icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Kenapa Kalian Membuang Ibu?

Bab 5 Kerinduan

Jumlah Kata:1158    |    Dirilis Pada: 10/01/2024

. Ibu ma

Semua itu adalah salahnya. Kalau saja, ia tidak mendesak Eliza untuk segera mengantarkannya ke kamar kecil, kejadiannya pasti tidak akan seper

a Eliza. Menganggap Eliza teledor mengurus a

apa,

ng yang memfokuskan di

. soal Zay tadi

a. Ia tidak peduli. Yang penting bagi Minah sekarang adalah bicara pada Agung. Baginya, di dunia ini, Agung s

eperti tenggelam pada kehidupan sendiri, tanpa peduli pada ibu yang sepanjang waktu merindu. Setelah ia sakit, bukannya mere

...." tutur Minah kemba

enuturan ibunya. Karena me

gak salah ...." jawab Agun

pi

pikirin. Toh, Zaydan

depan televisi. Ia sibuk memainkan mobil-mobilan,

ebaiknya kit

-

atan berubah ak

a Agung yang tiba-tiba. Awalnya ia pikir, suaminya itu sudah terlelap. Sejak

jang, lalu duduk bersan

gar pembicaraanku di telepon waktu itu?" pungkas Eliza. Pandangannya lurus ke depan,

, agar dapat leluasa m

emosi pada anak-anak. Orang tua semakin uzur, akan semakin mudah sedih dan tersinggung. Tiap

ti. Rasa lelah yang berlebihan, ditambah dengan emosi yang tidak terkendali, mungkin karena rasa ikhlas yang memang belum sepenuhnya berhasil ia tetapkan pada hati.

gaimana merawat ibu. Kakaknya juga harus merasakan, bagaimana rasanya, tengah malam harus terbangun karena sang ibu berteriak dari kamar sebelah. Mereka juga harus merasakan bagaimana rasanya, membersihkan tu

Seharusnya ia bisa lebih ikhlas. Karena di lain pihak, sebenarnya Allah sedang melimpahkan kebaikan padanya. Allah sedang membe

s," bisik Eliza den

a, lalu menenggelamkanny

Dek. Berusahalah ... Semua ini

yang bersih. Ia berjanji dalam hati, akan membuat segalanya lebih

tidur

, memberi isyarat Eliza untuk

. Bagi Eliza, di sanalah tempat ternyaman untuknya mela

-

etap di kamar. Ia duduk di satu-satunya kursi yang ada di kamar itu. Menghadap ke arah jendela, yan

engan bayangan ketiga anaknya saat masih kecil. Ketiganya masih berseragam merah putih, karena memang jarak antara ketiganya tidak begitu jauh. Kala itu, suaminya, Husni, masih ada dan sehat. Suaminya yang s

e adalah anak bungsu bagi ayahnya itu. Eliza lebih memilih mengala

a sang adik. Akan tetapi, Eva memilih acuh, tidak mempedulikan nasihat Minah. Lalu, Eliza akan berkata

erti masa kecil dahulu, Eliza tetap menjadi anak yang selalu mengalah. Ia tida

g bisa diterima Minah. Tidak akan mencukupi untuk memenuhi kebutuhan, mulai dari diapers, vitamin, obat-obatan, hingga biaya terapi sese

kung anak bungsunya itu semakin

mengantarkannya ke panti jompo saja. Sudah te

u lama mereka tidak pulang, untuk sekadar melihat keadaannya. Bahkan, untuk menelepon padanya saja, ked

ang sudah sangat rapuh. Menghapus segala kerinduan yang ia pupuk dari hari k

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Kenapa Kalian Membuang Ibu?
Kenapa Kalian Membuang Ibu?
“Selama tinggal Eliza, anak bungsunya, Minah merasa hidupnya baik-baik saja. Eliza dan suaminya, Agung, menjaga Minah dengan baik. Meski dua anaknya yang lain, mengacuhkannya, Minah masih terawat hidup dalam penjagaan Eliza. Hingga tiba masanya Eliza harus pergi jauh mengikuti sang suami. Mau tidak mau, Minah harus tinggal bersama anak laki-lakinya, Edo. Ketika bersama Edo-lah, yang namanya penderitaan itu mulai dirasakan Minah. Sikap sang menantu, menjadi awal dari segalanya. Hingga hidup Minah berakhir di sebuah Panti Jompo. Dan, di sana jugalah Minah akhirnya mengembuskan napas terakhir, tanpa dampingan satu pun anak yang sangat ia cintai.”
1 Bab 1 Lelah2 Bab 2 Kedua Orang Itu Sama Saja3 Bab 3 Munafik 4 Bab 4 Kalau Saja ....5 Bab 5 Kerinduan 6 Bab 6 Kata Maaf7 Bab 7 Kerinduan Seorang Ibu8 Bab 8 Penolakan Lagi9 Bab 9 Kabar Buruk 10 Bab 10 Jalan Keluar11 Bab 11 Pertemuan 12 Bab 12 Tiga Minggu Yang Lalu13 Bab 13 Pilihan Yang Sulit 14 Bab 14 Lautan Jadi Pemisah15 Bab 15 Kamar Belakang 16 Bab 16 No Diapers No Vitamins17 Bab 17 Ibu Adalah Beban18 Bab 18 Tragedi di Meja Makan19 Bab 19 Sulit Sekali Melepas Rindu20 Bab 20 Buntalan Kain21 Bab 21 Bau Pesing Yang Menyengat22 Bab 22 Ibu Harus Pergi23 Bab 23 Kemana Aku Akan Kalian Bawa 24 Bab 24 Penolakan Lagi25 Bab 25 Isi Hati Luna26 Bab 26 Reni Pergi 27 Bab 27 Batin Reni Menjerit 28 Bab 28 Sepeninggal Reni29 Bab 29 Luna Sakit 30 Bab 30 Panti Jompo31 Bab 31 Ibu Adalah Beban32 Bab 32 Ratapan Hati Minah33 Bab 33 Berakhir di Sini34 Bab 34 Berdamai dengan Keadaan35 Bab 35 Rindu Itu Menyiksa36 Bab 36 Sakit Karena Rindu37 Bab 37 Aku Ingin Pulang38 Bab 38 Bebanmu Bebanku Juga39 Bab 39 Memendam Rindu 40 Bab 40 Kabar Gembira41 Bab 41 Pulang 42 Bab 42 Semoga Tidak Terla43 Bab 43 Minah Kritis44 Bab 44 Kedatangan Eliza45 Bab 45 Anak Durhaka46 Bab 46 Kenyataan Memilukan47 Bab 47 Apa Waktu Itu Akan Tiba 48 Bab 48 Rindu Tak Terucap 49 Bab 49 Semua Gara-gara Kamu50 Bab 50 Sesal Kemudian Tidak Berguna51 Bab 51 Jalan Terbaik52 Bab 52 Kampung Halaman53 Bab 53 Peristirahatan Terakhir 54 Bab 54 Menyesal Tidak Berguna 55 Bab 55 Telah Hilang56 Bab 56 Sepenggal Kata Maaf