Aku Pasti Bisa Tanpamu

Aku Pasti Bisa Tanpamu

Anggrek Bulan

4.9
Komentar
30.4K
Penayangan
40
Bab

Selama delapan bulan, dia diperlakukan bak pembantu oleh ibu mertua,ipar dan suaminya, karena dia takut menjadi seorang janda. Akhirnya dia berontak saat tahu suaminya yang malas itu, malah berselingkuh. Dengan banyak tipu daya, dia di usir dari rumah peninggalan orang tuanya. Namun ketika telah di usir, dia malah hamil. Namun dia akan membuktikan jika dia bisa hidup mandiri dan sukses

Aku Pasti Bisa Tanpamu Bab 1 Takut Jadi Janda

Jangan lupa klik berlangganan ya

******************** ********************

"Bagi uang gajimu, lima ratus ribu saja. Selfi dan Ibu mau belanja tuh!" Mas Johan mengatakan hal tersebut dengan entengnya.

"Kenapa minta uang gajiku, Mas? 'Kan uang gajiku sudah digunakan untuk memenuhi seluruh kebutuhan rumah ini Mas. Dan kini uangku cuma sisa satu juta saja, itupun

harus dicukupkan hingga waktu gajian lagi Mas," jawabku.

"Ah kamu ini banyak ngomong, cepat berikan. Kasihan mereka sudah menunggu di luar."

"Pakai uangmu saja dulu Mas, kan gajimu utuh tak pernah kamu berikan kepadaku. Uang satu juta ini harus aku cukup-cukupkan untuk memenuhi kebutuhan selama dua minggu kedepan, juga untuk uang transport ku Mas. Belum lagi untuk uang saku Selfi atau keperluan kuliahnya yang biasanya mendadak."

"Alah banyak ngomong kamu itu. Gajiku ya ku berikan pada ibuku lah, kan beliau yang sudah mengasuhku selama ini, jadi ibu lah yang berhak menerima gajiku, bukan kamu!" Mata Mas Johan melotot sambil mengacungkan jarinya di depanku.

"Baiklah Mas, tapi jangan lima ratus ribu ya. Dua ratus ribu saja," kataku sambil mengeluarkan dua lembar uang pecahan seratus ribuan dari dompet.

"Huh banyak ngomong kamu ini! Mau jadi istri durhaka?! Cepat berikan yang Ibu minta tadi, lima ratus ribu rupiah! Atau ku ceraikan kamu sekarang juga, biar tahu rasa kamu menjadi janda?" katanya sembari merebut paksa dompetku, dan mengambil tiga lembar lagi.

Mendengar kata 'cerai' dan juga 'janda' selalu sukses membuat nyaliku ciut, dan alhasil aku pun akhirnya selalu menuruti semua permintaanya dan keluarganya.

"Jangan lupa bereskan dulu kamar Ibu dan Selfi sebelum kamu berangkat kerja."

"Tapi ini sudah siang Mas, aku nanti terlambat. Kenapa tidak minta Selfi saja untuk membersihkan kamar Ibu dan kamarnya?"

"Mereka kan mau belanja. Tau sendirikan mereka akan marah jika lihat kamarnya masih berantakan. Sudah jangan banyak ngomong lagi, aku mau berangkat narik dulu. Ingat jika sampai nanti aku mendengar keluhan dari mereka karena kamarnya tak kamu bersihkan, maka aku langsung menjatuhkan talak tiga padamu!"

Mengalah dan terus mengalah, hal itulah yang terus aku lakukan selama delapan bulan ini ketika menjadi istri Mas Johan. Dia dan keluarganya selalu memanfaatkan ketakutan dan rasa traumaku menjadi seorang janda.

Ya, aku memang trauma dengan julukan 'janda', bukan karena aku pernah mengalaminya, tapi karena menyandang status itulah, Ibuku akhirnya depresi dan meninggal karena bunuh diri di sebuah rumah sakit jiwa. Sejak kepergian Ibu itulah aku menjadi hidup sebatang kara di dunia ini, Ayahku pun kuanggap sudah mati, karena dia telah meninggalkanku dan Ibu disaat aku masih berusia delapan tahun.

