icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Mencintai Monster yang Kupanggil Suami

Bab 5 hanya ada deretan ruko tua

Jumlah Kata:1430    |    Dirilis Pada: 22/12/2025

pening karena terlalu lama bersandar di kaca jendela yang keras. Dia melihat keluar, hanya ada deretan ruko tua dan aroma laut yang tajam b

a tujuan. Dia hanya berjalan menyusuri trotoar yang retak-retak sampai matanya tertuju pada sebuah papan kayu kus

k yang warnanya sudah pudar. Namanya Bu Ratna. Dia menatap Ela

ayak orang kota, kok nyasar ke sini?"

celos. "Saya mau cari tempat tinggal, Bu. Saya baru saja p

ma ada kipas angin butut. Kamar mandi di dalam tapi airnya payau

di mal mewah. Tapi sekarang, uang itu terasa sangat berharga. Dia menghitun

a Elara sambil menyerahkan le

unggung. Dia meletakkan kopernya di sudut ruangan, lalu merebahkan diri. Tidak ada sprei sutra, tidak ada bantal

anya menetes, tapi dia segera menghapusnya dengan kasar. Dia sudah

n, mencari kerja ternyata tidak semudah yang dia bayangkan. Selama ini dia hanya tahu cara men

. "Maaf, apa di sini butuh tenaga bantuan? Cuci piring at

k tangan Elara yang halus. "Tanganmu tangan orang kaya, Neng. Yakin mau kerja kasar

kasih saya kesempatan," pinta E

k piring-piring berminyak di bawah kucuran air yang dingin. Kakinya lecet karena terlalu lama berdiri, dan tangannya mulai kasar terkena sabun cuci yang keras. Se

mobil hitam mewah melintas di jalan kecil itu. Jantungnya hampir berhenti berdetak. Mobil itu terlalu men

-mana. Dan Julian... Elara tidak tahu apakah pria itu mencarin

enghilang. Dia sudah mendatangi setiap hotel, setiap vila milik keluarga Elara, bahkan rumah te

an," kata Clara saat berkunjun

akan, dan ada lingkaran hitam di bawah matanya. "Aku tidak bisa fokus, Clara. Ayah Elara m

kau hanya peduli soal perusahaan? Baguslah. Biarkan saja dia hilang.

Julian tiba-tiba, membuat Clara terlonjak kaget. "Dia pergi cuma bawa satu

u kau bilang dia beban! Kau bilang kau muak melihatnya! Sekarang setelah dia pergi

bahagiaannya? Julian terdiam. Dia tidak bisa menjawab. Dia sendiri tidak tahu apa yang dia rasakan. Yang dia tahu, ada rasa

ku mau sendiri,"

ng dia tahu. "Cari dia. Jangan gunakan jalur utama. Cek semua terminal bus kecil dan penginapan kelas bawah di luar kot

hal. Selama ini Elara adalah bayang-bayang yang selalu ada di belakangnya. Dia tidak pernah menghargai bayanga

menatap ombak yang pecah di bawah kakinya. Pikirannya melayang pada Julian. Apa pria itu sedang maka

agi, Elara," gumamny

i di pasar pagi tadi dengan sisa upahnya. Ini adalah barang pertama yang dia beli dengan hasil keringatny

noleh dan melihat beberapa pria berpakaian rapi sedang menunjukkan foto di ponsel mereka kepada

ujur tubuhnya. Mereka

a harus pergi lagi. Kota ini tidak lagi aman. Dia kembali ke Wisma Bahari dengan terbu

sebulan?" tanya Bu Ratna heran m

mbil saja buat Ibu," kata Elara sam

gelap di pinggir jalan, naik ke mobil pertama yang akan berangkat tanpa peduli tujuannya ke mana. Mobil itu

asa seperti buronan. Ironis, dia melarikan diri bukan karena melakuka

jejaknya di sebuah kota nelayan di selatan, Tuan. Tapi dia baru saja per

ng bahkan tidak pernah mencuci piring maka

kini berubah menjadi rasa sakit yang aneh. Dia membayangkan tangan halus Elara

n dengan suara bergetar. "Aku s

suatu yang baru saja dia sadari di tengah kesunyian rumahnya: bahwa dia mungkin benci pada apa yang dilakuk

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Mencintai Monster yang Kupanggil Suami
Mencintai Monster yang Kupanggil Suami
“Sejak kecil, bagi Elara, dunia hanya berputar pada satu poros: Julian. Terobsesi untuk memiliki pria yang menjadi cinta pertamanya itu, Elara menggunakan pengaruh besar keluarganya yang konglomerat untuk memutus hubungan Julian dengan kekasih masa mudanya. Dengan licin dan tanpa ampun, Elara "membeli" restu keluarga Julian, memaksa pria itu masuk ke dalam sangkar emas pernikahan. Elara adalah wanita yang tinggi hati dan terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Baginya, penolakan Julian hanyalah sebuah tantangan, bukan tanda untuk berhenti. Namun, ia meremehkan satu hal: kebencian seorang pria yang merasa terampas kebebasannya. Selama tiga tahun, rumah megah mereka hanyalah sebuah makam bagi kebahagiaan. Julian memperlakukan Elara dengan dingin yang membekukan, bahkan terang-terangan menunjukkan rasa muak setiap kali mereka berada di ruangan yang sama. Elara yang keras kepala akhirnya mulai hancur; ia menyadari bahwa meski ia memiliki tubuh Julian, ia tak akan pernah bisa menyentuh jiwanya. Berada di titik nadir dan menyadari bahwa cintanya telah menjadi racun bagi dirinya sendiri, Elara akhirnya melakukan hal yang tak pernah dibayangkan siapa pun: ia mengibarkan bendera putih. Elara memutuskan untuk melepaskan segalanya dan menghilang dari hidup Julian. Kini, saat Elara benar-benar pergi dan tak lagi mengejarnya, akankah Julian merasakan kebebasan yang ia dambakan, atau justru baru menyadari bahwa benci dan cinta hanya terpisah sekat yang sangat tipis? Mampukah sisa-sisa perasaan Elara meluluhkan dinding kebencian Julian sebelum semuanya terlambat?”