icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Antara Dendam & Penyesalan

Bab 4 penderitaannya berakhir

Jumlah Kata:945    |    Dirilis Pada: 17/12/2024

a ia hindari lagi-waktunya sudah hampir habis. Kanker yang merenggut tubuhnya semakin ganas, tak memberi ampun. Rasa sakit yang dulu datang perlahan kini datang begitu cepat dan meny

a untuk membalas dendam. Mungkin ia terlalu naif, terlalu berharap, terlalu mempercayakan hidupnya pada seseorang yang tak pernah ada di sisinya. Setiap kali ia mencoba untuk mencari kedamaian, setiap

-bunga yang mekar di halaman rumah, langit yang cerah, suara burung yang berkicau-semuanya terlihat begitu jauh. Seperti ada tembok besar yang memisahkannya dar

bagi mereka untuk saling berbicara. Adrian mungkin sudah merasa bahwa semua yang ia lakukan takkan bisa diperbaiki. Sofia tidak lagi membu

uk tubuhnya. Setiap gerakan terasa begitu berat, seolah ia sedang berjalan di bawah beban yang tidak bisa ia angkat. Tetapi yang paling menyakitkan

iam diri di dalam, dengan merenung tentang semua yang telah terjadi. Ia berjalan perlahan ke arah taman kecil di belakang rumah, tempat yang dul

saan yang tak bisa ia ungkapkan-sebuah perasaan yang jauh lebih dalam daripada kata-kata. Perasaan yang menyakitkan, yang menghimpit dada, yang memb

an semua rasa sakit, kemarahan, dan penyesalan yang telah lama terkubur di dalam hatinya. "Kenapa, Adrian?" ia berbisik, seolah meminta jawaban pada angin

embunyikan, kini keluar begitu saja. Keinginan untuk lari dari kenyataan begitu kuat, tetapi di sisi lain, ia merasa bahwa ia sudah terlalu lelah untuk terus melawan. W

apas yang ia hirup seakan semakin sulit untuk ditahan. Semua yang terjadi, semua yang ia alami, terasa seperti beban yang terlalu be

khiri semuanya. Surat yang ia tulis dengan tangan sendiri, sebagai bentuk perpisahan terakhir. Ia menatap surat itu sejenak, merasakan segenap perasaan yang terkumpul dalam setiap kata yang

ung itu telah lama menjadi simbol bagi kehidupannya yang rapuh, simbol dari segala penderitaan yang selama ini i

tepi gedung, ia menatap ke bawah, melihat dunia yang tampaknya begitu jauh. Semua yang ia tinggalkan di bawah sana, semua orang yan

ah-olah semua beban yang selama ini menekan tubuhnya akhirnya terlepas. Tanpa suara, tanpa

u, penderitaa

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Antara Dendam & Penyesalan
Antara Dendam & Penyesalan
“Meskipun Sofia dan Adrian telah menikah selama lima tahun, hati Adrian tak pernah benar-benar milik Sofia. Selama ini, ia selalu terperangkap dalam bayang-bayang wanita lain yang sudah sejak lama menghuni hatinya. Hari ketika Sofia divonis mengidap kanker stadium lanjut, Adrian sedang bersama wanita yang sudah lama mengisi hatinya, merencanakan masa depan bersama. Sofia yang mengetahui perselingkuhan itu, memilih untuk tidak melawan, memilih untuk menenangkan hatinya meskipun jiwa dan raganya terluka. Dengan membawa surat cerai yang sudah dia tandatangani tanpa banyak kata, Sofia memilih untuk pergi, membiarkan Adrian terjebak dalam kehidupan yang telah dia buat. Namun, hal yang lebih buruk menanti. Ternyata, pernikahan mereka bukanlah cinta, melainkan sebuah balas dendam. Adrian menikahi Sofia hanya untuk menghancurkan keluarga Sofia, untuk membayar utang lama yang tak pernah selesai. Kini, dengan tubuh yang kian lemah karena penyakit yang terus menggerogoti, Sofia terpuruk dalam kesendirian dan kesakitan. Adrian, yang begitu dingin dan tak berperasaan, mengatakan dengan nada yang menusuk, "Ini semua adalah utang keluargamu pada keluarga kami. Aku hanya melakukan ini untuk menuntaskan semua utang itu." Pada saat itu, dunia Sofia terasa seperti hancur berkeping-keping. Namun, ujian hidup tidak berhenti di sana. Ayahnya yang terbaring koma setelah kecelakaan parah menambah berat beban di pundaknya. Tanpa daya, Sofia pun memilih jalan yang tragis, terjun dari gedung tinggi, mengakhiri hidup yang penuh dengan penderitaan. Sebelum melompat, dia berbisik dengan air mata yang tak bisa dia tahan lagi, "Utang keluargaku padamu... telah kubayar lunas." Adrian, yang masih terperangkap dalam kebenciannya, tidak menyangka bahwa semuanya akan berakhir begitu cepat. Ketika berita kematian Sofia tiba, ia merasa seperti dunia runtuh di sekelilingnya. Dalam hancurnya hatinya, ia terjatuh di atas lantai, berlutut dengan mata yang sembab, tak dapat lagi mengontrol diri. Setiap detik terasa seperti siksaan. Adrian, yang begitu angkuh, mulai menangis dengan suara tercekat, "Sofia, tolong kembali padaku. Aku minta maaf. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa sekejam itu. Aku gila, aku bodoh... Kembalilah." Tetapi, kata-kata itu sudah terlambat. Hatinya telah terlanjur hancur, dan darahnya sendiri yang mengalir dalam penyesalan yang tak termaafkan.”