icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Dikhianati di Ranjang Pengantin

Dikhianati di Ranjang Pengantin

icon

Bab 1 berusaha keras menjadi tak terlihat.

Jumlah Kata:1899    |    Dirilis Pada: 23/11/2025

tasi. Jenderal Wirya Atmaja, si empunya nama, sedang mengadakan jamuan besar-besaran, menyambut para kolega militer dan investor

m yang sederhana-pilihan termurah yang bisa dia temukan tan

enarik perhatian. Tapi bukan itu yang Aurora takuti. Yang dia takuti adalah mata s

saudari tiri yang usiany

rahan yang dia lontarkan. Sabrina mengenakan gaun merah menyala, mahal, dan jelas-jelas sengaja menyaingi sem

h kehadiran Aurora di pesta itu hanyalah noda yang tak sengaja tumpah di karpet mahal. Setelah Jenderal menikah

endirian

s untuk dipercaya. Aurora menoleh dan melihat Sabrina

ahat, Sab," jaw

eral, kita harus tampil ramah," kata Sabrina sambil meraih gelas champagne yang Au

Aku nggak minum alko

i," desak Sabrina, kali ini menyodorkan gelas baru berisi cairan kuning keemasan yang terlihat seperti

ina kali ini, entah kenapa, tampak tulus. Tulus

h," bisik Sabrina, m

. Dia tahu ayahnya benci melihatnya murung. D

idahnya, tapi disusul dengan sensasi hangat yang aneh, berbeda dari alkohol biasa. Rasa h

berbalik pergi untuk menyambut dua orang peting

h ringan. Tapi sensasi ringan itu dengan cepat berubah menjadi sensasi be

ini? pikirnya sambil men

raksasa yang kehilangan kendali. Suara orang-orang berdengung, seperti kawanan lebah yang

armer dingin, berharap hawa dingin itu

di pinggangnya, membantu menaha

uara Sabrina terdengar panik, tetapi ad

ucap Aurora terbata, berusaha fokus pada

h lihat, dia pasti marah. Kita ke kamar kamu

Mereka berjalan perlahan, melewati lorong mewah yang dipenuhi lukisan-lukisa

rlalu efektif. Aurora tidak bisa berpikir jernih. Satu-satunya

jati yang diukir rumit. Kamar Aurora ada di sayap timur, lebih dekat ke tangga pelayan. Kamar ini-k

tirahat yang tenang. Kamar ini kosong. Ayo, m

dominasi warna gelap-marun, emas, dan navy. Kamar itu dipe

kan sinyal bahaya terakhir yang mampu menembus kabu

bali ke nada aslinya yang keras dan ding

a sudah direncanakan, dan kamu, Aurora, kam

. Senyum itu mengandung dendam selama bertahun-tahun, cerminan

-kata kejam itu, Sabrina sudah menin

a sen

. Sensasi panas di tubuhnya kini tidak lagi pusing, melainkan berubah menjadi hasrat yang tak dapat dijela

uhnya jatuh ke atas seprai sutra hitam yang dingin. Se

angan gelap me

erlalu tenggelam dalam kabut hasrat yang menyiksa. Dia hanya mel

luhan. Wajahnya diselimuti bayangan, hanya matanya yang tajam dan gelap yang terlihat. Aurora tidak bis

lari, berteriak, atau minimal menutup dir

" Aurora berhasil ber

pi ranjang, menatap Aurora yang kini tak lebih d

uasi yang sudah tak bisa diselamatkan. Air matanya mulai mengalir, bukan ka

, dan kepanikan bercampur menjadi satu. D

ngar berat, seperti dia juga terjerumus dalam masalah yang tidak dia inginkan. Tapi dia

musk maskulin yang kuat, sentuhan tegas yang tidak memberi kesempatan, dan rasa sakit yang dengan c

