icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Air Mata Seorang Pengasuh

Bab 2 memberi rasa tanggung jawab

Jumlah Kata:1240    |    Dirilis Pada: 29/08/2025

wajah Arya yang tertidur lelap di sampingnya. Suara napas bayi itu yang lembut membuat hatinya terasa hangat, sekaligus memberi rasa tan

ya soal gaji besar, tetapi juga tanggung jawab tinggi. Setiap sudut apartemen harus dijaga kebersihannya, dan tentu saja, keselamatan Arya menjadi prior

eperti biasanya, dengan ponsel di tangan, rapat demi rapat, dan telepon-telepon yang tidak pernah berhenti mas

harus dibawa jalan-jalan sebentar di sore hari. Udara segar penting unt

ngan orang seperti Tuan Hadi menuntut disiplin, tetapi bukan hanya itu-

sar, penuh rasa ingin tahu. "Lihat, Arya... ini Jakarta," bisik Amara lembut, sambil tersenyum. I

tak henti, dan dengan rasa penasarannya sendiri tentang ayah kandungnya. Namun, di balik semua itu, muncul perasaan baru-perasaan hangat yang sulit i

, Fathir berdiri dengan wajah kusut dan mata merah. "Amar

ng tamu, Arya bermain dengan mainannya di dekat mereka. Fathir me

us bilang apa. Aku... merasa bersalah karena selama ini tidak bis

a aman dan dicintai. Itu saja. Saya tidak di sini untuk menilai atau menekan

endiri. "Terima kasih, Amara. Kau... kau sepert

u, ikatan dengan Fathir dan Arya mulai terbentuk, m

Pesan masuk dari nomor tak dikenal: "Berhati-hatilah, Amara. Tidak semua orang di sekitar Tuan Hadi bisa di

tahu tentang kegiatan Amara dan Arya. Bahkan, beberapa tamu yang datang ke apartemen tampak menatapnya dengan tatapan tidak

akarta, dengan nama yang hampir mirip dengan pria dalam foto. Amara merasa ini adalah petunjuk pertama yang bisa ia ikuti. Malam-malamnya kini tidak hanya

enghadapi dunia Jakarta yang keras. Setiap tangisan Arya adalah ujian kesabaran, setiap telepon Tuan Hadi adalah

h kandungnya. Apakah pria dalam foto itu akan menerima keberadaannya? Apakah ia akan dianggap sebagai anak haram

ta yang berkelap-kelip. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. "Aku harus kuat,

ngkapkan rasa terima kasihnya. Gadis muda ini, yang baru beberapa bulan di hidup mereka, telah membawa perubah

n menunggu kesempatan untuk menciptakan masalah. Pesan misterius yang diterima Amara hanyalah awal dari tantangan baru yang akan ia hadapi. Ia haru

a mulai belajar sedikit demi sedikit tentang kebutuhan Fathir, membaca perilaku pria itu yang kadang mudah marah, kadang murung, kadang hangat tanpa didug

n selalu mampu membuat hati yang paling berat sekalipun terasa ringan. Amara sering menggendong Arya di pagi hari, menata

Setiap petunjuk, sekecil apa pun, harus dicatat dan dianalisis. Kota besar ini penuh dengan kemungkinan, tap

catatan alamat, dan beberapa surat dari Mbah Tini ia periksa dengan seksama. Ada rasa haru yang sulit dijelaskan-ia

ih panjang dan berliku, ia merasa lebih siap dari sebelumnya. Setiap tangisan Arya, setiap senyum Fathir, setiap pesan mis

lebih baik, semoga ia menemukan jawaban atas pertanyaannya, dan semoga keluarga k

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Air Mata Seorang Pengasuh
Air Mata Seorang Pengasuh
“Amara adalah gadis cantik asal Solo. Sejak kecil, ia diasuh oleh Mbah Tini, sosok nenek yang selalu menyayanginya seperti anak sendiri. Namun, setelah Mbah Tini meninggal dunia, Amara merasa dunianya seakan runtuh. Dengan tekad yang bulat, ia memutuskan pergi ke Jakarta untuk mencari ayah kandungnya, mengikuti petunjuk yang selama ini diberikan Mbah Tini. Amara yakin, saat bertemu ayahnya, ia bisa membuktikan bahwa ia bukan anak haram sebagaimana rumor yang sering ia dengar. Setibanya di Jakarta, Amara hanya membawa keberanian dan sedikit uang. Ia mulai melamar pekerjaan sebagai cleaning service di sebuah perusahaan besar, berharap bisa bertahan hidup sambil mencari petunjuk tentang ayahnya. Beberapa bulan bekerja, Amara melihat pengumuman lowongan pekerjaan baru: Tuan Hadi Pratama, pemilik perusahaan ternama, mencari seorang pengasuh untuk cucunya, Arya Pratama. Gaji yang ditawarkan sangat besar, membuat Amara tertarik mencoba peruntungan. Beruntung, setelah wawancara singkat, Tuan Hadi langsung menerima Amara bekerja di apartemennya. Tuan Hadi sendiri sangat sibuk dengan urusan bisnis dan keluarganya. Istrinya, yang terlalu tenggelam dalam dunianya sendiri, tidak punya waktu mengurus Arya. Semua tanggung jawab pengasuhan sepenuhnya diberikan kepada Amara. Di sisi lain, Fathir, ayah kandung Arya, berada di titik terpuruk. Istrinya, Sarah, telah pergi ke luar negeri bersama selingkuhannya, meninggalkan Arya yang baru berusia tiga bulan. Setiap hari Fathir tenggelam dalam kesedihan dan mabuk-mabukan, sementara Amara yang baru masuk ke dalam hidup mereka mulai menghadapi tantangan mengurus anak kecil dan menenangkan hati Fathir yang hancur. Hari-hari Amara dipenuhi dengan tangis bayi, aroma susu, dan janji kecil yang ingin ia tepati: menemukan ayah kandungnya. Namun, tak disadari, kehadirannya mulai mengubah kehidupan Tuan Hadi dan Fathir perlahan, tanpa mereka sadari, Amara bukan hanya membawa kasih sayang, tetapi juga harapan baru bagi keluarga yang hampir hancur itu.”