back
Unduh aplikasi
icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Dipuaskan Arwah Penasaran

Dipuaskan Arwah Penasaran

Author Candu

5.0
Ulasan
34.4K
Penayangan
38
Bab

BACAAN KHUSUS DEWASA (21+) Mendadak Cantik? Yes, mendadak kaya karena pesugihan, itu sudah sangat biasa. Tapi mendadak cantik tanpa perawatan khusus atau operasi plastik, ini baru luar biasa. Mungkinkah itu terjadi? Tak ada yang tidak mungkin karena Aida mengalaminya. Bagaimana bisa begitu dan apa sesungguhnya yang terjadi dengan Aida? Ikuti terus ceritanya sampai tamat. Dijamin alur dan penuturannya sangat jauh berbeda dengan cerita-cerita sejenis yang pernah ada. Perpaduan Romance, Supranaturak, Mafia dan Drama Rumah Tangga dikemas dengan apik, bahasa sederhana, realistis, mendebarkan dan menggemaskan. Yang pastinya bikin nagih banget.

Bab 1
Dipuaskan Arwah Penasaran
Lupa diri

Di salah satu rumah sederhana, seorang wanita yang baru dua bulan ditinggal mati oleh suaminya, tiba-tiba terbangun dari tidurnya yang lelap karena kegerahan. Jam di dinding kamarnya menunjukkan waktu pukul satu dini hari. Namun panasnya udara dalam kamar seperti berada di bawah sinar matahari siang bolong.

“Mengapa kamarku panas banget?” tanya janda muda itu sambil mengelap keringat yang bercucuran di wajah dan lehernya.

Rambut dan sekujur tubuh pun ternyata basah kuyup, hingga dia terpaksa harus mengganti baju tidurnya yang basah dan lengket oleh keringatnya. “Astagfirullah, ada apa kok keringatku sampai segininya?” tanya dia pada dirinya sendiri.

Meski tinggal di pemukiman padat penduduk yang relatif panas, tapi baru kali ini dia merasakan udara sepanas api di tengah malam buta. Wanita itu pun terpaksa membuka jendela kamarnya agar udara segar masuk. Namun tidak bisa membantunya karena rumah-rumah besar berdinding tinggi milik tetangganya menjadi penghalang datangnya angin.

Wanita itu pun kembali menutup jendelanya, lalu nekad keluar rumah untuk mendapatkan udara dingin di halaman belakang. Sebelum keluar, terlebih dahulu dia memperhatikan keadaan sekitar untuk memastikan tidak ada orang yang melihatnya. Baru kali ini dia keluar rumah dengan pakaian tidur seadanya. Biasanya dia selalu menutup aurat dengan rapat jika berada di luar rumah.

Tak lama wanita itu berdiri di halaman belakang rumahnya, tiba-tiba dia merasa ada sesuatu yang menariknya. Nyaris tanpa disadari, wanita itu pun melangkahkan kaki minggalkan halaman rumahnya.

Wanita yang niatnya hanya mencari angin di sekitar rumahnya itu, terus berjalan melewati deretan rumah-rumah tetangganya. Dia bahkan masuk gang sempit berkelok-kelok yang ada di belakang perkampungan, tanpa tujuan.

“Astaga! aku mau kemana ini?” tanya wanita itu tak mengerti.

Dia ingin menghentikan langkah itu dan kembali ke rumahnya. Namun pikirannya terasa kosong, tubuhnya pun terasa amat ringan melayang seperti terbawa angin. Walau hatinya terus berontak dan menolak, namun jiwanya tak kuasa menahan dorongn hasrat untuk terus dan terus melangkah. Seperti ada sebuah kekuatan magis yang mendorong dan menariknya.

Entah sudah berapa jauh wanita itu melangkah sampai akhirnya tiba di sebuah kebun singkong milik tetangganya. Dan betapa dia terperanjat ketika mendapati sang pemilik kebun ternyata sudah berada di sana. Lelaki berusia enam puluh tiga tahun itu tersenyum menyambutnya.