Dulu ketika pertama kali bertemu dengan Mas Johan, aku merasa dia adalah pria baik yang memang benar-benar menyayangiku. Hingga aku menceritakan semua trauma yang ku alami dan menerima pinangannya meski kami baru kenal selama satu bulan.

Pertemuan pertama kami adalah di tempat kerjaku, dulu aku bekerja sebagai admin merangkap kasir di sebuah Koperasi Simpan Pinjam. Mas Johan adalah nasabah disana, saat itu dia memiliki usaha toko pakaian di pasar yang berdekatan dengan tempat kerjaku.

Awal-awal pernikahan sebenarnya semua masih baik-baik saja, Mas Johan memboyongku ke rumahnya dan tinggal bersama Ibu dan Adiknya. Dia juga memintaku untuk berhenti bekerja dan membantunya berjualan di pasar.

Selama dua bulan, aku merasa Mas Johan dan keluarganya selalu mencintaiku dan tak salah aku menerima pinangan dari Mas Johan.

Namun petaka itu mulai terjadi bulan ketiga pernikahanku. Saat itu usaha yang dilakoni Mas Johan bangkrut, karena kebakaran di pasar. Meskipun telah mendapat uang asuransi, nyatanya hal itu tak mampu menutupi utangnya pada sebuah Bank besar. Ternyata selama ini seluruh modalnya berasal dari pinjaman bank tersebut. Dan rumahnya pun ternyata masih kredit, belum lagi dia sangat butuh banyak uang untuk membiayai kuliah Selfi, Adiknya.

Berbagai upaya telah dilakukan olehnya, namun sayang semua tak bisa terselamatkan. Akhirnya Mas Johan harus merelakan tempat usahanya di sita oleh pihak Bank karena telah menunggak pembayaran selama empat bulan. Pun juga dengan rumah yang dulu kami tempati, karena sudah tak mampu membayar, Mas Johan pun mengembalikannya pada developer. Habis tak bersisa semuanya, dan hanya menyisakan satu buah motor milik Mas Johan.

"Sebaiknya kita sekarang pulang saja ke rumahku Mas. Kebetulan kan di sana ada tiga kamar, pas untuk kita semua. Jangan khawatir aku juga akan kembali bekerja untuk membantu biaya kuliah Selfi," ucapku kala itu kepada Mas Johan dan keluarganya.

"Apakah kami tak merepotkanmu Nak? Ibu dan Johan juga Selfi akan merasa sangat malu jika menumpang di rumahmu." Bu Dewi, ibu mertuaku, berkata seperti itu sambil menagis.

Sementara itu Selfi dan Mas Johan hanya duduk sambil menunduk.

"Bu jangan ngomong seperti itu. Kalian semua adalah satu-satu nya keluarga yang ku punya. Jadi tak perlu sungkan, anggap saja itu rumah kalian sendiri," kataku sambil memeluk mertuaku tersebut.

Sejak saat itu mereka pun tinggal di rumahku. Mas Johan belumlah bekerja saat itu, dia masih berduka karena kebangkrutannya itu. Setiap hari kerjanya hanyalah tidur, main game dan mancing saja.

Sementara Selfi tetap melanjutkan kuliah menggunakan motorku setiap hari. Rela ku jual perhiasan pribadiku untuk membiayai kuliahnya.

Aku pun mulai bekerja lagi, sebenarnya tempat kerja lamaku pun memperbolehkan jika aku kembali kesana. Namun Mas Johan tak memperbolehkanku, alasannya karena terlalu jauh dari rumah dan akan menghabiskan banyak uang transport. Akhirnya aku mendapatkan pekerjaan menjadi seorang karyawan toko elektronik saja, yang letaknya tak begitu jauh dari rumahku. Aku berangkat kerja mulai pukul sembilan pagi hingga pukul tujuh malam.

Entah apa yang membuat sikap mereka bertiga berubah kepadaku. Mereka menjadikanku babu di rumahku sendiri. Awalnya sih, aku pikir mungkin karena masih shock karena kehilangan segalanya, hingga aku pun ikhlas melayani mereka. Tapi ternyata mereka malah memanfaatkanku.

