icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Terima Kasih atas Luka yang Kau Berikan, Mas!

Bab 2 Hatiku telah mati rasa

Jumlah Kata:877    |    Dirilis Pada: 13/01/2024

iwa yang seakan-akan terombang-ambing membuat fisikku semakin lemah. Aku benar-benar tak

mosiku agar hati ini plong. Namun, kembali aku berpikir jika

alam pesan yang dikirim oleh Nur, ia mengatakan sudah sering kali melihat Mas Bram kembal

ar merasa telah ditipu mentah-mentah ol

dirinya di luar pada hari liburnya. Bahkan tak jarang ia menginap dan mengaku

il mengucapkan kata maaf. Ia menggenggam tanganku, tetapi dengan cepat kutepi

Mbak!" Tak lama disusul pul

dir di hadapanku, membawa muka meme

ul atau dihukum, dicacimaki, tapi t

aku bicara

bak Ainun. Tapi tolong jangan diam aja, Mbak! Aku

kit hati? Begit

ianat yang ada di hadapanku ini. Rasanya sangat muak, t

maksudnya, M

tega melakukan

ku, Dek! A

bang tanpa tau kemana arah tujuan di setiap perkataanku karena pik

langinya lagi, Mbak. Aku me

sa merubah semua keadaan

f, D

aaf dari kalian!" ucapku. Lalu aku berdiri kare

mau ke

lan

an marah? Ba

i maka tak akan a

egitu! Kami masih san

ntah kenapa aku merasa hatiku sepertinya telah mati saat ini. Sehingga kali ini, tak setitik pun air mataku mengalir setelah menyak

ng. Karena karin sudah tahu bahwa sang nenek sedang tidak ada di rumah maka dengan mudah Karin menurut kepa

akit yang tadi berkumpul di dalam hati. Barulah semua rasa kecewa d

elakang dan memeluk pinggangku dari belakang. Sehingga a

a na

dak menyadari bahwa aku saat ini sedang menangis, tetap

?" tanyaku berubah menetralkan s

. Kayak waktu Karin kalau sedang nangis, pasti perut Karina juga ge

cepat kuhapus air mataku menggunakan lengan baju panjang yang saat ini kukenakan, lalu aku sedikit me

en sama nenek karena tadi kita ke sana t

u aja yang salah sangka

n tanpa terasa kini kuda besiku sudah tiba di halaman ru

suk dan kami sama-sama membersihkan diri di kam

iasakan untuk mandi sendiri karena aku ingin mendidi

handuk. Namun, aku terpaku di depan pintu kamar mandi karena saat itu ada s

lkan aku!" Mas Bram langsung memelukku sambil menangis terisak. Bahkan aku bis

tanggapan Ainun se

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Terima Kasih atas Luka yang Kau Berikan, Mas!
Terima Kasih atas Luka yang Kau Berikan, Mas!
“Awalnya ia adalah orang yang sangat mencintaiku sepenuh hatinya. Namun, seiring berjalannya waktu, perubahan demi perubahan semakin kentara terlihat, dan dapat kurasakan. Hingga suatu hari, aku menjumpai suamiku yang katanya pamit untuk memancing ternyata ada di rumah ibuku. Ia sedang bersama dengan adik kandungku. Kejadian itu sudah sangat menggores luka di hatiku. Akan tetapi, Mas Bram telah berjanji untuk tak lagi mengulanginya. Aku ikhlas, dan menganggap kekhilafan suamiku itu karena keteledoranku sebagai seorang istri yang, 'mungkin' tidak bisa menyenangkan hatinya. Beberapa bulan berjalan,hubungan rumah tangga kami berjalan seperti biasanya. Meskipun, terasa hambar, tetapi aku tetap menjalani kewajibanku sebagai istri untuk dirinya, semua kupasrahkan juga karena ada anak yang membutuhkan perhatian kami saat itu. Hingga satu tahun berjalan, ternyata untuk kedua kalinya ia melukaiku dengan cara yang sama. Mas Bram dan adikku masih berhubungan. Semua itu terbongkar saat aku menemukan chat di handphone pribadi milik Mas Bram bersama adikku dengan kata-kata mesra dan terkesan jorok. Sudah dua kali hati terluka dengan luka yang sama. Apakah harus aku bertahan dalam rumah tangga penuh duri ini?”