5.0
Komentar
157
Penayangan
56
Bab

Alan De Xavirio, pemuda blasteran Jawa-Italia itu terjerat pesona Latifah Nur Aisyah. Seorang gadis muslimah dari pedesaan. Rasa cintanya terhadap sang gadis yang awalnya hanya bertepuk sebelah tangan, membuatnya jungkir balik untuk mengejar sang pujaan hingga berhasil menggenggam hatinya. Rasa cintanya tumbuh subur dan semakin kuat mengakar dalam diri Alan. Mereka larut dalam hingar bingar asmara masa remaja. Bahkan mereka melupakan perbedaan agama di antara keduanya yang bisa saja menjadi batu sandungan terberat bagi mereka. Haruskah mereka menyerah akan cintanya? Sedangkan cinta itu sendiri benar-benar buta dan tuli.

Hakikat Cinta Bab 1 Pulang

Suara anak-anak yang tengah mengaji bersahutan, menggema hingga menembus dinding ruang tempat Latifah berada. Tak peduli meski hari ini hari minggu, mereka tetap menjalankan rutinitas mengaji seperti biasa. Kecuali Latifah. Gadis remaja itu tengah sibuk berbenah. Merapikan kamarnya setelah semua barangnya tertata rapi dalam koper. Keputusan Latifah sudah bulat. Hari ini dia mantap untuk pulang. Semalam, dia pun sudah meminta izin dari sang kakek. Alhamdulillah, sang kakek sudah menyetujuinya untuk hal itu.

Senyum leganya terkembang kala sang kakek dengan lembut membelai pucuk kepalanya untuk memberinya restu. Masih teringat dengan jelas petuah yang diberikan sang kakek sebelum dia undur diri.

"Mbah Kakung ijinkan kamu untuk pulang, Nduk ... tapi ingatlah! Sembilan tahun kamu menuntut ilmu di sini, pergunakanlah dengan baik di luar sana. Pegang teguhlah imanmu, jangan mudah goyah oleh cobaan dan godaan duniawi, Nduk."

Latifah menghembuskan nafas panjangnya. Ditatapnya seluruh ruangan yang telah menjadi tempat persinggahannya selama sembilan tahun terakhir. Ternyata cukup berat untuk meninggalkan tempat yang awalnya dia benci karena merasa terbuang. Namun, tempat itulah yang menjadi saksi perjuangan seorang Aisyah Nurlatifah untuk membentuk karakter dan menimba ilmu agama sedari kecil. Cinta dari orang tua memang luar biasa, mereka rela dibenci, hingga akhirnya sang anak memahami bahwa mereka ingin yang terbaik untuk anaknya. Seperti yang ibu Latifah lakukan. Dia mengirimkan Latifah ke tempat kakeknya untuk belajar agama lebih dalam. Bahkan saat sang ibu sakit, perempuan tangguh itu bersikap biasa saja di hadapannya agar dia tetap bisa berkonsentrasi dalam belajar. Siapa sangka, kunjungan sang ibu menjelang ujian kelulusannya dari Madrasah adalah pertemuan terakhirnya dengan sang ibu.

Bulir bening Latifah meluncur begitu saja ketika bayangan sang ibu hadir di pelupuk matanya. Begitu jelas saat terakhir kali sang ibu berkunjung, tak biasanya wanita lembut itu menginap dan begitu memanjakannya. Disana! Di atas tempat tidur kecil Latifah, sang ibu tampak duduk dan tersenyum dengan begitu anggunnya.

"Ibuk ... hari ini Tifah akan pulang, Buk ..." lirih gadis remaja itu dengan suara bergetar. Pandangannya semakin buram dengan bayangan sang ibu yang kian memudar meninggalkan semerbak wangi yang menguar di seluruh ruangan. Benarkah arwah ibunya kembali? Atau memang hanya karena pengharum ruangan yang tadi disemprotkan Latifah? Entahlah!

Ketukan pelan di pintu, membuyarkan lamunan Latifah. Ditatapnya Khoiri, adik sepupunya yang masih kecil berdiri di ambang pintu dengan pandangan yang tertunduk dan jari-jemari yang saling bertaut. Latifah menghapus sisa harunya dan berjalan menghampiri gadis kecil itu. Diraihnya tangan mungil itu hingga membuat sang empunya berjingkat dengan mata membulat menatap Latifah. Senyum termanis didapatnya dari sang kakak yang membuat si gadis kecil langsung menghambur memeluk pinggang Latifah. Tangisnya pun pecah, tak dapat lagi ditahannya.

"Mbak Tifah beneran mau pulang hari ini? Apa tidak nunggu Khori khatam iqro dulu?" Disela sesenggukannya, Khoiri mencoba menawar keinginan Latifah untuk pulang. Dirinya yang begitu dekat dengan sang kakak sepupu membuatnya tak rela ditinggalkan.

