rtemen. Menatap pintu tersebut dengan ragu, ia takut kalau Kee
ati, tangannya membuka knop pintu apartemen tersebut yang tak
rantakan seperti kapal pecah. Pecahan kaca di mana-mana juga sofa yang terbalik. Rasa takut kembali menyelim
gil Dilara deng
rah masih terpatri dalam manik mata abu-abu laki-laki itu. Den
u erat. Tangannya berusaha memberontak mencekal lengan laki-laki itu. Men
ari masalah sama Alze ataupun sampai ngobrol sama
rwh ... l--lep
lara tersungkur ke bawah. Dagunya ditarik kasar oleh Keen
k pernah mau nurut," ujar Keenan, tangannya semakin mencubi
ranikan diri menatap Keenan, alisnya mengkerut melihat banya
raya ingin menangkup wajah Keenan, tet
ngun, mencari obat merah di laci lemari kecil laki-laki it
a obat merah tersebut terlempar. Embusan napas berat terdengar, tangannya menyeka linangan a
i oleh Dilara. Satu tahun bersama, Keenan tak pernah berbagi cerita atau menceritakan apa yang tengah terjadi pada
lo telat dua puluh lima menit!" Keenan menyentak. Tanga
?" Keenan mendelik tajam pad
n dengan lembut. Ia mengerti sekarang kenapa laki-
uat luluhin gue!" Keenan menepis tangan Dilara d
nya hingga kasar. "Lo mau jadi murahan, hah? Mentang-mentang udah
Dilara menuju taman belakang. Darahnya mendidih ketika men
ang kamu lihat bukan itu
Air mata yang berada di pelupuk mata, kini jatuh merebak. Dilara memegangi pipinya, mengulas sen
ng kamu pikirkan saat melihat aku sama Alze.
ing pegang
ak, Keen. Antara pegan
lara dengan kasar. "Lo makin ke sini makin berani s
lepaskan cekalan tangan Keenan di bahunya. "Aku masih ingat, Keen. Aku buka
a ruang tamu. Suara pecahan kaca kini
ng tengah meradang marah. Berharap kemarahan laki-laki itu mered
k nurut. Apalagi sampai jadi pengkhian
teman-teman kamu itu," balas Dilara mengeratkan pelukanny
Dilara mendongak menatap K
angguk mengiakan, lalu kembali duduk di sofa single. Dilara mengulas
Tangannya mulai mengolesi luka lebam
ini dari mana?
matanya tak pernah lepas memandang wajah sang kekasih. Tangannya terulur meme
nya seraya mengusap p
an yang berada di pipi, lal
ggak?" Dilara mengusap wajah Keenan setelah ia s
Dilara dan memangku gadis itu seraya memeluk dengan erat. Dilara m
r," gumam
gumaman tersebut. Menatap wa
menawari diri dan menarik
nstan. Lo mau
lebih dulu menoleh menatap Keenan. "Bereskan pecahan kaca itu. Nanti kakimu terkena
mi. Otaknya berputar mencari jalan keluar saat menemu
buat mi dadar telur untuk Keenan. Ingatan mengenai kejadian tadi kini te
enan yang kamu punya d
*
tinggalkan vote dan
/0/5525/coverbig.jpg?v=f538e82d8a604032d211166685d105ba&imageMogr2/format/webp)