Bisikan Dari Hati yang Patah

Bisikan Dari Hati yang Patah

Gabriella

Modern | 1  Bab/Hari
5.0
Komentar
29.3K
Penayangan
112
Bab

Rachel dulu berpikir bahwa kesetiaannya akan membuat Brian jatuh hati suatu hari nanti, tetapi ternyata dia salah ketika cinta sejati pria itu kembali. Rachel telah menanggung semuanya-mulai dari berdiri sendirian di altar pernikahan hingga menyeret dirinya sendiri ke rumah sakit untuk perawatan darurat. Semua orang mengira dia gila karena menyerahkan begitu banyak dirinya untuk seseorang yang tidak membalas perasaannya. Namun ketika Brian menerima berita tentang penyakit terminal Rachel dan menyadari bahwa wanita itu tidak akan hidup lama lagi, dia benar-benar hancur. "Aku melarangmu mati!" Rachel hanya tersenyum. Dia tidak lagi membutuhkannya. "Aku akhirnya akan bebas."

Bab 1 Tetaplah Bersamaku Malam Ini

"Ayolah, sekali lagi saja." Sebuah bisikan terdengar rendah dan memerintah, dipenuhi dengan urgensi.

Saat Rachel Marsh berbaring dengan keringat bercucuran karena kelelahan, tubuh lembutnya diangkat lagi. Gerakannya cepat, didorong oleh kebutuhan yang mendesak.

Meskipun suasana saat ini sedang kacau, dia berhasil menenangkan diri, mengangkat kepala sedikit, dan bertanya dengan nada memohon, "Bagaimana kalau kita berhenti menggunakan pengaman?" Suaranya terdengar lembut tapi bersungguh-sungguh. "Aku berpikir ... untuk memiliki bayi."

Brian White, tunangannya, tertegun untuk beberapa sesaat, ekspresinya tidak terbaca. Namun, keraguan itu tidak bertahan lama. Dia mencondongkan tubuhnya, bibirnya menyentuh telinga wanita itu, dan dia menjawab dengan nada dingin yang cuek, "Memiliki anak akan membuat semuanya menjadi terlalu rumit. Aku belum siap untuk itu."

Rachel menggigit bibirnya, matanya yang memerah berkaca-kaca karena air mata yang belum menetes. "Tapi kita akan segera menikah," ucapnya, suaranya bergetar karena gejolak emosi. "Orang tuamu juga sangat menginginkan cucu. Apa benar-benar tidak bisa?"

Menikah dengan Brian dan membangun keluarga bersamanya adalah impian Rachel sejak dulu, tapi sikap Brian yang dingin dan tak kenal kompromi membuatnya merasa kecil dan tidak berarti.

Dia menatap wajah dingin Brian, memahami emosinya, lalu pada akhirnya dia mengangguk perlahan. "Baiklah, kita akan bicarakan tentang memiliki anak nanti."

Ekspresi Brian sedikit melunak seolah ketegangan di antara mereka mulai mereda. Tapi sebelum dia sempat berbicara, ponselnya berdering, tiba-tiba memotong momen rapuh itu.

Suara lembut dan ragu-ragu terdengar melalui pengeras suara segera setelah Brian menjawab. "Brian, maaf mengganggumu selarut ini ... aku tersandung dan jatuh di ruang tamu dan kakiku terasa sangat sakit. Jika kamu sibuk, aku akan ...."

Yang menelepon adalah Tracy Haynes, cinta pertama Brian. Sebelum dia bisa menyelesaikan kalimatnya, Brian menyela, suaranya terdengar tegas tapi lembut. "Tunggu sebentar, aku akan segera ke sana."

"Oke, Brian ... aku tidak mengganggumu dan Rachel, kan? Jangan sampai dia salah paham, aku bisa naik taksi saja," jawab Tracy.

"Tidak mengganggu," ucap Brian meyakinkannya, suaranya terdengar lembut dan tenang. "Jangan terlalu banyak berpikir."

Rachel yang mendengar percakapan itu benar-benar sangat ingin tertawa.