Sang pemilik kebun mngenakan kain sarung, kemeja dan kain ikat kepala serba hitam. Dia berdiri gagah menyambut kedatangan wanita itu. Tampak tersenyum mesum penuh kemenangan saat melihat janda muda yang sudah lama menjadi incarannya, melangkah gontai mendatangi dirinya.

"Selamat datang Nengsih, silakan masuk ke istana kita" Lelaki tua itu mempersilakan wanita yang dipanggilnya Nengsih masuk ke gubug kebunnya.

Dengan tanpa canggung, Nengasih melangkah masuk ke dalam gubug yang di dalamnya telah disulap menjadi kamar yang sangat indah dan mewah. Lampu lampu kecil kerlap-kerlip seperti bintang di langit. Lantai marmer warna cream yang terasa hangat pun kian menonjolkan kemegahan kamar itu.

Mata Nengsih seketika terbelalak mendapati kamar pengantin yang sangat harum dengan bertaburkan bunga melati dan mawar di atas seprei marun elegan. Ranjang pengantin jati berukir bertahtakan emas permata, hingga kilauannya terlihat bercahaya. Sungguh sangat menakjubkan. Nengsih belum pernah melihat kamar semewah dan semegah ini sebelumnya.

Lelaki tua itu segera menuntun tangan Nengsih menuju ranjang pengantinnya. Laksana mempelai pria yang mengajak mempelai wanitanya menuju ranjang pengantin di malam pertamanya yang sakral.

"Mengapa kita ada di sini, Bah?" tanya Nengsih dengan ekspresi wajah dan intonasi suara yang sangat datar.

“Duduklah di sini, Nengsih,” balas sang lelaki dengan sangat mesranya. Lalu dia pun menarik lembut tubuh Nengsih dan mendudukannya di atas ranjang sebelahnya.

"Kamu kehausan ya? Ini diminum dulu airnya,” ucap lelaki itu sambil menyodorkan gelas berisi air berwana hijau kehitaman. “Air ini khusus buatmu, habiskan aja semuanya,” titahnya kemudian.

Dengan tanpa bicara sepatah kata pun, Nengsih yang kebingungan, kegerahan dan keharusan itu pun langsung meneguk seluruh isi gelas hingga tandas. Dia bahkan menjlati sisa-sisa tetes terakhirnya, laksana seorang balita yang masih menginginkan segelas susu coklat yang diberikan ibunya.

“Gimana, sekarang udah segeran tenggorakannya?” tanya lelaki tua itu penuh perhatian.

Janda muda yang merasa tenggorokannya sudah segar dan adem, mengangguk dengan lembut. Dia tak sempat berpikir atau bertanya air apa yang baru dihabiskannya. Nengsih tersenyum manis pada sang kakek sebagai ungkapan terima kasih yang telah memberinya segelas air yang sangat nikmat dan menyegarkan.

"Kalau kamu masih gerah buka saja pakainnya, terus tiduran di sini," perintah sang kakek seraya menujuk ranjang pengantin yang sangat indah dan tampak empuk menggoda minta siapapun untuk rebahan di atasnya.

Nengsih bersiri dan lelaki tua itu pun ikut berdiri. Lalu dengan gerakan yang sangat santai, sang kakek melucuti seluruh pakaian yang membungkus tubuhnya, seolah memberikan contoh pada Nengsih untuk membuka pakaian dan menjatuhkan seluruhnya di lantai keramik yang sangat bersih itu.

Seperti terhipnotis, Nengsih yang sebenarnya sudah tidak merasa gerah itu pun melucuti seluruh pakaiannya. Lalu dia pun membiarkan seluruh penutup auratnya itu berserakan di lantai, sama seperti pakaian sang lelaki tua itu.

Dengan gerakan sedikit gemulai nan erotis, Nengsih yang sudah bugil pun naik ke atas ranjang, lalu tiduran telentang. Matanya seketika terbelalak saat menatap tubuh bugil lelaki tua yang berdiri dengan gagah di samping ranjangnya.

‘Astaga, gede banget punyanya si Abah!’ seru Nengsih dalam hati.

