icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Terima Kasih atas Luka yang Kau Berikan, Mas!

Terima Kasih atas Luka yang Kau Berikan, Mas!

Penulis: Indah
icon

Bab 1 Memancing di kamar adikku

Jumlah Kata:1607    |    Dirilis Pada: 13/01/2024

it untuk manc

ok mancing

sudah kerja, jadi sekarang mau have-fan b

debat langkahnya untuk memancing. Padahal setiap minggunya selama b

pengen jalan-jalan sama kamu, Mas. Masa sih Mas nggak

janji palsu untuk anaknya. Padahal Karina hanya m

kamu! Mau kamu kalo aku stress, terus nggak bisa bekerja lagi, dan

arin untuk sabar menunggu kamu. Masa sekarang harus suruh

u. Karena aku sudah janji dan h

erlalu pergi dan meninggalkan aku. Hanya demi kata merefresh-kan otak,

riah saja yang wajib terpenuhi, tetapi nafkah batin berupa ke

n istrinya, dan sama-sama mencari hiburan di luar sana. Namun, Ma

oleh Mas Bram. Motor yang kini sudah semakin jauh dan me

a pergi l

kecil-Karin menga

k gadis kecilku sembari tersenyum karena ia pun iku

ya, Mah?" Ia mengu

. karena Mama belum bisa

n di wajahnya kala ia menu

ah, ia bisa dengan cepat mengubah mimik wajahnya untuk kembali

s mengurus Karin? Maka dengan senang hati,

lankan dengan baik, maka peranku sebagai Ib

*

bepergian karena tadi aku sengaja membujuk dirinya dengan ca

gaja aku minta kepadamu Mas Bram untuk memberikannya, agar mempermudah aku

Kota Pontianak ini, aku sangat senang karena bis

a mengajak untuk aku ikut serta bersama dirinya dalam me

ersemangat bermain, tiba-tiba aku mendenga

ada sebuah balon notifikasi pesan yang masuk dari

lnya, sudah berapa kali aku lihat ada suami kamu di rum

e

saat kubuka, ternyata pesan itu dikirim Nur sekitar 1

i rumah karena sudah selama dua minggu ini ia berangkat umroh. Lalu ngapa

Mulai dari apa, mengapa, dan siapa, semua itu menjadi pertanyaan di hari ini, tentang apa sebenarnya yang Mas Bram cari di sana?

sendiri, apa benar pesan yang dikirim oleh Nur ini. Sehingga aku memutuskan

aku berada di mall yang berada pada tepat pertengahan rumah aku dan Ibu,

yang ibu dan adikku tempati, aku pun mulai memelankan moto

sedang terparkir di halaman rumah ibu. Akan tetapi, aku

" gumamku sembari memperh

ang teman bermain Karina mengal

ain sama Deva, Ma

auh-jauh karena mama ng

rmain bersama teman-temannya maka akan mempermu

ermain bersama teman-temann

tikan kondisi sekitar yang sepertinya memang terlihat be

elum berangkat umroh beberapa minggu yang lalu. Untuk jaga-jaga takut ada hal-hal ya

itu kukenakan. Entahlah, aku pun merasa aneh atas perasaanku sendiri karena perasaa

iba-tiba aku mendengar percakapan dua orang y

lalu memberikan kepu

a. Pasti Mbak Ainun juga

run mesin. Jadi ya, tau sendiri lah bagaimana kondisinya. Mas juga nggak mau bohongin kamu cuma

ekk

uk-tusuk, lalu di remas-remas. Begitulah k

..., periii

eriak, sekedar bernapas saja rasanya begitu sesak. Namun, seku

erti sedang merengek meminta sesuatu. Setelah it

ni semakin membuatku hilang kesabaran, dan dengan sekali dorong, pi

aak

mana, kedua orang yang seharusnya mendukung dan melindungi r

a, sontak saja kedua orang itu langsun

k Ai

in

terpaku menatap penuh benci kepada ked

secara asal, sedangkan Yuli hanya tertunduk

, ke-ken

ti apa yang sedang kamu pancing, Mas

... ti-ti

berbeda, mengalahkan pemancing-pemancing lainnya. Dimana mereka memancing dengan u

