Syaa87
2 Buku yang Diterbitkan
Buku dan Cerita Syaa87
Way To Love
Romantis Ethan selalu membayangkan honeymoon yang sempurna. Pantai, sunset romantis, dan malam-malam penuh cinta setelah memberikan 'Perfect Wedding' pada istrinya. Tapi, siapa sangka rencana manisnya malah berujung pada sofa bed yang dingin dan terpisah dari sang istri?
"Honey, kamu yakin aku harus tidur di luar?" tanya Ethan, suaranya terdengar ragu, matanya meneliti wajah istrinya dengan harapan.
"Yakinlah, kenapa enggak?" jawabnya dengan santai, seolah ini bukan masalah besar sama sekali.
"Tapi ini kan honeymoon kita! Masa iya kamu tega membiarkan suamimu kedinginan-"
"Gak usah lebay deh! Ada selimut, dan pemanas ruangan juga jalan kok. Sekarang tidur aja, simpan semua protesmu. Besok kita masih harus jalan-jalan romantis! Jangan lupa sama janji mu."
Ethan cuma bisa menghela napas dan mengangguk pasrah sambil melirik sofa bed yang sempit itu. "Apakah besok aku masih harus tidur disini?" Batinnya, perasaan cemas mulai menyergap.
Dia cepat-cepat menggeleng, berusaha mengusir pikiran yang bikin hatinya tambah galau. Lalu, ia merebahkan diri, memeluk guling dengan tampang frustasi. "Andai saja aku tahu, akhirnya bakal kayak gini..." gumamnya pelan, nada penyesalan menggelayuti suaranya.
Sofa bed itu memang bukan tempat yang diimpikannya untuk menghabiskan malam-malam romantis, tapi siapa tahu, mungkin besok akan jadi hari yang lebih baik? Anda mungkin suka
Kutandatangani Surat Cerai, Dia Kehilangan Segalanya
Jasper Night Selama dua tahun, aku memainkan peran sebagai istri yang sempurna, bodoh, dan penurut untuk miliarder Baskara Adiputra.
Namun malam ini, dia melemparkan draf perceraian ke hadapanku karena cinta pertamanya, Jasmine, telah kembali dalam keadaan sakit.
Baskara menatapku seolah aku adalah noda menjijikkan, memberiku kompensasi murah dan menyebutku pemburu harta yang tidak tahu diri.
Keluarganya ikut menghinaku habis-habisan di acara makan malam, sementara Jasmine dengan licik memalsukan kecelakaan mobil untuk menjebakku atas tuduhan percobaan pembunuhan.
Baskara membela wanita itu mati-matian, berteriak menyuruh polisi menangkapku, dan mengusirku dari pandangannya.
Dia mengira aku akan hancur, menangis, dan memohon untuk tidak dibuang. Dia sama sekali tidak tahu bahwa rekam medis Jasmine adalah pemalsuan tingkat tinggi, dan ada dalang yang mendanai penipuan ini dari balik layar.
Alih-alih menangis, aku menatap matanya dengan tenang.
"Aku ingin penthouse ini, lima persen saham perusahaanmu, dan tunjanganku digandakan."
Setelah memeras kekayaannya dan menandatangani surat cerai, aku kembali ke kamar, membuka brankas rahasia di balik lemari, dan mengeluarkan pistol Glock 19 serta laptop terenkripsiku. Waktunya berhenti bermain rumah-rumahan.