icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Sang Putri Mahkota

Bab 3 Si Sarkas Sairish

Jumlah Kata:1357    |    Dirilis Pada: 08/02/2022

melihat ke luar jendela ke arah tempat parkir motor dan mobil. Hari sudah menjelang magri

seperti ini. Sairish tidak mempermasalahkan tempatnya, tapi suasananya. Suasana bising dan terbuka seperti ini membuat Sairish tidak nyaman. Konsentrasinya benar-benar buyar, alhasil sepanjang Meeting Mita l

edikit membuyarkan lamunan Sairi

aku masih

asih nyama

engalihkan atensi Sairish secara penuh. Gadis itu memand

itu bangun untuk berpindah tempat duduk menjadi diseberang meja, yang langsung berhadapan dengan Sairish. Matanya langsung fokus mengarah ke bawah kearah tempat parkir mobil dan motor. Tapi dia tidak menemukan apa-apa,

Rish? kok fokus banget. gilira

endengus kesal, "lain kali, cross check dulu tempatnya. Gimana bisa mbak langsung acc tempat Meeting penting di tempat kayak gini. Ini Cafe baru buka, masih ada banner

a memasang wajah memelasnya, membuat

rkekeh pelan. "Iyalah terakhir, mba

g mendengus kesal. "Untun

uat Sairish mau tid

, aku udah b

musiknya bener-bener ganggu." Mita beru

dir sambil berdiri, membenahi blazer-nya yang sedikit kusut, lalu berlalu dar

epat pulang, karna mereka sudah berada di rumah. Tidak lupa lollipop yang bertengger di tangannya yang sesekali dia masukkan kedalam mulut. It

ing jatuh menambah bising suasana Cafe itu, jangan lupakan tumpahan jus dan mie goreng yang berserakan membuat Sairish merin

angkat. Didepannya berdiri kaku seorang laki-laki dengan apron hitam di tubuhnya, sambil

belakang seseorang menarik keras lengan laki-lak

Client gue

lutnya. Berniat memasukkan lollipop itu ke dalam saku blazer-nya untuk di sembunyikan, tapi belum sempat tangan itu masuk, sebuah tangan lain memegang e

yang harganya bikin ginjal Mita kejang-kejang itu yang terluka. Walaupun Sairish pemiliknya, tapi Mita lah ya

g ngga fokus karna sibuk bermain ponsel." Sairish a

langsung mengalihkan perhatiannya pada Sairish. Sambil tersenyum, Ryan kembali be

jengah, 'dasar penjilat.' S

umannya terlihat sangat meremehkan. "Kalo lo ngga niat kerja,

a dari arah dapur Cafe, muncul seorang gadis dengan raut kes

raut kesal adiknya. "Pelayan kesayan

matanya kaget. "Mas

apa, mampus deh." Ryan tertawa keras yan

ngadu karna ngga diajak main sama teman-temanya. Attitude nol, ngga

anggung jawab, bukan malah melempar kesalahan pada orang yang tidak tau apa-apa." Akhirnya Mita menengahi drama persau

yan tertawa canggung melihat wajah serius Sairish dan Mitha. "Saya akan menyuruh pelayan ini u

Sairish juga sudah benar-benar jengah mendengar kata-kata tidak sopan dan terkesan arogan yang dilayangkan Ryan pada laki-laki itu. Apa ha

tingkah seolah saya yang tidak bersalah disni. lagi pula saya bukan tuhan, untuk apa dia harus be

u bisa diandalkan untuk menjatuhkan mental orang-orang sombong. Dan Mita sangat bangga untuk itu

u, mengurai pelan kepalan tangannya dan menjabatnya erat. Tidak pe

akan lagi hangat telapak tangan seperti ini membuat Sairish menginginkan lebih.Tapi sangat tidak mungkin untuk mengajak Sean berjabat tangan setiap h

gi. Tapi sebelum mereka sampai di pintu keluar, Sairish kembali melihat ke belakang, kearah gadis yang sedang berbicara dengan Carramel itu, gadis yang diba

enyum miring

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Sang Putri Mahkota
Sang Putri Mahkota
“Sairish Dayana Malik, gadis kuat dan tangguh. Putri mahkota dari kerajaan bisnis Malik Corporation. Sesuai dengan isi surat wasiat yang ditulis oleh mendiang kakeknya, bahwa diumur 19 tahun, dia akan naik tahta. Ocean Tyaga. Ocean yang berarti lautan, dan tyaga adalah pemberian tuhan. Entah apa yang mendasari ibunya memberikan nama aneh itu padanya. Apa mungkin dia dilahirkan di tengah laut dan menjadi pemberian tuhan yang patut disyukuri, entahlah. pantas saja hidupnya selalu asin. *** "Bang, mau nikah sama aku, ngga?" Sairish Dayana Malik "Gue miskin. Buat makan aja susah, gimana bisa hidupin lo? Lo sehat?" Ocean Tyaga”