Di kamar mandi yang remang-remang, uap mengepul tebal. Tubuh mereka berdekatan, basah kuyup, dan keintiman di antara mereka tidak dapat disangkal. Segala sesuatunya sudah pada tempatnya, dan suasana pun tercipta sempurna. Inilah yang dimaksud Brian dengan tidak mengganggu.

Namun, saat Rachel berdiri di sana, dia menyadari sesuatu yang menghantamnya bagai sebuah fakta yang dingin. Menjadi orang yang disukai adalah sebuah hak istimewa yang tidak akan pernah dia dapatkan. Itu tentang pengecualian, tentang melanggar setiap aturan demi seseorang.

Rasa sayang, perhatian, kepedulian, dan cinta Brian semuanya diberikan pada wanita lain, pada wanita yang selalu disayanginya, wanita yang selamanya akan memiliki hatinya, dan itu bukan dirinya. Ironi ini terasa sangat menyesakkan.

Tak lama kemudian, Brian melilitkan handuk besar ke tubuh Rachel, kainnya yang lembut membungkus tubuh rampingnya. Gerakannya tidak kasar, nyaris lembut saat dia mengeringkan tubuhnya.

"Aku akan menggendongmu ke ranjang," ucapnya, suaranya terdengar sangat lembut. "Kamu tidurlah dulu."

Namun, kata-katanya terasa seperti siraman seember air dingin, melenyapkan kehangatan yang tersisa di antara mereka. Hati Rachel langsung tenggelam. Apa pria ini akan pergi untuk menemui Tracy lagi?

Kedua tangan Rachel mengepal dengan erat, tubuhnya menjadi kaku karena tegang.

Setelah beberapa saat, sesuatu terlintas dalam benaknya. Dia melangkah maju, perlahan mendekat dengan langkah kecil, lalu melakukan gerakan yang menurutnya sangat gila hingga dia sendiri tidak dapat memercayainya.

Tanpa berpikir panjang, dia mengulurkan tangan, memeluk Brian erat-erat, suaranya terdengar lembut tapi bergetar. "Tetaplah bersamaku malam ini ... tolong jangan pergi, oke?"

Brian tercengang, tubuhnya menegang sejenak karena terkejut. Namun, keraguan itu hanya berlangsung sedetik. Dia segera menenangkan diri dan membelai rambut Rachel dengan lembut, suaranya terdengar tenang tapi tegas. "Jangan bersikap keras kepala, Rachel. Dia terluka, ini bukan hal kecil."

"Tapi aku juga sangat membutuhkanmu," pinta Rachel, matanya memerah dan berkilauan karena air mata yang belum menetes. Dia menggigit bibirnya begitu keras hingga berdarah. "Aku tidak ingin kamu pergi."

Brian menghela napas, suaranya terdengar melembut tapi tetap tegas. "Rachel, kamu selalu bersikap pengertian. Jangan membuat ini sulit."

Namun malam ini, Rachel tidak ingin bersikap pengertian. Dia hanya ingin Brian tetap tinggal bersamanya.

"Brian ...," bisiknya, cengkeramannya menguat saat dia menatap ke matanya, keputusasaan terukir di wajahnya.

Brian menggelengkan kepala, suaranya menjadi lebih dingin. "Menurutlah, Rachel, lepaskan."

Rachel menggelengkan kepalanya, jantungnya berdebar kencang, tidak mau menyerah.

"Kubilang, lepaskan!" Ekspresi Brian berubah menjadi dingin dengan cepat, bibirnya terkatup membentuk garis tipis. Dengan tangannya yang besar dan kuat, dia membuka jari-jarinya satu per satu, kekuatannya cukup untuk membuat wanita itu meringis kesakitan.

Jantung Rachel berdegup kencang di dadanya, tapi dia tidak dapat bertahan lebih lama lagi. Dia tertawa pelan dan getir, hampir mengejek kerentanannya sendiri. Perlahan-lahan, dia melepaskan genggamannya, jari-jarinya bergetar karena tekanan, dan akhirnya, beban kekalahannya pun terasa.