Latifah membelai lembut pucuk kepala Khoiri sambil tertawa kecil meski rasa haru memukul-mukul perasaan lembutnya.

"Khori kan baru jilid tiga. Kalau nunggu Khori khatam iqro masih lama, dong ..." Gadis kecil itu memberengut tak suka dengan sanggahan Latifah kakinya pun mulai menghentak-hentak dengan tangis yang tertahan. Tifah tersenyum dan membelai lembut wajah imut Khoiri.

"Insyaallah Mbak Tifah akan sering berkunjung, sampai Khori khatam iqro nanti." Mata gadis cilik itu mulai berbinar menatap Latifah dengan senyum yang semakin melebar.

"Beneran ya Mbak ..." Latifah tersenyum sambil mengangguk yang membuat gadis kecil itu melonjak kegirangan dan berlari menjauh. Tiba-tiba gadis kecil itu kembali lagi dan mengecup kecil pipi Latifah kemudian berlari sambil melambaikan tangan dan mengucap salam. Latifah tertawa kecil mendapati tingkah polos si adik sepupu. Tak menyangka ternyata semudah itu membahagiakan seorang anak kecil. Hanya dengan menuruti keinginan sederhana bisa membuatnya berjingkrak-jingkrak kegirangan.

Seorang pemuda gagah menghampirinya sambil mengucap salam dan tersenyum dengan manisnya. Wajah orientalnya yang bersih lengkap dengan lesung pipi membuat pemuda itu menjadi pusat perhatian para santriwati yang dilewatinya. Latifah menyahut salamnya dan langsung melompat, menghambur dalam gendongan sosok itu dengan begitu girang. Pemuda itu menyambutnya dengan sigap. Digesek-gesekannya hidung kecilnya ke hidung mancung pemuda itu yang membuatnya terkekeh geli.

"Ya Allah, Tifah ... kau sekarang sudah besar. Tak malukah kau berbuat begini?"

"Tidak! Tifah kangen sama Mas Alif." Gadis remaja itu menyahut dengan santainya dan semakin mempererat pelukannya ke leher pemuda itu. Alif pun hanya bisa pasrah dengan perlakuan manja adik perempuannya itu.

"Baiklah ... mari kita pulang!" Alif membawa masuk Latifah dan menyeret kopernya keluar kamar. Gadis itu masih betah nemplok dalam gendongan dan hanya disangga dengan satu tangan oleh Alif.

Simbah Abdullah menggeleng pelan sambil berdecak melihat kelakuan kedua cucunya yang menjadi bahan tontonan para santrinya. Suara salam menyapanya dengan begitu takzim. Latifah pun turun untuk berpamitan pada sang kakek yang telah merawatnya selama ini.

"Salam untuk pak lek Ahmad, Kung. Maaf Alif tidak bisa berlama-lama," ucap Alif sambil menaiki motor tua sang ayah dan ditanggapi dengan anggukan pelan sang kakek.

"Alif, tunggu ...." Panggilan seseorang yang sangat familiar menggema, menghentikan Alif yang telah memancal pedal kopling motornya. Adik dari ibunya itu berlarian menghampirinya sambil membawa bingkisan di tangannya.

"In ... ini ada titipan dari bulek Siti untuk kalian sekeluarga." Paklek Ahmad berbicara terbata dengan nafas yang tersengal-sengal. Senyum manis Latifah terkembang dan menyahut bingkisan itu dengan girangnya.

"Suwun, Pak Lek ... sampaikan salam kami untuk bulek. Jika sudah mau lahiran nanti jangan lupa kasih kabar."

"Ya ... hati-hati di jalan ...."

Suara salam saling bersahutan. Setelah keduanya mencium takzim tangan kedua lelaki beda usia itu. Latifah masih terus melambaikan tangannya bahkan hingga kedua lelaki itu tak lagi nampak. Alif menggeleng sambil tersenyum kecil.

"Jika berat untuk pergi, kenapa buru-buru, Tifah?" Pertanyaan sang kakak membuat Latifah memberengut dan menghentikan lambaiannya.

"Mas Alif dulu juga gitu!" Gadis remaja itu protes sambil memanyunkan bibirnya. "Bahkan dulu Mas Alif nangis sampai beberapa hari karena tak tega ninggalin Tifah. Padahal di sana Tifah tetep asyik main sama mbah Kakung."

"Oh ya? Jahatnya, kau ... padahal Mas nangisin kamu lho ...." Keduanya pun terkekeh geli mengenang masa lalunya.

Tiba-tiba bayangan sang adik terlintas di kepala Latifah dan membuatnya bertanya-tanya.

