icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Kenapa Kalian Membuang Ibu?

Bab 3 Munafik

Jumlah Kata:1123    |    Dirilis Pada: 10/01/2024

r

ti sesosok tubuh yang jatuh menimpa lantai. Ia mempercepat gerak, membuka pintu dengan gegas. Dan,

nampan berisi makanan di meja kecil di depa

engan lancar. Fisiknya pun sudah lebih kuat. Tetapi, untuk berjalan, Eliza masih harus memapah tubuhnya. Jika Minah masi

udukkan Eliza d

cing," bisik

ke arah piring makan Minah. "Ibu ngeyel terus sih, jadinya gini ...." Tangan Eliza mengaduk-aduk nasi ibunya yang sengaja dimasakkan sedikit lemb

mau merepo

kuah sayur itu. Sebagai penderita hipertensi, Minah harus menjaga betu

sini," tunjuknya ke arah

asih sa

elum lagi anakmu ...." Terdengar su

tapnya dengan matanya yang berkabut. Tidak biasanya, sang ibu berkata seperti itu. Eliza berpikir sa

araan. Ia bergerak mendekat, lalu duduk di sisi kiri sang ibu. Tangannya mengaduk

anya tidak henti menatap pada anak bungsunya itu. Setelah isi mulutnya habis di

ada Eliza. Ia tidak lagi bisa melakukan apapun, setelah pings

k melakukannya. Ada dua alasan yang berbeda dari Eva dan Edo. Mungkin Eva dan Edo tidak menyangka, Minah mendengar apa yang mereka bic

ngan sangat baik. Apalagi Agung, menantunya, juga tidak mempermasalah

ebagian hatinya. Seharusnya, di masa-masa seperti ini, Minah bisa lebih berharga bagi anak-anak dan cucunya. Menjadi seorang nenek yang bisa dijadikan teman bermain b

o yang gratis, Nduk

pertanyaan ibunya. Hal apa yang memb

ibu nany

jendela yang terbuka. Gorden tipis berwarna putih tula

cu ibu semakin aktif, dan pasti menguras seluruh energimu." Lagi, Minah kembali menghela napas.

asa bersalah menyeruak dari rongga dada Eliza yang terdalam. Segala bentuk keluhan dan sikap-sikap Eliza yang penuh emosi, mungkin berbentuk menjadi luka di hati ibunya. Pasti saja begitu kondisiny

rang yang sebatang kara. Nggak punya keluarga, jadi m

, Ndu

bih baik, ibu lanjutkan makannya

n Minah melihat rasa bersalah yang tampak dalam matanya. Tidak seharusnya ia begini, melampiaskan rasa lelah

dapan ibunya itu. Hanya dia seorang tempat sang ibu bergantung. Jika ia terus begini, apa bedanya ia dengan Eva dan Edo? Bisa

-

dengan kakaknya, Zea. Keduanya terlihat begitu lelap, sehingga Eliza tidak ra

a. Eliza terkesiap. Dimana Zaydan? Langkahnya gegas ke arah kamar mandi, satu-satunya tempat yang paling ia takutkan untuk dimasuki Zaydan. Tetapi, satu-sat

sempatan untuk bermain ke luar. Tetapi, hati Eliza sedikit tenang. Pintu depan tertutup rapat. Pun begitu dengan

nyaris membuat sang ibu histeris karenanya. Tiga buah lipstik miliknya sudah nyaris hancur, setelah meninggalkan b

Nak!" ter

par botol parfum berbentuk bulat t

akkk

aca itu

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Kenapa Kalian Membuang Ibu?
Kenapa Kalian Membuang Ibu?
“Selama tinggal Eliza, anak bungsunya, Minah merasa hidupnya baik-baik saja. Eliza dan suaminya, Agung, menjaga Minah dengan baik. Meski dua anaknya yang lain, mengacuhkannya, Minah masih terawat hidup dalam penjagaan Eliza. Hingga tiba masanya Eliza harus pergi jauh mengikuti sang suami. Mau tidak mau, Minah harus tinggal bersama anak laki-lakinya, Edo. Ketika bersama Edo-lah, yang namanya penderitaan itu mulai dirasakan Minah. Sikap sang menantu, menjadi awal dari segalanya. Hingga hidup Minah berakhir di sebuah Panti Jompo. Dan, di sana jugalah Minah akhirnya mengembuskan napas terakhir, tanpa dampingan satu pun anak yang sangat ia cintai.”
1 Bab 1 Lelah2 Bab 2 Kedua Orang Itu Sama Saja3 Bab 3 Munafik 4 Bab 4 Kalau Saja ....5 Bab 5 Kerinduan 6 Bab 6 Kata Maaf7 Bab 7 Kerinduan Seorang Ibu8 Bab 8 Penolakan Lagi9 Bab 9 Kabar Buruk 10 Bab 10 Jalan Keluar11 Bab 11 Pertemuan 12 Bab 12 Tiga Minggu Yang Lalu13 Bab 13 Pilihan Yang Sulit 14 Bab 14 Lautan Jadi Pemisah15 Bab 15 Kamar Belakang 16 Bab 16 No Diapers No Vitamins17 Bab 17 Ibu Adalah Beban18 Bab 18 Tragedi di Meja Makan19 Bab 19 Sulit Sekali Melepas Rindu20 Bab 20 Buntalan Kain21 Bab 21 Bau Pesing Yang Menyengat22 Bab 22 Ibu Harus Pergi23 Bab 23 Kemana Aku Akan Kalian Bawa 24 Bab 24 Penolakan Lagi25 Bab 25 Isi Hati Luna26 Bab 26 Reni Pergi 27 Bab 27 Batin Reni Menjerit 28 Bab 28 Sepeninggal Reni29 Bab 29 Luna Sakit 30 Bab 30 Panti Jompo31 Bab 31 Ibu Adalah Beban32 Bab 32 Ratapan Hati Minah33 Bab 33 Berakhir di Sini34 Bab 34 Berdamai dengan Keadaan35 Bab 35 Rindu Itu Menyiksa36 Bab 36 Sakit Karena Rindu37 Bab 37 Aku Ingin Pulang38 Bab 38 Bebanmu Bebanku Juga39 Bab 39 Memendam Rindu 40 Bab 40 Kabar Gembira41 Bab 41 Pulang 42 Bab 42 Semoga Tidak Terla43 Bab 43 Minah Kritis44 Bab 44 Kedatangan Eliza45 Bab 45 Anak Durhaka46 Bab 46 Kenyataan Memilukan47 Bab 47 Apa Waktu Itu Akan Tiba 48 Bab 48 Rindu Tak Terucap 49 Bab 49 Semua Gara-gara Kamu50 Bab 50 Sesal Kemudian Tidak Berguna51 Bab 51 Jalan Terbaik52 Bab 52 Kampung Halaman53 Bab 53 Peristirahatan Terakhir 54 Bab 54 Menyesal Tidak Berguna 55 Bab 55 Telah Hilang56 Bab 56 Sepenggal Kata Maaf