"Aku akan segera kembali," ucap Brian, nada bicaranya tegas saat dia berbalik dan berjalan pergi tanpa menoleh dua kali.

Akan segera kembali? Kata-kata itu terasa hampa, seperti sesuatu yang dikatakan untuk menghibur seorang anak kecil berumur tiga tahun. Tracy telah meneleponnya berkali-kali sebelumnya, dan Brian selalu pergi. Pria itu tidak pernah segera kembali.

Saat Rachel berdiri di sana, kebenaran menghantam dirinya dengan keras. Brian tidak ingin memiliki anak bersamanya, mungkin karena Tracy. Bagaimanapun juga, wanita itu yang selalu memegang kunci hatinya, orang yang sangat dia sayangi, wanita yang tidak bisa dia lepaskan, orang yang kenangannya tidak akan pernah pudar.

Tracy adalah cinta pertamanya, jenis cinta yang tidak akan pernah terlupakan. Jadi, tentu saja, pria itu memperlakukannya seperti harta karun, bahkan meski itu berarti mengabaikan kebutuhan dan keinginan Rachel.

Setelah momen yang panjang dan mati rasa berlalu, Rachel berbalik dan berjalan ke kamar mandi. Dia melangkah ke bawah pancuran, membiarkan air membasahi tubuhnya, meskipun air itu tidak membantu untuk membersihkan beban di dadanya.

Ketika dia akhirnya merangkak ke ranjang, seprai terasa dingin dan tidak nyaman. Tidak peduli seberapa keras dia berguling-guling, ranjangnya tidak menjadi hangat. Seolah kekosongan di sampingnya telah meresap ke dalam setiap sudut ruangan, meninggalkannya sendirian dalam keheningan yang dingin.

Pada pukul enam pagi, Rachel terbangun karena dering ponselnya. Dengan mengantuk, dia mengambilnya dan melihat nama Debby Verice, ibu Brian, muncul di layar.

"Tanggal pernikahan sudah ditetapkan." Suara Debby dingin dan tanpa emosi seperti biasanya. "Tiga bulan dari sekarang adalah hari yang baik untuk sebuah pernikahan."

Rachel tahu Debby tidak menelepon untuk berkonsultasi, wanita itu menelepon untuk memberi informasi.

"Aku menelepon untuk mengingatkanmu agar orang tuamu bersiap lebih awal," lanjut Debby, nada bicaranya tajam. "Meskipun keluarga kami kaya, kami tidak bodoh. Jangan berpikir keluarga kalian bisa mendapatkan banyak uang dari pernikahan ini."

Rachel mencoba menjaga suaranya tetap tenang saat menjawab, "Baiklah Tante, aku akan memberi tahu ayahku. Jangan khawatir, aku tidak akan meminta uang sepeser pun."

Namun, Debby jauh dari kata puas. Tawa mengejek terdengar di ujung telepon. "Benar saja, kamu memang wanita murahan."

Rachel menahan rasa frustrasinya, mendengarkan tanpa memberikan penjelasan. Dia tahu lebih baik dari siapa pun bahwa bahkan meski dia meminta uang, uang itu akan berakhir di tangan ayahnya yang cuek dan ibu tirinya yang kejam, orang-orang yang tidak pernah benar-benar peduli padanya.

"Aku benar-benar tidak tahu apa yang Brian lihat dalam dirimu," tambah Debby sebelum menutup panggilan telepon, rasa kesalnya memuncak. "Kamu miskin, berasal dari kelas bawah, dan sepenuhnya biasa-biasa saja. Kalau bukan karena Brian bersikeras untuk menikahimu dan restu neneknya, aku tidak akan pernah menyetujui pernikahan ini."

Rachel menatap ponsel, kedua tangannya sedikit bergetar. Senyum getir tersungging di bibirnya, mengandung kesedihan. Pertunangannya dengan Brian terasa seperti mimpi, sesuatu yang hampir tidak bisa dia percayai sebagai kenyataan. Namun, menikah dengannya adalah keinginan terbesar dalam hidupnya.

Saat Rachel berusia 15 tahun, ibu tirinya membawanya ke suatu tempat yang dia klaim sebagai pertemuan masyarakat kelas atas. Tapi itu semua tipuan, mereka berakhir di kediaman Keluarga White. Di sana, Rachel didorong ke kolam renang, perbuatan kejam ibu tirinya membuatnya meronta-ronta dalam air yang dingin dan menyesakkan.

Rachel mengira dirinya akan meninggal. Namun, saat keputusasaan mulai menguasainya, dia tidak menyangka seorang pria muda melompat ke dalam kolam tanpa ragu. Pria muda itu menariknya mendekat, lengannya yang kuat membawanya ke tempat aman, menyelamatkannya dari cengkeraman dingin kematian.

Ketika dia akhirnya sadar dan membuka matanya, yang dilihatnya hanyalah sosoknya yang menjauh, menghilang di kejauhan. Jam tangan hitam yang berkilau di pergelangan tangannya adalah satu-satunya hal yang terpatri di dalam ingatannya.

Bertahun-tahun kemudian, jam tangan yang sama membawa Rachel kepadanya. Brian White, pria yang telah menyelamatkan nyawanya, tanpa disadari menjadi pria yang merebut hatinya. Sebagai rasa terima kasih atas nyawanya yang telah diselamatkan oleh pria itu, dia memberikan hatinya tanpa syarat, berharap dia bisa menikah dengan pria itu suatu hari nanti.

Suara langkah kaki di lantai bawah menyadarkan Rachel dari lamunannya. Sesaat kemudian, pintu kamar tidur berderit terbuka. Brian berdiri di sana, matanya tampak berat karena kelelahan, jasnya kusut dan acak-acakan.

Saat Rachel melihat Brian masuk, hatinya tenggelam karena beratnya kesadaran yang muncul. Jelas di mana pria itu menghabiskan malamnya, merawat Tracy lagi. Brian telah berjanji akan segera kembali, tapi di sinilah pria itu, pakaiannya kusut dan sikapnya sama saja seperti biasanya.

Rachel mengalihkan matanya, tidak mau menatapnya. Namun, Brian yang tampaknya tidak menyadari kegelisahannya, menariknya ke dalam pelukannya dengan tangannya yang kuat. Bibirnya yang dingin menyentuh bibir wanita itu, dan suaranya yang dalam melembut saat dia bertanya, "Apa kamu marah?"

Rachel tetap diam, memalingkan wajahnya. Dia tidak bisa mengabaikan aroma samar parfum wanita lain yang melekat pada pria itu atau bekas lipstik yang jelas dan mencolok di kemejanya. Bekas itu, yang pasti milik Tracy, terasa bagai jarum yang menusuknya, membuatnya merasa benar-benar kesakitan.

"Apa kamu masih mencintai Tracy?" Suara Rachel terdengar lembut tapi tenang saat dia akhirnya menatap Brian, matanya mencari kebenaran.

Brian mengulurkan tangan dan menariknya lebih dekat, pelukannya erat. "Apa yang kamu pikirkan dalam otakmu itu setiap harinya?" gumamnya, suaranya terdengar rendah dan meyakinkan. "Aku mengakui Tracy istimewa bagiku, tapi itu hanya pertemanan, tidak lebih."

Rachel tidak membantah kata-kata meyakinkan Brian. Dia hanya menatapnya, hatinya dibebani oleh pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab. Perlahan, suaranya memecah kesunyian, dia bertanya, "Kalau begitu, bagaimana denganku, Brian? Apa kamu mencintaiku?"

Lanjutkan Membaca

Buku serupa

Patah Hati Mendatangkan Pria yang Tepat

Patah Hati Mendatangkan Pria yang Tepat

Renell Lezama
5.0

Tunangan Lena adalah pria yang menyerupai iblis. Dia tidak hanya berbohong padanya tetapi juga tidur dengan ibu tirinya, bersekongkol untuk mengambil kekayaan keluarganya, dan kemudian menjebaknya untuk berhubungan seks dengan orang asing. Untuk mencegah rencana jahat pria itu, Lena memutuskan untuk mencari seorang pria untuk mengganggu pesta pertunangannya dan mempermalukan bajingan yang selingkuh itu. Tidak pernah dia membayangkan bahwa dia akan bertemu dengan orang asing yang sangat tampan yang sangat dia butuhkan. Di pesta pertunangan, pria itu dengan berani menyatakan bahwa dia adalah wanitanya. Lena mengira dia hanya pria miskin yang menginginkan uangnya. Akan tetapi, begitu mereka memulai hubungan palsu mereka, dia menyadari bahwa keberuntungan terus menghampirinya. Dia pikir mereka akan berpisah setelah pesta pertunangan, tetapi pria ini tetap di sisinya. "Kita harus tetap bersama, Lena. Ingat, aku sekarang tunanganmu." "Delon, kamu bersamaku karena uangku, bukan?" Lena bertanya, menyipitkan matanya padanya. Delon terkejut dengan tuduhan itu. Bagaimana mungkin dia, pewaris Keluarga Winata dan CEO Grup Vit, bersamanya demi uang? Dia mengendalikan lebih dari setengah ekonomi kota. Uang bukanlah masalah baginya! Keduanya semakin dekat dan dekat. Suatu hari, Lena akhirnya menyadari bahwa Delon sebenarnya adalah orang asing yang pernah tidur dengannya berbulan-bulan yang lalu. Apakah kesadaran ini akan mengubah hal-hal di antara mereka? Untuk lebih baik atau lebih buruk?

Fantasi Tukar Pasangan Ranjang

Fantasi Tukar Pasangan Ranjang

WHS Production
5.0

Maya dan Adrian, serta sahabat mereka Sinta dan Rizky, tampaknya memiliki segalanya: karier yang sukses, rumah yang nyaman, dan kehidupan sosial yang aktif. Namun, di balik fasad kebahagiaan mereka, hubungan mereka masing-masing mengalami ketegangan dan kekosongan yang menyedihkan. Suatu malam, dalam upaya untuk menyegarkan hubungan mereka yang hambar, Maya dan Sinta memutuskan untuk mengusulkan sesuatu yang ekstrem: "fantasi tukar pasangan ranjang." Awalnya, ide ini tampak gila dan di luar batas kenyamanan mereka. Namun, dengan dorongan dan desakan dari pasangan mereka, Maya dan Adrian, serta Sinta dan Rizky, setuju untuk mencoba. Ketika fantasi tersebut menjadi kenyataan, keempatnya merasakan perasaan canggung, kebingungan, dan kecemasan yang tak terduga. Namun, dalam perjalanan mereka melalui pengalaman ini, mereka mulai menggali lebih dalam tentang hubungan mereka, mengungkapkan kebutuhan dan keinginan yang mungkin terlupakan, serta menyembuhkan luka-luka yang telah terbuka dalam pernikahan mereka. Dalam prosesnya, mereka menghadapi konflik, kecemburuan, dan ketidakpastian yang tidak terelakkan. Namun, mereka juga menemukan keintiman yang lebih dalam, pemahaman yang lebih besar tentang satu sama lain, dan kesempatan untuk memperbaiki hubungan yang hampir putus asa. Novel "Fantasi Tukar Pasangan Ranjang" menawarkan pandangan yang tajam tentang kompleksitas hubungan manusia, dengan sentuhan humor, kehangatan, dan kisah cinta yang penuh dengan emosi. Di tengah fantasi yang menggoda, mereka menemukan keberanian untuk menghadapi kenyataan, menerima kekurangan masing-masing, dan membangun kembali fondasi cinta mereka dengan cara yang lebih kuat dan lebih tulus.