Ibu dan Selfi tak pernah mau membantuku mengerjakan pekerjaan rumah, bahkan untuk mencuci baju mereka sendiri pun harus aku yang mengerjakannya. Jadi sebelum berangkat kerja semua harus sudah bersih dan makanan pun telah siap di meja makan. Pun ketika aku pulang kerja, masih banyak pekerjaan yang menantiku. Mencuci piring yang menumpuk, menyetrika baju, dan banyak lagi pekerjaan yang harus kulakukan untuk mereka.

Mas Johan pun jarang memperhatikanku, dia malah asyik dengan dunianya sendiri. Malah dia mendukung kelakuan adik dan ibunya itu. Jika aku sedikit saja membuat kesalahan atau tak menuruti keinginan mereka, maka Mas Johan mengancam akan menceraikanku.

Itulah yang menjadi senjata mereka untuk menjadikanku patuh. Menjadi mesin pencetak uang dan menjadi pembantu di rumahku sendiri itulah yang kulakukan selama delapan bulan ini.

Sebenarnya aku ikhlas saja menafkahi mereka, tapi tolong setidaknya sedikit hargai aku yang telah lelah seharian bekerja dan mengerjakan pekerjaan rumah.

Tepatnya tiga bulan yang lalu Mas Johan mulai mau bekerja kembali, meski hanya sebagai tukang ojek online. Setiap dia mendapat uang pasti separuhnya akan disetorkan pada ibunya, tanpa memberikanku sepeserpun.

Seperti kejadian pagi ini, semua yang jadi keinginana mereka harus aku turuti. Kulihat jam di dinding menunjukkan pukul delapan pagi, aku harus bergegas membersihkan kamar Ibu dan juga Selfi, kalau tak ingin nanti terlambat kerja.

Dua kamar ibu dan anak itu, bak kapal pecah. Aku pun langsung cepat-cepat membersihkanya. Kemudian mandi dan siap berangkat kerja.

Saat aku akan keluar rumah, kulihat ternayta motor Mas Johan masihlah terparkir di teras.

'Hemm ide bagus nih, siapa tahu dia mau mengantarku kerja' pikirku.

Namun saat aku akan melangkah keluar kudengar dia memanggil nama seseorang dengan panggilan "yank" melalui sambungan telepon. Aku pun berusaha menguping panggilan itu.

"Iya, Yank pokoknya kamu tetap yang tercantik deh di dunia ini," kata Mas Johan.

"Ya sudah aku berangkat dulu ya, kita ketemu di tempat biasa. Dadah cintaku. Emmuach."

Saat itu juga, bagaikan disambar petir saat hari terik, aku tak percaya bahwa suamiku ini telah menduakanku. Seseorang yang di sebutnya "yank" pasti adalah selingkuhannya.

Tega sekali kamu Mas melakukan semua ini padaku, setelah semua pengorbanan yang kuberikan untukmu dan keluargamu.

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh Anggrek Bulan

Selebihnya

Buku serupa

Puncak Nafsu Ayah Mertua

Puncak Nafsu Ayah Mertua

Cerita _46
5.0

Aku masih memandangi tubuhnya yang tegap, otot-otot dadanya bergerak naik turun seiring napasnya yang berat. Kulitnya terlihat mengilat, seolah memanggil jemariku untuk menyentuh. Rasanya tubuhku bergetar hanya dengan menatapnya. Ada sesuatu yang membuatku ingin memeluk, menciumi, bahkan menggigitnya pelan. Dia mendekat tanpa suara, aura panasnya menyapu seluruh tubuhku. Kedua tangannya menyentuh pahaku, lalu perlahan membuka kakiku. Aku menahan napas. Tubuhku sudah siap bahkan sebelum dia benar-benar menyentuhku. Saat wajahnya menunduk, bibirnya mendarat di perutku, lalu turun sedikit, menggodaku, lalu kembali naik dengan gerakan menyapu lembut. Dia sampai di dadaku. Salah satu tangannya mengusap lembut bagian kiriku, sementara bibirnya mengecup yang kanan. Ciumannya perlahan, hangat, dan basah. Dia tidak terburu-buru. Lidahnya menjilat putingku dengan lingkaran kecil, membuatku menggeliat. Aku memejamkan mata, bibirku terbuka, dan desahan pelan keluar begitu saja. Jemarinya mulai memijit lembut sisi payudaraku, lalu mencubit halus bagian paling sensitif itu. Aku mendesah lebih keras. "Aku suka ini," bisiknya, lalu menyedot putingku cukup keras sampai aku mengerang. Aku mencengkeram seprai, tubuhku menegang karena kenikmatan itu begitu dalam. Setiap tarikan dan jilatan dari mulutnya terasa seperti aliran listrik yang menyebar ke seluruh tubuhku. Dia berpindah ke sisi lain, memberikan perhatian yang sama. Putingku yang basah karena air liurnya terasa lebih sensitif, dan ketika ia meniup pelan sambil menatapku dari bawah, aku tak tahan lagi. Kakiku meremas sprei, tubuhku menegang, dan aku menggigit bibirku kuat-kuat. Aku ingin menarik kepalanya, menahannya di sana, memaksanya untuk terus melakukannya. "Jangan berhenti..." bisikku dengan napas yang nyaris tak teratur. Dia hanya tertawa pelan, lalu melanjutkan, makin dalam, makin kuat, dan makin membuatku lupa dunia.