Mata Nengsih kian terbelalak. Dia sama sekali tak menduga lelaki yang hampir setiap hari ditemuinya itu ternyata memiliki postur tubuh yang sangat kekar menggoda. Jauh lebih indah dari tubuh mendiang suaminya yang kurus dan ringkih. Meriam sang kakek pun terlihat begitu gagah bertengger di slangkangannya.

“Kamu sedang sangat butuh ini kan, Nengsih?” tanya lelaki itu sambil menujukan batang keperkasaan yang dipegangnya dengan bangga.

‘Oooh…’ Nengsih hanya melenguh dalam hati. Nuraninya melayang terbang jauh ke awang-awang. Darahnya berdesir dan sekujur tubuhnya bergetar menahan gejolak rasa dalam dirinya. Api birahi yang sudah lama terpendam, tiba-tiba menyala dan berkobar-kobar. Hasrat seksual yang lama terlupakan, bergejolak laksana ombak di lautan.

“Kamu harus dipijit dulu, supaya arwah suamimu segera pergi dan tidak mengganggumu lagi,” ucap lelaki itu sambil naik ke atas ranjang. Dan tanpa menunggu persetujuan siapapun, lelaki itu langsung memijat tubuh Nengsih yang sedang pasrah dalam amukan gairh birahinya.

‘Ah, kenapa aku tiba-tiba jadi begini? Mulutku pun mendaadak tak mampu bicara. Ini tidak boleh terjadi!’ tolak nurani Nengsih. Namun semuanya tak sejalan dengan mulutnya yang justru mengerang saat lelaki itu mulia menyentuh tubuhnya.

“Kamu sudah sangat lama merindukan ini, Neng. Sekarang kamu akan mendapatkan apa yang kamu idam-idamkan.” Lelaki tua itu berceloteh sambil memijat dan memainkan bagian-bagian tubuh Nengsih yang paling sensitif.

‘Aduh! Ada apa denganku? Ini perzinahan!’ Lagi-lagi Nengsih berontak dalam hati, namun kembali hanya erangan dan desahan nikmat yang meluncur dari mulutnya.

“Jangan dilawan, nikmati saja,” titah sang Kakek seolah membaca isi hati Nengsih yang gelisah.

‘Astaga, ini perzinahan! Tidaaaaaak!’ teriak Nengsih dalam batinnya saat merasakan ada sesuatu yang mendesak masuk dalam dirinya.

Namun, bagaikan kuda betina yang terlepas dari istal, Nengsih bangkit dari tidurannya dan langsung menguasai medan. Dia memacu diri dalam lautan birahi yang seolah tak bertepi. Di atas tubuh lelaki tua yang hampir setiap hari ditemuinya, bahkan pernah dicaci-maki karena ketidak sopnananya, Nengsih berlayar mengarungi dahsyatnya gelombang kenikmatan yang semu.

Nengsih tak peduli dengan jati dirinya yang selalu dipanggil ustadzah oleh sebagian tetangganya, walau bukan seorang guru. Dia tak ingat lagi dengan hikmah kebaikan dan kebenaran yang sering terucap dari bibir indahnya.

Nengsih telah mendustakan sumpah dan janjinya untuk hanya melayani lelaki yang telah menjadi suaminya. Di atas tubuh lelaki tua, janda muda itu berubah menjadi seseorang yang sangat nakal dan binal.

Di kebun singkong miliki lelaki tua itu, Nengsih seakan mendapat pasokan segudang stamina dirinya hingga terus mengerang dan menerjang lelaki tua nan perkasa yang ada di bawah perutnya.

Satu jam kemudian, Nengsih kembali bermandikan keringat. Terbang melayang ke nirwana bersama lelaki tua yang tidak terlalu buruk rupa. Mereka terkapar dan terkulai dalam gumpalan awan kenikmatan surga dunia. Kenikmatan dan kepuasasan batin yang belum pernah dia rasakan bersama mendiang suaminya atau lelaki manapun.

Nengsih pun tertidur lelap berselimutkan malam yang sunyi ..…

Buku serupa
Unduh Buku