan menatap ke arahnya. Namun, kebinaran tersebut meredup tatkala laki-laki itu membuang muka seolah-olah mereka tak saling kenal dan berlalu begitu saja.
"Lo kenapa, La? Setiap lo ngeliat Keenan, muka lo kayak yang sedih gitu," papar Jelita menyamakan langkahnya di samping Dilara.
Dilara tak menjawab. Wajar saja ia merasa sedih saat melihat laki-laki itu selalu dikerumuni oleh gadis lain. Apalagi kalau soal acuh tak acuh dengan sikapnya. Toh, ia merupakan kekasihnya tanpa diketahui oleh teman-teman kampus. Tak ada yang tahu mengenai hubungan ia dan Keenan. Laki-laki itu enggan mengumbar status resmi mereka di depan khalayak ramai.
Padahal ia ingin sekali memiliki hubungan yang indah dan penuh akan cinta. Akan tetapi, angannya hanyalah semata saja. Keenan berbeda dengan laki-laki lain, sangat berbeda.
"Lo kayak punya beban berat, La," tutur Jelita. Gadis bermata sipit itu tak henti-hentinya mengoceh demi bisa mendapatkan jawaban dari Dilara.
Dilara menghentikan langkahnya saat sampai di depan kelas. Lima belas menit lagi, mata kuliah tentang pembangunan yang ia ambil akan segera dimulai. Ia tidak ingin menyia-nyiakan waktu, karena di mata kuliah inilah ia bisa mengejar berbagai tugas untuk wisuda dan mendapat beasiswa kembali.
"Aku ada kelas, kamu enggak masuk mata kuliah pembangunan?" tanya Dilara menatap Jelita.
Jelita memanyunkan bibirnya, ia merasa kesal karena pertanyaannya telah diabaikan. Kini malah Dilara mengalihkan pembicaraan.
"Gue enggak ngambil itu. Kalo lo ada kelas, yowes masuk, dah. Nanti kita ketemu di kantin aja."
"Oh ya, satu lagi. Dosen pembangunan sudah diganti, bukan Bu Herti lagi. Gue denger, sih, tuh dosen irit kali ngasih nilai."
Dilara mendelik tajam, lalu mencubit pelan lengan Jelita karena telah mmbicarakan orang lain yang belum tentu seperti itu faktanya.
Sebelum tangannya memerah, Jelita lebih dulu menghindar dan tertawa kecil saat berhasil kabur dari Dilara. Sementara Dilara ia hanya menatap punggung mungil milik Jelita yang sudah menjauh. Lalu berjalan memasuki kelasnya.
***
Setelah mata kuliah pembangunan telah usai. Dilara melangkah menelusuri koridor untuk sampai di perpustakaan, mengingat ada buku yang ingin ia baca. Rumor mengenai dosen pembangunan yang tegas dan pelit nilai memang ada benarnya. Semoga saja ia bisa menyelesaikan tugas dengan baik dan mendapatkan nilai yang lebih baik di mata kuliah tersebut. Langkahnya memelan saat sorot mata tak sengaja tertuju pada Keenan yang tengah berkumpul bersama teman-teman tongkrongan laki-laki itu.
Buru-buru Dilara kembali melangkah menjauh ketika tak sengaja Keenan juga tengah menatap dirinya. Ia tidak mau membuat sang kekasih kesal karena kehadirannya di depan teman-teman laki-laki itu.
"Gue udah pernah ngingetin sama lo, 'kan? Jangan mandang gue lama pas gue lagi kumpul."
Suara berat milik seorang laki-laki yang sedang dihindari kini menyapa di telinga. Membuat tubuh Dilara menegang bersamaan berbalik menghadap Keenan yang tengah berdiri sambil memasukkan tangan ke saku jaket.
"M--maaf," ucap Dilara terbata-bata.
Keenan menatap acuh tak acuh pada Dilara. Ekor matanya melirik ke kanan-kiri mengawasi keadaan sekitar takut ada yang melihatnya berbicara dengan Dilara. Ia enggan jika hubungannya dengan gadis itu diketahui oleh orang lain.
Keenan berdecak kesal. Ia menarik tangan Dilara menuju belokan kiri di mana jalan menuju gudang belakang. Gadis itu berusaha menepis cekalan di tangannya, menatap wajah Keenan dengan bingung.
"K--kamu kenapa, sih?"
"Gue nyesel nge-iyain lo kuliah di sini," ujar Keenan menatap Dilara tanpa ekspresi.
Dilara mengembuskan napas kasar mendengar kalimat itu. Waktu ia mendapatkan beasiswa, ia sama sekali tidak tahu bahwa ia akan satu kampus dengan Keenan. Jika ia tahu dari awal, mungkin ia akan menolak dan menunggu kesempatan kedua.
