patung di tengah geng Alze. Tubuhnya merinding merasakan tatapan tajam dari sese
tanya Alze saat Di
mata dengan Keenan. Takut melihat kilatan a
an berlari tergesa-gesa meninggalkan
sambil berpikir apa yang akan dilakukan Keenan nanti. Apakah marah seperti kemarin atau berbeda. Memikirkan
lar
noleh ke belakang mendapati Rayjen sedang berjalan menghampirin
jen menyerahkan modul Ekonometrika. Membuat ga
apa,
lisnya menatap Dilara. "Pelajari ini dan beritahu ana
ak ada matkul Bapak
nti tadi. Kamu saya tunggu engg
eraya menggaruk tengkuk lehern
langkahnya terhenti di samping kiri Dilara. "Luka tamparan di pipimu membengkak. Jangan lupa komp
di pipinya. Dilara memegangi pipinya memang terasa nyeri, masih membekas. Ia menole
gan bedak. Bahkan tadi, Jelita dan Alze
ausahaan. Pikirannya berkelana, hingga tertuju pada Keenan. Mas
k kayak setan lagi ma
*
r dari halaman kampus menunggu angkutan umum. Cuaca hati ini
hadapannya. Ia merasa bahwa Keenan tidak memiliki mobil seperti itu.
k kemudi mobil tersebut keluar. Dilara mengambil an
erlari menghindarinya. Untung saja ia bisa mnecekal lengan gadis it
dijemput cowok kaya dan ganteng kaya
i orang seperti Alze. Jika ia terus-terusan berurusan dengan
uk. Kapan lagi lo na
di kantin, Alze merupakan tipekal cowok berandal dan dingin. Nyatanya laki-laki itu tampak
angsung berlari ke arah angkutan umum yang kebetulan sedang nge-tem. Alze in
uat penasaran oleh Dilara. Gadis itu seakan-akan seperti magnet yang mampu me
ngelepasin lo g
*
sampai di dalam. Ia terlonjak kaget bersamaan dengan paper bag dalam genggamannya terlepas. Tubuhnya me
engan pelan menghampiri laki-laki it
laki itu. Apakah Keenan bertengkar dengan Alze? Kalau iya, seharusnya Alze pun memiliki luka di wa
ampai bisa narik
ong apa, s
yang sedang dibicarakan oleh Keenan. Ia juga tid
gan tajam, mengatur posisi duduknya menjadi tegak. Lal
menangkup wajah Dilara. Kemudian, jemarinya menelusuri ce
guna mengedurkan jambakan tersebut. Menatap penuh rasa
inta maaf
hingga terbentur meja kayu di samping. Botol soda yang ada
ing, tangannya meraba kening atas untuk memastikan apakah itu darah atau bukan. Senyum tipis terukir
lu minta maaf dikesalahan yang pernah dia pe
ak tahu kalau Alze masih ganggu aku. Bahkan aku
rambut Dilara kembali, menata
elirih kerasakan saki
nerima dengan senang
skan apalagi agar laki-laki itu mau mempercayainya. Hatinya t
a. Jemarinya kini menelusuri wajah gadis itu dan menekan pipi Dilara den
seringai mengerikan. Seringai menakutkan yang hampir saja memb
bukan ini yang ia harapkan. Ia begitu takut jika Keenan berbuat nekat, satu-satunya cata aga
seperti mosnter. Aku ta
*
/0/5525/coverbig.jpg?v=f538e82d8a604032d211166685d105ba&imageMogr2/format/webp)