icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Falling for him

Bab 5 One bad day

Jumlah Kata:1575    |    Dirilis Pada: 11/02/2022

camata itu menjemputnya. Lihat jam, sudah pukul delapan kurang dua menit tapi laki-laki itu ti

terlambat!" teriak Jaan

hitam dengan celana jeans yang robek di bagian lutut dan muka yang mas

ya pemuda berseragam yan

a muncu

las, matanya masih terlihat sulit memb

ki-laki itu mengambil tasnya yang tergantung didinding sete

engambil posisi di bagian kemudi. Itu mobi

an Jaane pun tidak mampu protes lagi, ia hany

ujar Jaane seray

t juga syukur," jaw

ajam. "Aku tida

n, laki-laki itu tersenyum. "Kita tidak aka

ne menyelak sambil memasang sabuk pengaman. Theo tidak menjawab, laki-laki

Kita terlamba

okan kiri. Yang secara harfiah, logis dan menurut denah

e arah Theo yang masih sama santai

lik sekolah favorit Ilsung, dan jika tidak mau

ksanakan bolosny

mudian terpatahkan karena sekarang ia duduk di mobil dengan laki-laki yang baru diken

gajar di kelas kita atau tidak?"

heo langsung menoleh cepa

rta

itu mengumpat. "Ke

irik laki-laki berkulit tan itu

bahwa ia akan menderita setelah pulang

baiknya pulang." Gadis itu masih membuang pandangannya kelu

ecak. "Kau tidak ada tempat yang ingin k

balasnya datar lalu menunduk sedikit seb

is. "Bisa mati kalau pulang sekolah di jam ini." Mungki

mah itu. Aku akan men

ganmu," ucap

. Ke rumahnya. Dan jika pun berkunjung Jaane akan menggunakan kesempatan it

hnya?" tany

nafas lagi, "lu

ta laki-laki itu mengerut menghalau angin yang menerpa

an yang tersaji di depannya sekarang, serta pasir putih yang menyapa kaki telanjangnya. Jaane melangkah m

m yang sesekali terangkat kalau saja tangan Jaane tidak siap menjaga. Dua detik kemudia

katkan jaket itu di pinggang, harusnya memang berterimakasih

ri duyung?" tanya Th

ne memukul lengan Theo. Yang disambut kekehan ringan laki-laki itu

ini," ejek Jaane melipat tangan didada. Lalu kembali melangkah menyusuri pasir basah. Se

ber

inya menyorot bawah itu naik

ringkan ke

datar tanpa senyuman tapi netranya berbicara begitu banyak.

a mendengkus. Setelah beberapa saat berjalan di tepi pantai, Jaa

gi," ujar Theo tiba-tiba

myu

i? Banyak, terlampau banyak lelaki yang cukup berani mengajak putri bermulut besi ini bicara, dan tentu Jaane h

n tangan, lalu mengham

. Kau itu sebenarnya cantik

i. "Mau aku cantik ata

kku akan tertar

anak itu bisa menyamakan

Lagipula ia tidak terlalu memikirkan ata

ujar Theo lagi, "Jika pun tid

i sepuluh itu

o mendekat. "Mau ku bantu tidak?

ah. "Tidak perlu." Kemudian

mau dekat

lau aku mau." Jaane melepas jaket hitam di pinggangnya lalu

menatap punggung kecil yang menjauh itu. Lalu tak la

-

ta di sampingnya ini sama sekali tidak menggrubisnya. Kasihan cacing-

edang ini berhenti, lampu merah dide

Jaane kesal. "Ka

," ujar Theo, "tidak

sedari tadi bicara tak henti-henti, memang tidak seban

tiga kali. Itu pun kalima

matahari sudah berada ditengah langit

ke restoran. Tidak perlu

lebih tepatny

tipis. "Kau pikir penting,

tek ini. lalu saat lampu lalu lintas sudah berubah hijau Theo

ih makanan, jadi ia memilih untuk menghe

t," tawarnya m

jawabny

unduk saat masuk. Laki-laki itu menghembuskan nafas, lalu mengambil tempat duduk yang koson

akan makan dengan cepat agar ti

rjawab dari sang kakak. Laki-laki itu mering

ibu, kalau kau m

nyuman terbit saat pesanannya datang, setelah mengucapkan te

ke pintu, seharusnya ia bisa melihat Jaane disana. Di

aki itu memutuskan untuk keluar setelah menarik beberapa tisu. Theo melangka

a-tanda Jaane di sana. Apa gadis itu ke toilet? Mungkin saja. Lagipula kenap

asuki tenda namun urung. Ia melihat seorang gadis berser

ang tengah duduk di depan mini market itu, lalu tanpa ta

ah es krim, membuka bungkusnya. Kemudian me

itu meletakan tangannya di saku,

ahkan lebih bersinar,

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Falling for him
Falling for him
“Katanya hati manusia itu seperti angin, mudah sekali berganti arah. Theo pernah mendengar hal serupa itu, dan ia percaya. Mengingat seberapa pernah ia menjadi saksi sekaligus korban dari kejamnya hati yang berubah arah. Namun, kepercayaannya goyah. Theo melihatnya, seorang gadis, dengan hati dan pendirian yang begitu teguh meski digoda susah payah, pribadi yang malu jika disamakan dengan angin. Jaane Kim, menganggap jatuh cinta hal paling terakhir yang ingin dirasakannya. Dan bagi Theo, hal itu seperti tantangan untuknya, mengingat belum pernah ada gadis yang menolak mengikuti melodi seruling yang ia mainkan. Bisakah Theo mendapatkan apa yang ia inginkan? Akankah Jaane luluh dengan melodi sang Pied pipper? Inilah kisah merah muda mereka, musim semi, dandelion serta angin. Satu paket merah muda untuk mengundang hadirnya kupu-kupu di hati pembaca.”
1 Bab 1 Pertemuan pertama 2 Bab 2 Murid pindahan 3 Bab 3 Sebuah kebetulan 4 Bab 4 Serendipity5 Bab 5 One bad day6 Bab 6 Gossip7 Bab 7 Pagi itu 8 Bab 8 Ibu dan ayah Kuma9 Bab 9 Tersangka gigitan 10 Bab 10 Diharuskan menjauh 11 Bab 11 We're in the rain12 Bab 12 Demam13 Bab 13 Mimpi buruk 14 Bab 14 Lelah dan sakit 15 Bab 15 Dari teman untuk teman 16 Bab 16 Penunggu ruang (hati)17 Bab 17 Pengakuan Theo 18 Bab 18 Malu tahu19 Bab 19 Di mana dia20 Bab 20 Menyapa masa lalu21 Bab 21 Loner in the night22 Bab 22 Pacar bodoh 23 Bab 23 Jangan membuatku patah hati24 Bab 24 Officialy taken25 Bab 25 Dua sahabat lama26 Bab 26 Healing!27 Bab 27 Kencan pertama 28 Bab 28 Biggest fear29 Bab 29 Di bawah bayang dedaunan 30 Bab 30 Movie time31 Bab 31 Tentang cinta pertama 32 Bab 32 The date33 Bab 33 Arti indah sebuah bunga34 Bab 34 Him