"Sekarang Ipul bagaimana, Mas?"

"Ipul? Ya biasalah ... namanya juga balita. Pasti rewel, lah. Dia nanyain ibu terus. Bapak sampai bingung mau jelasin gimana."

"Hmm ... kira-kira dia ngenalin Tifah tidak, ya?"

"Entahlah! Bisa jadi dia bakal kira kamu ibuk." Tawa Alif menggelegar disambut dengan cubitan manis dari Latifah yang membuat tawanya berubah mengaduh merasakan perih di perutnya.

"Jangan marah, Fah ... kau kan memang mirip ibuk. Jika kita kangen, tinggal pandangi kamu aja sambil kirim do'a."

Latifah terdiam, mengenang kepergian sang ibu. Dirinya seakan masih tak percaya telah menyandang gelar piatu disaat sang adik belum genap lima tahun.

"Kapan-kapan kita ke makam ibuk ya, Mas ...." Suara Latifah bergetar menahan tangisnya agar tak tumpah.

"Tentu! Tapi jangan tangisi ibuk lagi, Fah ... biarkan ibuk tenang di sana. Allah lebih sayang ibuk. Jadi, dia memanggil ibuk untuk cepat pulang disisi-Nya." Ditepuknya pelan tangan sang adik yang melingkar di perutnya.

"Fah ... tadi pas Mas pamit pergi, Ipul kira mau jemput ibuk. Mas iya-in aja. Terus dia melompat-lompat girang gitu. Jadi jangan kaget kalau nanti kamu dipanggil ibuk sama dia." Mata Latifah membulat.

"Kenapa Mas bilang 'iya' ?" Lagi-lagi cubitan didaratkannya ke perut sang kakak. Bahkan lebih lama saking gemesnya. Tak peduli meski pemuda itu mengaduh tak karuan.

Bersambung ....

Lanjutkan Membaca

Buku serupa

My Doctor genius Wife

My Doctor genius Wife

Amoorra
4.8

Setelah menghabiskan malam dengan orang asing, Bella hamil. Dia tidak tahu siapa ayah dari anak itu hingga akhirnya dia melahirkan bayi dalam keadaan meninggal Di bawah intrik ibu dan saudara perempuannya, Bella dikirim ke rumah sakit jiwa. Lima tahun kemudian, adik perempuannya akan menikah dengan Tuan Muda dari keluarga terkenal dikota itu. Rumor yang beredar Pada hari dia lahir, dokter mendiagnosisnya bahwa dia tidak akan hidup lebih dari dua puluh tahun. Ibunya tidak tahan melihat Adiknya menikah dengan orang seperti itu dan memikirkan Bella, yang masih dikurung di rumah sakit jiwa. Dalam semalam, Bella dibawa keluar dari rumah sakit untuk menggantikan Shella dalam pernikahannya. Saat itu, skema melawannya hanya berhasil karena kombinasi faktor yang aneh, menyebabkan dia menderita. Dia akan kembali pada mereka semua! Semua orang mengira bahwa tindakannya berasal dari mentalitas pecundang dan penyakit mental yang dia derita, tetapi sedikit yang mereka tahu bahwa pernikahan ini akan menjadi pijakan yang kuat untuknya seperti Mars yang menabrak Bumi! Memanfaatkan keterampilannya yang brilian dalam bidang seni pengobatan, Bella Setiap orang yang menghinanya memakan kata-kata mereka sendiri. Dalam sekejap mata, identitasnya mengejutkan dunia saat masing-masing dari mereka terungkap. Ternyata dia cukup berharga untuk menyaingi suatu negara! "Jangan Berharap aku akan menceraikanmu" Axelthon merobek surat perjanjian yang diberikan Bella malam itu. "Tenang Suamiku, Aku masih menyimpan Salinan nya" Diterbitkan di platform lain juga dengan judul berbeda.

