back
Unduh aplikasi
icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Amanda Rhea

Amanda Rhea

osi oktariska

5.0
Ulasan
10.7K
Penayangan
87
Bab

Amanda Rhea. Kembali ke sebuah kehidupan masa lalunya dengan seorang pria bernama Hagana. Ternyata Amanda dan putri Haga, seperti terikat hal aneh. Yang terhubung satu sama lain. Musuh Amanda, seorang iblis yang akan melukainya di dalam mimpi, perlahan menunjukan eksistensinya dan mulai mencelakai orang orang terdekatnya. Apakah kisah cinta Amanda dan hagana akan kembali terukir seiring intensitas pertemuan mereka?

Bab 1
Amanda Rhea
1.

Iblis itu nyata ... Mereka ada disekitarku..

Siapa yang dapat menolongku?

Tidak ada!!

Aku harus bertahan seorang diri ...

"Jadi gimana Manda? Bisa, kan?" tanya Alvin di tengah-tengah meeting siang ini.

Manda diam sejenak, pikirannya menerawang entah kemana, sementara jemarinya sibuk memainkan pena di hadapannya. Matanya terus tertuju pada benda pink yang sudah menemaninya sebulan terakhir ini. Dia memang sangat menyukai semua hal yang berwarna pink.

Keputusan yang harus dipilihnya kali ini, bagai keputusan tersulit. Untuk mengatakan "IYA" seolah harus menguras seluruh energinya saat ini. Beberapa detik berlalu, Lalu dia mendongak dan menatap Alvin,"Oke."

Perusahaan mereka sedang membuka cabang di luar kota, tepatnya di kota MEDAN. Sebuah kota yang membuat Amanda ragu untuk melangkahkan kakinya ke sana. Bukan karena dia pernah punya kenangan pahit di sana, justru dia belum pernah sekali pun menginjakkan kakinya di kota itu.

'Udah 5 tahun ... Apa kabarnya?' gumamnya dalam hati.

"Oke fix, yang bakal berangkat ke Medan buat nemenin Pak Andre, yaitu Kevin, Vita, dan Manda. Good luck, ya," Kata Alvin di akhir meeting siang ini.

" Emangnya Pak Andre dari Jepang langsung ke Medan, Vin?" tanya Vita.

"Katanya sih gitu. Kumpul di sana aja, ya. Ya udah, kita tutup meeting siang ini. Kembali ke pekerjaan masing-masing. Sekian, terima kasih."

" Man, bareng ya ... Deni nggak jemput,"pinta Vita saat jam kantor usai.

" Iya, ayok."

Mereka segera melaju dengan naik mini cooper milik Manda dan segera menembus jalanan ibukota yang sedang diguyur gerimis.

"Besok mau ke Bandara bareng nggak, Man?" tanya Vita sambil fokus menscrool ponselnya, membuka berbagai notifikasi yang sudah memenuhi benda pipih miliknya sejak siang tadi.

Amanda hanya menggeleng,"Aku naik grab aja. Atau nanti deh nanya Kevin, bisa jemput nggak dia,"sahutnya santai.

Vita diturunkan di rumahnya yang ada di komplek perumahan mewah tak jauh dari kantor mereka.

"Thanks, Man ... Seeyou."

"Bye ... Balik ya."

"Hati-hati ya Man."

Manda kembali melajukan minicooper yang sudah 2 tahun ini bersamanya.

Hingga tiba di halaman rumahnya.

Dia berjalan gontai masuk ke rumah besar milik Andre. Yah, dia tinggal di rumah Andre, bos nya. Jangan berfikir jika diantara mereka ada hubungan terselubung yah. Tidak!

Antara Amanda, Andre dan Kevin memang sudah sangat lama saling mengenal.

Persahabatan mereka bertiga tidaklah disengaja. Sejak SMU mereka sudah dekat. Dan mereka bertemu dengan cara yang unik.

Flashback

Amanda saat SMU sudah aktif sebagai model. Malam itu Amanda yang baru saja selesai fashion show di sebuah tempat perbelanjaan di Kotanya, melihat sebuah pengeroyokan di tempat parkir yang sudah sepi.

Seorang pria dikeroyok sekelompok orang, suara hantaman benda tumpul pun beberapa kali terdengar dari tempat Amanda berdiri. Badannya kaku, antara takut, bingung dan ngeri bercampur jadi satu. Dia hanya seorang diri. Ingin menolong, tapi dia tidak punya keberanian apapun.

Lalu ...

"TOLOOOOOONG!! " Teriak Amanda keras keras. Hanya kata itu yang terlintas di otaknya saat itu.

Otomatis mereka menoleh dan langsung berlari pergi meninggalkan pria yang sudah babak belur itu begitu saja di tanah.

Amanda berlari menghampirinya, memeriksa setiap denyut nadi, jantung dan nafasnya.

"Alhamdulillah! Masih hidup ...." Dia lalu mencari ponselnya dan menghubungi seseorang.

Pria itu adalah Andre. Andre dulu seorang berandalan. Hobi nya hanya berkelahi, mabuk-mabukan dan mengkonsumsi narkoba. Sejak pertemuan itu, Beberapa kali Amanda selalu menolong Andre, saat dia kembali dihajar musuh musuhnya atau saat dia masuk ke jeruji besi, atau saat dia sakau karena obat obatan yang dia konsumsi.

Beberapa bulan berlalu ...

"Manda ... Please, tolongin Andre. Dia di kamarnya dari semalem, dan nggak mau keluar. Gue takut dia kenapa-napa. Loe kan tau, selain gue, cuma elu aja yang deket sama Dia," bujuk Kevin ditelepon siang itu.

Amanda menarik nafas dalam dalam, sebenarnya dia sudah lelah dengan tingkah Andre yang selalu berbuat onar.

"Ya udah, 15 menit lagi aku nyampe."

Semarah apapun Manda ke Andre, dia tetap tidak tega membiarkan Andre seperti itu. Baginya, kehadiran Andre dan Kevin selama beberapa bulan terakhir, membuat hidupnya jauh lebih ceria. Mereka berdua orang yang supel dan menyenangkan. Dan selalu ada untuk Manda.

Sampai di rumah Andre yang cukup megah, Kevin segera menarik tangan Amanda menuju kamar Andre.

"Sumpah gue nggak tau harus ngapain. Biasanya kalau elu yang bujuk, pasti dia mau dengerin Man."

Sampai di kamar Andre, Manda mendekat lalu mengetuk pintu kamar itu sebanyak 3 kali.

"Ndre ... Aku bawain klapertart nih buat kamu. Buka donk. Lagi ngapain sih di dalem?" bujuk Manda setengah memaksa.

"NGGAK MAU!"

Amanda dan Kevin saling pandang. Mereka paham betul keadaan Andre saat itu, Dia kesepian tinggal di rumah semegah ini. Orang tua nya sibuk bekerja, jarang sekali pulang. Dia sangat kurang perhatian, itulah mengapa dia melampiaskan kekesalannya dengan cara berkelahi, minum minuman keras dan narkoba.

"Oh gitu? Jadi gitu mau kamu? Oke ... Aku pergi! Dan jangan harap aku mau balik lagi kesini!" ancam Manda.

Tak lama pintu terbuka, wajah kusut Andre muncul, wajahnya juga pucat, badannya gemetaran, bahkan keringat membasahi dahi nya.

"Jangan ... Jangan pergi Man. Aku butuh kamu," mohon Andre, lalu pingsan.

Itulah kali terakhir Andre bertingkah aneh, sejak saat itu, dia mulai di rehabilitasi agar kecanduannya terhadap obat obatan terlarang dapat hilang.

Andre pun mulai mendekatkan diri ke Allah, sikapnya makin baik, dia sudah jarang berkelahi dan mabuk mabukan.

Itu lah syarat yang diajukan Manda saat itu, bahwa Manda tidak akan pergi dari Andre, asal Andre mau berubah.

Dan Manda BERHASIL!

Flashback end.

Sudah 4 tahun ini, Manda tinggal di rumah Andre. Itu karena permintaan Andre tentunya.

Sejak kecelakaan 5 tahun lalu, Manda memutuskan pergi dari kota nya dan mengadu nasib di ibukota.

Hanya dengan modal nekat, dia ikut miniband teman nya sebagai vokalis diband itu. Manggung dari cafe ke cafe, bahkan tak jarang harus berangkat pagi pulang pagi.

Dulu dia tinggal di sebuah kamar Kos milik Hani, istri dari Handi, pemilik band itu. Hani memang mempunyai sebuah kost kost'an yang cukup nyaman, mereka berdua wiraswasta yang cukup sukses.

