icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Nafkahku Bukan Nafkah Ibumu

Bab 5 Aku tak Mau Bicara Lagi

Jumlah Kata:1016    |    Dirilis Pada: 20/02/2022

b

i

rnya. Tapi ... tak mungkin aku mengatakan hal ini. Saat

mana aku juga merasa kosong pada diriku. T

n saat dia rewel. Aku diantara banyak

endapatku. Ia malah seenaknya tinggal di luar kot

mengurus kedua anakku, tak pernah diajak kemanapun, termasuk oleh suamiku. Kakak Ipar laki-lakiku - Ba

bu mengintervensi akan menjelekkan aku pada orang tuaku dan para tet

pa. Hanya bisa menangis da

an, tol

*

! Aku nanti pulang sepekan sekali." Bang Deni mengatakan maksudnya. Ak

denganmu!" Aku merangkul suamiku dari samping,

. Enakan di sini, nyaman. Sama ibu kamu bisa d

ak pertama kami lahir, Ibu begitu baik pa

ibebani berbagai pekerjaan rumah. Tap

aji Bang Deni yang tadinya 10 juta, naik menjadi 13 juta rupiah. Aku ta

ku merasa tak pantas menjadi seorang istri. Dan aku hanya bisa men

udah terlalu sakit. Dan juga ber

mengenai ini, dia berkomplot den

abisnya. Sementara mereka enak-enakan dengan diri sendiri. Aku harus men

a agar cukup ke waktu suamiku gajian lagi. Kadangkala ibu masih menyuru

Aku takut pada mereka, tapi sangat ingin bicara pada B

*

eni beri padamu, biar dipegang oleh Ibu. Kamu nggak

tak menjawab

u melebarkan kedua matanya, tatapan mata Ibu memb

u memberikan ATM itu.

pa Pi

galkan kamarku. Tak lama ku dengar Ibu pergi dengan Kak

ugasmu selesaikan sebelum kami datang!" perintah ibu saat itu. Kuhela napas, gigiku

elalu kalah dengan perbuatan buruk mereka. Aku tak suka

per satu hingga selesai. Walau anakku menangis, aku tetap mengerjakan peker

Ia baru pulang kompetisi burung. Pekerjaannya hanya s

Bang Aldo sengaja mengejarku. Dia merayuk

k usah menghin

a, jadi aku bisa menguncinya. Aku takut dan

gan Bang Aldo. Ia orang yang menyebalkan. Wajahnya saja aku

*

enggangguku. Dia mencoba merayuku, B

kedua alisnya. Ia ta

ki-laki baik dan religius, Niar. Ka

eni menancap di hatiku. Dia tak memperca

bicara yang sebenarnya. Bang Aldo orang yang centil,

masuk kamar dan menguncinya," ucapku.

ia menikahi Kak Ayu, ia orang yang

gan pendiriannya da

u lagi bicara denganmu!' gumamku. Aku

u berusaha selalu bilang dengan apapun yang terjadi padaku. Namun, hal ini saja ia tak percaya,

dariku, ibu pula yang membuatku bagai s

Kamu mengakui kalau kam

benar, jadinya aku terdiam. Kamu akan menyesal, Bang!

sam

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Nafkahku Bukan Nafkah Ibumu
Nafkahku Bukan Nafkah Ibumu
“Kisah seorang istri bernama Niar yang depresi akibat ditinggal suaminya bekerja di luar kota. Ia harus tinggal bersama mertua dan ipar yang jahat. Uang belanjanya sebesar tujuh juta diambil paksa mertuanya, hingga menyisakan 500 ribu setiap bulannya. Deni--suaminya, merasakan perubahan sikap istrinya. Niar lebih banyak diam saat ada suaminya. Ia menutupi kesedihannya. Namun akhirnya suaminya tau, setelah itu ia mencoba menyelamatkan istrinya dari depresi. Apa yang terjadi selanjutnya?”
1 Bab 1 Istriku Kenapa 2 Bab 2 Istriku Masih Diam3 Bab 3 Ternyata Seperti ini4 Bab 4 Mendesak Ibu Cerita5 Bab 5 Aku tak Mau Bicara Lagi6 Bab 6 Wanita itu Sainganku7 Bab 7 Jalan-jalan Bersama Keluarga8 Bab 8 Baik-baik Sayang9 Bab 9 Silahkan Ambil Uangku, Bu!10 Bab 10 Berhasil Memasang CCTV11 Bab 11 Alasan Penolakan Ibu12 Bab 12 Mencari Kebenaran13 Bab 13 Nasehat Sahabat14 Bab 14 Bu Ratih yang Serakah15 Bab 15 Kecurigaanku Terbukti16 Bab 16 Mengobati Niar17 Bab 17 Kemana semua uangmu, Dek 18 Bab 18 Bukti Sudah di Tangan19 Bab 19 Pindahan Diam-diam20 Bab 20 Bujukan Ibu21 Bab 21 Kejadian di Rumah Kami22 Bab 22 Dijebak oleh Seseorang23 Bab 23 Meyakinkan Niar24 Bab 24 Melindungi Niar25 Bab 25 Perjuangan Niar26 Bab 26 Pengakuan Kak Ayu27 Bab 27 Memberi Pengertian Ibu28 Bab 28 Masa Lalu Keluargaku29 Bab 29 Kejutan untuk Istriku30 Bab 30 Kerasnya Hati Ibu31 Bab 31 Kejadian Menyedihkan32 Bab 32 Aku Temukan Tulisan Ibu33 Bab 33 Kabar Baik untuk Kami34 Bab 34 Bulan Madu ke Sekian Kali35 Bab 35 Ternyata Bang Aldo!