icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Kenapa Kalian Membuang Ibu?

Bab 2 Kedua Orang Itu Sama Saja

Jumlah Kata:817    |    Dirilis Pada: 10/01/2024

bu. Membeli diapers, susu, hingga vitamin dan obat-obatan. Itupun t

nggup untuk membiayai kebutuhan ibunya sendiri. Oleh sebab itu, ia terpaks

guras energi Eliza setiap hari. Jika ditambah dengan urusan ibunya, Eliza nyaris ambruk, tidak bertenaga. Ia terlalu lelah. Tidak hanya tubuhnya yang lela

. Untuk memberikan ruang pada otaknya agar bisa berpikir normal. Jika kondisi lebih memungkin, ia aka

tanggung jawabnya. Ia mengelak untuk mengurus ibu, sejenak saja. Eliza tidak habis pikir pada pikiran mas

ia adalah anak kebanggaan ibunya. Tidak ada kata tidak, untuk segala keingina

ana,

siapa lagi, akan ia adukan semua ini? Pada Eva pun, ia juga tidak yakin mendapatkan penawar pada problema dalam dadanya. Sikap Eva selama ini, bahkan lebih parah da

ngin Mbak Eva

a sepuhnya adalah pekerjaan mulia. Akan berbalas surga, jika ia bisa ikhlas. Akan tetapi, kondisi Eliza terlihat sangat tidak memungkinkan belakangan ini. Dia terlihat

kondisi adik bungsunya itu. Sebagai laki-laki, seharusnya ia bisa mencar

na kakaknya itu? Jelas sekali, kalau ia belum tidur. Masih terlalu senja. Jam dinding baru menunjuk ke pukul delapan.

t?" Lagi, Ag

engangg

lagi

aminya. Mencoba untuk m

ketus Eva terdenga

dari Eva, Eliza jadi ragu untuk mengungkapkan semuanya. Ra

nlah, a

saha agar emosinya tidak ter

gantian ngur

elum usai, tapi Eva su

tara aku hanya sendiri tanpa ART. Aku benar-benar drop." Eliza menghela napasnya. "Mbak bawa dulu ib

an itu spontan, tanpa melalui pertimbangan sedikitpun. Benar s

kami gak memungkinkan, Mbak. Kalau Mbak, kedua anak Mbak sudah besar. Mengurus ibu saja, jelas gak akan begitu merepotkan. La

a dan Gilang gak akan betah tinggal baren

g ibu?" Setetes butiran bening dari mata Eliza mengalir begitu saja

ikum ...." Ia menutup telepon begitu saja. Tanp

kedua kakaknya. Kehidupan duniawi telah menarik dan menenggelamkan mereka terlalu jauh.

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Kenapa Kalian Membuang Ibu?
Kenapa Kalian Membuang Ibu?
“Selama tinggal Eliza, anak bungsunya, Minah merasa hidupnya baik-baik saja. Eliza dan suaminya, Agung, menjaga Minah dengan baik. Meski dua anaknya yang lain, mengacuhkannya, Minah masih terawat hidup dalam penjagaan Eliza. Hingga tiba masanya Eliza harus pergi jauh mengikuti sang suami. Mau tidak mau, Minah harus tinggal bersama anak laki-lakinya, Edo. Ketika bersama Edo-lah, yang namanya penderitaan itu mulai dirasakan Minah. Sikap sang menantu, menjadi awal dari segalanya. Hingga hidup Minah berakhir di sebuah Panti Jompo. Dan, di sana jugalah Minah akhirnya mengembuskan napas terakhir, tanpa dampingan satu pun anak yang sangat ia cintai.”
1 Bab 1 Lelah2 Bab 2 Kedua Orang Itu Sama Saja3 Bab 3 Munafik 4 Bab 4 Kalau Saja ....5 Bab 5 Kerinduan 6 Bab 6 Kata Maaf7 Bab 7 Kerinduan Seorang Ibu8 Bab 8 Penolakan Lagi9 Bab 9 Kabar Buruk 10 Bab 10 Jalan Keluar11 Bab 11 Pertemuan 12 Bab 12 Tiga Minggu Yang Lalu13 Bab 13 Pilihan Yang Sulit 14 Bab 14 Lautan Jadi Pemisah15 Bab 15 Kamar Belakang 16 Bab 16 No Diapers No Vitamins17 Bab 17 Ibu Adalah Beban18 Bab 18 Tragedi di Meja Makan19 Bab 19 Sulit Sekali Melepas Rindu20 Bab 20 Buntalan Kain21 Bab 21 Bau Pesing Yang Menyengat22 Bab 22 Ibu Harus Pergi23 Bab 23 Kemana Aku Akan Kalian Bawa 24 Bab 24 Penolakan Lagi25 Bab 25 Isi Hati Luna26 Bab 26 Reni Pergi 27 Bab 27 Batin Reni Menjerit 28 Bab 28 Sepeninggal Reni29 Bab 29 Luna Sakit 30 Bab 30 Panti Jompo31 Bab 31 Ibu Adalah Beban32 Bab 32 Ratapan Hati Minah33 Bab 33 Berakhir di Sini34 Bab 34 Berdamai dengan Keadaan35 Bab 35 Rindu Itu Menyiksa36 Bab 36 Sakit Karena Rindu37 Bab 37 Aku Ingin Pulang38 Bab 38 Bebanmu Bebanku Juga39 Bab 39 Memendam Rindu 40 Bab 40 Kabar Gembira41 Bab 41 Pulang 42 Bab 42 Semoga Tidak Terla43 Bab 43 Minah Kritis44 Bab 44 Kedatangan Eliza45 Bab 45 Anak Durhaka46 Bab 46 Kenyataan Memilukan47 Bab 47 Apa Waktu Itu Akan Tiba 48 Bab 48 Rindu Tak Terucap 49 Bab 49 Semua Gara-gara Kamu50 Bab 50 Sesal Kemudian Tidak Berguna51 Bab 51 Jalan Terbaik52 Bab 52 Kampung Halaman53 Bab 53 Peristirahatan Terakhir 54 Bab 54 Menyesal Tidak Berguna 55 Bab 55 Telah Hilang56 Bab 56 Sepenggal Kata Maaf