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
Aku Pasti Bisa Tanpamu Aku Pasti Bisa Tanpamu Anggrek Bulan Romantis
“Selama delapan bulan, dia diperlakukan bak pembantu oleh ibu mertua,ipar dan suaminya, karena dia takut menjadi seorang janda. Akhirnya dia berontak saat tahu suaminya yang malas itu, malah berselingkuh. Dengan banyak tipu daya, dia di usir dari rumah peninggalan orang tuanya. Namun ketika telah di usir, dia malah hamil. Namun dia akan membuktikan jika dia bisa hidup mandiri dan sukses”
1

Bab 1 Takut Jadi Janda

03/12/2021

2

Bab 2 Dia Malah Selingkuh

03/12/2021

3

Bab 3 Mulai Berontak

03/12/2021

4

Bab 4 Dilema

03/12/2021

5

Bab 5 Liciknya Johan

03/12/2021

6

Bab 6 Pergi Untuk Kembali

03/12/2021

7

Bab 7 Langsung Eksekusi

21/12/2021

8

Bab 8 Ya Allah Kenapa Aku Hamil

21/12/2021

9

Bab 9 Part 9

21/12/2021

10

Bab 10 Sebuah Ide Cemerlang

21/12/2021

11

Bab 11 Penyamaran 1

21/12/2021

12

Bab 12 Penyamaran 2

21/12/2021

13

Bab 13 Satu Langkah Telah Terlewati

21/12/2021

14

Bab 14 Apa Ini karma

21/12/2021

15

Bab 15 Kehamilan Selfi

21/12/2021

16

Bab 16 Kejutan Dari Selfi Lagi

21/12/2021

17

Bab 17 Apa Ini Karma 2

21/12/2021

18

Bab 18 Semakin Terperosok

21/12/2021

19

Bab 19 Mas Johan Digrebek Warga

21/12/2021

20

Bab 20 Hidayah Itu Belum Datang

21/12/2021

21

Bab 21 Part 21

21/12/2021

22

Bab 22 Didikan Orang Tua Yang Salah

21/12/2021

23

Bab 23 Penyamaranku Terbongkar

21/12/2021

24

Bab 24 Apa Semua Ini Belum Berakhir

21/12/2021

25

Bab 25 Bertemu Di Kantor Polisi

21/12/2021

26

Bab 26 Rayuan Bu Sarah

21/12/2021

27

Bab 27 Part 27

21/12/2021

28

Bab 28 Part 28

21/12/2021

29

Bab 29 Dia Harus Jadi Milikku (Pov Sinta)

21/12/2021

30

Bab 30 Part 30

21/12/2021

31

Bab 31 Part 31

21/12/2021

32

Bab 32 Part 32

21/12/2021

33

Bab 33 Part 33

21/12/2021

34

Bab 34 Part 34

21/12/2021

35

Bab 35 Part 35

21/12/2021

36

Bab 36 Part 36

21/12/2021

37

Bab 37 Part 37

21/12/2021

38

Bab 38 Sia-Sia Sudah

21/12/2021

39

Bab 39 Sebuah Penyesalan (Part Menuju Ending)

21/12/2021

40

Bab 40 Ending

21/12/2021