n!" Yuli masih berkilah se

g ia ciptakan, dan menunggu apa yang akan ia ceritakan, tet

kekuatan telepati yang bisa mema

etapi ia hanya menol

ya aku mempermalukan dirinya di hadapan orang ramai, tetapi tetap saja pe

aku berfikir, jika aku mengungkap kebenaran ini di m

l ini terungkap maka akan membu

.!" Berkali-kali aku selalu beristighfar. Mencoba menahan luapan emosi yang

aku berusaha menguatkan diriku sendiri dan mundur

an yang berbeda dan itu pun dilakukan di dalam kamar adikku. Bahkan karena ketagihan me

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Terima Kasih atas Luka yang Kau Berikan, Mas!
Terima Kasih atas Luka yang Kau Berikan, Mas!
“Awalnya ia adalah orang yang sangat mencintaiku sepenuh hatinya. Namun, seiring berjalannya waktu, perubahan demi perubahan semakin kentara terlihat, dan dapat kurasakan. Hingga suatu hari, aku menjumpai suamiku yang katanya pamit untuk memancing ternyata ada di rumah ibuku. Ia sedang bersama dengan adik kandungku. Kejadian itu sudah sangat menggores luka di hatiku. Akan tetapi, Mas Bram telah berjanji untuk tak lagi mengulanginya. Aku ikhlas, dan menganggap kekhilafan suamiku itu karena keteledoranku sebagai seorang istri yang, 'mungkin' tidak bisa menyenangkan hatinya. Beberapa bulan berjalan,hubungan rumah tangga kami berjalan seperti biasanya. Meskipun, terasa hambar, tetapi aku tetap menjalani kewajibanku sebagai istri untuk dirinya, semua kupasrahkan juga karena ada anak yang membutuhkan perhatian kami saat itu. Hingga satu tahun berjalan, ternyata untuk kedua kalinya ia melukaiku dengan cara yang sama. Mas Bram dan adikku masih berhubungan. Semua itu terbongkar saat aku menemukan chat di handphone pribadi milik Mas Bram bersama adikku dengan kata-kata mesra dan terkesan jorok. Sudah dua kali hati terluka dengan luka yang sama. Apakah harus aku bertahan dalam rumah tangga penuh duri ini?”
1 Bab 1 Memancing di kamar adikku2 Bab 2 Hatiku telah mati rasa3 Bab 3 Hambar4 Bab 4 Berlibur5 Bab 5 Tidak mungkin kebetulan6 Bab 6 Diam-diam memperhatikan7 Bab 7 Mengecek handphone8 Bab 8 Diam seribu bahasa9 Bab 9 Pak Arsyad dan Kak Rahman10 Bab 10 Kepergok kedua kalinya. 11 Bab 11 Aku Benci Ayah! 12 Bab 12 Bertemu Penyelamat. 13 Bab 13 Belanja kebutuhan14 Bab 14 Mereka memutar balikkan fakta. 15 Bab 15 Aku pasti bisa! 16 Bab 16 Berebut17 Bab 17 POV RAHMAN18 Bab 18 Apakah ini cinta 19 Bab 19 Mati kutu20 Bab 20 Bertemu pengacara21 Bab 21 Duda Populer22 Bab 22 SUDAH YAKIN AKAN BERCERAI23 Bab 23 Video Viral24 Bab 24 Aku Pasti Bisa! 25 Bab 25 Kembali ke Rumah. 26 Bab 26 Dihujat. 27 Bab 27 Meminta Klarifikasi28 Bab 28 Merasa Dilindungi29 Bab 29 Status Baru. 30 Bab 30 Tiba-tiba Datang. 31 Bab 31 Lamaran Dadakan32 Bab 32 Menemui Wak Ahmad33 Bab 33 Hari Pernikahan34 Bab 34 Malam Pertama di Hotel. 35 Bab 35 Buah dari keikhlasan. (Tamat)