icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Disangka miskin diperantauan

Bab 2 DMDP

Jumlah Kata:1012    |    Dirilis Pada: 17/07/2023

kir setiap kamu meminjam, aku tinggal memetik u

ah seperti ini teh," bapak sudah mulai meninggikan intonasi suaranya, terl

pat menanyakan mu kepada uwak, daripada kamu harus jauh-jauh capek-capek kerja ke ibu kota, mending kamu jadi istri

a, apalagi dengan juragan Wira yang istrinya sudah ada 4!" to

tuk menikah dengan juragan Wira, datang ke rumah uwak, kita lang

*

satu karyawan yang m

?" tanyaku

alah melamun," senyumnya salah tingkah, sepertinya kary

a, ada apa nih?"

mbak?" tanya karyawanku sambil menyodorka

mbaca lagi alamat lengkapnya, loh ini bukanya alamat rumah pama

tu keluargaku, ada apa e

, tapi bayar nya pake pinjol!" terang karyawanku, entah

uang masuk ke kita, urusan dia dengan pinjo

l atau pinjaman online, mengaku sosialita tapi tukang minjem pinjol, sok-sokan h

cenderung lebih tidak peduli kepada kakak-kakaknya, belum lagi Paman Adit itu suami takut

untuk menanyakan soal warna dres

u

u

nikahan Sintya apa?" tanya

ta saja yang tidak kak," ucap Lisa murung, sepertinya adikk

ahu emak dan bapak ya kalo kakak mau pulang," aku mewanti-wanti Lisa untuk tidak mem

uk pergi ke butik, Aku membeli 5 set baju bese

n mengangkat derajat keluargaku, Aku ti

at ini aku belum menemukan tambatan hatiku, toh usiaku baru 21 ta

u cukup mengeluarkan kocek banyak, sekitar

*

ngkatan ku untuk pul

titip toko," ujarku, lalu aku p

ak terlalu lama membuatku terjaga, karena di perjalanan pun jalan ti

ek karena memang untuk menuju desaku jika berjalan kaki cukup jauh, semilir a

sedang ada tamu, aku melihat b

kum," aku pun

i sana tertuju padaku

erta si lemes Septian dan juga Susi, Septian

kaya kembar, kemana-mana selalu be

kan bisa jemput di Alfamart depan!" ucap bapak

n pak!" jawa

n juga keluarga paman Adit, aku kaget ketika melih

menyelidik, Entah mengapa

pernikahan Sintya kurang," ucapnya enteng, aku sekilas menoleh ke arah bibi santi, aku sangat mu

ng merebut sertifikat rumah y

a!" sentak bibi Santi padaku, jika dulu aku ta

idak ingin mengucapkan kata-kata yang lebih tidak sopan kepada o

ifikat rumahnya kami pinjam, kenapa kamu yang ribut? toh Rumah

risan, maka harus aku jaga supaya tidak disita oleh

, tolong didik anak aa ini supaya lebih sopan pada

ya, itu bapak memberi isyarat padaku agar aku me

aku membe

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka