Istri Kontrak: Penebusan Thorne

Istri Kontrak: Penebusan Thorne

Karma Halim

5.0
Komentar
415
Penayangan
10
Bab

Aku terbaring dalam keheningan rumah sakit yang steril, meratapi bayi yang tak pernah sempat kudekap. Semua orang menyebutnya kecelakaan tragis. Terpeleset dan jatuh. Tapi aku tahu kebenarannya. Suamiku sengaja mendorongku. Marko akhirnya datang menjenguk. Dia tidak membawa bunga; dia membawa sebuah koper. Di dalamnya ada surat cerai dan perjanjian kerahasiaan. Dengan tenang dia memberitahuku bahwa selingkuhannya-sahabatku sendiri-sedang hamil. Mereka adalah "keluarga sejatinya" sekarang, dan mereka tidak mau ada "keributan". Dia mengancam akan menggunakan laporan psikiatri palsu untuk menggambarkanku sebagai wanita labil yang membahayakan diriku sendiri. "Tanda tangani surat-surat ini, Clara," dia memperingatkan, suaranya hampa tanpa emosi. "Atau kau akan dipindahkan dari kamar yang nyaman ini ke fasilitas yang lebih... aman. Untuk jangka panjang." Aku menatap pria yang pernah kucintai dan melihat sesosok monster. Ini bukan tragedi; ini adalah pengambilalihan hidupku secara paksa. Dia sibuk bertemu dengan pengacara saat aku kehilangan anak kami. Aku bukan istrinya yang berduka; aku adalah sebuah masalah yang harus diselesaikan, sebuah benang kusut yang harus diikat. Aku benar-benar terperangkap. Tepat saat keputusasaan menelanku, pengacara lama orang tuaku muncul bagai hantu dari masa lalu. Dia meletakkan sebuah kunci tua yang berat dan berukir di telapak tanganku. "Orang tuamu meninggalkan jalan keluar untukmu," bisiknya, matanya penuh tekad. "Untuk hari seperti ini." Kunci itu membawaku pada sebuah kontrak yang terlupakan, sebuah perjanjian yang dibuat oleh kakek kami puluhan tahun yang lalu. Sebuah perjanjian pernikahan yang mengikatku pada satu-satunya pria yang ditakuti suamiku lebih dari kematian itu sendiri: Julian Aditama, miliarder kejam yang hidup menyendiri.

Istri Kontrak: Penebusan Thorne Bab 1

Aku terbaring dalam keheningan rumah sakit yang steril, meratapi bayi yang tak pernah sempat kudekap.

Semua orang menyebutnya kecelakaan tragis. Terpeleset dan jatuh. Tapi aku tahu kebenarannya. Suamiku sengaja mendorongku.

Marko akhirnya datang menjenguk. Dia tidak membawa bunga; dia membawa sebuah koper.

Di dalamnya ada surat cerai dan perjanjian kerahasiaan.

Dengan tenang dia memberitahuku bahwa selingkuhannya-sahabatku sendiri-sedang hamil. Mereka adalah "keluarga sejatinya" sekarang, dan mereka tidak mau ada "keributan".

Dia mengancam akan menggunakan laporan psikiatri palsu untuk menggambarkanku sebagai wanita labil yang membahayakan diriku sendiri.

"Tanda tangani surat-surat ini, Clara," dia memperingatkan, suaranya hampa tanpa emosi. "Atau kau akan dipindahkan dari kamar yang nyaman ini ke fasilitas yang lebih... aman. Untuk jangka panjang."

Aku menatap pria yang pernah kucintai dan melihat sesosok monster. Ini bukan tragedi; ini adalah pengambilalihan hidupku secara paksa. Dia sibuk bertemu dengan pengacara saat aku kehilangan anak kami. Aku bukan istrinya yang berduka; aku adalah sebuah masalah yang harus diselesaikan, sebuah benang kusut yang harus diikat.

Aku benar-benar terperangkap.

Tepat saat keputusasaan menelanku, pengacara lama orang tuaku muncul bagai hantu dari masa lalu. Dia meletakkan sebuah kunci tua yang berat dan berukir di telapak tanganku.

"Orang tuamu meninggalkan jalan keluar untukmu," bisiknya, matanya penuh tekad. "Untuk hari seperti ini."

Kunci itu membawaku pada sebuah kontrak yang terlupakan, sebuah perjanjian yang dibuat oleh kakek kami puluhan tahun yang lalu.

Sebuah perjanjian pernikahan yang mengikatku pada satu-satunya pria yang ditakuti suamiku lebih dari kematian itu sendiri: Julian Aditama, miliarder kejam yang hidup menyendiri.

Bab 1

Hantu dari kehidupan yang tak pernah sempat kudekap menghantuiku dalam keheningan kamar rumah sakit yang steril.

Rasa sakit itu seperti nyeri samar di perutku, sebuah ruang hampa di mana harapan pernah bersemayam. Bau antiseptik menempel di sprei tipis yang kaku, aroma kimia tajam yang menggores tenggorokanku setiap kali aku bernapas. Di luar jendela yang tertutup rapat, kota Jakarta tampak kabur oleh hujan kelabu dan cahaya redup, sebuah dunia yang terasa jutaan mil jauhnya.

Duniaku telah menyusut menjadi empat dinding putih ini, bunyi monitor jantung yang berirama dan merendahkan, serta kenangan yang terus berputar tanpa henti.

*Dorongan yang tajam dan tiba-tiba. Lantai marmer yang licin melesat menyambutku. Wajah Marko, tidak menoleh padaku dengan cemas, tetapi pada *dia*, lengannya melindungi wanita yang pernah menjadi sahabatku. Matanya, ketika akhirnya melirik tubuhku yang terkulai di lantai, tidak menunjukkan cinta, tidak ada kepanikan. Hanya ketidakpedulian yang dingin dan menakutkan. Sebuah gangguan. Aku adalah penghalang di jalan menuju kebahagiaannya.*

Kenangan itu bagai serpihan kaca di benakku, dan setiap kali aku berkedip, serpihan itu menusuk lebih dalam. Para dokter menyebutnya kecelakaan tragis. Terpeleset dan jatuh. Aku tahu kebenarannya. Aku telah dibuang.

Pintu berderit terbuka, menarikku dari kubangan masa lalu. Aku tersentak, jantungku berdebar kencang di dada seperti burung yang terperangkap. Aku berharap itu Sofi, sahabat terbaikku, dengan senyum hangatnya dan sebatang cokelat selundupan.

Tapi itu Marko.

Dia tidak membawa bunga. Dia membawa koper kulit yang ramping. Dia berdiri di dekat pintu, seorang asing dalam setelan jas yang dijahit sempurna, kainnya berwarna arang gelap yang seolah menyerap semua cahaya di ruangan itu. Dia berbau parfum mahal dan hujan yang baru saja dilewatinya. Dia tidak mendekati tempat tidur.

Suara batinku menjerit. *Dia tidak menyesal. Lihat saja dia. Dia bahkan tidak melihatmu, dia melihat mesin-mesin itu, menghitung.*

"Clara," katanya, suaranya halus dan masuk akal seperti yang biasa dia gunakan untuk menutup kesepakatan bisnis. Suara yang dulu menenangkanku. Sekarang, suara itu membuat kulitku merinding.

Aku tidak mengatakan apa-apa. Tenggorokanku kering kerontang, lidahku terasa berat. Aku hanya memperhatikannya, jari-jariku mencengkeram selimut tipis, satu-satunya perisai yang kumiliki.

Dia membuka koper dengan bunyi klik yang lembut dan tegas. Dia mengeluarkan setumpuk kertas, meletakkannya di atas meja dorong di samping tempat tidurku dengan bunyi gedebuk yang steril. Halaman teratas bertuliskan, dengan huruf tebal dan mencolok: 'PERJANJIAN PENYELESAIAN PERCERAIAN'.

"Kupikir kau akan menganggap syarat-syaratnya murah hati," katanya, tatapannya akhirnya bertemu denganku. Datar, tanpa emosi. Rahangnya mengeras, otot kecil berkedut di dekat telinganya. Dia tidak sabar. Dia ingin ini cepat selesai.

"Murah hati?" Kata itu keluar serak, suara orang asing yang keluar dari tenggorokanku. "Kau membunuh bayi kita, Marko."

Untuk sesaat, sesuatu melintas di wajahnya. Bukan rasa bersalah. Bukan penyesalan. Kejengkelan. Kejengkelan murni tanpa filter.

"Itu kecelakaan, Clara. Dokter sudah memastikannya," katanya, suaranya merendah, menjadi sangat lembut dan berbahaya. "Dan kau... tidak sehat sejak saat itu. Tidak stabil. Begini lebih baik."

Dia mendorong dokumen lain ke seberang meja. Perjanjian kerahasiaan. Darahku terasa dingin saat aku membaca istilah-istilah hukum itu. Aku tidak boleh berbicara tentang dia, bisnisnya, atau... keluarga barunya.

"Keluarga sejatiku membutuhkanku sekarang," lanjutnya, kata-katanya seperti anak panah beracun. "Amelia sedang hamil. Kami tidak mau ada keributan. Kau akan menandatangani ini, dan kau akan diurus."

Aku menatapnya, kekejaman rencananya yang terperinci menghantamku. Ini bukan tragedi. Ini adalah pengambilalihan hidupku secara paksa. Aku adalah sebuah masalah yang harus diselesaikan.

*Dia merencanakan ini. Saat aku berdarah, saat aku kehilangan anak kami, dia bertemu dengan pengacara. Dia melindungi wanita itu. 'Keluarga' sejatinya.* Pikiran itu begitu keji, begitu mengerikan, hingga aku merasa mual.

"Dan jika aku tidak menandatanganinya?" bisikku, semangat juangku terkuras habis, hanya menyisakan batu ketakutan yang dingin dan keras di perutku.

Marko sedikit mencondongkan tubuh ke depan, buku-buku jarinya memutih saat dia mencengkeram tepi meja. Topeng kesopanannya terlepas.

"Maka aku tidak punya pilihan lain," katanya, suaranya mendesis berbisa. "Aku punya laporan. Dari dokter-dokter yang sangat dihormati. Mereka semua mengatakan kau menderita delusi, paranoia. Bahwa kau berbahaya bagi dirimu sendiri dan orang lain. Sayang sekali jika kau harus dipindahkan dari kamar yang nyaman ini ke fasilitas yang lebih... aman. Untuk jangka panjang."

Ancaman itu menggantung di udara, tebal dan menyesakkan. Dia akan memasukkanku ke rumah sakit jiwa. Dia akan menghapusku, melukisku sebagai wanita gila, dan pergi dengan segalanya. Suamiku. Masa depanku. Kewarasanku.

Air mata yang tak kusangka masih kumiliki mulai mengalir, panas dan tanpa suara, menuruni pelipisku dan masuk ke rambutku. Aku terperangkap. Benar-benar hancur.

Dia melihatku menyerah. Dia merapikan dasinya, ketenangannya pulih sempurna. "Pengacaraku akan kembali besok untuk tanda tangan. Istirahatlah, Clara."

Dia berbalik dan berjalan keluar, pintu tertutup dengan bunyi klik lembut dan final yang menggemakan suara hidupku yang hancur berkeping-keping.

Aku terbaring di sana entah berapa lama, tenggelam dalam keheningan yang dia tinggalkan. Bunyi monitor adalah satu-satunya bukti bahwa aku masih hidup. Aku tidak punya apa-apa. Tidak, aku lebih buruk dari itu. Aku adalah masalah yang harus diselesaikan, benang kusut yang harus diikat.

Tepat saat secercah cahaya terakhir memudar dari langit, terdengar ketukan lembut. Pintu terbuka lagi. Aku memejamkan mata, bersiap untuk pukulan lain.

"Nona Clara?"

Suara itu lembut, feminin, dan akrab. Aku membuka mata. Seorang wanita tua dengan mata ramah dan rambut perak yang disanggul rapi berdiri di sana. Ibu Ratna. Dia adalah pengacara orang tuaku, seorang wanita yang sudah bertahun-tahun tidak kulihat. Dia membawa tas kulit usang, bukan koper. Ruangan itu tiba-tiba terasa sedikit lebih hangat.

Dia bergerak ke samping tempat tidurku, ekspresinya campuran antara kasihan dan tekad. Tangannya yang dingin dan kering menempel di lenganku sejenak. Itu adalah sentuhan ramah pertama yang kurasakan dalam beberapa hari.

"Saya dengar apa yang terjadi," katanya lembut, tatapannya tidak melewatkan sedikit pun keadaanku yang hancur. "Dan saya dengar... pria itu baru saja di sini." Dia mengucapkan kata 'pria' seolah-olah itu adalah sesuatu yang busuk.

Dia membuka tasnya dan mengambil sebuah kunci tunggal, berukir, dan kuno. Kunci itu berat, terbuat dari kuningan, dan terpasang pada gantungan kulit sederhana.

"Orang tuamu adalah orang-orang yang luar biasa, Clara," katanya, suaranya mantap dan yakin. "Mereka juga sangat pandai menilai karakter. Mereka sudah menduga bahwa suatu hari nanti serigala mungkin akan mengenakan pakaian domba."

Dia menekan kunci itu ke telapak tanganku, jari-jarinya menutup jari-jariku di sekelilingnya. Logam itu terasa dingin di kulitku.

"Mereka meninggalkan jalan keluar untukmu," bisiknya, matanya menatap mataku dengan intensitas yang menembus keputusasaanku. "Kunci ini membuka brankas di Bank Sentral Jakarta. Di dalamnya, kau akan menemukan sebuah kontrak. Kontrak yang memiliki kekuatan lebih dari yang bisa kau bayangkan. Lebih banyak kekuatan daripada yang bisa diimpikan Marko."

Dia meremas tanganku untuk terakhir kalinya. "Orang tuamu memastikan kau tidak akan pernah benar-benar terperangkap, sayangku. Pergilah. Gunakan itu."

Dia pergi setenang kedatangannya, meninggalkanku sendirian dengan berat kunci di tanganku dan secercah harapan yang menakutkan dan mustahil di tengah kegelapan yang menyesakkan.

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh Karma Halim

Selebihnya

Buku serupa

Gairah Liar Ayah Mertua

Gairah Liar Ayah Mertua

Gemoy

Aku melihat di selangkangan ayah mertuaku ada yang mulai bergerak dan mengeras. Ayahku sedang mengenakan sarung saat itu. Maka sangat mudah sekali untuk terlihat jelas. Sepertinya ayahku sedang ngaceng. Entah kenapa tiba-tiba aku jadi deg-degan. Aku juga bingung apa yang harus aku lakukan. Untuk menenangkan perasaanku, maka aku mengambil air yang ada di meja. Kulihat ayah tiba-tiba langsung menaruh piringnya. Dia sadar kalo aku tahu apa yang terjadi di selangkangannya. Secara mengejutkan, sesuatu yang tak pernah aku bayangkan terjadi. Ayah langsung bangkit dan memilih duduk di pinggiran kasur. Tangannya juga tiba-tiba meraih tanganku dan membawa ke selangkangannya. Aku benar-benar tidak percaya ayah senekat dan seberani ini. Dia memberi isyarat padaku untuk menggenggam sesuatu yang ada di selangkangannya. Mungkin karena kaget atau aku juga menyimpan hasrat seksual pada ayah, tidak ada penolakan dariku terhadap kelakuan ayahku itu. Aku hanya diam saja sambil menuruti kemauan ayah. Kini aku bisa merasakan bagaimana sesungguhnya ukuran tongkol ayah. Ternyata ukurannya memang seperti yang aku bayangkan. Jauh berbeda dengan milik suamiku. tongkol ayah benar-benar berukuran besar. Baru kali ini aku memegang tongkol sebesar itu. Mungkin ukurannya seperti orang-orang bule. Mungkin karena tak ada penolakan dariku, ayah semakin memberanikan diri. Ia menyingkap sarungnya dan menyuruhku masuk ke dalam sarung itu. Astaga. Ayah semakin berani saja. Kini aku menyentuh langsung tongkol yang sering ada di fantasiku itu. Ukurannya benar-benar membuatku makin bergairah. Aku hanya melihat ke arah ayah dengan pandangan bertanya-tanya: kenapa ayah melakukan ini padaku?

