icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Balas Dendam Seorang Adik yang Tersakiti

Balas Dendam Seorang Adik yang Tersakiti

icon

Bab 1 Hanya lima bulan tunggakan sewa

Jumlah Kata:2440    |    Dirilis Pada: 06/10/2025

t mengintip dari celah ritsleting yang terbuka sebagian-semua barang berharganya kini menjadi tontonan gratis bagi pejalan kaki yang lewat. Ia mengepalkan tangan,

nya lima bulan

bayar! Mau jadi gelandangan, hah?!" Suara melengking Bu Rini, si pemilik kos, menusuk gendang telin

di ambang pintu kamar Aura yang terbuka lebar. Tangan kanannya masih memegang sisa tumpukan barang Aura yang baru saj

saya ini panti asuhan? Saya juga punya tagihan! Kamu pikir uang sewa itu tumb

g dan garis rahang yang keras. Tubuhnya saat ini dibalut oleh dress pendek berwarna hitam berbahan licin. Kain itu memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna, mempertegas bentuk dadanya yang monto

suaranya sedikit bergetar, tetapi ia berusaha keras membuatnya terdengar tajam. "Tidakkah Ibu bis

Kalau berani kembali ke sini, saya panggil polisi!" Bu Rini menyentakkan tangannya ke udara,

membawa diri, yang setiap malam berdiri di atas panggung menyanyikan lagu-lagu dangdut dengan suara merdu dan goyangan yang enerjik. Ia bekerja keras-penyanyi dangdut di klub malam adalah pekerjaan utama yang

butuhannya sehari-hari yang cukup tinggi sebagai anak rantau yang sendirian di kota besar. Gaji manggun

aspal kasar, suara yang terasa seperti irama langkah menuju kehancuran. Ia sudah tidak punya orang tua; mereka meninggal dalam kecelakaan beb

erjanji tidak akan pernah merepotkan Maya, yang hidupnya sudah

erasa seperti perjalanan ke dimensi lain. Taksi yang ia tumpangi melaju membelah jalanan yang sem

an yang terawat indah. Rumah itu memancarkan aura ketenangan dan kekayaan yang mutlak. Aura menarik napas, mera

elintasi halaman berbatu. Ketika ia berdiri d

menunjukkan sedikit keterkejutan, tetapi senyum hangat langsung mengembang. Maya s

er besar?" tanya Maya, matanya menelisik

ya erat-erat, mencari kehangatan yang sudah lama ia rindukan. "Ak

s. Ia melepaskan pelukan itu, memegang wajah adiknya dengan kedua tangan. "Ya Tuhan,

au merepotkan

yo masuk, ayo masuk." Maya menarik tangan Aura

bahkan lebih mewah dari yang ia bayangkan. Semua perabotan dipilih deng

kata Maya, dan Aura duduk di sof

tetapi ia tidak sendirian. Di b

suami k

hat pria itu di foto-foto, tetapi berhadapan langsu

. Ia memiliki postur tubuh atletis yang luar biasa. Wajahnya-ya ampun-wajahnya sungguh tampan. Rahang tegas, hidung mancu

Aura. Aura, ini Baskara, suam

ya sedikit lebih parau dari biasanya. Ia merasa terpesona

at dan hangat, tetapi matanya tetap datar, ham

a diusir dari kosnya karena tunggakan. Dia sudah tidak punya tempat tinggal. Aku sudah bilang dia

ara. Keputusannya adalah kunci. Ia ada

mbali ke Aura. Ia hanya berdeham sekali. "Terserah kamu, Sa

"Terima kasih, Mas Baskara. Sa

ik, berjalan menuju ruang lain. Kehadirannya menghilang, te

a. "Aku harus berterim

tar dan dingin, tapi hatinya

antai bawah yang indah dan nyaman. Setelah Aura mele

asyik dengan tumpukan balok mainan. Ini Kian, anak tunggal Maya dan Baskara. Kia

erteriak, berlari da

ponakannya erat-erat. Ia da

jagoan Tante!" Aura ter

ius. "Aku baru saja dapat panggilan darurat dari rumah

. "Sekarang? Ke

tolong." Maya memegang tangan Aura dengan tatapan penuh permohonan. "Tolong jaga Kian

entu, Kak. Aku akan jaga

bergegas pergi. Ia adalah dokter bedah ternama dan sibuk, tetapi kesibukan itu sepadan den

rasa cemburu yang menggerogoti. Kenapa hidup Maya begitu sempurna? Semua yang Maya inginkan, ia dapatkan. Suaminya memiliki banyak perusahaan terkenal dan sangat sukses.

ia adalah pengemis yang

keluarga. Hanya ada di

eja besar yang penuh dengan tumpukan dokumen. Ia memakai kacamata baca, dan jari-jarinya yang panjang

n. Datar dan dingin-seperti patung marmer yang sempurna

ain robot!" Kian menari

kan pandangannya dari Ba

t Aura melupakan masalahnya. Mereka tertawa, membangun menara dari balok dan me

Aku lupa! Robot Optimus Prime yang bar

ang mana

tai atas, di atas lemari!" Ki

an kening. "Di

a aku nakal! Tante, tolong ambilkan

skara. Pria itu seolah

mengecewakan keponakannya. "Tapi Kian tunggu di

berdiri lemari buku yang sangat tinggi. Kian benar, di atas lemari itu, di sudut pa

ekali," g

a hanya sebuah kursi kayu kecil di dekat meja belajar.

