icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
(bukan) Perempuan Biasa #buku ketiga

(bukan) Perempuan Biasa #buku ketiga

icon

Bab 1 Chapter 1

Jumlah Kata:1014    |    Dirilis Pada: 02/01/2022

na tahu tangan siapa yang melingkari pinggangnya ini. Aria Wardana, atasan sekaligus m

ini adalah staff Bapak. Tolong hormati saya." Vina meng

sa." Alih-alih melepaskan pelukan, Aria malah mempererat pelukannya. Kedua tan

ina gelagapan. Terlebih lagi saat ia merasa napas Aria mend

a pacar saya. Jadi saya tidak punya urusan dengan mereka. Jangan

n umpatan sumpah serapah dari mulut Aria. Aria kini mencengkram rahangnya erat. Menekannya geram hingga jari-jemarinya memutih. Vina mendesis kesakitan. Namun ia bertahan untuk tidak memoho

saya. Kalau kamu macam-macam, kamu akan saya pecat! Selain itu saya bisa membuat hidupm

pinggulnya menghantam bak cuci piring. Namun seperti tadi, ia tidak mau memperlihatkan kes

pisahan kita. Saya tetap mengangg

ma pernyataan cinta Aria dengan suka cita. Waktu itu ia terlalu bahagia karena merasa dicintai oleh seorang pria serupawan Aria. Atasannya sendiri lagi. Yang artinya status sosialnya di atas rata-rata. Mapan dan rupawan. Dua hal yang memang sulit ditolak oleh

ah membohonginya selama ini. Menurut salah seorang rekan kerjanya, Alana dan Aria telah menikah selama dua tahun lamanya. Hanya saja belum ada kehadiran seorang anak dalam rumah tangga mereka. Pantas saja Aria merahasiakan hubungan mereka di kantor. Aria be

ejak-jejak air mata dengan basuhan air. Setelah menutup

hitam di bawah matanya semakin membuat wajah lelahnya tampak m

Dina ketahuan melakukan affairs dengan suami sahabatnya, Kanaya. Masalah makin pelik kar

anak dari Ghifari. Melainkan anak dari salah seorang mantannya saat sekolah dulu. Reuni

usaha keluarga mereka. Delapan gerai warung bakso ayahnya telah ditutup akibat ulah Ghifari minggu lalu. Kini keluarganya hanya mengandalkan gajinya sebagai staff di perusahaan properti milik Aria ini. Namun sepertinya nasibnya juga aka

angan meeting. Kita kedatangan boss besar." Suci, salah seorang rekan kerjanya menarik pergelangan tangannya. Suci ini

sar?" Vi

ya?" ujar Vina bingung. Setahunya di pe

k Rajata Bagaskara. Kakak ipar Pak Aria. Dulu Pak Aria itu karyawan di sini. Nah Pak Aria itu akhirny

ya? Gue ng

pan lo baru empat bulan di s

bersiap-siap untuk menyambut kehadiran Pak Rajata yang baru pulang dari Amsterdam. Biasanya kalau baru pulang kandang beg

s Suci. Berdua mereka melangkah lebar-lebar menuju ruangan meeting. Dan benar saja, pintu ruan

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
(bukan) Perempuan Biasa #buku ketiga
(bukan) Perempuan Biasa #buku ketiga
“Cerita ini adalah cerita ketiga dari trilogi#womenpowerseries Kehidupan Davina Hadinata, seorang eksekutif muda yang cerdas dengan masa depan secerah mentari pagi, runtuh dalam sekejab mata. Masalah demi masalah mendatanginya tiada henti. Dimulai dari kesalahannya menerima cinta sang atasan, Aria Wardana yang ternyata telah beristri, hingga kakak kandungnya yang bermain api dengan suami sahabatnya sendiri. Masalah semakin rumit saat Aria yang dendam karena diputuskan secara sepihak, merusak karir Vina dengan menuduhnya telah melakukan kecurangan dalam perusahaan. Akibatnya Vina dipecat dari perusahaan, dan tiada satu pun perusahaan yang mau menerimanya. Cobaan makin berat saat Alana, istri Aria, keguguran dan akhirnya bunuh diri dalam keadaan hamil karena tidak kuasa menahan kesedihan. Di sinilah awal neraka Vina dimulai. Rajata Bagaskara, kakak kandung Alana membalas dendam padanya, dengan cara menodainya hingga hamil. Rajata ingin agar anak Vina menggantikan posisi keponakannya yang belum sempat dilahirkan. Bagaimana Vina menjalani hari-harinya pasca ia tidak berpenghasilan lagi? Sementara mata pencarian keluarganya berupa gerai bakso sang ayah, juga telah bangkrut akibat fitnah keji selingkuhan sang kakak yang kini menderita gangguan jiwa. Kisah ini menceritakan bagaimana kuatnya seorang perempuan yang tidak menyerah pada nasib, meski untuk berdiri tegak pun ia sulit. Baginya selagi napas masih dikandung badan dan masih ada Tuhan, pasti masih ada harapan.”