h. Dilara pasrah ditarik oleh Keenan menuju apartemen milik laki-laki itu. Untung saja tak ada ban
ata yang tadinya hanya setetes kini menjadi deras. Sementara Keenan, ia hanya menat
usah n
atap Keenan yang sedang berdiri di depannya. La
perintah
ngun dari duduk, tubuhnya bergetar merasakan hawa di sekitar m
kat mengenai dada bidang laki-laki itu. Manik mata
ilara melirih, merasakan pergelan
an sama temen-temen gue. Apa lagi sampe cari masalah." Keenan menarik jaket mili
ak dan tambah kotor." Dilara berusaha memberontak,
in jaket orang, a
rasa sakit di pergelangan tangannya. Ia terkejut saat K
lo terlibat masa
mencoba mengendurkan cekalan di pergelangan tangannya, hasilnya pun berhasil. Ia menc
a nabrak dia. Aku janji, aku engga
ilara. Menatap acuh tak acuh pada gadis i
sar. Susah rasanya bernegosi
Alze. Gue enggak akan segan-segan ngelakui
uk gadis itu dengan kasar. Mau tidak mau Dilara hanya menurut, ingin melawa
bagian atas milik Dilara. Membuat Dilara mengulas senyum kec
ayak gini dul
itu, sedangkan laki-laki itu tampak sedang memejamka
ada ma
nggak akan bisa nyelesainnya! M
nya sibuk dengan pemikiran masing-masing. Tiba-tiba saja ingatan awal di mana hubung
ak sama aku? Kenapa sikapmu sel
lo gue bosen, gue bakalan buang lo dan sikap gue
, hidung mancung, bibir ranum, dan bulu mata lentik. Tak lupa
h natap lekat gitu," ucap Keen
i itu sedemikian rupa. Jujur saja, ia sangat mengagumi wajah kalem dan tampa
ra memecahkan jeda yang semp
ngsut dengan pelan, tetapi Ke
uat pulang, lo enggak s
erjakan tugas kuliah. Bukan enggak mau berduaan sama ka
k kesal. "Semenjak lo kuliah di situ, lo banyak
n kamu." Sungguh, Dilara tak tahu dengan jalan pemikir
ak suka sama sikap
eenan untuk digenggam, tetapi laki-laki itu malah
Sana pulang, gue eng
n ia akan menemani laki-laki itu beristirahat dengan lama. Ia beranjak dari d
ulang,
cuci jaket itu, 'kan?" Keenan berasumsi yang tidak-tida
en-
coba baik sama lo, lo selalu mengh
i rumah. Sekali aja kamu coba buat ngertiin aku," ucap Dilara, berhar
liat muka dekil lo di sini!" Keenan mendorong tubuh Dilara dengan kasar hingga membentur dinding. Tan
dengan dindinh dengan keras. Ia menatap pintu kamar Keenan deng
*
at dirinya tinggal. Walaupun terlihat kecil, tetapi tak membuat Dilara keberatan. Setelah selesai menjemur jaket Alze di jemuran handuk, ia berjalan ke arah kam
ang paling ranum terlintas begitu saja. Membuat dada Dilara terasa sesak saja. Masa lal
tak acuh laki-laki itu masih membekas dalam ingatan. "D
/0/5525/coverbig.jpg?v=f538e82d8a604032d211166685d105ba&imageMogr2/format/webp)