icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

(bukan) Perempuan Biasa #buku ketiga

Bab 2 Chapter 2

Jumlah Kata:1040    |    Dirilis Pada: 02/01/2022

tu masuk. Suci kembali mengomel. "Tuh kan. Apa gue bilang. Anak-anak udah pada

ok dan nyaris jatuh terjerembab. Ia bersiap menahan rasa sakit dan juga malu. Bayangkan, ia terjatuh seperti nangka busuk d

ahan bahunya dari belakang. Sehingga tubuhn

a kasi

menolongnya. Namun ia kaget saat melihat siapa orang yang telah menolongnya. Ia mendapati

i boss besarnya.

er-meper mendekati tempat Suci berdiri. Rajata tidak merespon ucapannya. Ia melanjutkan langkahnya menuju ke depan podium. Di ruangan meeting ini

ng, shay. Jangan di depan mata boss besar. Siap-siap aja lo dic

a. Namun sekilas ia sempat melihat Aria memelototinya. Vina pura-pura tidak melihat tatapan Aria. Ia tahu kal

h mengenal saya dengan baik. Kalian pasti juga tahu, bahwa sudah dua tahun saya mengurus kantor cabang di Amsterdam.

sesuatu hal yang harus ia bereskan, Vina bergidik. Karena Rajata

a sama, saling mengadu prestasi dan kerja keras. Bukannya saling menjatuhkan dan sikut kanan kiri. Ingat, saya t

arnya dengan lirikan sinis, saat mengucap

ngingat lo sebagai karyawati paling ceroboh, karena kasus nyaris ngejengkangnya lo tadi."

nyaris jatuhnya tadi. Dan bukan karena m

a nggak terus nginget tingkah memaluk

mii

inamakan sapu lidi, maka jangankan hanya satu sampah. Tapi beratus-ratus sampah pun akan disapu bersih tak bersisa. Demikianlah perumpamaan yang saya jabarkan tentang sebuah kerjasama. Untuk itu mari kita jaga rasa tanggung ja

uh Rajata menghilang di ambang pintu. Setelahnya terdengar helaan napas panjang

gkin hanya perasaannya d

da atmospherenya." Sembari berjalan Suci terus berbicara. Beginilah Suci apabila ia sedang gelisah. Mulu

*

berniat menikmati makan siang. Bukan apa-apa. Sudah seminggu ini ia tidak pernah lagi makan di luar atau di kantin seperti dulu. Ia sekarang selalu membawa bekal dari rumah. Ia harus berhema

u gajian?" Suci muncul di sampingnya, sembari menggesek-gesekkan jempol dan

e udah bawa bekal. Saya

tiap hari makan telur. Senin telur ceplok. Selasa telur dadar. Rabu telur balado. Jumat telur orak-arik. Nah ini telur apaan?" Suci memanjangk

leh. Tapi ini lo udah keterlaluan. Gue yakin kalo

memang menceritakan keadaan keluarganya sekarang pada Suci. Suci tahu semuanya, kecuali satu hal.

lauk apa kek nanti. Entah ayam, ikan, pokoknya makanan bergizilah.

al yang tidak mereka berdua duga adalah. Rajata, Aria dan Alana ada di dalam kantin. Kaki

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
(bukan) Perempuan Biasa #buku ketiga
(bukan) Perempuan Biasa #buku ketiga
“Cerita ini adalah cerita ketiga dari trilogi#womenpowerseries Kehidupan Davina Hadinata, seorang eksekutif muda yang cerdas dengan masa depan secerah mentari pagi, runtuh dalam sekejab mata. Masalah demi masalah mendatanginya tiada henti. Dimulai dari kesalahannya menerima cinta sang atasan, Aria Wardana yang ternyata telah beristri, hingga kakak kandungnya yang bermain api dengan suami sahabatnya sendiri. Masalah semakin rumit saat Aria yang dendam karena diputuskan secara sepihak, merusak karir Vina dengan menuduhnya telah melakukan kecurangan dalam perusahaan. Akibatnya Vina dipecat dari perusahaan, dan tiada satu pun perusahaan yang mau menerimanya. Cobaan makin berat saat Alana, istri Aria, keguguran dan akhirnya bunuh diri dalam keadaan hamil karena tidak kuasa menahan kesedihan. Di sinilah awal neraka Vina dimulai. Rajata Bagaskara, kakak kandung Alana membalas dendam padanya, dengan cara menodainya hingga hamil. Rajata ingin agar anak Vina menggantikan posisi keponakannya yang belum sempat dilahirkan. Bagaimana Vina menjalani hari-harinya pasca ia tidak berpenghasilan lagi? Sementara mata pencarian keluarganya berupa gerai bakso sang ayah, juga telah bangkrut akibat fitnah keji selingkuhan sang kakak yang kini menderita gangguan jiwa. Kisah ini menceritakan bagaimana kuatnya seorang perempuan yang tidak menyerah pada nasib, meski untuk berdiri tegak pun ia sulit. Baginya selagi napas masih dikandung badan dan masih ada Tuhan, pasti masih ada harapan.”
1 Bab 1 Chapter 12 Bab 2 Chapter 23 Bab 3 Chapter 34 Bab 4 Chapter 45 Bab 5 Chapter 56 Bab 6 Chapter 67 Bab 7 Chapter 8 Bab 8 Chapter 89 Bab 9 Chapter 910 Bab 10 Chapter 1011 Bab 11 Chapter 1112 Bab 12 Masalah baru13 Bab 13 Fitnah tak berkesudahan.14 Bab 14 Salah paham.15 Bab 15 Luka masa lalu.16 Bab 16 Darah lebih kental dari air.17 Bab 17 Ancaman Tak Berkesudahan18 Bab 18 Ancaman tak berkesudahan.19 Bab 19 Rencana jahat (lagi)20 Bab 20 Hidup tak pernah mudah21 Bab 21 Selalu aku yang salah.22 Bab 22 Kebetulan yang direncanakan 23 Bab 23 Alana tewas!24 Bab 24 Menulis ulang takdir.25 Bab 25 Penculikan keji 26 Bab 26 Melarikan diri.27 Bab 27 Menjadi istri 28 Bab 28 Jangan biarkan aku kalah.29 Bab 29 Malam pertama penuh duka lara30 Bab 30 Hari baru menjadi Nyonya Bagaskara31 Bab 31 Acuh tapi butuh.32 Bab 32 Pasti ada jalan. 33 Bab 33 Masa lalu mulai berdatangan.34 Bab 34 Unjuk gigi35 Bab 35 Mulai ada rasa36 Bab 36 Peristiwa berdarah!37 Bab 37 Kebenaran yang (tak) 38 Bab 38 Mulai ada rasa.39 Bab 39 Salah sangka.40 Bab 40 Terjebak Nostalgia41 Bab 41 Siapa Sarah 42 Bab 42 Berdua kita akan lebih kuat.43 Bab 43 Masalah Baru (lagi)44 Bab 44 Kamu jual, aku beli45 Bab 45 Merayu 46 Bab 46 Siapa dia 47 Bab 47 Klarifikasi menguras hati48 Bab 48 Pembalasan Terindah49 Bab 49 Bertemu Kembali.50 Bab 50 Curiga51 Bab 51 Mencintaimu Deperti Detak Jam.52 Bab 52 Kemunculan Tante Rena.53 Bab 53 Kebahagiaan Jago54 Bab 54 Petaka55 Bab 55 Peristiwa Berdarah56 Bab 56 Antara Hidup dan Mati57 Bab 57 Usai58 Bab 58 Akhir Cerita.59 Bab 59 Extra Part