Dan, selama satu tahun Manda bekerja sebagai vokalis lollipop band.

Hingga Andre datang dan menarik nya untuk bekerja di perusahaannya.

Bagi Andre, Manda sudah dianggap sebagai adik nya sendiri. Karena mereka sudah banyak mengalami susah dan senang dimasa SMU bersama- sama. Karena Manda juga, Andre berubah 180°, yang tadinya Andre sosok yang urakan berubah menjadi sosok yang jauh lebih dewasa. Dan meninggalkan dunia gelapnya, membangun sebuah perusahaan di luar negeri dan kini membuka cabang di negeri sendiri, dengan Kevin, Alvin, Manda dan Vita sebagai kaki tangan nya. Yah, hanya mereka berempat yang dapat dipercaya Andre mengurus perusahaan.

"Assalamualikum ...." sapa nya. Ini memang sudah menjadi kebiasaan Manda jika masuk ke rumah. Sekalipun dia tinggal seorang diri.

Ia merebahkan tubuhnya di sofa ruang tengah sambil melepas sepatunya satu persatu. Kepalanya bersandar pada belakang sofanya. Rasa lelah baru dirasakannya sekarang.

Dia melirik ke samping kanan nya lalu meraih pigura foto di sampingnya.

Lalu kenangan masa lalu itu muncul kembali dimemori otaknya.

Kecelakaan 4 tahun lalu, selain membuatnya kehilangan kedua orang tuanya, dia juga kehilangan anaknya. Manda dulu pernah menikah dan akhirnya menjadi single mother saat Arka, putranya baru berumur 2 tahun.

Kecelakaan itu hampir merenggut semua yang dia punya. Dan kini dia hidup seorang diri. Mantan suaminya sudah menikah lagi dengan wanita yang telah merusak rumah tangganya dulu.

Itulah sebabnya dia memutuskan pergi dari kotanya. Baginya terus berada di kotanya itu, membuat luka itu terus dia rasakan.

Prang!

Manda terkejut. Dahinya berkerut. Diletakkan kembali pigura itu. Lalu dengan langkah hati hati, dia berjalan menuju sumber suara tadi.

Sepertinya dari dapur, pikirnya.

Matanya terus mencari ke setiap sudut rumah ini. Saat sampai dapur, dia tertegun melihat kepulan asap hitam di sudut dapur. Kepulan asap itu membentuk sebuah tangan besar dan menjulur mendekatinya. Manda tidak gentar, karena ini bukan kali pertama dia melihat hal ini. Sejak kecelakaan itu, kemampuan nya melihat makhluk astral semakin tajam. Dan makhluk ini telah mengincarnya sejak awal Manda melihatnya.

Makhluk itu makin mendekat, lalu membentuk sebuah wajah yang mengerikan.

" A'ūdzu billāhi minas-syaitānir-rajīmi bismillahirohmanirohim ...."

Kepulan asap hitam itu mulai memudar setelah Manda melanjutkan doa doa lain yang telah dia pelajari sebelumnya. Perlahan, sosok itu mundur lalu memudar ke udara dan hilang sepenuhnya. Dengan diiringi angin yang berembus cepat di sekitar ruangan.

Suasana menjadi hening. Manda mengedarkan pandangannya ke segala arah. Meneliti setiap sudut ruangan ini. Dan tak lama dia menekan dadanya sambil menarik nafas panjang. Akhirnya, Makhluk itu benar benar sudah pergi, batinnya merasa lega.

Namun matanya melotot menatap meja makan di hadapannya. Ada butiran pasir yang cukup banyak. Bukan itu yang membuatnya terkejut. Karena hal ini sering terjadi setelah DIA muncul. Namun, tanda yang di tinggalkannya, yang membuat Manda terkejut.

"Mati"

Sebuah kata yang benar benar terasa mengerikan saat dibayangkan. Amanda mulai cemas, karena teror dari iblis itu seakan kembali mengusik pikirannya. Dia takut, walau tidak pernah ditunjukan pada siapa pun juga. Apalagi kehadiran makhluk itu bukan hanya sekali atau dua kali saja, tapi sudah sangat sering. Nyawa Amanda memang sedang terancam. Tapi sebelumnya, dia tidak pernah mendapatkan ancaman seperti tadi. Akhirnya Manda sadar kalau kali ini makhluk itu benar benar serius berniat untuk melenyapkannya.

Buku serupa
Unduh Buku