icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

The Fate That Bind Us

Bab 3 3. Tenang Saja Saya Bukan Orang Jahat

Jumlah Kata:1143    |    Dirilis Pada: 17/01/2025

keheningan. Biasanya Aideen tidak banyak berbicara, tetap

g terus mencuri pandang ke arahnya, Freya tidak terlihat mengenali siapa dirinya dan tidak berusaha menggoda. Aideen

i melelahkannya. Biasanya, orang yang mengenalnya enggan mengajaknya berbincan

pada gondola yang berlalu-lalang di kanal depan mereka. S

ai Rabu," tambahnya, diikuti helaan napas panjang dan senyum satir. Aideen menangkap sesuatu d

Aideen, mencoba mem

manku. Biasanya sore begini Mom sudah menjemputku di kantor, lalu masak malam," gumamn

"Besok dia menikah dengan wanita yang dihamilinya," pikir Freya. Ia mencoba menepis cepat kenangan itu. "Move on, Freya

ia memperhatikan raut wajah Freya yang berubah-ubah. Ia tah

an, aku kaget," ucapnya dengan wajah terkejut yang membuat Aideen men

ya?" god

ngalihkan perhatian. Tapi Aideen tahu ia hanya mencari alasan. Ada sesuatu di mata gadis itu yan

dari tadi kamu terus memperhat

Aku mau pakai uangnya buat beli oleh-o

jar Aideen, nyari

a cepat. "Aku nggak mau merepotka

jahat? Membayangkannya saja sudah membuat Freya takut. Apalagi dia sedang berada di negara asing

ini benar-benar berbeda. Ia hampir tidak pernah men

menanyakan namamu, Tuan," ujar Freya, merasa malu. Ia baru tersadar

pria itu sambil

," jawab Freya sam

" balas Aideen de

nahan tawa kecil. Ia mulai mer

mana?" tanya Aideen, menco

m serta teman-temanku pesan. Tapi sebelumnya ak

Untuk

kin pusing," jelas Freya dengan wajah muram, meng

aya ikut," kata

andangnya dengan

n, meskipun tidak sepenuhnya jujur. Sebenarnya, ia hanya ingin menghabisk

Freya ma

i mobil dari saku celananya. "Ini sebagai jaminan," lanjutnya sambil menyodorkan ku

a sebuah mobil sport coupe?" gumamnya, bingung. Namun, sikap

kendaraan dari dompetnya. "Ini surat-suratnya. C

sana. Masih dengan keraguan, ia menatap Aideen lagi. "Kala

ereka hanya beberapa inci. "Kalau saya mafia," bisiknya d

ku takut!" ujarnya, menutup wajah dengan ke

tanya Aideen sam

e, aku percaya padamu. Tapi

ngangguk.

jari kelingkingn

nautkan kelingkingnya pada Freya. "Ayo kita

n ke kasir. Freya menatap punggung pria itu,

. "Apakah Aideen bisa dikatakan teman sekarang?" Ya, setidaknya begitulah yang ada dalam pikirannya. Daripada celinga

ni benar-benar melelahkan. Next kalau ketemu apotek, aku harus cari obat jantung dulu. Sekalian konsultasi s

is yang bersembunyi di balik wajah malaikat, seperti di novel atau film? "

ecilnya. "Semoga dia lupa sama kunci ini. Aku bisa jual nanti, beli banyak barang! Haha!" pikirnya licik,

lihat gadis itu tersenyum, menggeleng, lalu memukul kepalanya sendiri. Ada sesuatu yang menghibur

tiba-tiba sudah berd

eya cepat sambil ber

kata Aideen sambi

sudah hilang sepenuhnya. Aideen tertawa kecil di belakangnya sebelum mensejajarkan la

e Con

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
The Fate That Bind Us
The Fate That Bind Us
“"Apakah semua yang terjadi pada diriku saat ini adalah takdirku? Jika ya, aku akan menerimanya, baik itu takdir baik maupun buruk, karena aku yakin ada hikmah di balik semuanya." Freya percaya bahwa setiap peristiwa dalam hidup memiliki tujuan, meski terkadang datang dalam bentuk luka. Perjalanan yang seharusnya menjadi momen romantis ke Venesia bersama kekasih berubah menjadi mimpi buruk saat ia menemukan pengkhianatan yang menyakitkan. Rasa sedih dan frustrasi menghantuinya, namun ia memutuskan untuk tetap berangkat. Ia butuh waktu untuk menyembuhkan dirinya sendiri-sendirian. Namun, hidup memiliki caranya sendiri untuk memberikan kejutan. Ketika Freya mencoba menikmati pagi yang damai di Venesia, ia tak sengaja menabrak seseorang di sebuah jalan kecil. Ice cappuccino latte yang ia genggam tumpah, membasahi bajunya, dan mempermalukannya di depan pria asing yang ternyata... sangat memikat. Awalnya, hanya obrolan ringan. Namun, seiring waktu, mereka berbagi cerita-tentang kehilangan, impian, dan bagaimana menemukan diri sendiri di tengah reruntuhan hati. Dalam kota yang penuh keajaiban dan keindahan, Freya perlahan menyadari bahwa perjalanan ini lebih dari sekadar pelarian. Venesia menjadi saksi bagaimana ia belajar memaafkan, membuka hatinya kembali, dan menemukan bahwa mungkin, takdir memang selalu punya rencana yang indah, meskipun awalnya terasa seperti mimpi buruk. Di tengah jembatan, kanal, dan gondola yang memantulkan cahaya matahari, akankah Freya menemukan cinta yang baru? Atau mungkin, cinta sejati yang sesungguhnya adalah saat ia mulai mencintai dirinya sendiri?”