Karma Halim
2 Buku yang Diterbitkan
Buku dan Cerita Karma Halim
Istri Kontrak: Penebusan Thorne
Romantis Aku terbaring dalam keheningan rumah sakit yang steril, meratapi bayi yang tak pernah sempat kudekap.
Semua orang menyebutnya kecelakaan tragis. Terpeleset dan jatuh. Tapi aku tahu kebenarannya. Suamiku sengaja mendorongku.
Marko akhirnya datang menjenguk. Dia tidak membawa bunga; dia membawa sebuah koper.
Di dalamnya ada surat cerai dan perjanjian kerahasiaan.
Dengan tenang dia memberitahuku bahwa selingkuhannya—sahabatku sendiri—sedang hamil. Mereka adalah "keluarga sejatinya" sekarang, dan mereka tidak mau ada "keributan".
Dia mengancam akan menggunakan laporan psikiatri palsu untuk menggambarkanku sebagai wanita labil yang membahayakan diriku sendiri.
"Tanda tangani surat-surat ini, Clara," dia memperingatkan, suaranya hampa tanpa emosi. "Atau kau akan dipindahkan dari kamar yang nyaman ini ke fasilitas yang lebih... aman. Untuk jangka panjang."
Aku menatap pria yang pernah kucintai dan melihat sesosok monster. Ini bukan tragedi; ini adalah pengambilalihan hidupku secara paksa. Dia sibuk bertemu dengan pengacara saat aku kehilangan anak kami. Aku bukan istrinya yang berduka; aku adalah sebuah masalah yang harus diselesaikan, sebuah benang kusut yang harus diikat.
Aku benar-benar terperangkap.
Tepat saat keputusasaan menelanku, pengacara lama orang tuaku muncul bagai hantu dari masa lalu. Dia meletakkan sebuah kunci tua yang berat dan berukir di telapak tanganku.
"Orang tuamu meninggalkan jalan keluar untukmu," bisiknya, matanya penuh tekad. "Untuk hari seperti ini."
Kunci itu membawaku pada sebuah kontrak yang terlupakan, sebuah perjanjian yang dibuat oleh kakek kami puluhan tahun yang lalu.
Sebuah perjanjian pernikahan yang mengikatku pada satu-satunya pria yang ditakuti suamiku lebih dari kematian itu sendiri: Julian Aditama, miliarder kejam yang hidup menyendiri. Anda mungkin suka
Gairah Liar Dibalik Jilbab
Gemoy Kami berdua beberapa saat terdiam sejanak , lalu kulihat arman membuka lilitan handuk di tubuhnya, dan handuk itu terjatuh kelantai, sehingga kini Arman telanjang bulat di depanku.
''bu sebenarnya arman telah bosan hanya olah raga jari saja, sebelum arman berangkat ke Jakarta meninggalkan ibu, arman ingin mencicipi tubuh ibu'' ucap anakku sambil mendorong tubuhku sehingga aku terjatuh di atas tempat tidur.
''bruuugs'' aku tejatuh di atas tempat tidur.
lalu arman langsung menerkam tubuhku , laksana harimau menerkam mangsanya , dan mencium bibirku. aku pun berontak , sekuat tenaga aku berusaha melepaskan pelukan arman.
''arman jangan nak.....ini ibumu sayang'' ucapku tapi arman terus mencium bibirku.
jangan di lakukan ini ibu nak...'' ucapku lagi .
Aku memekik ketika tangan arman meremas kedua buah payudaraku, aku pun masih Aku merasakan jemarinya menekan selangkanganku, sementara itu tongkatnya arman sudah benar-benar tegak berdiri.
''Kayanya ibu sudah terangsang yaa''? dia menggodaku, berbisik di telinga.
Aku menggeleng lemah, ''tidaaak....,Aahkk...., lepaskan ibu nak..., aaahk.....ooughs....., cukup sayang lepaskan ibu ini dosa nak...'' aku memohon tapi tak sungguh-sungguh berusaha menghentikan perbuatan yang di lakukan anakku terhadapku.
''Jangan nak... ibu mohon....
Tapi tak lama kemudian tiba-tiba arman memangut bibirku,meredam suaraku dengan memangut bibir merahku, menghisap dengan perlahan membuatku kaget sekaligus terbawa syahwatku semakin meningkat.
Oh Tuhan... dia mencium bibirku, menghisap mulutku begitu lembut, aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya, Suamiku tak pernah melakukannya seenak ini, tapi dia... Aahkk... dia hanya anakku, tapi dia bisa membuatku merasa nyaman seperti ini, dan lagi............
Oohkk...oooohhkkk..... Tubuhku menggeliat!
Kenapa dengan diriku ini, ciuman arman terasa begitu menyentuh, penuh perasaan dan sangat bergairah. "Aahkk... aaahhk,," Tangan itu, kumohooon jangan naik lagi, aku sudah tidak tahan lagi, Aahkk... hentikan, cairanku sudah keluar.
Lidah arman anakku menari-nari, melakukan gerakan naik turun dan terkadang melingkar.
Kemudian kurasakan lidahnya menyeruak masuk kedalam vaginaku, dan menari-nari di sana membuatku semakin tidak tahan. "Aaahkk... Nak....!"