icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Mencintai Monster yang Kupanggil Suami

Bab 2 mata Elara yang bengkak

Jumlah Kata:1227    |    Dirilis Pada: 22/12/2025

Dia terbangun dengan posisi meringkuk di sofa ruang tengah, bukan di kamar utama yang empuk. Badannya terasa pega

t yang semalam dia siapkan masih ada di sana, tampak menyedihkan dengan krim yang mulai meleleh. Elara

ja kantor yang sudah rapi, terlihat segar seolah badai yang dia ciptakan semalam sama sekali tidak mem

pada ayahmu," sindir Julian sambil mengancingkan

ia hanya menatap Julian

epertimu untuk mencuci dosanya," Julian melangkah menuju pintu depan, tapi langkahnya

itu tersentak kaget. Jantung Elara berdegup kencang, tapi sedetik kem

ak berubah jadi rendah dan tajam. "

Maksudmu apa? In

jah mereka hanya berjarak beberapa senti. "Ini parfum yang sering dipakai Clara. Kau sengaja,

ulai sakit. "Aku bahkan tidak tahu Clara

ni, dan sekarang kau mencoba meniru baunya?" Julian mengibaskan tangan Elara seolah-olah tangan itu adalah kotoran. "Bahkan

mpatnya. Dia mencium aroma tubuhnya sendiri. Parfum itu adalah hadiah dari temannya, dia tidak tahu kalau aromanya mirip de

a dengan kedua tangan. Baru jam delapan

"Ayah" muncul di layar. Elara menghapus air matanya sec

o, Y

Kau sakit?" suara berat ayahn

sedikit, Ya

anya, jangan karena dia suamimu, dia bisa santai-santai. Kalau dia berulah la

Setiap kemajuan karier Julian selalu dibayang-bayangi oleh ancaman ayahnya. Ju

Yah. Nanti aku sampaik

lan utama. Jangan biarkan pria itu merendahka

batu besar yang siap menghimpitnya sampai remuk. Di satu sisi ada ayahnya yang sombong dan su

api untuk menyampaikan pesan ayahnya-sekaligus, jauh di dalam lubuk ha

lian suka. Dengan kotak makan di tangan, dia berjalan masuk ke gedung kantor Julian. Para karyawan menatapnya dengan pandangan

etarisnya mencoba menahannya. "Maaf, Bu E

a dengan sisa-sisa kesombongan yang dia punya. Dia t

uk, Elara me

i sofa dengan seorang wanita. Wanita itu sedang menangis, dan tangan Julian berada di bahu wanita itu, mengusa

tu adala

an amarah karena privasinya diganggu. "Sia

di tangannya. Rasanya sangat konyol. Dia datang seperti istri yang be

ek," kata Elara, suaranya terdengar hamp

Kau lihat? Clara sedang kesulitan karena bisnis kecilnya diganggu oleh orang-orang s

pa-apa soal bisni

apalagi melihat wajahmu yang pura-pura tidak tahu apa-apa." Julian mengambil kotak makan

tempat sampah terdengar seperti suara ha

n, mencoba melerai, tapi Elara tahu itu hanya ak

g sudah mendesak di pelupuk matanya. Dia tidak boleh me

au kau tidak mau perusahaanmu habis," kata

ift tertutup, pertahanannya runtuh. Dia bersandar pada dinding lift, tubu

ang ternyata justru semakin membeku. Dan hari ini, melihat Julian memberikan kelembutan yang

anya yang besar ternyata bukan sebuah kekuatan, me

sar dari atas lemari, dan mulai memasukkan baju-bajunya. Bukan baju mahal yang dibelikan Julia

erasa seperti borgol yang berat. Dia melepaskan cincin itu, meletakkannya di atas meja r

nya pada ruangan yang

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Mencintai Monster yang Kupanggil Suami
Mencintai Monster yang Kupanggil Suami
“Sejak kecil, bagi Elara, dunia hanya berputar pada satu poros: Julian. Terobsesi untuk memiliki pria yang menjadi cinta pertamanya itu, Elara menggunakan pengaruh besar keluarganya yang konglomerat untuk memutus hubungan Julian dengan kekasih masa mudanya. Dengan licin dan tanpa ampun, Elara "membeli" restu keluarga Julian, memaksa pria itu masuk ke dalam sangkar emas pernikahan. Elara adalah wanita yang tinggi hati dan terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Baginya, penolakan Julian hanyalah sebuah tantangan, bukan tanda untuk berhenti. Namun, ia meremehkan satu hal: kebencian seorang pria yang merasa terampas kebebasannya. Selama tiga tahun, rumah megah mereka hanyalah sebuah makam bagi kebahagiaan. Julian memperlakukan Elara dengan dingin yang membekukan, bahkan terang-terangan menunjukkan rasa muak setiap kali mereka berada di ruangan yang sama. Elara yang keras kepala akhirnya mulai hancur; ia menyadari bahwa meski ia memiliki tubuh Julian, ia tak akan pernah bisa menyentuh jiwanya. Berada di titik nadir dan menyadari bahwa cintanya telah menjadi racun bagi dirinya sendiri, Elara akhirnya melakukan hal yang tak pernah dibayangkan siapa pun: ia mengibarkan bendera putih. Elara memutuskan untuk melepaskan segalanya dan menghilang dari hidup Julian. Kini, saat Elara benar-benar pergi dan tak lagi mengejarnya, akankah Julian merasakan kebebasan yang ia dambakan, atau justru baru menyadari bahwa benci dan cinta hanya terpisah sekat yang sangat tipis? Mampukah sisa-sisa perasaan Elara meluluhkan dinding kebencian Julian sebelum semuanya terlambat?”