t tak bisa melawan sisi lemahku s
*
ara melangkah menuju kantin untuk bertemu dengan Jelita. Ia juga mengur
tanya Jelita saat Dilara suda
bil posisi duduk di hadapan Je
kan Dilara tak membalas. Membuat Jel
Jelita yang membuyarkan lamuna
ilai ... tapi kalo sama anak-ana
a dengar dari
gar berita kudu deng
kanan yang enak, hingga tak sengaja ia menabrak seseorang yang sedang membawa segelas kopi. Atensi anak-anak kini tertuj
ta enggak
nya membulat saat melihat siapa yang tak sengaja ia tabrak--
gak sengaja," ucap Dilar
yang ceroboh. Kopi yang baru saja dipesan kini hanya tinggal tersisa. Membuat ia
saat kakinya terkena tumpahan air panas dari kopi. Mahasiswa-wi lain pun hanya bisa menonton, mere
tas, berniat ingin membersihkan noda kopi di jaket Alze. Namun, belum juga sa
nya memandang wajah Dilara. Ia merasa asing dengan wa
ya Alze menatap taj
melihat apa yang terjadi dalam kerumunan tersebut. Bola matanya me
e gue enggak bisa b
k ke arah Keenan yang diam saja seperti patung. Ia yakin bahwa sekarang la
pek," sahut laki-laki bersurai hitam dengan gaya Man Bun, memi
ggak tau so
ertanggung jawab atas kecerobohan saya," ujar
bibirnya tertarik ke atas membentuk seringai tipis. Dilata menerima jaket tersebut
! Kalo lo buat jaket gue luntur." Alze menjeda, ia melangkah maju
sing. Dilara mengembuskan napas kasar, menyesali diri sendiri yang begitu ceroboh tak memperhatikan jala
reka saja saja ia enggan, apalagi jika harus membela ia di depan teman-tema
mengejutkan Dilara. Gadis itu melir
an jaket laki-laki t
Jelita menghentikan langkah kaki Dila
genai kakinya yang terkena tumpahan kopi panas. Ia juga men
ze. Lo 'kan udah satu tahun di sini, masa
pa saja yang harus dihindari di sini. Ia terlalu sibuk mengejar nilai
Aku ke toilet dulu,
ima belas menit lagi gu
mu di kosan, ya." Dilara melangkan men
ng dengan kasar menuju parkiran timur. Tempat parkir tersepi d
eraya meringis. Bukan hanya pergelangan
gadis itu hingga sampai di depan mobil Jazz berwarna hitam. Ia membu
mau ke
bentak
aling lemah jika sudah dibentak, bahkan ia benci pada dirinya
lakan mesin, menginjak pedal gas, dan melaju keluar dari pemukima
in, terutama truk dan bus. Sungguh, Dilara belum ingin mati sekarang. Ia masih ingin meraih gelar sarjananya. Hatinya sa
da. Ia belum siap menerima perlakuan kasar atau bentakan dari laki-laki itu. W
keen
arah!" Keenan kembali fokus menyeti
ngan susah payah. Ia memejamkan mata, berba
anlah pundak ham
/0/5525/coverbig.jpg?v=f538e82d8a604032d211166685d105ba&imageMogr2/format/webp)