icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Benang yang Tak akan Pernah Putus

Bab 2 2. Pertemuan di Tengah Luka

Jumlah Kata:1197    |    Dirilis Pada: 06/12/2021

yo, dan perempuan paruhbaya di had

Yoyo. Wajahnya terlihat agak tak suka, terlebih setelah

l Yoyo sembari

terfokus pada perempuan, yang p

ya menunduk, sama sekali ta

asa Bapaknya terlalu baik. Bapak tidak membenci Ibu sama sekal

salamualaikum!" kata Yoyo sembari

apak membuat Yoyo yang tengah berj

ilih bersembunyi di salah satu poho

tanya Bapak lagi terdengar kh

ng bergetar. Ada apa sebenarnya? Kenapa Ibunya terlihat takut untuk menatap Bapak?

ukan urusan kamu meski aku nggak baik-baik aja," saut Ibu, akhirnya Yo

ansa bertepuk sebelah tangan? Mungkinkah ini seperti Reren yang menc

itu juga nggak akan buat aku dikatakan sebagai seseorang yang berarti dal

k, "Aku baik-baik aja, Mas

nghela napas, "Bo

Jadi jangan menyimpulka

ng akan meninggalkan Hadi!" jelas Bapak sembari menunjuk pergelangan tangan Ibu yang membiru, dahi yang juga terlihat ada beberapa lebam, meski itu tertutupi poni.

percaya bahwa mantan suaminy

kata Ibu membuat manik mata

u Hadi pasti yang melakukan ini sama ka

angat bodoh menurut Yoyo. Ibu meninggalkan lelaki baik, dan tak pernah main tangan macam Bapak. Hanya demi lelaki bernama Ha

atas pemikiran sang Ibu, bisa-bisanya Ibu pergi meninggalkan Bapak yang jelas-jelas mencintainya. Oh Tuhan s

m mematung, sama sekali ta

di punya Apa, Na? Aku kecewa kalau ternyata kamu ninggalin aku demi Hadi bedebah itu, aku kecewa kamu lupain aku demi dia, dan aku juga terluka saat kamu memilih Hadi ketimbang anak kita

AK

k mengeluarkan darah. Ibu benar-benar mencintai Hadi ternyata, terbukti Ia

lai dia hanya dari sudut pandang kamu yang terluka, dan kecewa karena aku tinggalkan!" kata Ibu memb

mu pikir aku nggak tahu kalau Hadi sering main tangan sama kamu? Aku tahu, Na! Banyak dokter yang cerit

ementara kamu hanya bagi

fkan sang Ibu. Tapi melihat barusan, Yoyo memutuskan akan terus berusaha untuk memotong benang yang terhubung antara Ia dan Ibu. Entah menggunaka

n kira aku peduli karena cinta! Udah hilang cinta itu entah kemana, sejak kamu

anak!" kata Ibu tiba-tiba, yang tentu saja me

ya terjadi juga. Hari di mana Ia harus ber

kata Bapak menatap Ibu jengkel, "Kamu pikir membesarkan anak itu mudah, Na? Jangan harap kamu bisa mendapatkan hak asuh Yoyo! Aku yang udah besarin dia, dan aku juga yan

mu nyuruh aku jauhin Yoyo! I

a aku egois, biarin aku egois untuk kali ini, Na! Biar

percaya semua yang terjadi. Mulai detik ini juga pasti hidupnya

Siapin pengacar

ah meninggalkannya. Bapak kini berjalan dan memilih d

i pergi menjauhi taman kota. Ia benci hidupnya, bena

at siluet seseorang yang kelihatan akan melompat dari jembatan. Yoyo tidak mungkin membiar

membuat seseorang yang a

-Yo

n orang itu, Yoyo jadi

B

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Benang yang Tak akan Pernah Putus
Benang yang Tak akan Pernah Putus
“Yoyo terus berusaha menghilangkan perempuan itu di hidupnya, sosok Ibu yang seharusnya diimpikan banyak anak. Yoyo mencoba memutus seluruh benang, yang berhubungan dengan Ibunya. Tetapi seberusaha apapun Ia melakukannya, memotongnya dengan alat setajam apapun yang ada di dunia, benang antara Ia dan Ibunya tidak akan pernah bisa putus. Tetapi sayangnya Yoyo tidak pernah tahu itu, Ia terus mencoba. Sampai akhirnya bukan hanya Ibunya yang terluka tapi Ia sendiri terluka lebih dalam. *** Kaiyo Wrasasana.”
1 Bab 1 1. Berusaha Menolak Takdir2 Bab 2 2. Pertemuan di Tengah Luka3 Bab 3 3. Lelaki Itu Adalah4 Bab 4 4. Sudut Pandang yang Berbeda5 Bab 5 5. Coba Maafkan Saja6 Bab 6 Sama-sama Terluka7 Bab 7 Bapak-bapak Bertuksedo8 Bab 8 Si Kuat dan Si Kurang Bersyukur9 Bab 9 Yoyo, Kerja bakti, dan Ruang BK10 Bab 10 Ada Apa Gerangan11 Bab 11 Mama, Restoran Ayam, dan Masa Lalu12 Bab 12 Pak Warno dan Taman Kota13 Bab 13 Toko Buku di Ujung Jalan14 Bab 14 Mongki si Monyet dan Pak Fotografer15 Bab 15 Kata Bapak16 Bab 16 Karena Berharga17 Bab 17 Kapan Terakhir Kali Kau Meminta Pada Tuhan 18 Bab 18 Di matamu Hanya ada 19 Bab 19 Bersimpangan