Kursi itu memang kecil dan terasa sedikit goyah di bawah kakinya.

pi lemari, dan ketika ia mencoba meraih, kursi itu benar-be

ke belakang. Ia tahu ia akan jatuh, mun

uran itu ti

, dan hangat melingkari

rperanjat. Ia sudah bera

a sedikit retak, digantikan oleh kilasan kekhawatiran yang sangat cepat sebelum

buhnya yang montok menempel erat pada dada Baskara yang keras dan atletis

pada mata Aura. Keheningan mencekik ruangan. Di dalam keheningan itu, Aura tidak bisa la

. Bibir yang terlihat kaku

hasrat yang tiba-tiba, Aura melakukan sesuatu yang bar

ian, ia m

ulsif. Tetapi kemudian, hal yang tidak terduga terjadi.

Tangan kirinya bergerak cepat ke belakang kepala Aura, menekan tengkuk lehernya, memaksa kepala Aura men

n itu. Ia memeluk leher Baskara, membiarkan dirinya

ang menyambar bensin, semuany

yap. Pandangan di matanya yang sebelumnya gelap karen

ersa

idak mendorong Aura dengan lembut. Ia hanya melepaskan pegangannya, membiarkan t

de

ndongak, menatap Baskara yang kini berdiri di atasnya

kembali sedatar dinding. Ia bahkan tidak m

kit hati. Ia bangkit, wajahnya mem

Kamu yang duluan membalasnya! Kamu yang menciumku balik!

cepat saya sadari. Kamu hanya adik ipar saya. Jangan pernah lupa batasanmu. Dan kamu," k

n mendengarnya, atau jika tetangga mendengar. "Kau hanya

k robot dari atas lemari dengan sekali jan

a. "Jika kamu berpikir kamu bisa menggunakan tubuhmu untuk mendapatkan keuntungan, ka

galkan Aura sendirian di kamar mainan yang mewah, dikelilingi oleh keheningan yang mematikan, dengan rasa sakit di

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Balas Dendam Seorang Adik yang Tersakiti
Balas Dendam Seorang Adik yang Tersakiti
“Aura, seorang penyanyi dangdut yang juga berjuang menyelesaikan kuliah, diusir dari kos karena menunggak lima bulan sewa. Tak punya pilihan lain, ia terpaksa mendatangi rumah kakaknya, Maya, yang hidup serba berkecukupan bersama suaminya yang tampan dan dingin, Baskara. Awalnya, Aura hanya ingin menumpang sementara. Namun rasa iri pada kehidupan sempurna sang kakak perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit saat ia mulai tertarik pada Baskara. Ketegangan antara mereka memuncak ketika sebuah insiden tak terduga di kamar membuat keduanya terjebak dalam situasi yang mengguncang batas moral dan harga diri. Dihina, dipermalukan, dan dianggap murahan, Aura bersumpah tidak akan tinggal diam. Ia bertekad membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar beban atau godaan-melainkan perempuan yang mampu membalas luka dengan cara yang tak akan pernah dilupakan oleh Baskara.”
1 Bab 1 Hanya lima bulan tunggakan sewa2 Bab 2 Rasa sakit di siku3 Bab 3 Godaan Ipar4 Bab 4 bukan karena kedinginan5 Bab 5 Dosen baru yang dingin6 Bab 6 Godaan di Tengah Malam7 Bab 7 tidak membawa kehangatan8 Bab 8 Bayangan di Balik Kaca Mobil9 Bab 9 Motor besar Reza melaju perlahan10 Bab 10 Kebahagiaan di Atas Kaca Tipis11 Bab 11 Di Bawah Pengawasan Penuh12 Bab 12 Pekerjaan Aura sebagai asisten paruh waktu13 Bab 13 Penolakan l14 Bab 14 Pintu lift eksekutif terbuka15 Bab 15 menolak kekayaan16 Bab 16 Tiga bulan berlalu17 Bab 17 kehilangan ketenangannya18 Bab 18 Terbongkar19 Bab 19 Perhentian Terakhir Sebelum Hilang20 Bab 20 Pengasingan21 Bab 21 apartemen22 Bab 22 Ngidam dan Aroma Dapur23 Bab 23 Setelah insiden soto ayam24 Bab 24 pengakuan cinta25 Bab 25 Baskara kembali ke Jakarta26 Bab 26 Simpati27 Bab 27 Kembali ke Kebohongan28 Bab 28 Kehancuran29 Bab 29 telah kembali30 Bab 30 Dua Hati31 Bab 31 hanya menjadi dana darurat32 Bab 32 si kembar33 Bab 33 Negosiasi di Meja Kaca34 Bab 34 Kebenaran dari Sang Kakak35 Bab 35 Reaksi Kiano36 Bab 36 memalukan37 Bab 37 Tiga hari di pegunungan38 Bab 38 Menghadapi Monster Sendiri39 Bab 39 Dua Rumah40 Bab 40 tak terpisahkan41 Bab 41 Sepuluh Yupi42 Bab 42 Cemburu di Ruang Kuliah43 Bab 43 Menunggu di Batas Antara Logika