Ratu Tak Terbelenggu: Jangan Pernah Katakan Tidak

Ratu Tak Terbelenggu: Jangan Pernah Katakan Tidak

Tricia Truss

Hanya butuh satu detik bagi dunia seseorang untuk runtuh. Inilah yang terjadi dalam kasus Hannah. Selama empat tahun, dia memberikan segalanya pada suaminya, tetapi suatu hari, pria itu berkata tanpa emosi ,"Ayo kita bercerai." Hannah menyadari bahwa semua usahanya di tahun-tahun sebelumnya sia-sia. Suaminya tidak pernah benar-benar peduli padanya. Saat dia masih memproses kata-kata mengejutkan itu, suara pria yang acuh tak acuh itu datang. "Berhentilah bersikap terkejut. Aku tidak pernah bilang aku mencintaimu. Hatiku selalu menjadi milik Eliana. Aku hanya menikahimu untuk menyingkirkan orang tuaku. Bodoh bagimu untuk berpikir sebaliknya." Hati Hannah hancur berkeping-keping saat dia menandatangani surat cerai, menandai berakhirnya masanya sebagai istri yang setia. Wanita kuat dalam dirinya segera muncul keluar. Pada saat itu, dia bersumpah untuk tidak pernah bergantung pada belas kasihan seorang pria. Auranya luar biasa saat dia memulai perjalanan untuk menemukan dirinya sendiri dan mengatur takdirnya sendiri. Pada saat dia kembali, dia telah mengalami begitu banyak pertumbuhan dan sekarang benar-benar berbeda dari istri penurut yang pernah dikenal semua orang. "Apa yang kamu lakukan di sini, Hannah? Apakah ini trik terbarumu untuk menarik perhatianku?" Suami Hannah yang selalu sombong bertanya. Sebelum dia bisa membalas, seorang CEO yang mendominasi muncul entah dari mana dan menariknya ke pelukannya. Dia tersenyum padanya dan berkata dengan berani pada mantan suaminya, "Hanya sedikit perhatian, Tuan. Ini istriku tercinta. Menjauhlah!" Mantan suami Hannah tidak bisa memercayai telinganya. Dia pikir tidak ada pria yang akan menikahi mantan istrinya, tetapi wanita itu membuktikan bahwa dia salah. Dia kira wanita itu sama sekali tidak berarti. Sedikit yang dia tahu bahwa wanita itu meremehkan dirinya sendiri dan masih banyak lagi yang akan datang ....

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
Istri Kontrak: Penebusan Thorne Istri Kontrak: Penebusan Thorne Karma Halim Romantis
“Aku terbaring dalam keheningan rumah sakit yang steril, meratapi bayi yang tak pernah sempat kudekap. Semua orang menyebutnya kecelakaan tragis. Terpeleset dan jatuh. Tapi aku tahu kebenarannya. Suamiku sengaja mendorongku. Marko akhirnya datang menjenguk. Dia tidak membawa bunga; dia membawa sebuah koper. Di dalamnya ada surat cerai dan perjanjian kerahasiaan. Dengan tenang dia memberitahuku bahwa selingkuhannya-sahabatku sendiri-sedang hamil. Mereka adalah "keluarga sejatinya" sekarang, dan mereka tidak mau ada "keributan". Dia mengancam akan menggunakan laporan psikiatri palsu untuk menggambarkanku sebagai wanita labil yang membahayakan diriku sendiri. "Tanda tangani surat-surat ini, Clara," dia memperingatkan, suaranya hampa tanpa emosi. "Atau kau akan dipindahkan dari kamar yang nyaman ini ke fasilitas yang lebih... aman. Untuk jangka panjang." Aku menatap pria yang pernah kucintai dan melihat sesosok monster. Ini bukan tragedi; ini adalah pengambilalihan hidupku secara paksa. Dia sibuk bertemu dengan pengacara saat aku kehilangan anak kami. Aku bukan istrinya yang berduka; aku adalah sebuah masalah yang harus diselesaikan, sebuah benang kusut yang harus diikat. Aku benar-benar terperangkap. Tepat saat keputusasaan menelanku, pengacara lama orang tuaku muncul bagai hantu dari masa lalu. Dia meletakkan sebuah kunci tua yang berat dan berukir di telapak tanganku. "Orang tuamu meninggalkan jalan keluar untukmu," bisiknya, matanya penuh tekad. "Untuk hari seperti ini." Kunci itu membawaku pada sebuah kontrak yang terlupakan, sebuah perjanjian yang dibuat oleh kakek kami puluhan tahun yang lalu. Sebuah perjanjian pernikahan yang mengikatku pada satu-satunya pria yang ditakuti suamiku lebih dari kematian itu sendiri: Julian Aditama, miliarder kejam yang hidup menyendiri.”
1

Bab 1

29/10/2025

2

Bab 2

29/10/2025

3

Bab 3

29/10/2025

4

Bab 4

29/10/2025

5

Bab 5

29/10/2025

6

Bab 6

29/10/2025

7

Bab 7

29/10/2025

8

Bab 8

29/10/2025

9

Bab 9

29/10/2025

10

Bab 10

29/10/2025