Bosku Kenikmatanku

Bosku Kenikmatanku

Juliana
5.0

Aku semakin semangat untuk membuat dia bertekuk lutut, sengaja aku tidak meminta nya untuk membuka pakaian, tanganku masuk kedalam kaosnya dan mencari buah dada yang sering aku curi pandang tetapi aku melepaskan terlebih dulu pengait bh nya Aku elus pelan dari pangkal sampai ujung, aku putar dan sedikit remasan nampak ci jeny mulai menggigit bibir bawahnya.. Terus aku berikan rangsang an dan ketika jari tanganku memilin dan menekan punting nya pelan "Ohhsss... Hemm.. Din.. Desahannya dan kedua kakinya ditekuk dilipat kan dan kedua tangan nya memeluk ku Sekarang sudah terlihat ci jeny terangsang dan nafsu. Tangan kiri ku turun ke bawah melewati perutnya yang masih datar dan halus sampai menemukan bukit yang spertinya lebat ditumbuhi bulu jembut. Jari jariku masih mengelus dan bermain di bulu jembutnya kadang ku tarik Saat aku teruskan kebawah kedalam celah vaginanya.. Yes sudah basah. Aku segera masukan jariku kedalam nya dan kini bibirku sudah menciumi buah dadanya yang montok putih.. " Dinn... Dino... Hhmmm sssttt.. Ohhsss.... Kamu iniii ah sss... Desahannya panjang " Kenapa Ci.. Ga enak ya.. Kataku menghentikan aktifitas tanganku di lobang vaginanya... " Akhhs jangan berhenti begitu katanya dengan mengangkat pinggul nya... " Mau lebih dari ini ga.. Tanyaku " Hemmm.. Terserah kamu saja katanya sepertinya malu " Buka pakaian enci sekarang.. Dan pakaian yang saya pake juga sambil aku kocokan lebih dalam dan aku sedot punting susu nya " Aoww... Dinnnn kamu bikin aku jadi seperti ini.. Sambil bangun ke tika aku udahin aktifitas ku dan dengan cepat dia melepaskan pakaian nya sampai tersisa celana dalamnya Dan setelah itu ci jeny melepaskan pakaian ku dan menyisakan celana dalamnya Aku diam terpaku melihat tubuh nya cantik pasti,putih dan mulus, body nya yang montok.. Aku ga menyangka bisa menikmati tubuh itu " Hai.. Malah diem saja, apa aku cuma jadi bahan tonton nan saja,bukannya ini jadi hayalanmu selama ini. Katanya membuyarkan lamunanku " Pastinya Ci..kenapa celana dalamnya ga di lepas sekalian.. Tanyaku " Kamu saja yang melepaskannya.. Kata dia sambil duduk di sofa bed. Aku lepaskan celana dalamku dan penislku yang sudah berdiri keras mengangguk angguk di depannya. Aku lihat di sempat kagett melihat punyaku untuk ukuran biasa saja dengan panjang 18cm diameter 4cm, setelah aku dekatkan ke wajahnya. Ada rasa ragu ragu " Memang selama ini belum pernah Ci melakukan oral? Tanyaku dan dia menggelengkan kepala

Cinta yang Tersulut Kembali

Cinta yang Tersulut Kembali

Calli Laplume
4.9

Dua tahun setelah pernikahannya, Selina kehilangan kesadaran dalam genangan darahnya sendiri selama persalinan yang sulit. Dia lupa bahwa mantan suaminya sebenarnya akan menikahi orang lain hari itu. "Ayo kita bercerai, tapi bayinya tetap bersamaku." Kata-katanya sebelum perceraian mereka diselesaikan masih melekat di kepalanya. Pria itu tidak ada untuknya, tetapi menginginkan hak asuh penuh atas anak mereka. Selina lebih baik mati daripada melihat anaknya memanggil orang lain ibu. Akibatnya, dia menyerah di meja operasi dengan dua bayi tersisa di perutnya. Namun, itu bukan akhir baginya .... Bertahun-tahun kemudian, takdir menyebabkan mereka bertemu lagi. Raditia adalah pria yang berubah kali ini. Dia ingin mendapatkannya untuk dirinya sendiri meskipun Selina sudah menjadi ibu dari dua anak. Ketika Raditia tahu tentang pernikahan Selina, dia menyerbu ke tempat tersebut dan membuat keributan. "Raditia, aku sudah mati sekali sebelumnya, jadi aku tidak keberatan mati lagi. Tapi kali ini, aku ingin kita mati bersama," teriaknya, memelototinya dengan tatapan terluka di matanya. Selina mengira pria itu tidak mencintainya dan senang bahwa dia akhirnya keluar dari hidupnya. Akan tetapi, yang tidak dia ketahui adalah bahwa berita kematiannya yang tak terduga telah menghancurkan hati Raditia. Untuk waktu yang lama, pria itu menangis sendirian karena rasa sakit dan penderitaan dan selalu berharap bisa membalikkan waktu atau melihat wajah cantiknya sekali lagi. Drama yang datang kemudian menjadi terlalu berat bagi Selina. Hidupnya dipenuhi dengan liku-liku. Segera, dia terpecah antara kembali dengan mantan suaminya atau melanjutkan hidupnya. Apa yang akan dia pilih?