k dari sela-sela tirai tebal mem

m, seperti dia baru saja ditabrak truk dan ditinggalkan di te

untuk menyadari dirinya tida

ampak kusut dan memiliki lipatan yang tidak seharusnya ada. Ada aroma pa

istrik. Sensasi panas. Sabrina. Gel

gera bangkit, gemetar ketakutan, dan menyadari bahwa dia be

akannya dengan tergesa-gesa. Air matanya mengalir deras, membasahi

kotor. Aku bena

mutar kunci. Terkunci. Dia mengetuk, memukul-mukul pin

apai puncaknya, pintu

sendiri. Di belakang mereka, berdiri dua orang pengawal pribadi Jendera

u, keras, dan penuh amarah. Matanya gelap, menatap Aurora s

ina, acting terkejut luar biasa. Suaranya diatur pada nada p

idak memeluk. Justru, dia meraih seprai sutra

si pria itu), dia pergi pagi-pagi sekali karena ada urusan mendadak

han, putriku! Kenapa kamu senekat ini,

ku. Dunia te

unci, tentang tipu daya Sabrina. Tapi suaranya tercekat. Bagaimana dia bisa membela diri k

ih Aurora, menatap ayahnya dengan

-nyala. Dia melihat ke belakang Aurora, ke arah kam

berbahaya, dan mematikan. "Saya besarkan kamu dengan kehormatan. Saya berikan kamu segalan

Aku tidak ta

mu putri yang murahan!" Jenderal Wirya melangkah maju. Ekspresinya tidak menunjukkan

nggelengk

juga selamanya. Bawa dia keluar dari rumah ini! Jangan biarkan dia

gkeram lengan Aurora. Kekuatan mere

ng melakukan ini!" teriak Aurora, berusaha meraih tangan a

a melewati lorong-lorong megah yang tiba-tiba ter

nyum kemenangan yang dingin dan kejam. Senyum y

ah. Dia diseret keluar, hanya dengan gaun hitam yang terkoyak

osot ke tanah. Tangisan histerisnya perlahan mereda, diga

ta, memeluk lutut

anmu, Sabrina. Dan aku akan mencari si

ang lama mati, digantikan ole

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Dikhianati di Ranjang Pengantin
Dikhianati di Ranjang Pengantin
“Aurora Valencia dihancurkan oleh intrik licik saudari tirinya, Sabrina. Ia dijebak, dikirim ke kamar seorang pria asing di malam terlarang, dan tak lama kemudian, kenyataan pahit menghantam: ia hamil. Skandal ini tak terhindarkan. Ayahnya, Jenderal Wirya Atmaja, seorang tokoh militer yang menjunjung tinggi kehormatan, murka besar. Nama baik yang ia jaga selama ini tercoreng, dan tanpa belas kasihan, ia mengusir Aurora dari rumah. Enam tahun berlalu, dan wanita yang kembali bukanlah Aurora yang rapuh. Ia adalah badai yang tenang, sosok yang bertekad menuntut keadilan. Dengan langkah pasti, ia kembali ke Jakarta, siap membalikkan semua keadaan. Tujuan utamanya jelas: membongkar semua kebusukan dan topeng kemunafikan yang selama ini dipakai oleh Sabrina dan ibu tirinya. Di samping misi balas dendam, ia harus memecahkan misteri terbesar dalam hidupnya: siapa pria yang telah memberinya sepasang anak kembar yang luar biasa?”
1 Bab 1 berusaha keras menjadi tak terlihat.2 Bab 2 mencintai kehormatan daripada dirinya3 Bab 3 menyewa sebuah kamar kecil4 Bab 4 diusir dengan gaun lecek5 Bab 5 Jaminan keamanan si kembar6 Bab 6 Rencana sudah matang7 Bab 7 Aurora berusaha keras untuk terlihat dingin8 Bab 8 rasa bersalahmu9 Bab 9 amarah10 Bab 10 memohon pengakuan11 Bab 11 Sabrina muncul di ambang pintu kamar tamu12 Bab 12 Mama Karina akan ikut terseret13 Bab 13 Jeritan Mama Karina terdengar nyaring14 Bab 14 mencoba menenangkan paman15 Bab 15 menyerahkan diri sebagai saksi16 Bab 16 Bocah sialan itu lagi17 Bab 17 Sabrina tidak membuang waktu18 Bab 18 Setelah insiden di Puncak19 Bab 19 mengabaikan pengacaranya20 Bab 20 utang yang diatur Aurora mulai menagih21 Bab 21 menyelesaikan urusan