icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Way To Love

Bab 3 Takut kalah saing

Jumlah Kata:1166    |    Dirilis Pada: 09/12/2024

an menantu mereka, Sweet, di dapur. Setelah berpamitan, Mike melangkah cepat menu

-baik saja?" tanya Lisa sambil men

t rasa gugup di dalam hatinya. Ia melirik ke sekeliling, berharap tida

dengar suara kulkas yang terbuka. Tante L

ya Lisa sambil memerik

tapan Lisa. "Nggak terlalu suka

masak apa untuk makan malam

senang bisa berbincang lebih dekat dengan Tante Lisa. Biasanya, ke

s masak lebih banyak untuk malam ini,

tangannya. "Gak usah, Tan. Aku cum

pindah ke sini?" tanya wanita pa

...." Sweet terdiam, tid

i ada truk yang mengantarkan semuanya ke sini!" Suara Ethan tiba-tiba muncul, membuat

an, suaminya. Wajahnya menunjukkan keheranan. "Kamu tid

s. Ia melepaskan jas hitamnya dan meng

annya dan berlari keluar. Ia tampak panik. Et

nya Ethan, berhasil menangk

Sweet protes. Suar

ni!" bentak Ethan. Genggamannya kuat,

pas pelan, merasakan detak jantungnya semakin cepat. Dalam hatinya, ia berjuan

rumah. Pria itu tampak bersemangat, mengarahkan orang-orang untuk m

enapa, sih? Kenapa kamu nggak diskusi dulu sama aku?" tanyany

ng. "Kalau aku diskusikan dulu sama kamu, apa kamu mau pinda

ernah bilang kalau rumah ini nggak punya tempat buat orang kayak aku,

engenai sasaran. "Kenapa sekarang kamu maksa-maksa begini?

t Felicia!" sahut Ethan dengan suara

aja, aku pasti akan urus perceraian kita secepatnya," desisnya. T

kah masuk ke dalam rumah. Ia meninggalkan Sweet yang masih ber

dari Ethan, tapi kenapa semuanya jadi kayak gini, sih?" gerutu nya pelan. Kep

Tatapannya langsung tertuju pada Sweet seolah baru saja melihat hantu. "Menambah daftar pening!" gu

nggi dan satu tangan sedang memasukkan kunci mobil ke da

las, Rania kini lebih bergaya metropolitan seolah enam bulan

u yang mulai detik ini akan tinggal satu atap sama kali

i? Kenapa?" tanya Rania. Nada su

sama Om Mike dan Ethan," jelas Sweet panjang kali lebar sambil menunjukkan ke dalam ruma

gan sindiran. "Kayak kamu dipaksa aja buat pindah k

pat. Ia tidak terpengaruh oleh kata-kata

h? Bukannya kalian mau bercerai?" Ra

ma aku karena aku juga gak punya jawaban," balasnya. Ia menahan nap

g. Jangan mimpi!" tegas Rania dengan suara yang penuh tantangan. Sweet hany

lly kamu? Hello, jangan sembarangan bicara, deh. Aku bisa tambah kesal

masuk, Sayang!" Suara Tante Lisa tiba-tiba mengin

e Lisa. Ia mencium pipi kiri dan kanan Tante Lisa dengan penuh kasih sayang. Rania jelas-jelas sedang mema

ante Lisa. Wajahnya cemas memperhatikan Rania. Merasa ada ya

itu. "Wah, ini, sih, bukti kalau Rania berlebihan," batin Sweet. M

b Rania dengan nada manja, menampa

, Sweet bicara dalam diam sambil tetap berdiri di belakang,

Rania dan menarik tangan Sweet

is ke arah Sweet. 'Awas saja kamu, Sweet. Nanti aku akan bikin kamu tidak betah

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Way To Love
Way To Love
“Ethan selalu membayangkan honeymoon yang sempurna. Pantai, sunset romantis, dan malam-malam penuh cinta setelah memberikan 'Perfect Wedding' pada istrinya. Tapi, siapa sangka rencana manisnya malah berujung pada sofa bed yang dingin dan terpisah dari sang istri? "Honey, kamu yakin aku harus tidur di luar?" tanya Ethan, suaranya terdengar ragu, matanya meneliti wajah istrinya dengan harapan. "Yakinlah, kenapa enggak?" jawabnya dengan santai, seolah ini bukan masalah besar sama sekali. "Tapi ini kan honeymoon kita! Masa iya kamu tega membiarkan suamimu kedinginan-" "Gak usah lebay deh! Ada selimut, dan pemanas ruangan juga jalan kok. Sekarang tidur aja, simpan semua protesmu. Besok kita masih harus jalan-jalan romantis! Jangan lupa sama janji mu." Ethan cuma bisa menghela napas dan mengangguk pasrah sambil melirik sofa bed yang sempit itu. "Apakah besok aku masih harus tidur disini?" Batinnya, perasaan cemas mulai menyergap. Dia cepat-cepat menggeleng, berusaha mengusir pikiran yang bikin hatinya tambah galau. Lalu, ia merebahkan diri, memeluk guling dengan tampang frustasi. "Andai saja aku tahu, akhirnya bakal kayak gini..." gumamnya pelan, nada penyesalan menggelayuti suaranya. Sofa bed itu memang bukan tempat yang diimpikannya untuk menghabiskan malam-malam romantis, tapi siapa tahu, mungkin besok akan jadi hari yang lebih baik?”