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
Bisikan Dari Hati yang Patah
1

Bab 1 Tetaplah Bersamaku Malam Ini

06/05/2025

2

Bab 2 Belum Siap Memublikasikan Pernikahan

06/05/2025

3

Bab 3 Kasih Sayang Tak Terbatas

06/05/2025

4

Bab 4 Gelang Identik

06/05/2025

5

Bab 5 Menunggunya Memohon Maaf

06/05/2025

6

Bab 6 Siapa Yang Akan Dia Pilih

06/05/2025

7

Bab 7 Meminta Maaf Pada Rachel

06/05/2025

8

Bab 8 Kamu Masih Marah

06/05/2025

9

Bab 9 Kenapa Kamu Tidak Mengatakan Apa Pun

06/05/2025

10

Bab 10 Tipu Dayanya

06/05/2025

11

Bab 11 Rachel Dalam Bahaya

06/05/2025

12

Bab 12 Kamu Berani Mengancamku

06/05/2025

13

Bab 13 Perbandingan Tidak Diperlukan Lagi

06/05/2025

14

Bab 14 Kamu Menyesal, Bukan

06/05/2025

15

Bab 15 Mari Kita Berpisah Secara Baik-Baik

06/05/2025

16

Bab 16 Rachel Tidak Ada Di Rumah

06/05/2025

17

Bab 17 Kamu Menjijikkan

06/05/2025

18

Bab 18 Memberinya Pelajaran

06/05/2025

19

Bab 19 Bagaimana Kamu Menemukanku

06/05/2025

20

Bab 20 Membawa Jeffrey Pulang

06/05/2025

21

Bab 21 Rachel Ditangkap Polisi

06/05/2025

22

Bab 22 Lebih Dari Yakin

06/05/2025

23

Bab 23 Dia Tidak Bisa Menahan Diri

06/05/2025

24

Bab 24 Menyukai Sifat Pemalunya

06/05/2025

25

Bab 25 Tamu Tidak Terduga

06/05/2025

26

Bab 26 Dia Tidak Mencintaimu

06/05/2025

27

Bab 27 Apa Begitu Sulit Untuk Menjelaskannya

06/05/2025

28

Bab 28 Usaha Tanpa Henti

06/05/2025

29

Bab 29 Anak Magang Baru

06/05/2025

30

Bab 30 Kenyataan Tidak Pernah Sesuai Dengan Harapannya

06/05/2025

31

Bab 31 Pelukan Siapa Yang Membuatmu Merasa Nyaman

06/05/2025

32

Bab 32 Kamu Hanya Boleh Mencintaiku

06/05/2025

33

Bab 33 Brian Mabuk

06/05/2025

34

Bab 34 Menggumamkan Nama Tracy

06/05/2025

35

Bab 35 Brian Cemburu

06/05/2025

36

Bab 36 Memakan Apel Yang Sama

06/05/2025

37

Bab 37 Jangan Membuatku Marah

06/05/2025

38

Bab 38 Aku Tidak Bisa Menahanmu

06/05/2025

39

Bab 39 Demam Tinggi

06/05/2025

40

Bab 40 Brian Bersalah

06/05/2025