"Kamu takut kalo hubungan kita diketahui oleh orang lain?" Dilara bertanya seraya menunduk. Enggan menatap manik mata Keenan yang tampak dingin.
"Inget, Ra. Lo itu cuma pelampiasan gue, jangan mimpi yang tinggi-tinggi."
Dada Dilara terasa sesak mendengarnya. Padahal dulu, Keenanlah yang mengejar dirinya untuk dijadikan kekasih. Namun, lama kelamaan sikap laki-laki itu terendus; kasar, tempramen, dan tidak bisa ditebak.
Sudut bibir Dilara tertarik ke atas membentuk senyuman kecil. Wajahnya berseri menatap Keenan. Ia tidak boleh menyerah, sebelum mendapatkan hati laki-laki itu. Terutama ingin dicintai. Susah payah ia bersabar dan bertahan, kini ia hanya perlu berjuang agar mendapatkan cinta dari Keenan.
"Enggak apa-apa. Nanti juga kamu bakalan cinta sama aku," ucap Dilara mengulas senyum kecil. Ia sangat percaya diri bahwa ucapannya akan terkabul, berbeda kalau bagi Keenan.
"Lo jangan terlalu berharap, Ra. Nanti jatuhnya lo malah kecewa sama gue."
"Keen lupa? Aku kuat dan sabar, buktinya aku masih kuat menjalin hubungan sama kamu." Senyum Dilara memudar. "Ya ... walaupun ada hati yang terluka setiap harinya, Keen," lanjut Dilara melanjutkan dalam hati.
"Bodo amat! Gue enggak mau tahu. Satu lagi, gue enggak mau lo sok akrab sama senior atau teman satu kelas lo. Kalo sampe gue liat lo jalan bareng sama senior cowok atau temen kelas." Keenan mencodongkan tubuh ke depan, bibirnya tertarik ke atas membentuk seringai tipis. "Lo bakalan habis di tangan gue," desis Keenan.
"Kalo aku enggak boleh deket sama mereka. Seharusnya kamu juga harus bisa jaga jarak sama cewek lain," ujar Dilara mengemukakan kalimat yang selalu ia tahan saat tak sengaja melihat Keenan selalu berduaan dengan gadis lain.
"Lo siapa ngatur-ngatur? Yang cuma bisa ngatur di sini itu gue, bukan lo!"
Dilara mengembuskan napas kasar. Merasa sedih karena tak diakui sebagai kekasih oleh Keenan. Tidak ada kisah kasih yang membahagiakan, selalu saja menyesakkan. Terlebih lagi ia hanyalah bahan pelampiasan saja.
Messy LOSY
imouni29
Romantis
Bab 1 Tidak diakui
21/04/2022
Bab 2 Ceroboh
21/04/2022
Bab 3 Bertengkar
21/04/2022
Bab 4 Kurang beruntung
21/04/2022
Bab 5 Keenan Marah
21/04/2022
Bab 6 Bertemu Alze
21/04/2022
Bab 7 Lagi dan lagi Alze
21/04/2022
Bab 8 Gosip
21/04/2022
Bab 9 Teringat Masa Lalu
21/04/2022
Bab 10 Melepaskan
21/04/2022
Bab 11 Gosip kembali
22/04/2022
Bab 12 Awal Kehancuran
22/04/2022
Bab 13 Perundungan
22/04/2022
Bab 14 Keenan tidak terima
22/04/2022
Bab 15 Pertemuan
22/04/2022
Bab 16 Cuma Sekejap
23/04/2022
Bab 17 Enggan Pergi
23/04/2022
Bab 18 Sakit Hati
26/04/2022
Bab 19 Sebuah Fakta
26/04/2022
Bab 20 Uluran tangan
26/04/2022
Bab 21 Orang Suruhan
07/05/2022
Bab 22 Kembali Lagi
07/05/2022
Bab 23 Berpisah
09/05/2022
Bab 24 Permintaan Rayjen
09/05/2022
Bab 25 Kehidupan Bar Rayjen
09/05/2022
Bab 26 Pertemuan Tak Terduga
09/05/2022
Bab 27 Ingatan yang Terhubung
02/06/2022
Bab 28 Rayyan Jennowinata a.k.a Rayjen
10/06/2022
Bab 29 Asumsi Keenan
10/06/2022
Bab 30 Izin Rayjen
10/06/2022
Bab 31 Meresahkan
10/06/2022
Bab 32 Momen
10/06/2022
Bab 33 Ikatan yang Terhubung
10/06/2022
Bab 34 Terikat oleh Masa Lalu
10/06/2022
Bab 35 Permintaan Keenan
10/06/2022
Bab 36 Bertengkar dengan Nenek
10/06/2022
Bab 37 Keenan vs Rayjen
10/06/2022
Bab 38 Bertemu Nova
10/06/2022
Bab 39 Rindu Mama
10/06/2022
Bab 40 Dendam Gemilang
10/06/2022