Terjebak Gairah Terlarang

Terjebak Gairah Terlarang

kodav
5.0

WARNING 21+‼️ (Mengandung adegan dewasa) Di balik seragam sekolah menengah dan hobinya bermain basket, Julian menyimpan gejolak hasrat yang tak terduga. Ketertarikannya pada Tante Namira, pemilik rental PlayStation yang menjadi tempat pelariannya, bukan lagi sekadar kekaguman. Aura menggoda Tante Namira, dengan lekuk tubuh yang menantang dan tatapan yang menyimpan misteri, selalu berhasil membuat jantung Julian berdebar kencang. Sebuah siang yang sepi di rental PS menjadi titik balik. Permintaan sederhana dari Tante Namira untuk memijat punggung yang pegal membuka gerbang menuju dunia yang selama ini hanya berani dibayangkannya. Sentuhan pertama yang canggung, desahan pelan yang menggelitik, dan aroma tubuh Tante Namira yang memabukkan, semuanya berpadu menjadi ledakan hasrat yang tak tertahankan. Malam itu, batas usia dan norma sosial runtuh dalam sebuah pertemuan intim yang membakar. Namun, petualangan Julian tidak berhenti di sana. Pengalaman pertamanya dengan Tante Namira bagaikan api yang menyulut dahaga akan sensasi terlarang. Seolah alam semesta berkonspirasi, Julian menemukan dirinya terjerat dalam jaring-jaring kenikmatan terlarang dengan sosok-sosok wanita yang jauh lebih dewasa dan memiliki daya pikatnya masing-masing. Mulai dari sentuhan penuh dominasi di ruang kelas, bisikan menggoda di tengah malam, hingga kehangatan ranjang seorang perawat yang merawatnya, Julian menjelajahi setiap tikungan hasrat dengan keberanian yang mencengangkan. Setiap pertemuan adalah babak baru, menguji batas moral dan membuka tabir rahasia tersembunyi di balik sosok-sosok yang selama ini dianggapnya biasa. Ia terombang-ambing antara rasa bersalah dan kenikmatan yang memabukkan, terperangkap dalam pusaran gairah terlarang yang semakin menghanyutkannya. Lalu, bagaimana Julian akan menghadapi konsekuensi dari pilihan-pilihan beraninya? Akankah ia terus menari di tepi jurang, mempermainkan api hasrat yang bisa membakarnya kapan saja? Dan rahasia apa saja yang akan terungkap seiring berjalannya petualangan cintanya yang penuh dosa ini?

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
Hakikat Cinta Hakikat Cinta emboen kebon Romantis
“Alan De Xavirio, pemuda blasteran Jawa-Italia itu terjerat pesona Latifah Nur Aisyah. Seorang gadis muslimah dari pedesaan. Rasa cintanya terhadap sang gadis yang awalnya hanya bertepuk sebelah tangan, membuatnya jungkir balik untuk mengejar sang pujaan hingga berhasil menggenggam hatinya. Rasa cintanya tumbuh subur dan semakin kuat mengakar dalam diri Alan. Mereka larut dalam hingar bingar asmara masa remaja. Bahkan mereka melupakan perbedaan agama di antara keduanya yang bisa saja menjadi batu sandungan terberat bagi mereka. Haruskah mereka menyerah akan cintanya? Sedangkan cinta itu sendiri benar-benar buta dan tuli.”
1

Bab 1 Pulang

22/01/2022

2

Bab 2 Kemauan

22/01/2022

3

Bab 3 Unik

22/01/2022

4

Bab 4 Alan

22/01/2022

5

Bab 5 Salah paham

22/01/2022

6

Bab 6 PD

23/01/2022

7

Bab 7 Panas

23/01/2022

8

Bab 8 Dapat izin

23/01/2022

9

Bab 9 Gila karena cinta

24/01/2022

10

Bab 10 Sukurin!

24/01/2022

11

Bab 11 Terlalu Dekat

03/02/2022

12

Bab 12 Alan atau Hamzah

12/02/2022

13

Bab 13 Angin Segar

21/02/2022

14

Bab 14 Tak Tahu Diri

25/02/2022

15

Bab 15 Melambung

13/03/2022

16

Bab 16 Terbiasa Waspada

18/03/2022

17

Bab 17 Kejutan

21/03/2022

18

Bab 18 Iri

28/03/2022

19

Bab 19 Baku hantam

28/03/2022

20

Bab 20 Maria

01/04/2022

21

Bab 21 Pernyataan

04/04/2022

22

Bab 22 Menghindar

08/04/2022

23

Bab 23 Terlanjur janji

12/04/2022

24

Bab 24 Aksi brutal

22/04/2022

25

Bab 25 Rival

29/04/2022

26

Bab 26 Rasa yang hilang

06/05/2022

27

Bab 27 Serakah

09/05/2022

28

Bab 28 Musibah Hamzah

28/04/2022

29

Bab 29 Musibah Hamzah

13/05/2022

30

Bab 30 Perang dingin

17/05/2022

31

Bab 31 Amanah

20/05/2022

32

Bab 32 Rindu

20/06/2022

33

Bab 33 Menyusul

21/06/2022

34

Bab 34 Bertemu

24/06/2022

35

Bab 35 Kemarahan Bapak

27/06/2022

36

Bab 36 Pesaing Baru

28/06/2022

37

Bab 37 Punya

01/07/2022

38

Bab 38 Keputusan Bapak

04/07/2022

39

Bab 39 Lamaran Fatur

05/07/2022

40

Bab 40 Masih Ingin Berjuang

11/07/2022