lai dalam waktu lima belas menit lagi. Ia menyesali dirinya sendiri yang memilih begadang d
rang dengan tidak sengaja. Ia merutuki
pa yang ia tabrak. Baru saja ingin melangkah agar bisa sampai d
-laki itu melepaskan cekalan di kardigan Dilara, lalu beralih
kan pendengarannya, masa bodoh dengan
sakan tangannya terbentur loker
aja lo sa
tap Keenan sekilas. "Aku terlambat gara-gara me
ke sini? Aku ada kelas Pa
lo. Mending bolos aja,"
erti tahun kemarin, kemungkinan saja beasiswa yang didapat
i penting, kalo aku bolos nan
ayain kuliah lo
rus-menerus bergan
s itu berusaha menghirup oksigen di sekitarnya
ampir saja mati tercekik di tangan laki-laki itu. Binar matanya kini mer
piaskan diri dengan memukul dinding di sampingnya. "Oke! G
an Keenan, laki-laki itu sudah lebih dulu keluar dari ruang
*
pai di depan kelas, sorot matanya berubah sendu melihat sang dosen
kat kesejahteraan masyarakat bukan saja ditentukan oleh tingk
r suara ketukan di pintu. Dilara merasa bahwa atensi anak-anak kel
at," ucap Dilara melangkah
ikut ke ruangan saya. Sungguh, baru dua hari saya masuk ke ke
kan gejolak air mata yang siap saja tumpah kapan saja. Malu rasanya dimarah
mengajar Rayjen selesai. Sorot matanya tertuju ke ujung sepatu yang dik
beasiswa yang nabrak
objek yang dituju oleh Gemilang. Dengan langkah lebar, ia berjalan mengha
begitu saja. Ia berusaha memberontak, tetapi Alze justru semaki
pas
ze segera melepaskan cekalan tersebut. Mena
Ze. Kasihan anak or
ya Alze menagih jaket
eluarkan jaket dan memberikannya pada Al
lanjut Dilara y
n Dilara. Dengan cepat, Dilara menepisnya kasar. Senyum serin
. Buru-buru Dilara berlari menjauh menin
rik," gum
*
," ucap Dilara setelah mengetu
i dari Alze ia mampir terlebih dulu di perpustakaan hingga tertidur tanpa sengaja. Kini ia menghad
nya menunggu di luar kelas. Bukan malah keluy
gguh, ia merasa gugup sekarang sekaligus takut. T
k. Saya janji, saya tidak akan
jen seraya menggeser kertas, mem
tanya Dilara setelah membac
ambatan yaitu kamu harus m
api, P
saja ini sebagai bentuk agar kamu bisa disiplin lagi." Rayjen menaruh bol
in tanda tangan atau tidak. Mengingat beban
akan menjadi dosen pembimbing skripsimu. Sekarang di
aat mengingat bahwa ia memiliki pertemuan dengan Keenan. Tak ingin membuat Keenan m
kakak tingkatmu," ucap Rayjen seraya menarik ke
tidak bisa. Saya ada urusan la
mengerti. "Baikl
ara menunduk hormat, lalu melangk
n marah karena dirinya terlambat. Ck, memikirkannya saja sudah membuat bulu ku
au ngertiin,"
*
au kuliah mohon koreksi,
/0/5525/coverbig.jpg?v=f538e82d8a604032d211166685d105ba&imageMogr2/format/webp)