Pacar Kedua.

Pacar Kedua.

Arizumi

4.5
Komentar
425
Penayangan
6
Bab

David punya firasat kalau Reta berselingkuh. Ia buktikan itu.

Pacar Kedua. Bab 1 Cita-cita

Ivana berlari ke dalam rumah, di tanganya ada surat kelulusanya. Dia lulus predikat bagus. Walau tidak rangking satu Tapi rangking tiga dari seluruh siswa. Ivana merasa bersyukur juga bahagia. Setidaknya bisa mengurangi beban orang tuanya. Ivana menemui ayah dan Ibunya dengan wajah ceria.

"Assalamulaikum ...." sapa Ivana ceria.

"Walaikum salam ...." balas orang tua Ivana kompak. Ivana langsung memeluk Ibunya.

"Ibu ... aku lulus," Ivana menyerahkan surat tanda kelulusan kepada Ibunya.

"Alhamdulilah." ucap Ibu bersyukur. Mata Ibu berbinar- binar karena bahagia. Tapi bayangan masa depan melintas di pikiran Ivana. Impian menjadi pramugari sudah lama dalam benaknya.

"Ayah, Ibu ... Ivana ingin kuliah pramugari, apa boleh?" Tanya Ivana menatap orang tuanya bergantian. sendu wajah mereka mendengar permintaan putri sulungnya.

Ivana ingin menjadi Pramugari di Maskapai luar negeri. Cita- citanya menjadi Pramugari di Maskapai Dubay.

Mereka menghembuskan nafas pelan, ternyata anaknya sudah dewasa. memikirkan masa depanya sendiri dan keluarganya.

"Baiklah kejarlah cita - citamu Anaku, Ayah akan berusaha mencari uang untuk biaya Diklat kamu,"

"Kapan pendaftaranya Nak?"

"Bulan depan Ayah," ucap Ivana tak percaya Ayahmya menyetujui impianya.

"Belajar yang rajin, siapkan segalanya untuk ujian nanti,"

" Baik Ayah," Ivana melangkah ke dalam kamar. Brosur Diklat Pramugari di tanganya ia Ciumi.

"Makasih Ya Allah,"

Merasa Ini adalah jalan menuju impianya.

Ia masuk kamar Melepas jilbab dan baju seragamnya. Ia gantungkan di capstok. Segera mengambil air wudhu. Masuk ke kamar mandi di kamar pribadinya. Walau orang tua Ivana dari kalangan rakyat biasa saja, tapi Ayah Ivana membuatkan kamar mandi di kamar masing- masing putrinya. Tujuanya agar mereka tak berebut untuk sekedar mandi.

Ivana Menghamparkan sajadah menghadap kiblat. Saat bahagia terucap bibir Alhamdulilah, dan hati harus menghadap Sang Pemilik Kehidupan. Rokaat demi rokaat di jalani khusyuk. Terimakasih atas Anugerah hari ini. Lulus ujian dengan predikat baik juga orang tuanya tak keberatan meraih impian menjadi pramugri.

Selesai sholat ia gantungan baju. Membuka buku pelajaran kembali. Ia Harus mempersiapkan ujian masuk Diklat walaupun masih satu bulan lagi, Ivana ingin mempersiapkan dengan matang.

Sebulan Kemudian..

Tok ... tok...

"Van, ini Ayah,"

Ivana meresleting kopernya, segera bangkit menuju pintu. Lelaki paruh baya bermata teduh berdiri di depan pintu.

"Kamu sedang packing Nak?" Tanya Ayah.

"Iya Ayah, besok sudah pendaftaran,"

"Ayah antar ya?"

"Nggak usah Ayah, aku ingin mandiri,"

"Baiklah kalau tak mau di antar sampai Jogya, tapi Ayah Harus mengantarmu sampai Terminal !"

"Iya Ayah," kali ini Ivana mengalah mengantarnya sampai Terminal.

Ivana terdiam sesaat matanya menangkap Amlop coklat di tangan Ayahnya. Ingin bertanya tapi bibirnya kelu.

"Ini Nak, Ayah ada sedikit uang untuk biaya Diklat kamu kalau kurang Ayah bisa jual sapi peninggalan nenek kamu,"

Ivana terdiam sesaat. Memikirkan dari mana Ayahnya mendapat uang sebanyak itu?

Ivana menerima uang dari tangan Ayahnya dengan tangan gemetar. Di bukanya Amlop coklat itu. Uang senilai sepuluh juta rupiah.

"Makasih Ayah," ucap Ivana terbata. Bulir bening mengalir dari pelupuk matanya Ivana terharu. Berjanji dalam hati akan sungguh- sungguh belajar.

"Iya. Tapi belajar yang rajin jangan lupa sholat, tetep jaga diri !"

"Baik Ayah," ucap Ivana menunduk tanpa melihat wajah Ayahnya. Begitulah Ayah Ivana seorang yang bijak tapi tegas.

Ayah bangkit dari duduk, sebelum pergi mencium puncuk kepala putrinya. Merasakan kasih sayang Ayahnya. Air mata kembali meluncur, tapi segera di usap. Malu ketahuan Ayahnya.

"Udah jangan nangis, besok Ayah antar ke Terminal. Udah besar nangis!"

Ivana menganguk, bertekad membanggakan orang tua.

Bersambung..

Lanjutkan Membaca

Buku serupa

Gairah Liar Ayah Mertua

Gairah Liar Ayah Mertua

Gemoy

Aku melihat di selangkangan ayah mertuaku ada yang mulai bergerak dan mengeras. Ayahku sedang mengenakan sarung saat itu. Maka sangat mudah sekali untuk terlihat jelas. Sepertinya ayahku sedang ngaceng. Entah kenapa tiba-tiba aku jadi deg-degan. Aku juga bingung apa yang harus aku lakukan. Untuk menenangkan perasaanku, maka aku mengambil air yang ada di meja. Kulihat ayah tiba-tiba langsung menaruh piringnya. Dia sadar kalo aku tahu apa yang terjadi di selangkangannya. Secara mengejutkan, sesuatu yang tak pernah aku bayangkan terjadi. Ayah langsung bangkit dan memilih duduk di pinggiran kasur. Tangannya juga tiba-tiba meraih tanganku dan membawa ke selangkangannya. Aku benar-benar tidak percaya ayah senekat dan seberani ini. Dia memberi isyarat padaku untuk menggenggam sesuatu yang ada di selangkangannya. Mungkin karena kaget atau aku juga menyimpan hasrat seksual pada ayah, tidak ada penolakan dariku terhadap kelakuan ayahku itu. Aku hanya diam saja sambil menuruti kemauan ayah. Kini aku bisa merasakan bagaimana sesungguhnya ukuran tongkol ayah. Ternyata ukurannya memang seperti yang aku bayangkan. Jauh berbeda dengan milik suamiku. tongkol ayah benar-benar berukuran besar. Baru kali ini aku memegang tongkol sebesar itu. Mungkin ukurannya seperti orang-orang bule. Mungkin karena tak ada penolakan dariku, ayah semakin memberanikan diri. Ia menyingkap sarungnya dan menyuruhku masuk ke dalam sarung itu. Astaga. Ayah semakin berani saja. Kini aku menyentuh langsung tongkol yang sering ada di fantasiku itu. Ukurannya benar-benar membuatku makin bergairah. Aku hanya melihat ke arah ayah dengan pandangan bertanya-tanya: kenapa ayah melakukan ini padaku?

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku