icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Apa Salahku Padamu, Bu?

Bab 4 Gaji Pertama

Jumlah Kata:906    |    Dirilis Pada: 07/02/2024

. Apalagi setelah mendengar semua ceritanya tadi. Akhirnya dia pun mengantarkan Mutia

mm brrr

di depan rumah," gumam Bu Narti saat telinganya

t Mutia sedang bercanda dan ber

ntuk turun. Namun itupun hanya sekedar basa basi, karena t

andingmu. Aku langsung pamit dulu ya, Mut," pamit Andi yang tak dijawab oleh Muti

balik gorden jendela. Sesaat setelah motor Andi tak lagi terli

adi begini kelak

ti dengan huruf 'O' yang panja

ki tadi Mut, temenmu apa pacarmu? Kerja apa ndak? Kerja juga baru sebu

a temen kerja Mutia, Bu. Lagipula dia cuma nganterin pulang

arti, Pak Supri dan Mutia duduk bersama

h uang ini sebaik mungkin ya, Bu. Mutia hanya akan mengambil lima ratus ribu

yang berbakti. Maafkan Bapak jika menjadikan bebanmu berat, maafkan bapak, Nduk,

untuk mengurus kita, orang tuanya. Menyekolahkan adiknya juga. Dia kan sudah besar. Saatnya bantu kita, janga

anyak!" Kata pak Supri sambil menggelengka

uga mengistirahatkan hatinya yang begitu nyeri. Air mata yang sedari tadi tertahan, kini kembali mengalir dari kedua pel

tidak pergi kemana mana. Mutia hanya ingin membantu bapak nya

kan, Pak?" tanya Mutia sembari berla

dah cantik nanti ya bau acem lagi,

tak pernah merasakan kasih sayang dari ibunya seperti saat bersama bapa

mengantar Mutia pulang. Karena pada malam hari setelah Mutia masuk ke kamar, pak Su

elaki, siapa dia, Nduk? Apa dia temanmu?" tanya pak Sup

utia makan bakso karena habis gajian, Pak. Sekalian Mutia ambil uang

arus bisa jaga diri juga. Jangan kebablasan kalau hanya berteman. Tapi dia anaknya

marah, Pak. Mutia nyaman aja pak kalau cerita sama Andi. Dia selalu mau

mengambil kesimpulan bahwa

aki-laki itu yo ora popo. Bapak cuma minta kamu sebagai anak gadis harus bisa berhati-hat

berucap dalam hati seraya menatap nanar pada an

ke rumah. Biasanya, cabai, singkong, jagung dan pis

an usianya yang terbilang sudah tidak muda lagi. Membua

dengar suara m

arti sudah berjalan dari dalam rumah denga

🍁

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Apa Salahku Padamu, Bu?
Apa Salahku Padamu, Bu?
“Jika bisa memilih, Mutia pun akan memilih untuk tidak terlahir ke dunia ini. Apa salah dan dosanya pun dia tak tahu. Setiap saat akan selalu menjadi sebuah kesalahan bagi dirinya. Akibat keadaan ekonomi yang carut marut, Ibunya selalu melampiaskan segala kekesalan pada gadis ini. Apa yang akan terjadi pada Mutia selanjutnya? Baca kisahnya di sini, ya. Jangan lupa untuk follow dan selalu berikan dukungan untuk author 😍😍”
1 Bab 1 Tangisan Mutia2 Bab 2 Di Tempat Kerja3 Bab 3 Ajakan Makan4 Bab 4 Gaji Pertama5 Bab 5 Pak Joko6 Bab 6 Pembicaraan Serius7 Bab 7 Mendapat Lampu Hijau8 Bab 8 Kasmaran9 Bab 9 Merasa Panas10 Bab 10 Hampir Saja11 Bab 11 Lamaran12 Bab 12 Balasan Untuk Pak Joko13 Bab 13 Hari Bahagia14 Bab 14 Pak Supri Sakit15 Bab 15 Hati yang Terluka16 Bab 16 Kelelahan17 Bab 17 Persalinan18 Bab 18 Menjemput Dhastan19 Bab 19 Kecelakaan20 Bab 20 Kabar Duka21 Bab 21 Jiwa yang Terguncang22 Bab 22 Pergi Selamanya23 Bab 23 Ketika Harus Memilih24 Bab 24 Ikatan Batin25 Bab 25 Menangis Dalam Diam26 Bab 26 Berbeda 180 Derajat27 Bab 27 Anak SMA28 Bab 28 Kemiripan29 Bab 29 Balap Motor30 Bab 30 Siapa Wanita Itu 31 Bab 31 Nenek Aisyah32 Bab 32 Dalam Bahaya33 Bab 33 Sang Penyelamat34 Bab 34 Tanda Tanya Besar35 Bab 35 Mencari Sebuah Jawaban36 Bab 36 Rahasia yang Terkuak37 Bab 37 Kebenaran Terungkap38 Bab 38 Sebuah Fakta39 Bab 39 Pertanyaan yang Mengejutkan40 Bab 40 Sebuah Keputusan41 Bab 41 Tak Mendapat Izin42 Bab 42 Rasa Sesal43 Bab 43 Berdamai Dengan Masa Lalu44 Bab 44 Sangat Berharap45 Bab 45 ICU46 Bab 46 Penyakit Jantung47 Bab 47 Hati yang Mengalah48 Bab 48 Berbunga-bunga49 Bab 49 Kembali Tumbang50 Bab 50 Limpahan Kebahagiaan51 Bab 51 Semakin Dewasa52 Bab 52 Rasa Canggung53 Bab 53 Firasat54 Bab 54 Keanehan 55 Bab 55 Kritis56 Bab 56 Ending